Pada Rabu, 23 November 2016 7:08, Chalik Hamid <[email protected]>
menulis:
Bung Djie,Terimakasih bung saudah saya sampaikan pada Martin.Salam: Chalik
Hamid.
Pada Rabu, 23 November 2016 6:05, kh djie <[email protected]> menulis:
Bung Chalik,Tolong sampaikan pada bung Martin terimakasih saya untuk
tulisan-tulisannya yang menarik. Leih-lebih yang menghubungkan pengaruh latar
belakang pekerjaan orang tua pada anaknya.Saya tidak pernah mengalami stress di
pekerjaan, dan saya kerjanya melebihi tugas saya. Saya ambil tugas-tugas yang
tidak jelas bagian siapa. Orang Belanda inginnya kerja terbatas apa yang
ditulis di fungsi kerjanya. Saya sebaliknya, saya kerjakan saja tugas-tugas
lain, tetapi tahun depannya saya minta ditulis ditambahkan pada fungsi kerjaan
saya.Istri saya justru sebaliknya, mengalami banyak stress dari orang2
tertentu. Untung ada satu professor Belanda yang selalu membantu.Jadi anjuran
saya berbeda pada anak. Saya bilang pilih jurusan yang kamu sukai, tetapi yang
banyak dibutuhkan.Istri saya bilang : Pilih jurusan yang kamu sukai, tetapi
yang kamu bisa kerja sendiri, tidak di bawah orang lain.Saya bilang, itu
mungkin lebih baik. tetapi kalau tidak sanggup kerja sendiri seperti saya yang
masuk ke negeri Belandanya pada waktu umur 40 tahun, ya kerja di lapangan yang
saya kuasai dari latar belakang pendidikan dan pengalaman, tetapi dengan erus
menerus belajar supaya tidak ketinggalan dari perkembangan terakhir.Ternyata
anjuran ibunya lebih kena pada anak kami.Salam,KH
2016-11-22 20:44 GMT+01:00 Chalik Hamid [email protected] [GELORA45]
<[email protected]>:
Penderitaan di Indonesia Menyemangati Hidup Sayaoleh Martin Aleida
Dalam usia 76 tahun dia masih bisa bertahan hidup dengan mengemudikan taksi di
kota Berlin. Agak gemuk, tingginya rata-rata orang Indonesia. Ramah dan suka
guyon. Orang Indonesia yang jumlahnya tak seberapa di kota ini mengenalnya
dengan baik. Dengan taksi yang dikemudikannya, Sunarto menjemput saya di
Richard Strasse, di mana saya menumpang. Saya duduk di samping kanannya, dan
dia membawa saya ke sebuah restoran Turki. Restoran itu agak sempit, dan di
tengah-tengah keramaian pengunjung yang sedang makan siang wawancara ini
berlangsung.Bagaimana kisahnya Bung sampai di Berlin?
Suatu hari saya dipanggil polisi di Republik Demokrasi Demokrasi Jerman (DDR)
atau Jerman Timur. Saya disuruh meninggalkan negara itu karena izin tinggal
untuk studi saya sudah habis. Padahal, sebelumnya ada keputusan Dewan Menteri
bahwa orang seperti saya boleh tinggal di negara tersebut selamanya. Belakangan
saya tahu, bahwa DDR ingin meningkatkan hubungan diplomatik dengan pemerintahan
Suharto. Saya dapat tekanan dari dua pihak ketika itu, dari DDR dan dari komite
luar negeri delegasi PKI di Moskow yang dipimpin oleh Thomas Sinuraya. Tak ada
gunanya melawan, dan saya pergi. Pemerinah Jerman memberikan saya tiket pesawat
Interflug milik DDR untuk terbang pulang ke Jakarta. Tiket itu tidak saya
pakai. Apa saya sudah gila mau pulang? Tiket itu masih saya simpan sampai
sekarang sebagai kenang-kenangan …
Dari Dresden saya malah berangkat ke Berlin naik kereta-api. Saya membawa
paspor yang sudah saya perpanjang sendiri. Tak ada masalah dengan polisi
perbatasan Jerman. Tiba di Berlin tak ada masalah awal 1970-an itu. Saya
melaporkan diri kepada polisi, dan saya jelaskan bahwa saya mahasiswa yang
dikirim oleh Presiden Sukarno untuk belajar di DDR, tetapi kemudian saya
diusir. ‘Kami sudah tahu itu,’ kata mereka. Saya dapat izin tinggal melalui
proses yang cepat, tidak lama. Ada pengacara yang meyakinkan bahwa saya layak
dilindungi. Pemerintah Jerman yang menyediakan pengacara itu. Saya mana punya
uang untuk membayarnya.Kapan meninggalkan Indonesia?
