Dear Milist,

Sungguh sebuah cerita yang mampu membuat saya terharu dan bangga.

Saya sangat setuju dengan apa yang menjadi judul topik ini. 
Assesment itu penting! Tidak lulus bukan akhir segalanya. Saya 
kebetulan termasuk yang terjaring assesment KPPN Percontohan. Tetapi 
dari hasil assesmen, temen temen juga mungkin sepakat bahwa hasil 
assesment seringkali membuat kita kaget. Kenapa si A, B dan C yang 
begitu meyakinkan tidak lulus, ironisnya si X,Y dan Z yang jelas 
jelas "kutu kupret" dalam sepak terjangnya kok lulus.

Hal inilah yang mendasari pemikiran saya bahwa assesment itu penting 
tapi bukan segalanya. Assestmen barangkali lebih cocok ditujukan 
bagi "laskar jihad" (baca pelaksana) macam kami. Tetapi untuk level 
manajer/ pimpinan barangkali tidak boleh didasarkan pada secarik 
keterangan lulus assestmen. masih banyak pendekatan yang bisa 
dilakukan untuk menetapkan apakah seseorang layak menyandang jabatan 
tertentu.
Faktor phisik (kesehatan) juga sering diabaikan. Memang phisik 
sepertinya tidak ada kaitannya dengan kepemimpinan. Tapi coba 
renungkan. Ketika saya bertanya kepada seorang petani di pelosok 
Kendari. Kenapa waktu itu Bapak memilih pak SBY. Jawabnya saya lebih 
suka dipimpin oleh Pak SBY yang gagah berwibawa daripada dipimpin 
orang yang cacat. Dan itu tidak dapat dilihat dalam selembar kertas 
kelulusan.
maaf jika menyinggung

