Perhatikan postingan saya hari ini yang berkaitan dengan Hari Migran 
Internasional. SAMA SEKALI SAYA TIDAK BINGUNG! RAKYAT YANG SUDAH SADAR DAN 
TERORGANISASI JUGA TIDAK BINGUNG! KAMI TAHU SIAPA YANG MENJADI SASARAN 
PERJUANGAN DAN SIAPA KAWAN DAN SEKUTU! Yang bingung justru seperti Chan itu. 
Karena di satu pihak ingin menampilkan diri dan kelihatan sebagai orang "kiri", 
orang "Marxis", tapi dipihak lain ia membelejeti dirinya sendiri sebagai 
seorang revisionis, reaksioner, dan anti-sosialis! Tanpa bisa menunjukkan 
unsur-unsur sosialis dalam sistim ekonomi, politik dan sosial Tiongkok 
sekarang, tapi terus ngotot membela "Sosialisme dengan ciri Tkk" dan berilusi 
Sosialisme dapat dikawinkan dengan Kapitalisme!!!! 

    On Sunday, December 18, 2016 5:15 AM, Chan CT <[email protected]> wrote:
 

 Hahahaa, ... nenek yang satu ini kebingungan disatu sisi berkeras menyerukan 
BASMI KAPITALIS sekarang juga, begitu kapitalis hendak nutup pabrik Coca-Cola, 
dia berdiri bela klas proletariat dengan seruan HAM! Lalu, mau nya apa? Tidak 
tahu bagaimana harus berjuang, ...?  Padahal jelas di Spanyol itu pemerintah 
borjuis yg membela kepentingan kapitalis lebih berat, ... jadi TIDAK ada jalan 
lain bagi klas proletariat untuk memperkuat PERSATUAN barisan klas pekerja 
untuk menuntut keadilan dan memenangkan perjuangannya selangkah demi selangkah! 
Sebelum bisa merebut kekuasaan, yaah harus bisa menyatukan segala kekuatan yang 
bisa dipersatukan, bukan main hantam dengan menyasar semua kekuatan yang ada.  
Begitu juga dengan di Indonesia sekarang ini, jangan semua kekuatan disasar, 
diserang secara frontal! Kita bagaimanapun juga harus memilah-milah dengan 
teliti kekuatan-kekuatan yang ada. Kalau orang macam Jokowi, Ahok juga ikutan 
diserang, lalu kalian hendak bersatu dan mendukung siapa lagi? Bersatu dengan 
kekuatan macam Prabowo, SBY, ... bahkan Tommy Soeharto? Ada-ada saja nenek yang 
satu ini!  Atau menjadi pendekar seorangan wae, bisaaa???  Salam,ChanCT  From: 
Tatiana Lukman Sent: Friday, December 16, 2016 7:42 PMTo: Chan CT ; Yahoogroups 
; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat 
Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; 
Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; 
[email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma 
I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; 
[email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: Re: [GELORA45] 
Dokumental Coca-Cola Kasihan betul si Chan ini, otaknya terlalu banyak dempul 
revisionisnya sehingga tidak mampu mengerti arti dan makna sangat dalam dari 
pengalaman perjuangan kaum buruh Coca-Cola. Otaknya tidak mampu mengerti 
mengapa kaum buruh berjuang melawan penutupan pabrik yang merupakan sumber 
penghidupannya. Karena mikirnya pakai dengkul, dan yang lebih penting lagi 
adalah keberpihakannya kepada kaum kapitalis.Komentarnya "Dia mau tutup yaa 
biarkan saja" menunjukkan logika reaksionernya, yaitu kaum buruh harus menyerah 
saya diperlakukan secara semena-mena oleh kaum multinasional!! Dia tidak 
mengerti bahwa hak untuk bekerja adalah HAMnya kaum buruh, dan hak itu hanya 
dihormati sepenuhnya dalam sebuah pemerintahan sosialis seperti pada jaman Mao, 
di mana buruh memiliki status kerja seumur hidup. Hak inilah yang dihapus, 
diejek dan dicemooh oleh kaum revisionis Deng Xiao ping serta pengikut setianya 
seperti Chan demi membangun kapitalisme brutal alias "sosialisme dengan ciri 
Tkk". Kepicikan sekaligus kekurang-ajaran si Chan ini diperlihatkan lagi dengan 
membelokkan masalahnya kepada soal sehat tidaknya minuman Coca-Cola. Saya juga 
menganggap Coca-Cola tidak sehat, maka itu tidak pernah mau mengkonsumsinya, 
tapi bukan itu hakekat masalahnya. Hakekat masalahnya adalah sebuah pabrik yang 
sudah dibuktikan efisiensi dan produktivitas tinggi, tapi mau ditutup, yang 