Saya meninggalkan Indonesia tahun 1962. Dikirim oleh Perguruan Tinggi Ilmu
Pendidikan. Ada perjanjian, kalau sudah selesai studi akan diangkat jadi
pegawai negeri. Dapat uang dari pemerintah Indonesia tiap bulan 7
poundsterling. Itu untuk bantuan makanan dan pakaian. Untuk tahun 1963
dibayarkan pada tahun berikutnya. Untuk 1964 dibayarkan tahun 1965. Kebetulan
tahun 1965 terjadi G30S.
Saya tidak dikirim oleh organisasi yang berafiliasi dengan PKI atau organisasi
lain. Tidak. Saya studi di Dresden, bidang industri tekstil. Sebelum pendidikan
reguler dimulai, saya belajar bahasa Jerman terlebih dulu selama setahun. Studi
dimulai Januari 1963. G30S meletus, pendidikan jalan terus sampai selesai pada
tahun 1968. Saya berhak atas titel akademis sebagai sarjana teknik industri
tekstil.Bung sendirian?
Tidak. Dari Indonesia rombongan terdiri dari 31 orang. Mereka dinamakan
“mahid”, atau mahasiswa ikatan dinas. Selain dari Jawa, ada juga yang dari
Sumatera, Kalimantan.Bagaimana reaksi mahasiswa Indonesia ketika mendengar G30S?
Waktu peristiwa terjadi, keesokan harinya saya sudah membacanya di koran. Juga
mendengar beritanya dari Radio Hilversum. Kuliah jalan terus. Kami yakin
Presiden Sukarno bisa bertahan pada waktu itu. Kami tidak punya kehawatiran,
sekalipun waktu itu ada tuntatan bubarkan PKI. Suharto sudah muncul sebagai
orang kuat. Kami tak punya kekhawatiran. Kita kuat, dan kepemimpinan Sukarno
begitu hebat.
Namun, yang kemudian terjadi adalah dilancarkannya pengejaran terhadap
orang-orang progresif di Indonesia. Pengejaran itu sampai ke Eropa ini juga.
Kedutaan Indonesia yang berada di Cekoslowakia juga mencakup Jerman Timur
ketika itu. Kawan-kawan di luar Jerman Timur sudah mulai di-screening. Paspor
diserahkan, tetapi ternyata kemudian tidak dikembalikan oleh pihak kedutaan.
Kita sadar betapa beratnya hidup kalau tidak punya paspor. Hidup akan seperti
apa?
Di antaara 31 mahasiswa Indonesia, termasuk yang sudah lebih dulu datang untuk
belajar di DDR, terjadi perpecahan. Terjadi kristalisasi. Pihak sana, menuntut
orang-orang seperti saya dipulangkan. Jadi, pengejaran terhadap kami juga
dilancarkan. Screening untuk legalisasi keberadaan kami, kami tolak. Kami tidak
mau mengikuti screening. Karena papor harus diserahkan, dan mengisi daftar
pertanyaan siapa-siapa saja orang komunis di antara kami. Siapa Pemuda Rakyat
dan lain-lain. Ditanya siapa-siapa saja kenalanmu. Pertanyaan yang kami anggap
merupakan pelanggaran hebat terhadp hak-hak kami sebagai manusia.
Kedudukan Bung Karno semakin lemah. Pengejaran terhadap kami bertambah keras.
