Kasihan betul si Chan ini, otaknya terlalu banyak dempul revisionisnya sehingga 
tidak mampu mengerti arti dan makna sangat dalam dari pengalaman perjuangan 
kaum buruh Coca-Cola. Otaknya tidak mampu mengerti mengapa kaum buruh berjuang 
melawan penutupan pabrik yang merupakan sumber penghidupannya. Karena mikirnya 
pakai dengkul, dan yang lebih penting lagi adalah keberpihakannya kepada kaum 
kapitalis.Komentarnya "Dia mau tutup yaa biarkan saja" menunjukkan logika 
reaksionernya, yaitu kaum buruh harus menyerah saya diperlakukan secara 
semena-mena oleh kaum multinasional!! Dia tidak mengerti bahwa hak untuk 
bekerja adalah HAMnya kaum buruh, dan hak itu hanya dihormati sepenuhnya dalam 
sebuah pemerintahan sosialis seperti pada jaman Mao, di mana buruh memiliki 
status kerja seumur hidup. Hak inilah yang dihapus, diejek dan dicemooh oleh 
kaum revisionis Deng Xiao ping serta pengikut setianya seperti Chan demi 
membangun kapitalisme brutal alias "sosialisme dengan ciri Tkk". Kepicikan 
sekaligus kekurang-ajaran si Chan ini diperlihatkan lagi dengan membelokkan 
masalahnya kepada soal sehat tidaknya minuman Coca-Cola. Saya juga menganggap 
Coca-Cola tidak sehat, maka itu tidak pernah mau mengkonsumsinya, tapi bukan 
itu hakekat masalahnya. Hakekat masalahnya adalah sebuah pabrik yang sudah 
dibuktikan efisiensi dan produktivitas tinggi, tapi mau ditutup, yang berarti 
menghilangkan mata pencaharian lebih dari seribu buruhnya. Kemudian masih 
berani dan berhasil multinasional Coca-Cola mencampakkan keputusan Mahkamah 
Agung!  Ini persis seperti Ginanjar dan juga Jokowi yang tidak mau segera 
mematuhi keputusan MA yang sudah memerintahkan pabrik semen supaya menghentikan 
kegiatannya. Mereka adalah pejabat negara tapi menolak mematuhi keputusan 
lembaga negaranya sendiri! Apa artinya ini???? Seorang Marxis, dan Chan pernah 
mengaku dirinya seorang Marxis (tapi tidak pernah menjawab pertanyaan apakah 
dia mengakui dan menerima prinsip perjuangan kelas....Ya jelas dia tidak 
mengakuinya karena dia justru menghimbau kaum buruh untuk kerja sama dengan 
kaum majikan) pasti mengerti arti dari sikap membangkang multinasional 
Coca-Cola dan Ginanjar/Jokowi terhadap hukum negara yang dikelolanya. Saya yang 
dibilang "katak dalam tempurung" tapi si Chan yang "tahu segala" anehnya tidak 
tahu sudah berapa banyak politikus dan sejarawan Eropa yang mengatakan bahwa 
yang berkuasa di negara-negara EU adalah kaum multinasional. Para politikus itu 
hanyalah boneka yang mengabdi kepentingan kantongnya segelintir kaum 
oligarki/muiltinasional/ bankir yang menguasai ekonomi dunia. Si Chan yang 
"tahu segala" anehnya juga tidak tahu bahwa partai Demokrat dan Republik di AS 
hanya bonekanya Wall Street dan magnate/oligarki/multinasional. Mbok 
sekali-sekali tuan yang "tahu segala" itu mempostingkan berita dari dunia lain. 
Dunia ini besar dan luas, bukan hanya Tiongkok tanah air tercinta anda saja!
Arti penting dan dalam dari pengalaman perjuangan kaum buruh Coca-Cola adalah 
tidak cukup berjuang untuk reform dan perbaikan kondisi kerja dan kehidupan 
ekonomi saja. Seandainya tuntutan reform dan perbaikan kondisi diterima oleh 
majikan, hal itu tetap tidak akan menyelesaikan akar dari penghisapan dan 
menyelesaikan kontradiksi antara kaum buruh dan majikan yang bersifat 
antagonis. Perjuangan menuntut perbaikan nasib sudah tentu harus terus 
dilakukan selama buruh masih terus hidup dalam sistim kapitalis. Perjuangan itu 
akan mendidik dan meningkatkan kesadaran kelas. Namun buruh tidak dapat  
mempercayakan dan menggantungkan nasibnya kepada sistim  kapitalis serta 
lembaganya. Inilah pelajaran yang ditarik oleh kaum buruh Coca-Cola di Madrid. 
Hakekat masalahnya terletak pada struktur, pada sistim ekonomi kapitalis di 
mana buruh hanya punya tenaga kerja sedangkan alat produksi ada di tangan kaum 
kapitalis/ multinasional. Begitu alat produksinya diambil oleh yang punya, 
buruh hilang mata pencahariannya. Kaum multinasional dapat melanggar keputusan 
MA, sama sekali tidak ada resikonya. Tapi kalau kaum buruh dianggap melanggar 
hukum oleh majikan dan undang-undang serta peraturan yang ada, pasti buruh 
dihadapkan kepada pengadilan dan penjara.
Begitu juga pengalaman kaum tani dan penduduk gunung Kendeng dalam melawan 
pabrik semen yang mengancam kelangsungan hidup mereka dan keluarganya.
Lihat nggak bagaimana reaksi kaum perempuan tani Kendeng ketika mengetahui akal 
licik Ginanjar untuk menyelamatkan pabrik semen yang sudah bertahun-tahun 
ditentang rakyat? Orang seperti Chan tidak bisa diharapkan mengerti kemarahan 
sekaligus kesedihan kaum tani Kendeng. Apalagi bersimpati??? Simpati dan air 
matanya selalu bagi dedengkot remo Liu Shaoqi, bukan untuk kaum yang di bawah! 
Chan tidak akan mengerti kemarahan dan kesedihan mereka yang digusur di 
Jakarta, kaum tani dari 26 desa yang ditenggelamkan waduk Jatigede (dengan 
modal kaum kapitalis Tkk yang dipuja setengah mati oleh Chan), kaum tani desa 
Sukamulya, kaum tani Kulon Progo dan kaum tani di segala pelosok kepulauan 
Indonesia yang masih terus melawan perampasan tanahnya oleh kaum pemodal dan 
investor, diantaranya kaum pemodal Tkk, pujaan Chan! Itulah wajah seorang 
revisionis kepala batu, penghina kaum tani dan pemuja kapitalisme!!!
 