berarti menghilangkan mata pencaharian lebih dari seribu buruhnya. Kemudian 
masih berani dan berhasil multinasional Coca-Cola mencampakkan keputusan 
Mahkamah Agung!  Ini persis seperti Ginanjar dan juga Jokowi yang tidak mau 
segera mematuhi keputusan MA yang sudah memerintahkan pabrik semen supaya 
menghentikan kegiatannya. Mereka adalah pejabat negara tapi menolak mematuhi 
keputusan lembaga negaranya sendiri! Apa artinya ini???? Seorang Marxis, dan 
Chan pernah mengaku dirinya seorang Marxis (tapi tidak pernah menjawab 
pertanyaan apakah dia mengakui dan menerima prinsip perjuangan kelas....Ya 
jelas dia tidak mengakuinya karena dia justru menghimbau kaum buruh untuk kerja 
sama dengan kaum majikan) pasti mengerti arti dari sikap membangkang 
multinasional Coca-Cola dan Ginanjar/Jokowi terhadap hukum negara yang 
dikelolanya. Saya yang dibilang "katak dalam tempurung" tapi si Chan yang "tahu 
segala" anehnya tidak tahu sudah berapa banyak politikus dan sejarawan Eropa 
yang mengatakan bahwa yang berkuasa di negara-negara EU adalah kaum 
multinasional. Para politikus itu hanyalah boneka yang mengabdi kepentingan 
kantongnya segelintir kaum oligarki/muiltinasional/ bankir yang menguasai 
ekonomi dunia. Si Chan yang "tahu segala" anehnya juga tidak tahu bahwa partai 
Demokrat dan Republik di AS hanya bonekanya Wall Street dan 
magnate/oligarki/multinasional. Mbok sekali-sekali tuan yang "tahu segala" itu 
mempostingkan berita dari dunia lain. Dunia ini besar dan luas, bukan hanya 
Tiongkok tanah air tercinta anda saja! Arti penting dan dalam dari pengalaman 
perjuangan kaum buruh Coca-Cola adalah tidak cukup berjuang untuk reform dan 
perbaikan kondisi kerja dan kehidupan ekonomi saja. Seandainya tuntutan reform 
dan perbaikan kondisi diterima oleh majikan, hal itu tetap tidak akan 
menyelesaikan akar dari penghisapan dan menyelesaikan kontradiksi antara kaum 
buruh dan majikan yang bersifat antagonis. Perjuangan menuntut perbaikan nasib 
sudah tentu harus terus dilakukan selama buruh masih terus hidup dalam sistim 
kapitalis. Perjuangan itu akan mendidik dan meningkatkan kesadaran kelas. Namun 
buruh tidak dapat  mempercayakan dan menggantungkan nasibnya kepada sistim  
kapitalis serta lembaganya. Inilah pelajaran yang ditarik oleh kaum buruh 
Coca-Cola di Madrid. Hakekat masalahnya terletak pada struktur, pada sistim 
ekonomi kapitalis di mana buruh hanya punya tenaga kerja sedangkan alat 
produksi ada di tangan kaum kapitalis/ multinasional. Begitu alat produksinya 
diambil oleh yang punya, buruh hilang mata pencahariannya. Kaum multinasional 
dapat melanggar keputusan MA, sama sekali tidak ada resikonya. Tapi kalau kaum 
buruh dianggap melanggar hukum oleh majikan dan undang-undang serta peraturan 
yang ada, pasti buruh dihadapkan kepada pengadilan dan penjara. Begitu juga 
pengalaman kaum tani dan penduduk gunung Kendeng dalam melawan pabrik semen 
yang mengancam kelangsungan hidup mereka dan keluarganya. Lihat nggak bagaimana 
reaksi kaum perempuan tani Kendeng ketika mengetahui akal licik Ginanjar untuk 
menyelamatkan pabrik semen yang sudah bertahun-tahun ditentang rakyat? Orang 
seperti Chan tidak bisa diharapkan mengerti kemarahan sekaligus kesedihan kaum 
tani Kendeng. Apalagi bersimpati??? Simpati dan air matanya selalu bagi 
dedengkot remo Liu Shaoqi, bukan untuk kaum yang di bawah! Chan tidak akan 
mengerti kemarahan dan kesedihan mereka yang digusur di Jakarta, kaum tani dari 
26 desa yang ditenggelamkan waduk Jatigede (dengan modal kaum kapitalis Tkk 
yang dipuja setengah mati oleh Chan), kaum tani desa Sukamulya, kaum tani Kulon 
Progo dan kaum tani di segala pelosok kepulauan Indonesia yang masih terus 
melawan perampasan tanahnya oleh kaum pemodal dan investor, diantaranya kaum 
pemodal Tkk, pujaan Chan! Itulah wajah seorang revisionis kepala batu, penghina 
kaum tani dan pemuja kapitalisme!!! 