Kita punya kekuatan, tetapi nyatanya kita kalah. Begitulah kesimpuan kami pada
akhirnya. Kami menolak screening dengan segala konsekuensinya. Yang melakukan
screening datang ke DDR dari kedutaan Indonesia di Ceko. Usaha mereka yang
pertama gagal. Karena kita masih punya pengaruh di PPI (Perhimpunan Pelajar
Indonesia). Kedatangan mereka yang kedua untuk melakukan screening secara
paksa. Mereka datang ke Dresden. Semua mahasiswa dikumpulkan. Kami, kira-kira
30 orang, menolak untuk datang. Yang datang secara keseluruhan sekitar 100-an.
Kemudian kedutaan Indonesia di Cekoslowakia mengeluarkan keputusan berisi
dafatar mahasiswa yang paspornya dicabut.
Jalannya sejarah tak bisa dihindarkan dan kami sudah siap. Tapi, paspor tetap
di tangan walau pun tidak berlaku. Kami sadar betapa pentingnya paspor itu.
Kami menghubungi pihak tuanrumah, DDR. Ada keputusan yang menyatakan bahwa
Dewan Menteri DDR yang menyatakan selama keadaan tetap seperti ini mahasiswa
Indonesia boleh tinggal di DDR untuk selama-lamanya. Hebat! Dan kami mulai
berpikir secara aktif.
Tapi, taktik bagaimana, dan apa yang harus dilakukan. Yang penting jangan
sampai terjadi pengelompokan diantara kami. Waktu itu yang berkuasa di DDR
masih Walter Ulbrich. Setiap perubahan di pemerintahan DDR ada efeknya terhadap
kami. Selama ini kami dapat uang dari DDR, juga dari Indonesia. Dari Indonesia
7 poundsterling dari DDR 280 Deutsche Mark. Itu cukup untuk makan, pakaian,
kos, untuk ongkos transpor. Mereka yang loyal terhadap pemerintah Indonesia
tetap dapat uang dari Jakarta. Dari 31 mahasiswa di kelompok saya ketikaa itu
setengahnya memihak pemerintahan Suharto.
Berita-berita tentang kekerasan di Indonesia sampai kepada kami, sementara
kami tak bisa berbuat apa-apa. Anak-anak mahasiswa yang reaksioner juga mau
mengejar kami. Kami lawan. Ternyata mereka takut. Padahal, orang seperti saya
waktu itu kerempeng, tidak seperti sekarang. Berkelahi saja nggak tahu kok…
Penderitaan mempertebal keberanian untuk melakukan perlawanan. “Kalau kalian
berani, ayo …!” Nyaris bentrok fisik, ternyata mereka mundur. Kalau kita mati
mereka juga musti mati kan? Kita ketahui di Indonesia tidak ada perlawanan.
Tinggal siap diambil, dipotong… Menyerah tanpa perlawanan samasekali dan kami
belajar dari kenyataan itu.
Saya orang pemerintah, saya tak tahu apa yang terjadi di dalam PKI. Dan kami
tidak merasa bersalah. Saya waktu itu memang pro terhadap orang kiri. Saya
bertanya, siapa yang tidak tergerak oleh Bung Karno pada waktu itu? Oto-kritik
PKI sampai ke sini dalam bentuk dokumen. Kita jadi memahami apa yang terjadi di
dalam PKI. Sebelumnya kita tahu mengenai PKI itu ‘kan hanya instinktif saja.
Terjadi perpecahan. Ada yang setuju oto-kritik, tapi ada yang mendukung garis
lama. Kita mulai belajar buku klasik mengenai komunisme. Sebelumnya ‘kan cuma
yakin PKI itu hebat….!Bung ikuti pertentangan antara Uni Soviet dan RRT pada
waktu itu?
Mengikuti pertentangan antara Uni Soviet dan RRT lebih menarik daripada mata
kuliah. Betul! Argumen PKT begini, argumen PKUS begitu. Apa itu revisionisme.
Kami memihak kebenaran garis Mao Tse-tung. PKI di luar negeri pecah. Ada PKI
yang memihak Peking, ada yang memihak Moskow. Kami di Dresden ditinggalkan.