   

 On Wednesday, December 14, 2016 1:07 AM, Chan CT <[email protected]> wrote:
 

 Lha illaaaah, ... informasi apa ini dari “nenek dalam tempurung” dengan 
kesimpulan cupat pula “kapitalis-multinasional lah yang menentukan nasib 
BURUH”! Itukan hanya MEMBUKTIKAN pemerintah Spanyol yang berkuasa bukan 
PEMERINTAH RAKYAT, tapi pemerintah yang hanya mengabdi pada kapitalis saja! Itu 
menandakan KEKUATAN RAKYAT masih lemah, ...! Buruh tidak bisa berbuat apa-apa, 
... mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya??? Sedang nenek yang satu ini 
sudah cupat pula hanya menuduh orang lain TIDAK mau BELAJAR dan MENARIK 
PELAJARAN! Jangan menyalahkan siapa-siapa, ... BURUH harus BERSATU, menyatukan 
diri lebih kuat dalam barisan memperjuangkan NASIB lebih baik melawan 
keserakahan kapitalis dan kesewenang-wenangan penguasa! PERJUANGKAN KEADILAN 
bukan minta pada siapa-siapa, tapi HARUS BERSATU dengan TEGUH BERJUANG SENDIRI! 
Kalau HUKUM sudah bisa dimenangkan, yaa mestinya gunakan keputusan HUKUM itu 
meneruskan PERLAWANAN dan gebug PEMERINTAH yang menindas dengan TENTARA! Begitu 
aja, kok repot, ...! Tapi neng, ... kalau pabrik Coca-Cola kenapa harus 
dipertahankan, ya? Dia mau tutup yaa biarkan saja. Lha Coca-Cola itu jelas 
merusak kesehatan rakyat, kok! Kenapa tidak menuntut buka pabrik atau 
mengalihkan ke minuman yang yang lebih BERGUNA dan jelas tidak merusak 
kesehatan saja, ya? Salam,ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] 
[GELORA45] Sent: Wednesday, December 14, 2016 1:04 AMTo: Yahoogroups ; DISKUSI 
FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat 
Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; 
Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; 
[email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma 
I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; 
[email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: [GELORA45] 
Dokumental Coca-Cola   Informasi lagi dari orang yang sering mendapat cap 
"katak dalam tempurung"dari Chan. Video dalam bahasa Spanyol tapi ada subtitles 
bahasa Inggris. Di layar lebar baru bisa kelihatan dengan baik 
subtitlesnya.Video di bawah ini menceritakan perjuangan kaum buruh pabrik 
Coca-Cola di Fuenlabrada (Madrid) melawan pemecatan dan penutupan pabrik. 
Mula-mula melalui pemogokan, kemudian manifestasi di jalan-jalan dan akhirnya 
ke pengadilan. Perlawanan dilakukan sejak Januari 2014. Bulan April 2015 
Mahkamah Agung membenarkan kaum buruh dan menyatakan pemecatan dan penutupan 
pabrik melanggar hukum. Bisa dibayangkan kegembiraan dan kebahagian semua kaum 
buruh mendapatkan kembali pekerjaannya!!! Namun kegembiraan dan kebahagian itu 
kemudian dengan cepat lenyap...Multinasional Coca-Cola tidak kehilangan akal 
untuk menghindari keputusan MA dan melanggar hukum. Kaum buruh yang sudah 
dibenarkan oleh hukumpun masih harus berhadapan dengan kekerasan aparat 
militer. Dengan dikawal aparat kekuasaan, pabrik dipreteli... Buruh tidak bisa 
lagi berbuat apa-apa. Mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya? Wong hukum 
sudah membenarkannya. Nah, tidakkah kita dihadapkan kepada KEBENARAN DAN 
KENYATAAN? Bahwa yang berkuasa sungguh-sungguh di negeri-negeri yang menyandang 
nama "welfare state", dikenal sebagai negara hukum dan di mana HAM dihormati, 
adalah kaum multinasional! Kaum multinasional lah yang menentukan nasib warga 
dan keluarganya!!! Kapan saja kaum buruh tidak diperlukan lagi tenaga kerjanya, 
mereka dianggap sebagai debu saja yang mengotori jalan-jalan besar kota-kota 
metropolitan! Sebuah pelajaran buat mereka yang masih mau belajar dan menarik 
pelajaran! 
Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)
 