On Wednesday, December 14, 2016 1:07 AM, Chan CT <[email protected]> wrote:


Lha illaaaah, ... informasi apa ini dari “nenek dalam tempurung” dengan 
kesimpulan cupat pula “kapitalis-multinasional lah yang menentukan nasib 
BURUH”! Itukan hanya MEMBUKTIKAN pemerintah Spanyol yang berkuasa bukan 
PEMERINTAH RAKYAT, tapi pemerintah yang hanya mengabdi pada kapitalis saja! Itu 
menandakan KEKUATAN RAKYAT masih lemah, ...! Buruh tidak bisa berbuat apa-apa, 
... mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya??? Sedang nenek yang satu ini 
sudah cupat pula hanya menuduh orang lain TIDAK mau BELAJAR dan MENARIK 
PELAJARAN! Jangan menyalahkan siapa-siapa, ... BURUH harus BERSATU, menyatukan 
diri lebih kuat dalam barisan memperjuangkan NASIB lebih baik melawan 
keserakahan kapitalis dan kesewenang-wenangan penguasa! PERJUANGKAN KEADILAN 
bukan minta pada siapa-siapa, tapi HARUS BERSATU dengan TEGUH BERJUANG SENDIRI! 
Kalau HUKUM sudah bisa dimenangkan, yaa mestinya gunakan keputusan HUKUM itu 
meneruskan PERLAWANAN dan gebug PEMERINTAH yang menindas dengan TENTARA! Begitu 
aja, kok repot, ...! Tapi neng, ... kalau pabrik Coca-Cola kenapa harus 
dipertahankan, ya? Dia mau tutup yaa biarkan saja. Lha Coca-Cola itu jelas 
merusak kesehatan rakyat, kok! Kenapa tidak menuntut buka pabrik atau 
mengalihkan ke minuman yang yang lebih BERGUNA dan jelas tidak merusak 
kesehatan saja, ya? Salam,ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] 
[GELORA45] Sent: Wednesday, December 14, 2016 1:04 AMTo: Yahoogroups ; DISKUSI 
FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat 
Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; 
Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; 
[email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma 
I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; 
[email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: [GELORA45] 
Dokumental Coca-Cola   Informasi lagi dari orang yang sering mendapat cap 
"katak dalam tempurung"dari Chan. Video dalam bahasa Spanyol tapi ada subtitles 
bahasa Inggris. Di layar lebar baru bisa kelihatan dengan baik 
subtitlesnya.Video di bawah ini menceritakan perjuangan kaum buruh pabrik 
Coca-Cola di Fuenlabrada (Madrid) melawan pemecatan dan penutupan pabrik. 
Mula-mula melalui pemogokan, kemudian manifestasi di jalan-jalan dan akhirnya 
ke pengadilan. Perlawanan dilakukan sejak Januari 2014. Bulan April 2015 
Mahkamah Agung membenarkan kaum buruh dan menyatakan pemecatan dan penutupan 
pabrik melanggar hukum. Bisa dibayangkan kegembiraan dan kebahagian semua kaum 
buruh mendapatkan kembali pekerjaannya!!! Namun kegembiraan dan kebahagian itu 
kemudian dengan cepat lenyap...Multinasional Coca-Cola tidak kehilangan akal 
untuk menghindari keputusan MA dan melanggar hukum. Kaum buruh yang sudah 
dibenarkan oleh hukumpun masih harus berhadapan dengan kekerasan aparat 
militer. Dengan dikawal aparat kekuasaan, pabrik dipreteli... Buruh tidak bisa 
lagi berbuat apa-apa. Mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya? Wong hukum 
sudah membenarkannya. Nah, tidakkah kita dihadapkan kepada KEBENARAN DAN 
KENYATAAN? Bahwa yang berkuasa sungguh-sungguh di negeri-negeri yang menyandang 
nama "welfare state", dikenal sebagai negara hukum dan di mana HAM dihormati, 
adalah kaum multinasional! Kaum multinasional lah yang menentukan nasib warga 
dan keluarganya!!! Kapan saja kaum buruh tidak diperlukan lagi tenaga kerjanya, 
mereka dianggap sebagai debu saja yang mengotori jalan-jalan besar kota-kota 
metropolitan! Sebuah pelajaran buat mereka yang masih mau belajar dan menarik 
pelajaran! 
Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)
 