Thomas Sinuraya di Moskow menyebutkan dia pimpinan PKI di luar negeri. Dari
yang kami pelajari membuat kami jadi memiliki senjata ideologi. Apa-apaan ini
…. Kemudian ada tulisan mengenai PKI, tetapi bahasanya dan tema-temannya
cemplang. Kata-katanya, misalnya, “yang lahir seperti pisang goreng.”
Terminologi ini tidak dikenal. Sekalipun saya bukan orang partai, saya tahu ini
tidak benar.
Ketika PPI yang reaksioner itu meminta kami dipulangkan, maka kami mendirikan
PPI tandingan. Di samping saya, ada beberapa kawn lain. Kemudian sikap yang
memihak pada kami bermunculan, dan ikut membenarkan garis PKT. Namun,
perpecahan tetap mengancam. Waktu itu juga ada PPI Moskow, tetapi kami
mempertahankan PPI yang kami bentuk, PPI tandingan melawan Suharto. Mereka
dapat fasilitas, kami tidak. Saya, misalnnya, yang sudah lulus tak dapat
pekerjaan. Kalau pun dapat, hanya sebagai magang. Supaya kami tidak ngumpul,
tempatnya dipisah-pisah. Jadi, kita dapat hmbatan dari orang-orang kita
sendiri. Kawan-kawan di Indonnesia begitu menderitanya, tetapi mereka di sini
ke mana-mana naik mobil. Petantang-petenteng. Wataknya jelek walau PKI. Tak
mendapat simpati. Akhirnya, simpati tumpah pada orang-otang yang berpihak pada
sikap Tiongkok.
Teman-teman yang di Uni Soviet itu naik kedudukannya bukan karena prestasi
kerja, tetapi hadiah. Thomas Sinuraya yang mengangkat. Kemudian ada yang datang
ke Dresden menemui saya, meminta saya meninggalkan PPI. Saya jawab, “Saya telah
menyelamatkan banyak orang, kok terus keluar. Ke mana muka saya.” Lantas dia
mengancam, jangan kaget PPI dan CGMI yang di sini akan dibunuh. Terserah, kata
saya. Pokoknya saya tak mau ikut-ikutan.Apa yang Bung lakukan dengan ijazah
sarjana teknik industri?
Selesai studi tahun 1968, saya kirim surat kepada delegasi PKI di Peking, di
bawah pimpinan Yusuf Ajitorop. Saya minta diberangkatkan ke Peking. Ditolak!
“Bung lebih baik berada di tempat di mana Bung bisa melihat orang,” jawabnya.
Karena saya tak menggabungkan diri dengan kelompok mahasiswa di Uni Soviet,
jadi saya tidak dapat fasilitas dari DDR. Nggak apa-apa. Saya cari pekerjaan
sendiri. Dapat. Jauh di luar kota. Tidak sebagai insinyur tetapi sebagai
magang. Tapi, saya pikir tak apa, untuk sementara sebelum saya bisa keluar.
Saya membuka hubungan dengan orang-orang yang berada di luar DDR, yang berada
di Berlin ini. Waktu tahun 1968 itu di Jerman Barat berkembang gerakan pemuda
revolusioner. Hebat pemuda-pemuda Jerman itu. Di situ saya menemukan kontak.
Anak-anak muda itu tahu kritik-otokritik PKI. Mereka membacanya dalam bahasa
Jerman. Jadi, saya punya kebanggaan tersendiri melihat kenyataan itu. Di
mana-mana PKI ada hahaha ... Saya rasa, kritik-otokiritik itu bernilai tinggi.
Kritik itu menambah pengetahuan dan keyakinan saya.
Saya mengalami sendiri, ketika berada di DDR, bagaimanna dari negara sosialis
negara itu perlahan berubah menjadi revisionis. Bagaimana moral orang-orang
partai berubah menjadi moral borjuis. Dampaknnya nyata sekali, misalnnya
perpanjangan paspor, wah.. lamanya bukan main. Bagaimana mereka acuh tak acuh
terhadap nasib rakyat mereka. Produksi pabrik tidak melibatkan pekerja, cuma
pimpinan yang menentukan. Target tidak tercapai. Buruhnya yang dipersalahkan.
Dimarahi. Buruh tidak berani protes. Karena kalau protes, gajinya yang sudah
sedikit akan dikurangi lagi. Jadi, kemerosotan ideologi komunis sudah begitu
hebatnya. Sehingga tak mengherankan terjadi perubahan yang drastis.Sejauh mana
hubungan Bung dengan gerakan pemuda kiri di Jerman?
Kepada para pemuda di Jerman Barat itu saya tanyakan kemungkinan saya masuk ke
Berlin Barat. Mereka nyatakan siap membantu. Sebelumnya saya juga sudah punya
kontak dengan sebuah komite internasional untuk mendukung rakyat Vietnam, waktu
ramai-ramainya Perang Vietnam. Komite itu ada di berbagai kota, seperti Praha,
dan kota lain di Eropa. Juga Dresden. Tapi, yang di Dresden tidak disenangi
karena DDR yang bersikap bunglon dalam menghadapi masalah Perang Vietnam.
Sebelum meninggalkan Dresden, saya pergi menemui Agam Wispi, penyair dan
koresponden Harian Rakyat serta seorang lagi yang bernama Bambang. Waktu itu
mereka ikut dengan komite yang dipimpin Thomas Sinuraya. Terus terang saya
tanyakan apakah konflik intern sudah sampai begini parahnya? Sampai hati ikut
mengusir kawan sendiri. Belakangan, mereka menuduh saya, “Narto itu kepalanya
di Tiongkok, cuma kakinya yang di sini.”Ketika permohonan suaka Bung diterima
di Jerman yang sudah bersatu ini, apakah pekerjaan dan tempattinggal disediakan
pemerintah setempat sebagaimana di negara Eropa Barat lainnya?
Tidak. Saya cari sendiri. Itu bedanya di Jerman dengan di negara lain, di mana
banyak kawan meminta perlindungan.Pekerjaan?
Waktu itu ada mobilisasi mahasiswa di sini. Yang tidak melanjutkan pendidikan,
karena berbagai hal, ditawarkan pekerjaan. Saya ikut.Apa pekerjaan Bung yang
pertama?
Penjaga toko. Pekerjaannya antara lain menerima barang dan memasukkannya ke
gudang.Kapan Bung hidup berkeluarga?
Saya menikah pada usia 40. Ada teman saya di sini, orang Indonesia. Dia
memperkenalkan saya kepada keponakannya yang tinggal di Indonesia.
Ditunjukkannya foto-fotonya. Anak dari Malang. Saya setuju. Suatu hari saya
diminta supaya pulang, walau sejam. Pulang? Saya bilang, pulang itu nggak
mungkin. Dari Indonesia didesak terus. Pokoknya sejam saja cukup, untuk
memenuhi sarat peresmian saja. Saya mengerti, tapi bagi saya tak memungkinkan.
Putus sampai di situ. Karena saya tak mungkkin datang walau hanya satu jam.
Saya melangsungkan pernikahan setelah empat tahun di Berlin sini, sekitar 1975,
setelah dapat suaka. Ceritanya begini. Setelah gagal dengan keponakan teman
saya itu, gadis dari Malang itu, muncul tawaran dari Ibu saya sendiri. Sebagai
orangtua dia tentu punya pikiran dan rencana untuk saya. Saya diperkenalkan
dengan perempaun yang jadi istri saya sekarang. Ada hubungan famili yang jauh
sekali. Dia orang Cepu. Waktu itu, dia bekerja di konsulat Indonesia di Jepang.
Kami berkenalan. Mau nggak? tanya Ibu. Mau, jawab saya. Kalau mau, dia harap
memaklumi keadaan saya. Tak punya apa-apa. Siap memulai dari nol. Jangan dikira
saya di luar negri punya macam-macam.
