Yth. Pa Bayu Biru, Pa Budisan, Pa Avit, Pa Wibawa S., dan Rekan Forum Prima,
Menarik topik yang dikaji, tapi karena fasilitas operasional internet buat
ketik balasan yang tersaji kecil banget, seperti orang lagi ngintip, sedang
kendala kurangpaham cara gedeinnya, eh... tahunya gede sendiri, dan baru
sekarang bisa ikutan komentar.
Seperti apa yang dikatakan pa Wibawa, tantangan tugas di daerah salah satunya
jaringan internet yang sulit dan lambat banget. Belum lagi, seperti yang telah
diceritakan di atas... kemampuan SDM yang gatek. Kudu tanya sana sini dulu buat
ngoperasionalkan komputer/aplikasi, baru oke. Nanyanya bukan sama pegawai lokal
loh tapi sama pegawai interlokal atau Saudara lain kantor. Ya begitulah
tantangan tugas di daerah, teknologi dan SDM yang ada sangat amat menjadi
tantangan.
Memang, pengalaman adalah guru yang terbaik. Sungguh... semula ga tahu... kalo
begitu banyak aplikasi yang digunakan buat bikin
laporan KPPN. Mulanya... tahunya cuma aplikasi bendum buat bikin
LKP, aplikasi e-kirana buat ngajukan permintaan dana, aplikasi e-paypoint buat
NTPN potongan SPM, dan aplikasi verak buat bikin LKPP. Tapi setelah dapat
tegoran... belum kirim laporan TKPKN, belum kirim laporan realisasi DIPA, belum
kirim laporan handkey, wah... baru engngah kalo semua itu mesti dikirim via
internet. Montang-manting tanya sana sini, setela operasional oke, timbul
problem menunjuk operator. Belum lagi adanya minta bimbingan dari Satker buat
operasional aplikasi
SPM, aplikasi SAKPA/SAI, aplikasi, aplikasi Peran, dan lainnya, disisi
lain laporan KPPN harus dibuat dengan cepat dan benar. Sesuai fakta, SDM yang
handal hanya 20% dari 15 orang, akhirnya supervisor merangkap-rangkap
operator... operator satu merangkap lainnya... dia lagi dia lagi. Pernah juga
dilakukan GKM, katanya: "Kerja apa saja saya mau, tapi kalo untuk komputer otak
ini sudah ga nyampe". Permasalahan serius kalo tenaga handalan berhalangan
karena cuti ato dinas ato sakit, kita semua berdoa "Semoga selama si Polan ga
hadir aplikasi tidak bermasalah". Pernah juga bermasalah, akhirnya pinjam
tenaga handal KPPN tetangga, untung belum kantor tetangga, memalukan. Sungguh
tantangan yang cukup berat buat tugas di daerah.
Sependapat dengan pa Bayu, pa Budisan, dan pa Avit, secara teori, kalolah
standar kemampuan SDM itu merata, mungkin dengan mudah dikembangkan teori-teori
mgmt tersebut. Faktanya SDM saat ini terjadi kesenjangan. Dalam tubuh DJPBN
masih ada SDM dg usia 50 thnan dan kemampuan apa yang diceritakan di atas,
disisi lain cukup banyak SDM handal yang pindah ke eselon lain. Saat ini,
semuanya harus dicari solusinya.
Solusi yang dapat ditawarkan dan mungkin dapat dijadikan bahan pemikiran, agar
dibuat standarisasi pembuatan kontrak kinerja, sehingga jelas seorang pegawai
mendapat tugas apa dan setiap hari dicatat dan diketahui atasannya
mengerjakan apa. Dengan kata lain akan ada pertanyaan hari ini saya mengerjakan
apa.
Sependapat dengan pa Avit, kepada teman2 di KD dapat diberikan rewards, tidak
hanya berupa insentif tetapi yang lebih penting "rasa aman". Ada standarisasi
pola mutasi, mungkin dapat dipertimbangkan, waktunya 3 tahunan dan peredarannya
semakin mendekat ke pusat rotasi atau dari desa/pulau ke kota atau dari kota ke
kota yang lebih besar lagi. Begitu seterusnya.
Mgmt Resiko yang saat ini masih jadi topik bahasan, mungkin perlu diperjelas
resiko terhadap apa. Kalo resiko akan terjadi kerugian negara, mungkinkah ada
tugas DJPBN yang menyerempet resiko itu. Kalo resiko menerima gratifikasi,
bukankah hal ini ditangani dengan UU Korupsi. Jadi resiko yang dimaksud mungkin
berkaitan dengan nyawa. Pegawai yang bertugas di daerah konflik, di pulau
terpencil, di daerah terisolir, pasti beresiko dengan nyawanya. Bagaimana yang
bertugas dikota besar seperti Jakarta. Dapat saja dikatagorikan resiko macet,
sehingga harus berangkat pagi pulang malam dan beresiko rawan kejahatan.
Sependapat dengan kawan, konsep peraturan dirumuskan oleh kawan2 di KP dan
pelaksanaannya oleh KD.
Kalolah peraturan itu gamblang hitam dan putihnya, dan jelas apa
yang harus dilakukan teman di KD, mungkin ga ada masalah. Tapi dalam
pelaksanaannya yang serba mendadak dan estafet nformasinya ga jelas serta ada
yang abu2, sangat bermasalah dalam pelaksanaannya. Salah satu contoh, dalam
DIPA KPU
disediakan MAK untuk Transito (5124). Pengajuan pembayaran gaji
PNS dan tunjangan2 dengan digunakan MAK 5124 dan disetujui... salahkah. Dapat
dikatakan simalakama bagi KPPN, setuju... MAK-nya ga pas, ditolak berkelahi
dengan pegawai yang kelaparan. Akhirnya dicari yang mudaratnya lebih kecil.
Mudah-mudahan apa yang menjadi wacana kawan2 dapat terwujud, sehingga DJPBN
semakin jaya.
> Messages in this topic (4)
>
>
>
> Reply (via web post)
> |
>
> Start a new topic
>
>
>
>
> Messages
>
>
>
> | Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Hentikan korupsi dana APBN dengan alasan apa
> pun.
>
> Hentikan sekarang juga.
>
>
>
>
>
> MARKETPLACE
>
>
> From
> kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft
> Foods
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
Change
> settings via the Web (Yahoo! ID required)
>
> Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch
>format to
> Traditional
>
>
>
> Visit Your Group
> |
>
> Yahoo! Groups Terms of Use |
>
> Unsubscribe
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Recent
> Activity
>
>
> 1
> New
> Members
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
Visit Your Group
>
>
>
>
>
> Y! Messenger
> Group
> get-together
> Host a free online
> conference on IM.
>
> Search Ads
> Get
> new customers.
> List your web
site
> in Yahoo! Search.
>
> Yahoo! Groups
> Cat
> Owners Group
> Join a community
> for cat lovers
>
>
>
>
> .
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]