Tulisan di bawah ini saya ambil di salah satu blog, lupa namanya, karena sudah 
tersimpan di file saya sejak bulan Desember 2007, pas buka2 file ketemu judul 
Budaya Kerja, nah saya anggap menarik untuk jadi bahan diskusi dan bisa berguna 
sebagai bahan renungan bersama,  ada beberapa kalimat yang saya sesuaikan, 
SEMOGA BERMANFAAT

« Komentar Web-Blog
Mengisi Kekosongan Ide… »
________________________________________
Budaya Kerja Pegawai Negeri
Diterbitkan November 4th, 2006 Lain-lain 
Melihat pola kerja pegawai bank yang tidak pernah berhenti memberikan layanan 
kepada nasabah begitu semangatnya mereka. Suatu ketika saya menghayalkan andai 
saja pola kerja pegawai di kebanyakan instansi pemerintah juga berlaku sama 
dengan pegawai bank, mungkin Indonesia tidak perlu lagi banyak menerima pegawai 
yg sebenarnya tidak perlu.
Mengapa saya menyatakan hal itu? Sebab di kebanyakan kantor di sekitar 
lingkungan saya kerja, banyak sekali instansi yg pegawainya santai, ogah-ogahan 
tidak bekerja. Saya tidak tahu apakah instansi tersebut memang tidak ada 
aktifitas yg perlu. Kalau instansi tidak banyak yg perlu dikerjakan lebih baik 
dibubarakan saja. Mereka bahkan sering mengisi waktu luangnya sambil ngobrol, 
main game dikomputer, facebook, main catur atau domino.
Entah-lah mengapa para pimpinan seolah-olah tidak tahu menahu akan hal itu. 
Kalau boleh secara jujur mungkin sampai dengan saat ini sepantasnya diperlukan 
pemutusan hubungan kerja. Itu sangat-lah efektif, menyeleksi kembali 
pegawai-pegawai yg memiliki produktifitas tinggi dan berkemauan keras untuk 
benar-benar menjadi pelayan masyarakat. Dengan demikian Negara dipastikan tidak 
akan rugi untuk mengaji pegawai tersebut dengan gaji yg lebih memadai. Namun 
anehnya PENERIMAAN PEGAWAI SETIAP TAHUN TETEP SAJA DILAKUKAN PADAHAL DARI 
PEGAWAI YG ADA BELUM DAPAT DIPEKERJAKAN SECARA OPTIMAL. Jika hal ini dilakukan 
terus maka pemborosan atau pengeluaran yg semestinya tidak perlu akan terjadi 
yg pada akhirnya membebani Negara.
Menurut saya prilaku pegawai yg nyantai seperti itu, tidak lepas DARI LEMAHNYA 
KEMAMPUAN PIMPINANNYA DALAM MENDELEGASIKAN SETIAP PEKERJAKAN KEPADA BAWAHANNYA. 
Sehingga banyak pegawai yg tidak tahu apa yang mesti ia kerjakan hari itu. 
Rendahnya manajemen dalam suatu instansi pemerintahan tidak lain disebabkan 
oleh jeleknya pimpinan selaku manajer. Banyak sekali pimpinan2 suatu instansi 
diisi oleh orang-orang yg tidak berkompeten pada bidangnya. Perekrutan pejabat 
atas dasar perkoncoan, kekerabatan, kedekatan dan like or dislike Sehingga yang 
muncul adalah siapa yg dekat siapa, siapa yg bisa mendekati siapa atau bahkan 
siapa yg bisa menyuap siapa-lah yg bisa menduduki pimpinan instansi 
pemerintahanan.
Memang yang sangat diperlukan dalam memimpin suatu instansi itu kemampuan 
manajerial, tapi pernahkan mereka yg rata2 menduduki posisi pimpinan instansi 
itu diuji kelayakannya. Setahu saya belum pernah. Maka yg terjadi pemborosan 
dimana-mana, menggaji orang yg tidak layak digaji, pelayanan masyarakat tidak 
semakin baik, tetapi semakin memburuk, karena ketidakmampuan para pegawai 
menjalankan tugas yang semestinya diembannya.
Bahkan beberapa waktu lalu dilakukan uji kemampuan berpikir yg dilakukan 
dibeberapa instansi di suatu daerah didapati bahwa kebanyakan pegawai (termasuk 
pimpinannya) terlambat berpikir alias telmi (duh kapan saya dites ya). Kalau 
hasilnya demikian pantas saja mereka tidak bisa bekerja secara efektif, lalu 
apa tindakan yg layak diberikan kepada mereka yg telmi itu? Dilema memang… mau 
dipecat pasti akan menimbulkan masalah, tidak dipecat menjadi sampah kantor.
Maka sistem seleksi yang dilakukan oleh DEPKEU untuk merekrut calon pejabat 
merupakan langkah yang brilian dan perlu ditiru oleh instansi lain sehingga 
reformasi birokrasi diharapkan sesuai dengan track yang kita harapkan
Dan perlu dilakukan perombakan besar2an dalam upaya meningkatakan kinerja 
pegawai negeri sipil itu sehingga bisa berjalan secara optimal, tidak lagi 
menggaji pegawai yg pengangguran.
Paparan di atas adalah potret kecil dari beberapa instansi yang bukan merupakan 
kantor pelayanan, bagaimana keadaannya di tempat Anda?


Kirim email ke