kalo lebih setor up, di neraca memang keluar kas di bendahara pengeluaran minus 
serta kewajiban jangka pendek juga minus, mengenai apakah hal ini akan 
berpengaruh pada saldo UP bendahara pada tahun2 berikutnya, jelas ada 
pengaruhnya. 
hal ini udah terjadi di tempat saya, jika kita cetak rincian kas di bendahara 
pengeluaran pada laporan vera, maka jumlahnya tidak akan sama dengan jumlah UP 
yang diterima oleh bendahara ybs (selisih sebesar kelebihan setor).

lebih jauh, seharusnya pembukuan manual bendahara juga harus minus saldo 
UP-nya. karena pada dasarnya laporan keuangan keuangan satker via aplikasi 
Sakpa harus sama dengan pembukuan manualnya.

berkaca dari hal tersebut, hal ini mengindikasikan bahwa bendahara masih belum 
mengerti dan memanfaatkan secara optimal laporan keuangan sebagai alat untuk 
cross check dengan pembukuannya. satker sekedar membuat lapoaran keuangan serta 
ADK sebagai bahan rekonsiliasi supaya bisa mengajukan SPM GU.

jadi, jalan untuk menuju LKPP yang tdk disclaimer memang masih panjang.  peran  
asistensi dari rekan2 di vera maupun seksi lainnya  penting.  So, rentetan dari 
kelebihan UP yang lebih setor ini emang banyak dan panjang, serta menurunkan 
kualitas dari  laporan keuangan baik satker maupun KPPN, (CMIIW).

ini mungkin salah satu permasalahan, mungkin masih ada banyak lagi. Pak Budisan 
yang dulu pernah di bidang aklap mungkin ada solusi mengenai hal ini, atau 
rekan2 di APK yang ikut milis ini. Thanks very much

joyo_fis <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamu'alaikum wr. wb

Sesuai dengan perlakuan terhadap Akun/Perkiraan PIUTANG, maka 
>       Akun/Perkiraan UANG PERSEDIAAN ini seharusnya muncul di NERACA   
>       sebagai salah satu AKTIVA dengan jumlah sebesar UP yang belum 
>       disetorkan kembali.

Untuk saldo UP memang masuk ke dalam Aktiva Lancar sebagai
Akun/Perkiraan Kas di Bendahara Pengeluaran dalam Neraca, dan itu
merupakan saldo UP yang belum disetor kembali, untuk saldo debet (+),
atau kelebihan setor, untuk saldo kredit (-).

Nah masalahnya kemarin, bagaimana kalau saldonya minus (terjadi
kelebihan setor) apakah bisa ditarik oleh penyetor dan menggunakan
akun mana? Ini sepertinya yang kita belum memperoleh jawaban.  Dan
tambahan pertanyaan lagi dari saya apakah kalau saldo negatif tadi
(kelebihan setor UP) kalau sudah berjalan sekian tahun akan tetap kita
tampilkan negatif, atau bisa kita konversi? ke akun ekuitas dana
misalnya kalau bisa? dan nanti pada saat ada yang narik ekuitas dana
itu kita kurangi sebesar dana yang ditarik.. 

Emang sih dalam CALK ada penjelasan tentang hal tersebut, tapi
sepertinya kok masih kurang pas kalau tetap kita tampilkan demikian
kalau sudah berjalan lebih dari satu tahun, kalau masih tahun lalu
okelah..


Mohon tambahan masukan lagi.. Sekian dari saya, kalau ada yang kurang
pas mohon dikoreksi.. Mari kita sama-sama cari pemecahan yang pas buat
masalah UP ini...

Wassalamu'alaikum wr. wb.


Joyo





--- In [email protected], BAMBANG SUPRIADI
 wrote:
>
> Assalamu'alaikum wr.wb.
>   Seperti yang telah saya kemukakan dalam postingan saya terdahulu,
kalau saja untuk UANG PERSEDIAAN dibuat satu AKUN/PERKIRAAN dengan
satu MATA ANGGARAN maka berdasarkan pemahaman saya tentang Akuntansi,
pembayaran kembali setoran UP yang salah tidak akan terkendala oleh
sistem.
>   UANG PERSEDIAAN merupakan pinjaman dari KAS NEGARA kepada Satker
(Bendaharawan) untuk membayar transaksi-transaksi Satker yang tidak
bisa dibayar melalui mekanisme Pembayaran Langsung (LS).
>   Jadi UP memang belum membebani Anggaran, tetapi sudah membebani
(mengurangi) KAS.
>   Oleh karena itu dalam akuntansi, perlakuan terhadap UP ini dapat
disamakan dengan perlakuan terhadap PIUTANG yang sangat penting untuk
disediakan AKUN/PERKIRAAN sendiri karena :
>   1. Pada saat pembayaran UP, terjadi transaksi pengeluaran kas
namun tidak 
>       mengurangi aset melainkan hanya terjadi perubahan aktiva dari KAS 
>       menjadi UANG PERSEDIAAN (Jurnalnya :UANG PERSEDIAAN pada KAS).
>   2. Pada saat Penggantian UP, terjadi transaksi pengeluaran kas yang 
>       mengurangi aset yaitu untuk BELANJA (Jurnalnya : BELANJA pada
KAS).
>   3. Pada saat SPM GU-NIHIL, terjadi dua transaksi :
>       a.  Transaksi pengeluaran kas yaitu Penggantian UP (Jurnalnya
BELANJA 
>            pada KAS).
>       b.  Transaksi penerimaan kas yaitu setoran kembali UP
(Jurnalnya :KAS 
>            pada UANG PERSEDIAAN).
>       Jumlah (a) dan (b) sama besar sehingga pengeluaran kas sama
dengan 
>       penerimaan kas sehingga transaksi KAS nihil..
>       Kalau mau dibuat transaksi langsung juga boleh, yaitu tanpa
mendebet 
>       maupun mengkredit Akun/Perkiraan KAS, melainkan langsung dengan 
>       jurnal : BELANJA pada UANG PERSEDIAAN. 
>   4. Pada saat penyetoran kembali UP, terjadi transaksi penerimaan
kas namun 
>       tidak menambah aset melainkan hanya terjadi perubahan aktiva
dari UANG 
>       PERSEDIAAN menjadi KAS (Jurnalnya : KAS pada UANG PERSEDIAAN)..
>   5. Pada akhir tahun, apabila ada UP yang belum disetorkan kembali
maka 
>       dalam Akun/Perkiraan UANG PERSEDIAAN masih terdapat Saldo karena  
>       jumlah sisi DEBET lebih besar dari sisi KREDIT.
>       Sesuai dengan perlakuan terhadap Akun/Perkiraan PIUTANG, maka 
>       Akun/Perkiraan UANG PERSEDIAAN ini seharusnya muncul di NERACA   
>       sebagai salah satu AKTIVA dengan jumlah sebesar UP yang belum 
>       disetorkan kembali.
>   Semoga dapat menjadi bahan masukan.
>    
>   Wassalam.
> Endah  wrote:
>           
> > Yang perlu kita carikan jalan keluar sekarang barangkali bagaimana 
> dan
> > dengan Akun berapa (apa) penarikan kembali kelebihan setor UP 
> satker,
> > apakah pakai Akun UP/TUP??,
>




Hentikan korupsi dana APBN dengan alasan apa pun.
Hentikan sekarang juga. 
Yahoo! Groups Links





       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke