Assalamu'alaikum Adik-adikku angkatan 2006, janganlah merasa hanya barisan kecil yang gak ada apa2nya. Kalian adalah seperti apa yang kalian pikirkan. Jika kalian berpikir kalian sangatlah berarti, maka kalian sangat berarti bagi instansi ini. Teruslah bekerja dan berkarya, dapat dikatakan kalian berjasa bagi negeri ini. Jangan kalah hanya dengan perkataan beberapa pimpinan. Buktikanlah bahwa kalian bisa dan mampu berbuat banyak untuk instansi dan negeri ini. Mungkin suatu saat nanti justru kalianlah yang memegang kendali atas instansi ini.
Saya yakin, setelah kalian masuk dunia kerja dalam instansi ini, justru kalianlah yang memenuhi kriteria yang dibutuhkan instansi ini. Kalian fress graduate, dengan semangat baru, idealisme dan integritas, serta kemampuan umum dan potensi akademik lulusan prodip yang di atas rata2 akan membuat kalian cepat menyerap knowledge dan meningkatkan skill yang berguna dalam pelaksaan tugas kalian. Tapi jangan lupa, Syukur dan Sabar. Dua sikap itulah kunci menuju kebahagiaan. Di saat diberi kenikmatan maka bersyukurlah, di saat diberi kesusahan maka bersabarlah. Dengan sikap seperti itu anda akan menuju ketentraman batin, kedamaian pikiran, kelapangan dada, dan kejernihan hati. Dengan syukur dan sabar anda akan melalui berbagai rintangan dalam hidup ini penuh dengan keikhlasan. Lantas, apakah dengan sikap syukur sabar kalian tidak boleh menuntut hak? Boleh, wajib malah. Rasulullah SAW bersabda, "Bayarlah upah pegawai sebelum keringatnya kering!" Justru dengan menuntut hak itu adalah bagian dari ungkapan syukur kita, dengan catatan jangan mengabaikan kewajiban kita. Serta, luruskan niat dalam menuntut hak, jangan sampai apa yang kalian perjuangkan (uang rapelan) masuk ke dalam hati kalian. Niatkanlah untuk beribadah, saling mengingatkan akan kewajiban (amar ma'ruf nahi munkar), serta untuk memperbaiki sistem. Niat adalah yang utama seperti firman Allah swt, "Wa maa umiruu illa liya'budullaha mukhlisiina lahuddiina khunafaa". Jangan pedulikan apakah pimpinan punya niat baik atau tidak dalam memperlakukan kalian. Yang penting kalian sudah punya niat baik dan niat untuk mengingatkan mereka. Saya juga ingin berbagi pengalaman : Dahulu, angkatan kami (2005) sebelum mendapat SK mutasi (penempatan, kami dibriefing oleh bagian kepegawaian. Setelah mendapat pengarahan dari Pak Siswo (sesditjen) yang begitu menggugah, motivatif, dan sangat inspiratif kami kemudian mendapat pesan dari pejabat eselon 4 yang mengatakan, "DJPB sekarang kelebihan pegawai, kalau kalian mau keluar dari intansi ini, keluarlah sekarang juga!" Kami tidak bergeming, meski beberapa bulan kemudian ada banyak teman seangkatan kami yang SDM (selamatkan diri masing2) dengan eksodus lintas eseleon 1. Toh kami masih loyal di sini, bekerja dan berkarya sebaik mungkin. Terbukti sewaktu masih dimagangkan di pusat (kebetulan saya di DIA) kami diperlakukan layaknya pegawai yang berarti bagi instansi ini, dan kami membuktikan dapat mengemban tugas yang diberikan. Dan sekarang, teman seangkatan kami yang masih loyal di sini menjadi motor dan ujung tombak di KPPN seluruh indonesia baik di KPPN percontohan maupun KPPN non percontohan. Pesan terakhir saya kutip dari alquran, "Wa May ya'mal mitsqolla dzarrotin khoiroy yarroh, wa may ya'mal mitsqolla dzarrotin Syarroy yaroh" Dan semua perbuatan baik akan mendapat balasan meski sebesar biji sawi, dan semua perbuatan buruk juga akan mendapat balasan meski sebesar biji sawi pula. Ingatlah, kalaupun pada akhirnya kalian tidak mendapat rapelan yang adil dan proporsional, Perbuatan kalian tetaplah dicatat oleh Yang Maha Kuasa, dan akan mendapat balasan yang setimpal. Wassalam --- In [email protected], "ihsan kurniawan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > saya kira masalah ini udah selesai dan gak akan dibahas lagi. > toh kami hanya barisan kecil yang gak ada apa2nya, mo seneng ato > susahnya kami, gak akan berpengaruh ke instansi tercinta ini. > > tapi ternyata ada yang bales, dengan isi yang cukup membuat saya > tersenyum. > jujur aja, saya agak 'kurang' dalam soal penyampaian, jadi dari > tulisan mas den_boedhi, kita simpulkan aja intinya adalah : > "malu sih ribut2 karena duit" > > intinya gini mas, kami masuk DJPB kami akui karena pilihan kami, dan > kesan pertama masuk adalah pesan yang mendalam dari 'beberapa pimpinan', > "kalian tuh angkatan yang gak dibutuhkan". > > fine, kami masih bisa terima pesan moral tersebut. kami diberangkatkan > ke daerah dengan dana perjalanan secukupnya, masih belum meruntuhkan kami. > kami bekerja dengan status honorer, dengan posisi tanggung jawab yang > menurut kami tidak ringan. beberapa kali dimarahi karena laporan yang > inilah itulah, menurut saya harusnya bukan tanggung jawab 'honorer' > seperti kami. > tapi selama itu pula, saya belum mendengar ada keluhan dari pihak > kami. kami malah cukup bangga, berarti pesan bahwa kami angkatan yang > gak dibutuhkan itu tidak cukup benar. > > saya dan mungkin kami tidak munafik,kami jauh2 pergi ke daerah untuk > bekerja, untuk mencari penghasilan, untuk bertahan hidup dan beberapa > sudah berfikir untuk keluarganya. > kami tidak mengajak ribut ato menuntut banyak, kami hanya ingin > mempertanyakan kejelasan hak kami. > kalo emang hak, kami ingin diberikan kepada kami, dan jika bukan hak, > ya sudah, semua angkatan yang sudah menerima 'hal' yang bukan hak nya > silahkan mengembalikan... > > jika anda berfikir 'malu' masalah seperti ini, mana yang selayaknya malu. > Kami yang mempertanyakan hak kami, atau....... > > > > maaf kalo ada kata yang kurang berkenan. sekali lagi saya katakan, > saya kurang pandai dalam menyampaikan. > > terima kasih atas perhatian semuanya, semoga DJPB bisa menjadi lebih > baik lagi. > > > > > --- In [email protected], "Den_Boedhi" > <goodman_neverdies@> wrote: > > > > Dear miliser, > > Kalo saya perhatikan, banyak 'protes protes' timbul dari golongan muda > > kita (saya golongan setengah tua). Dan kalo lebih dicermati lagi > > 'protes protes' itu muncul karena mereka semakin sadar akan > > hak-haknya. Hak hak yang harus diperjuangkan terus menerus karena > > merasa telah memenuhi kewajibannya. Dan itu didukung oleh iklim yang > > sangat terbuka seperti sekarang ini juga perkembangan dunia informasi. >