Dia pulang ke Indonesia. Pernikahan diresmikan di Indonesia, di Klaten, Jawa
Tengah. Saya ‘kan tak bisa pulang. Tak bisa datang. Yang mewakili saya kakak
saya. Alasannya karena saya sedang dinas di luar negeri. Di dalam surat nikah
disebutkan pengantin lelaki namanya Sunarto, tanggal lahir ini dan lain-lain
dan lain-lain … Sudah. Selesai. Begitu istri saya dapat paspor, dia lantas
berangkat ke sini. Dia sampai di Berlin tahun 1976. Sampai sekarang punya anak
dua. Yang tertua lelaki, 30 tahun. Yang kedua 26, juga lelaki. Kakak yang
mewakil saya dalam pernikahan di Klaten itu meninggal tahun lalu.Dengan
anak-istri bahasa apa yang digunakan?
Bahasa Indonesia dong… Dengan Ibunya, anak-anak menggunakan bahasa Jawa, dengan
saya Jerman.Sudah pernah ke Indonesia?
Sudah! Tiga kali.Ketika pulang anak-istri diajak?
Oh, tidak.Yang terakhir?
Dua tahun lalu. Pada waktu Gus Dur, pada tahun 2000, saya berusaha untuk
memperoleh paspor dari KBRI. Setelah sekitar enam tahun menunggu barulah paspor
itu saya dapatkan. Keberhasilan itu merupakan buah dari upaya yang
terus-menerus. Setiap bertemu dengan pejabat KBRI, dan di dalam pertemuan,
seperti seminar yang menyangkut Indonesia, dan berlangsung di sini, masalah
mereka yang tak bisa pulang saya ketengahkan. Ada yang mengatakan
penyelesaiannya sedang diperoses. Akhirnya, saya dapat paspor.
Ketika pulang yang kedua kali ke Indonesia saya berangkat bersama istri. Anak
tidak, karena mereka sekolah. Dengan anak belum pernah pulang bareng ke
sana.Ketika Bung dan istri tiba di Klaten suasananya seperti apa?
Sambutan baik sekali. Yang menarik ketika saya datang ke sana, saya didatangi
seorang teman lama. “Jangan banyak ngomong. Mereka masih banyak,” dia
menasihati. Saya tahu arti kata-kata itu. Saya juga sudah tahu di daerah itu
ada kuburan massal. Hanya sehari di Klaten. Datang dan diterima keluarga saya.
Famili dari mana-mana pada datang. Famili istri yang tinggal di Cepu tak ada
yang muncul. Saya anak keempat dari sepuluh bersaudara. Keponakan-keponakan
banyak sekali. Tetangga banyak yang datang, karena mereka tahu Bapak saya orang
pergerakan.Bung punya paspor Indonesia, istri juga, ada rencana kembali ke
Indonesia?
Waktu saya datang, terasa berada di suatu tempat yang asing samasekali. Wilayah
yang samasekali baru. Apakah saya bisa hidup di sini? kata saya di dalam hati.
Istri saya sendiri tidak ingin pulang. Pulang tak punya mata pencaharian. Mau
jadi apa? Umur sudah segini. Kenyataan riil yang tidak mudah untuk
dihadapi.Sudah punya mantu? Berapa cucu?
Salah seorang dari anak saya, yang tertua, sudah punya istri, belum punya anak.
Anak saya itu arsitek. Yang kedua belajar teknik informatika dan akan
menyelesaikan pendidikannya. Dia dibiayai oleh pemerintah Jerman untuk praktek
di Indonesia. Dia ingin bekerja di ITB. Setelah sertahun di sana, dia akan
kembali ke Berlin dan masa pendidikannya di Indonesia itu akan diperhitungkan
dalam pencapaian gelar kesarjanaannya di sini. Sekarang dia sudah di ITB.
Biarlah dia mengalami hidup di Indonesia itu seperti apa. Anak saya yang
pertama, untuk menyelesaikan master of art-nya juga tinggal di Indonesia selama
setahun. Di Universitas Parahyangan Bandung. Kenal dengan gadis Indonesia terus
menikah. Istrinya juga arsitek. Nah, adiknya mau mengikuti jalan kakaknya
itu.Sejak kapan Bung jadi pengemudi ttaksi?
Tak lama setelah sampai di Berlin.Bisa hidup dengan nyupir taksi?