salam


--- In [email protected], "ratna susilawati" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> hm..
> ada cerita neh, kemaren, seorang teman bertanya…apa saya pernah 
ikut
> assestment ato belum..
> saya jawab pernah..tapi nggak lulus..
> trus, dia nanya lagi…tidak lulus beneran, atau sengaja tidak
> meluluskan diri..?
> saya jawab, beneran nggak lulus..dan sudah berusaha menjawab 
semampunya..
> Teman saya itu hanya menulis "o o o "
> ###
> memang saya sudah menjawab semampu yang saya bisa, sejujur-
jujurnya…
> makanya saya sempat dag dig dug juga, kalo lulus tar gmana
> (yee…kepedean banget..), apa harus pindah..padahal saya sudah di
> daerah asal, yang tentunya lebih enak daripada tinggal lagi di 
rantau..
> saat itu saya hanya berdoa diberikan keputusan yang terbaik..namun
> tetap penasaran dengan hasilnya, masalahnya ini masalah kapabilitas
> saya sebagai pegawai..
> dan…
> ketika pengumuman datang, rada kecewa juga dengan hasil yang
> menyatakan saya tidak lulus…maklum lagi, ini pertama kalinya saya
> ngga' lulus tes..
> merasa bego, merasa ga terpilih…merasa ga' seberharga yang 
lainnya..
> tapi disisi lainnya, ada leganya juga..mengingat saya akan tetap
> bertahan di daerah, dekat dengan keluarga dan ayah bunda..
> saya pun mantap, bahwa ini yag terbaik bagi saya..
> masalah assestment? ah..ga' terlalu jadi soal..
> bisa jadi hasil penilaian itu benar, mungkin saya kurang pandai, 
atau
> kurang konsisten, atau mungkin pula kurang dalam hal sikap dan lain
> sebagainya..
> dan saya sadar diri, bisa jadi kemampuan yang ada pada diri saya 
tidak
> memenuhi kualifikasi yang diinginkan oleh instansi..
> tapi hal tersebut tidak membuat saya gundah..
> karena saat ini, saya juga sedang semangat2nya..
> bekerja di bendum, sibuk, dan menyadari kalo setiap satuan angka 
yang
> saya kerjakan, berpengaruh besar sampai pada negara bahkan dunia..
> saya akan bekerja, semampu yang saya bisa..
> jika hanya setengah2, malu hati pada gaji yang diberikan 
pemerintah…
> jadi, jika sekarang ada pertanyaan tentang assestment lagi, tanpa
> beban, saya akan menjawab..bahwa saya memang tidak lulus 
assestment.
> tapi, saya bisa pastikan, semangat saya untuk melihat Ditjen
> Perbendaharaan berubah menjadi lebih baik, kebijakan lebih 
kondusif,
> serta dicintai oleh para awaknya..tidaklah kurang dari teman-teman
> yang lulus asesstment.
> InsyaAllah! Semangat!
> 
> 
> 
> --- In [email protected], "okalaksana" <okalaksana@> 
wrote:
> >
> > Sudah lama pengen posting tentang ini, tapi gak sempet-sempet 
(sok
> > sibuk bgt). 
> > Ketika masih di pengembangan, saya baca2 slide seminar ttg 
assesment
> > punya mas sidqon. Saya kira ini bagus buat pengembangan 
selanjutnya.
> > (tentang Assesment ini sudah dibahas Mas Sidqon di Majalah 
Treasury).
> > Assesment centre sudah dilaksanakan dengan baik oleh PT Telkom. 
Semoga
> > ini bisa dilaksankan di organisasi kita. 
> > 
> > Sebagai seorang lulusan statistika (ehm) bisa dikatakan assesment
> > centre mempunyai logika yang sama dengan statistika, diperlukan 
jika
> > objeknya cukup banyak. Untuk memutuskan berapa meja yang 
diperlukan
> > ketika menerima tamu dalam resepsi pernikahan, tidak diperlukan 
teori
> > antrian, tapi ketika memutuskan berapa pintu tol yang diperlukan 
teori
> > antrian menjadi penting. Untuk memilih pembantu di rumah tak 
perlu
> > assesment yang rumit, tapi untuk mendudukan calon kepala kantor 
di 178
> > KPPN dengan  pegawai yang mencapai ratusan bahkan ribuan(?) tentu
> > diperlukan assesment yang cukup komplex.
> > 
> > Ketika saya ditawari untuk ikut Assesment, saya bilang saya siap
> > (tepatnya saya bersedia), artinya saya siap diuji. Dari rangkaian
> > assesment yang ada (Psikotes, role play, wawancara, in tray, 
diskusi
> > kelompok, presentasi dan analisis kasus) saya bisa membayangkan 
bahwa
> > yang lulus dari assesment ini pastilah orang yang dianggap cukup 
bekal
> > dalam memimpin. Saya pribadi merasa ada yang kurang grenk ketika
> > menjalani test ini. Jadi ketika saya dinyatakan tidak lulus saya
> > sedikit kecewa tapi sadar diri. Kecewa karena tidak (atau belum) 
mampu
> > memenuhi kualifikasi yang ditetapkan organisasi. 
> > 
> > Sejak awal Pak Siswo sudah mewanti-wanti bahwa tidak lulus 
assesment
> > ini bukan segalanya, bahkan beliau mengungkapkan joke bahwa ada 
orang
> > yang gak lulus assesment hansip tapi lulus assesment polisi , 
karena
> > ketika dia ditanya apa yg dilakukan apabila menangkap pencuri 
orang
> > itu menjawab: pencurinya akan dipukuli. 
> > 
> > So saya berharap bahwa assesment centre akan terus dikembangkan 
di
> > organisasi kita ini. Kalaupun ada kekurangan pada assesment 
sekarang,
> > bisa terus diperbaiki di masa yang akan datang. Yang penting juga
> > dilakukan adalah bukan hanya assesment orang tapi juga assesment
> > jabatan. Sebenarnya ada jabatan2 yang perlu didentifikasi 
sehingga
> > orang-orang seperti apa yang akan cocok ditempatkan di sana 
sehingga
> > tidak terjadi benturan di kemudian hari. 
> > 
> > wallahu 'alam.
> >
>


Kirim email ke