|  
|  
|  
|  |   |

 |

 |
|  
|   |  
Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)
 COCA COLA EN LUCHA Cuando David se enfrenta a Goliat Esta es la historia de 
una lucha titánica. La de los trabaj... |  |

 |

 |

 #yiv5391313798 -- #yiv5391313798ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798ygrp-mkp #yiv5391313798hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-mkp #yiv5391313798ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-mkp .yiv5391313798ad 
{padding:0 0;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-mkp .yiv5391313798ad p 
{margin:0;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-mkp .yiv5391313798ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-sponsor 
#yiv5391313798ygrp-lc {font-family:arial;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798ygrp-sponsor #yiv5391313798ygrp-lc #yiv5391313798hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798ygrp-sponsor #yiv5391313798ygrp-lc .yiv5391313798ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5391313798 #yiv5391313798actions 
{font-family:verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5391313798
 #yiv5391313798activity span {font-weight:700;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv5391313798 #yiv5391313798activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5391313798 #yiv5391313798activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv5391313798 #yiv5391313798activity span 
.yiv5391313798underline {text-decoration:underline;}#yiv5391313798 
.yiv5391313798attach 
{clear:both;display:table;font-family:arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv5391313798 .yiv5391313798attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv5391313798 .yiv5391313798attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5391313798 .yiv5391313798attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5391313798 .yiv5391313798attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv5391313798 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv5391313798 .yiv5391313798bold 
{font-family:arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5391313798 
.yiv5391313798bold a {text-decoration:none;}#yiv5391313798 dd.yiv5391313798last 
p a {font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv5391313798 dd.yiv5391313798last p 
span {margin-right:10px;font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv5391313798 
dd.yiv5391313798last p span.yiv5391313798yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv5391313798 div.yiv5391313798attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv5391313798 div.yiv5391313798attach-table 
{width:400px;}#yiv5391313798 div.yiv5391313798file-title a, #yiv5391313798 
div.yiv5391313798file-title a:active, #yiv5391313798 
div.yiv5391313798file-title a:hover, #yiv5391313798 div.yiv5391313798file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5391313798 div.yiv5391313798photo-title a, 
#yiv5391313798 div.yiv5391313798photo-title a:active, #yiv5391313798 
div.yiv5391313798photo-title a:hover, #yiv5391313798 
div.yiv5391313798photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5391313798 
div#yiv5391313798ygrp-mlmsg #yiv5391313798ygrp-msg p a 
span.yiv5391313798yshortcuts 
{font-family:verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5391313798 
.yiv5391313798green {color:#628c2a;}#yiv5391313798 .yiv5391313798msonormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv5391313798 o {font-size:0;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798photos div {float:left;width:72px;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5391313798
 #yiv5391313798reco-category {font-size:77%;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798reco-desc {font-size:77%;}#yiv5391313798 .yiv5391313798replbq 
{margin:4px;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798ygrp-mlmsg select, #yiv5391313798 input, #yiv5391313798 textarea 
{font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798ygrp-mlmsg pre, #yiv5391313798 code {font:115% 
monospace;}#yiv5391313798  #yiv5391313798ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-mlmsg #yiv5391313798logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-msg p a 
{font-family:verdana;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-msg 
p#yiv5391313798attach-count span {color:#1e66ae;font-weight:700;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798ygrp-reco #yiv5391313798reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-sponsor 
#yiv5391313798ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798ygrp-sponsor #yiv5391313798ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798ygrp-sponsor #yiv5391313798ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-text 
{font-family:georgia;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv5391313798 #yiv5391313798ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5391313798 
#yiv5391313798ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv5391313798 

   

Kirim email ke