Sudah jelas karangan manusia, kok diakukan sebagai wahyu.
Istilah zaman sekarang adalah 'pembohongan publik'.

qalam26 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               
&#61641;&#61519;&#61683;&#61601;&#61646;&#61488; 
&#61611;&#61473;&#61476;&#61475; 
&#61639;&#61536;&#61627;&#61557;&#61512;&#61687;&#61553;&#61607;&#61581;&#61497;&#61476;&#61475;
 
&#61641;&#61519;&#61578;&#61647;&#61549;&#61607;&#61581;&#61497;&#61476;&#61475;
 &#61639;&#61642;&#61640;
 
 KEDUDUKAN WAHYU DAN AKAL
 
  Manusia adalah mahluk yang memiliki akal. kecerdasan akal 
 manusialah yang telah menempatkan manusia pada posisi yang mulia di 
 dunia dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan. Dengan kemampuan akal 
 inilah manusia dapat mengembangkan ilmu alam dan teknologi. Namun 
 akal tidak serta merta mampu membuat manusia memahami hakikat 
 eksistensinya. Hakikat eksistensi manusia tidak dapat di capai dengan 
 menggunakan refleksi dan perenungan rasional semata. 
  Hikmah dibalik eksistensi manusia didunia tidak pernah bisa 
 difahami dan dicapai dari penalaran rasional belaka dan imajinasi 
 hawa nafsu, oleh karenanya manusia seringkali tersesat dalam memahami 
 fenomena alam seperti gunung matahari dan bulan yang mereka anggap 
 sebagai sesembahan dan tuhan. Mungkin saat ini manusia menyembah 
 Materi (uang, Harta, Sex dan kekuasaan).
 Manusia juga tersesat dalam memaknai posisi dan kedudukannya dirinya 
 didunia, ia beranggapan bahwa dunia hanyalah untung-rugi material, 
 tujuan menghalalkan cara, yang kuat yang bertahan yang lemah 
 terseleksi oleh alam, hak ada dalam kekuasaan, Tujuan hidup adalah 
 kehendak berkuasa, hidup adalah mencari kenikmatan. Sekali lagi semua 
 ini tidak memiliki dasar apapun kecuali hawanafsu manusia yang 
 dikokohkan oleh akal. 
 Akal merupakan ciptaan tuhan,  karena tidak mungkin keteraturan yang 
 amat mendetail hingga tingkat matematis dari hukum alam itu ada 
 kecuali dengan adanya tuhan sebagai pencipta dan pengatur sekalian 
 alam beserta hukum-hukumnya.
 
 Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri dan tidak tercipta dari 
 ketiadaan
 
 &#61687;&#61520;&#61554;&#61478; 
&#61480;&#61475;&#61553;&#61664;&#61481;&#61646;&#61501;&#61668;&#61562; 
&#61684;&#61536;&#61647;&#61506; 
&#61646;&#61582;&#61686;&#61581;&#61560;&#61678; 
&#61502;&#61668;&#61683;&#61651;&#61560;&#61611; 
&#61687;&#61520;&#61554;&#61478; &#61667;&#61518;&#61672;&#61540; 
&#61594;&#61539;&#61553;&#61664;&#61481;&#61646;&#61501;&#61627;&#61561;&#61570;&#61688;&#61497;&#61476;&#61475;
 &#61639;&#61644;&#61646;&#61640;   
 35. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang 
 menciptakan (diri mereka sendiri)?
 
 Hakikat dari eksistensi manusia hanya dapat difahami dengan 
 perantaraan wahyu dari tuhan (Alloh.SWT). Filsafat yang dibuat oleh 
 manusia sebagi upaya pencarian makna dan hikmah dari eksistensi 
 manusia tidak akan mencapai suatu kepuasan dan ketetapan hati, karena 
 akal tidak berfungsi untuk menetapkan hukum dan penetapan makna hidup,
  yang berhak menentukan hukum dan makna hidup adalah tuhan dan tuhan 
 tidak membiarkan ciptaannya itu hidup tanpa di beri petunjuk (wahyu).
 
 &#61476;&#61556;&#61506;&#61557;&#61554; 
&#61664;&#61517;&#61688;&#61481;&#61550;&#61501;&#61561;&#61562; 
&#61603;&#61536;&#61637;&#61543;&#61688;&#61498;&#61476;&#61475; 
&#61565;&#61607;&#61522;&#61517;&#61565;&#61476;&#61475;&#61557;&#61554; 
&#61598;&#61559;&#61646;&#61481; 
&#61640;&#61538;&#61554;&#61663;&#61577;&#61671;&#61495;&#61687;&#61672;&#61557;&#61579;&#61647;&#61497;
 &#61639;&#61646;&#61647;&#61640;   
 56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka 
 mengabdi (menyembah) kepada-Ku.
 
