Kalimat slogan atau poster "JANGAN BERI, MEMBERIKAN KAN UANG/BARANG PADA 
PEGAWAI KPPN ADALAH PIDANA", saya kira 'seolah-olah' hanya menuntut orang lain 
mencegah korupsi. Sedangkan 'kita' sebagai aparat sangat tergantung pada 
'prilaku' orang lain yang kita layani. Jika mereka memberi, bisa jadi kita kan 
menerima (nau'dzubillah min dzalik) tak peduli itu adalah tindak pidana, jika 
tidak diberi (kebetulan) selamatlah dari urusan pidana dst.
................................................................

Terlepas dari siapa dulu yang harus mulai,kita atau masyarakat? setidaknya 
langkah2 seperti ini cukup efektif.

Tentunya kita semua tahu bahwa masyarakat kita sangat permisif dan gampang 
memaafkan serta senang menggampangkan urusan termasuk dalam hal BERI MEMBERI 
ini. Dalam skala positif, bisa saja hal ini tidak berpengaruh pada pelayanan 
tapi dari segi persepsi, hal ini sangat krusial. Orang lain yang tidak memberi 
bisa saja merasa minder atau merasa di anak-tirikan dalam pelayanan kita, 
padahal kita telah memberikan pelayanan yang sama dan profesional.

Ingat!!! Anti Korupsi itu ada dua komponennya agar benar2 semuanya merasakan 
persepsi yang sama yaitu: Anti Korupsi IN FACT dan Anti Korupsi IN APPEARANCE. 
Anti korupsi harus diaplikasikan dalam perilaku sehari2 dan orang lain yang 
memperhatikan kita juga harus memberikan penilaian yang positif berdasarkan 
persepsi/pengalaman mereka berinteraksi dengan kita. Selama kita telah berusaha 
antikorupsi namun masih banyak penilaian masyarakat yang negatif pada kita 
mungkin saja berarti THERE IS SOMETHING WRONG!!! dan kita harus mencari 
solusinya bersama2.

Sehubungan dengan slogan "Jangan Beri!" di lingkungan kanwil Jakarta, saya 
sempat mendengar percakapan dari seorang klien dengan pegawai yang intinya 
sebelum adanya slogan tersebut sang klien kadang2 "memberi"-kan sekadar 
gorengan, namun setelah adanya slogan tersebut klien tersebut jadi merasa TAKUT 
untuk membawakan sesuatu bahkan untuk gorengan yang berharga Rp5.000,-. Bahkan 
sekarang sang pegawai yang "MEMBERI" gorengan pada tamu/klien yang datang:)

Hal positif yang bisa kita ambil dari adanya slogan dan pamflet ini adalah, 
kita membiasakan adanya "budaya baru" yaitu tidak menyerempet bahaya yang 
mungkin saja akan membuat kita terpeleset. Kan bisa saja dan siapa tahu..... 
Hari ini gorengan, lain kali Pizza Hut, lain kali Pulsa, lain kali "amplop", 
parcel mewah, HP, mobil, rumah, dan seterusnya yang kita tidak tahu dimana akan 
berhentinya.

Mungkin kita sering menonton acara reality show "TOLONG" yang seringkali 
kejadiannya adalah seseorang mau "MEMBERI" karena mengetahui adanya kamera tim 
tolong yang artinya jika "MEMBERI" maka akan mendapatkan "SESUATU". Ini mungkin 
saja cermin dari budaya beberapa masyarakat dilingkungan kita. Apakah benar 
demikian? Atau mungkin kita masuk ke golongan tersebut? Wallahu a'lam.

Maju terus Reformasi Birokrasi,Jangan pernah berhenti apalagi mundur!!

Kirim email ke