|  
|  
|  
|  |   |

 |

 |
|  
|   |  
Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)
 COCA COLA EN LUCHA Cuando David se enfrenta a Goliat Esta es la historia de 
una lucha titánica. La de los trabaj... |  |

 |

 |

 #yiv1823725011 -- #yiv1823725011ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011ygrp-mkp #yiv1823725011hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-mkp #yiv1823725011ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-mkp .yiv1823725011ad 
{padding:0 0;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-mkp .yiv1823725011ad p 
{margin:0;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-mkp .yiv1823725011ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-sponsor 
#yiv1823725011ygrp-lc {font-family:arial;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011ygrp-sponsor #yiv1823725011ygrp-lc #yiv1823725011hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011ygrp-sponsor #yiv1823725011ygrp-lc .yiv1823725011ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1823725011 #yiv1823725011actions 
{font-family:verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1823725011  
#yiv1823725011activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1823725011
 #yiv1823725011activity span {font-weight:700;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1823725011 #yiv1823725011activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1823725011 #yiv1823725011activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1823725011 #yiv1823725011activity span 
.yiv1823725011underline {text-decoration:underline;}#yiv1823725011 
.yiv1823725011attach 
{clear:both;display:table;font-family:arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1823725011 .yiv1823725011attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1823725011 .yiv1823725011attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1823725011 .yiv1823725011attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1823725011 .yiv1823725011attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1823725011 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1823725011 .yiv1823725011bold 
{font-family:arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1823725011 
.yiv1823725011bold a {text-decoration:none;}#yiv1823725011 dd.yiv1823725011last 
p a {font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv1823725011 dd.yiv1823725011last p 
span {margin-right:10px;font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv1823725011 
dd.yiv1823725011last p span.yiv1823725011yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1823725011 div.yiv1823725011attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1823725011 div.yiv1823725011attach-table 
{width:400px;}#yiv1823725011 div.yiv1823725011file-title a, #yiv1823725011 
div.yiv1823725011file-title a:active, #yiv1823725011 
div.yiv1823725011file-title a:hover, #yiv1823725011 div.yiv1823725011file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1823725011 div.yiv1823725011photo-title a, 
#yiv1823725011 div.yiv1823725011photo-title a:active, #yiv1823725011 
div.yiv1823725011photo-title a:hover, #yiv1823725011 
div.yiv1823725011photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1823725011 
div#yiv1823725011ygrp-mlmsg #yiv1823725011ygrp-msg p a 
span.yiv1823725011yshortcuts 
{font-family:verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1823725011 
.yiv1823725011green {color:#628c2a;}#yiv1823725011 .yiv1823725011msonormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1823725011 o {font-size:0;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011photos div {float:left;width:72px;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1823725011
 #yiv1823725011reco-category {font-size:77%;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011reco-desc {font-size:77%;}#yiv1823725011 .yiv1823725011replbq 
{margin:4px;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011ygrp-mlmsg select, #yiv1823725011 input, #yiv1823725011 textarea 
{font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011ygrp-mlmsg pre, #yiv1823725011 code {font:115% 
monospace;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-mlmsg #yiv1823725011logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-msg p a 
{font-family:verdana;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-msg 
p#yiv1823725011attach-count span {color:#1e66ae;font-weight:700;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011ygrp-reco #yiv1823725011reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-sponsor 
#yiv1823725011ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011ygrp-sponsor #yiv1823725011ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011ygrp-sponsor #yiv1823725011ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-text 
{font-family:georgia;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1823725011 #yiv1823725011ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1823725011 
#yiv1823725011ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1823725011 



   

Kirim email ke