 Manusia dan akalnya diciptakan oleh tuhan untuk menjalankan syariat, 
 hukum dan mengibadahi tuhan. Dan tidak perlu lagi manusia membuat-
 buat makna dan hukum selain yang telah ditetapkan oleh alloh. Akal 
 diciptakan oleh tuhan agar manusia dapat memahami Wahyu dan bukan 
 untuk menentang dan menandingi wahyu. 
  Salah satu produk akal adalah filsafat, pada batas-batas 
 tertentu filsafat mungkin berarti, tapi filsafat sebagai bentuk 
 pencarian eksistensi kehidupan manusia secara umum dan mutlak adalah 
 suatu bentuk kesalahan. Karena makna hidup tidak dapat difahami oleh 
 akal yang terlepas dari bimbingan wahyu dan petunjuk alloh. 
 Katakan siapa yang lebih memahami akan hakikat dan makna hidup ?
 apakah manusia? Alam ?
 Atau Pencipta manusia dan Alam yang selalu mengawasi manusia diatas 
 langit?
 Apakah mahluk yakni akal dapat menghakimi tuhan sebagai pencipta 
 dirinya? 
 
 &#61594;&#61529;&#61550;&#61501;&#61561;&#61563; 
&#61562;&#61536;&#61627;&#61564;&#61601;&#61523;&#61517;&#61565;&#61476;&#61475;
 &#61536;&#61647;&#61506; 
&#61495;&#61552;&#61560;&#61695;&#61685;&#61660;&#61596;&#61522; 
&#61475;&#61555;&#61580;&#61646;&#61482;&#61555;&#61689; 
&#61557;&#61553;&#61672;&#61540; 
&#61650;&#61519;&#61579;&#61637;&#61633;&#61561;&#61562; 
&#61655;&#61691;&#61692;&#61646;&#61495;&#61589;&#61506; 
&#61639;&#61645;&#61640;   
 4. Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi 
 pembantah yang nyata.
 (An-Nahl: 4)
 
  Itulah sebuah tragic dimana mahluk yang berasal dari air yang 
 hina (mani), lalu mencoba melawan tuhan dengan akal yang juga 
 ciptaannya? Sungguh ironis...
 Kadang aku melihat filsafat sebagai upaya perlawanan manusia terhadap 
 tuhan, yakni dengan mengklaim bahwa akalnya dapat mencapai kebenaran 
 dan esensi dari eksistensi tanpa bimbingan tuhan (wahyu/Al-quran). 
  Lalu sebuah kesombongan besar dari manusia dengan mengatakan 
 bahwa rasio adalah pusat dari keberadaannya (RASIONALISME), dan 
 menjadi tolak ukur dari segala sesuatu.. yakni moral, etika dan hukum.
  Sekali lagi semua itu adalah sebuah kesombongan manusia, ia 
 menganggap dirinya serba cukup 
 
 &#61512;&#61560;&#61560;&#61486; •&#61538;&#61646;&#61481; 
&#61562;&#61536;&#61627;&#61564;&#61601;&#61523;&#61517;&#61565;&#61476;&#61475;
 
&#61475;&#61651;&#61560;&#61686;&#61684;&#61660;&#61557;&#61578;&#61555;&#61497;
 &#61639;&#61647;&#61640;   &#61538;&#61554;&#61478; 
&#61671;&#61550;&#61475;&#61557;&#61668;&#61607;&#61585; 
&#61475;&#61651;&#61551;&#61535;&#61688;&#61683;&#61556;&#61511;&#61683;&#61593;&#61476;&#61475;
 &#61639;&#61648;&#61640;   
 6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas,
 7. karena Dia melihat dirinya serba cukup. (al-Alaq 6-7)
 
  Manusia telah melampaui batas karena menganggap akalnya dalam 
 bentuk filsafat itu  cukup dan mampu mencapai kebenaran tanpa ada 
 bimbingan dari Alloh. Atau ia melampaui batas karena ia telah 
 menggagap wahyu dari tuhan ini tidak sempurna sehingga ia perlu untuk 
 mencari-cari lagi akan kebenaran dan makna hidup dari yang diluar 
 wahyu yakni akalnya (filsafat). 
  Tuhan menciptakan akal bukan untuk menentang dan menyerang wahyu 
 atau menciptakan aturan hukum sendiri yang terlepas dari petunjuk 
 tuhan (wahyu). Tapi akal diciptakan Tuhan agar manusia manusia mampu 
 memahami dan menjalankan aturan dan hukum yang ada didalam wahyu 
 tersebut. 
  Sungguh filsafat adalah jalan panjang yang gelap, rumit dan 
 berliku-liku sangat mengerikan dimana kita terjebak dalam sebuah 
 imajinasi dari penulis yang tidak berujung pangkal, mengapa kita 
 tidak mencari jalan yang mudah yakni ISLAM DAN SUNNAH.
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

Kirim email ke