siiip mas aku ikut dukung ah...
demi pelayanan publik y jauh lebih baik...
kadang bingungnya...
org "itu" co2k di "situ" tapi krn ga lulus, sesuai kriteria ga bisa ke
"situ", akhirnya diambil "kebijaksanaan" dan "beliau" duduk si "situ"
bener sih "nde raig man on nde raig plez" hasil akan bagus..

cuma krn da assesment jadi bingung, dirasa "adil"kah y seperti
kebijakan itu, ato assesment tanpa kecuali biar dirasa "adil"?
biar ga nimbulin rasa iri, dengki, jln2 nepotisme akibat dari
"kebijakan-kebijanan".  

--- In [email protected], "okalaksana" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sudah lama pengen posting tentang ini, tapi gak sempet-sempet (sok
> sibuk bgt). 
> Ketika masih di pengembangan, saya baca2 slide seminar ttg assesment
> punya mas sidqon. Saya kira ini bagus buat pengembangan selanjutnya.
> (tentang Assesment ini sudah dibahas Mas Sidqon di Majalah Treasury).
> Assesment centre sudah dilaksanakan dengan baik oleh PT Telkom. Semoga
> ini bisa dilaksankan di organisasi kita. 
> 
> Sebagai seorang lulusan statistika (ehm) bisa dikatakan assesment
> centre mempunyai logika yang sama dengan statistika, diperlukan jika
> objeknya cukup banyak. Untuk memutuskan berapa meja yang diperlukan
> ketika menerima tamu dalam resepsi pernikahan, tidak diperlukan teori
> antrian, tapi ketika memutuskan berapa pintu tol yang diperlukan teori
> antrian menjadi penting. Untuk memilih pembantu di rumah tak perlu
> assesment yang rumit, tapi untuk mendudukan calon kepala kantor di 178
> KPPN dengan  pegawai yang mencapai ratusan bahkan ribuan(?) tentu
> diperlukan assesment yang cukup komplex.
> 
> Ketika saya ditawari untuk ikut Assesment, saya bilang saya siap
> (tepatnya saya bersedia), artinya saya siap diuji. Dari rangkaian
> assesment yang ada (Psikotes, role play, wawancara, in tray, diskusi
> kelompok, presentasi dan analisis kasus) saya bisa membayangkan bahwa
> yang lulus dari assesment ini pastilah orang yang dianggap cukup bekal
> dalam memimpin. Saya pribadi merasa ada yang kurang grenk ketika
> menjalani test ini. Jadi ketika saya dinyatakan tidak lulus saya
> sedikit kecewa tapi sadar diri. Kecewa karena tidak (atau belum) mampu
> memenuhi kualifikasi yang ditetapkan organisasi. 
> 
> Sejak awal Pak Siswo sudah mewanti-wanti bahwa tidak lulus assesment
> ini bukan segalanya, bahkan beliau mengungkapkan joke bahwa ada orang
> yang gak lulus assesment hansip tapi lulus assesment polisi , karena
> ketika dia ditanya apa yg dilakukan apabila menangkap pencuri orang
> itu menjawab: pencurinya akan dipukuli. 
> 
> So saya berharap bahwa assesment centre akan terus dikembangkan di
> organisasi kita ini. Kalaupun ada kekurangan pada assesment sekarang,
> bisa terus diperbaiki di masa yang akan datang. Yang penting juga
> dilakukan adalah bukan hanya assesment orang tapi juga assesment
> jabatan. Sebenarnya ada jabatan2 yang perlu didentifikasi sehingga
> orang-orang seperti apa yang akan cocok ditempatkan di sana sehingga
> tidak terjadi benturan di kemudian hari. 
> 
> wallahu 'alam.
>


Kirim email ke