Hidup! Nyatanya hidup.Sudah pensiun?
Umur 65 pensiun. Sekarang saya 76.Dan uang pensiun itu mencukupi?
Cukup.Kalau tak cukup apakah pemerintah Jerman membantu?
Dibantu. Tapi saya belum meminta.Dari perjalanan hidup yang panjang berliku,
pelajaran apa yang bisa dipetik?
Kenyataan obyektif menunjukkan bahwa manusia itu materialistis. Saya sudah
melalui berbagai pertentangan dan hidup itu memang penuh pertentangan. Saya
tidak menyesal jadi begini. Mungkin, kalau ada kehidupan kedua saya mau jadi
manusia yang lain… hahaha. Limapuluh tahun tidak di tanah air. Saya hidup di
Indonesia hanya 20 tahun. Saya di sini tidak sendirian, banyak teman yang
seperti saya. Saya hidup di sini dengan disemangati pikiran bahwa kawan-kawan
saya di Indonesia hidup jauh lebih sulit. Tanpa semangat itu mungkin saya tak
berani untuk terus mempertahankan hidup. Saya bisa membayangkan kehidupan kawan
di Indonesia jauh lebih berat. Saya melihat foto-foto mereka yang sedang
ditangkap, digiring, dipukuli, dibuang …
Saya tidak dibesarkan dan tidak dididik dalam suasana perjuangan. Saya bukan
aktivis. Ibu saya itu pedagang kain, dan sebagai anak saya terbiasa harus
membantu beliau ke pasar. Tapi, di sini saya lihat yang dari Pemuda Rakyat dan
yang dari organisasi ini-itu, mereka itu tidak punya inisiatif. Saya lebih
aktif. Karena mereka kelihatannya sudah terbiasa bekerja setelah dapat
perintah. Saya kalau kalah di satu bidang, saya akan mencari kemenangan di
bidang lain. Sementara mereka, kalau sudah kalah ya selesai.
Waktu itu keadaan sulit. Kontak tak ada. Saya buka toko. Sebab dengan toko ‘kan
banyak yang datang. Bisa komunikasi. Bisa ketemu orang Indonesia, bisa ngomog.
Waktu itu saya buka toko jual bahan makanan. Terasi, gereh (ikan asin), saya
datangkan dari Belanda, saya jual di sini. Dengan begitu saya punya hubungan.
Kalau tidak punya hubungan dengan manusia, dengan kawan, saya mati! Mereka,
teman-teman lain, yang tergabung dalam rupa-rupa organisasi di Indonesia dulu,
kerja. Sudah. Kemudian mati. Mereka yang dapat uang tunjangan sosial sebenarnya
‘kan bisa memanfaatkannya untuk perjuangan hidup. Berjuang, kalah. Kok gak
berjuang lagi.
Saya tidak dididik oleh orangtua saya sebagai pejuang, tapi kalah tetap
berjuang untuk hidup. Saya buka restoran “Bengawan Solo.” Ada konflik dengan
kedutaan yang menganjurkan agar orang Indonesia jangan makan di “Bengawan
Solo.” Waktu itu Suharto berkuasa. Jadi tidak hanya restoran Indonesia di Paris
yang mengalami hal seperti itu. Di restoran itu saya dapat banyak kontak,
sehingga situasi di Indonesia tetap sampai kepada saya. Dengan begitu saya
dapat majalah dan bacaan lain dari Indonesia. Mandeg dalam berpikir sebenarnya
‘kan nggak ada. Yang ada adalah yang dimadeg-mandegkan.Sampai pada satu titik,
pernah menyesal?
Saya hidup dan saya tak pernah menyesali hidup saya.SukaTunjukkan lebih banyak
tanggapanKomentariMartin Aleida - Penderitaan di Indonesia Menyemangati... |
Facebook
|
| |
Martin Aleida - Penderitaan di Indonesia Menyemangati... | Facebook
Penderitaan di Indonesia Menyemangati Hidup Saya oleh Martin Aleida Dalam usia
76 tahun dia masih bisa bertaha... | |
|