Chan: Hahahaa, ... nenek yang satu ini sekarang dengan tandas bisa 
menyatakanTIDAK BERSIKERAS BASMI KAPITALIS sekarang juga, ... dengan kata lain 
bisa membenarkan TIDAK melancarkan Revolusi Sosialis sekarang juga! Artinya 
membenarkan keibjaksanaan memperkenankan kapitalis-kapitalis tetap hidup, 
tumbuh dan berkembang, ... dan yang terjadi di Tiongkok sekarang 
kapitalis-kapitalis itu tumbuh, berkembang dibawah kendali Diktatur 
Proletariat! Jadi, ... di tingkat perjuangan sekarang ini yang BENAR adalah 
teori Revolusi Demokrasi Baru yang berhasil dimenangkan Mao menjadi 
kebijaksanaan PKT ditahun 1945 itu!
Tatiana: Bolak balik kelihatan dangkalnya ( untuk tidak bilang goblok!) dan 
ketidak mampuan Chan untuk memahami argumentasi saya. Saya selalu menekankan 
pentingnya analisa kelas untuk mengetahui siapa musuh dan siapa kawan dalam 
setiap tahap revolusi. Di negeri semi kolonial dan semi feodal seperti Tiongkok 
SEBELUM pembebasan 1949 dan mayoritas negeri-negeri Dunia Ketiga sekarang, 
BUKAN REVOLUSI SOSIALIS yang mereka lancarkan. Yang MAO LANCARKAN KETIKA ITU 
dan sekarang sedang dikembangkan di negeri-negeri itu adalah REVOLUSI NASIONAL 
DEMOKRATIS, di mana musuh pokok adalah pemerintah yang mewakili kepentingan 
kaum tuan tanah, kaum kabir, kaum kapitalis komprador. Dan pemerintah yang 
begini selalu didukung kaum imperialis yang dikepalai AS melalui semua lembaga 
keuangan dan perdagangan internasional yang dikelolanya.Makanya rakyat bilang 
pemerintah yang begini adalah ANTEK KAUM IMPERIALIS. Dalam tahap ini BORJUASI / 
KAPITALIS NASIONAL BUKAN MUSUH REVOLUSI. OLEH KARENA ITU KAUM KAPITALIS 
NASIONAL TIDAK DIHANCURKAN. Makanya dalam tahap ini SALAH SATU tuntutan rakyat 
adalah pembangunan INDUSTRI NASIONAL. Sampai sini ngerti nggak Chan!
Tahap Nasional Demokratis LAIN WATAKNYA  dari tahap Revolusi Sosialis.JANGAN 
DIKACAUKAN ATAU DICAMPUR ADUKKAN! Tapi si Chan yang malas belajar  (dan 
ingatannya SANGAT pendek karena sebenarnya semua ini sudah pernah saya jelaskan 
dalam perdebatan beberapa tahun yang lalu) , SELALU MENGACAUKAN DAN MENCAMPUR 
ADUKKAN KEDUA TAHAP TERSEBUT! Apa buktinya bahwa Chan mencampur-adukkan kedua 
tahap yang berlainan wataknya itu? Revolusi Nasional Demokratis di TIONGKOK 
SUDAH SELESAI PADA TAHUN 50'AN! Mao mempimpin rakyat Tiongkok masuk kedalam 
TAHAP SOSIALIS. Dalam TAHAP SOSIALIS inilah KAUM BORJUASI/ KAPITALIS MENJADI 
MUSUH POKOK! Dulu saya bahkan menampilkan kata-kata Mao sendiri berkaitan 
dengan ini. Kaum borjuasi/kapitalis ini mempunyai wakil-wakilnya didalam PKT, 
yaitu Liu Sho-qi dan Deng Xiao-ping!!! Itulah yang disebut "para pejabat tinggi 
dalam partai dan negara yang mengambil jalan kapitalis! Mereka TIDAK MAU MAJU 
KE TAHAP REVOLUSI SOSIALIS! MEREKA INGIN TERUS BERTAHAN DALAM TAHAP REVOLUSI 
NASIONAL DEMOKRATIS DENGAN MEMELIHARA TERUS KEPENTINGAN KAUM BORJUASI NASIONAL 
DENGAN TUJUAN MEMBANGUN KAPITALISME!!! Dalam pertempuran antara dua jalan itu, 
kaum REVISIONIS, KAUM PENEMPUH JALAN KAPITALIS berhasil mengalahkan garis Mao 
serta para pengikutnya. Hasilnya kita lihat sekarang ini: Kapitalisme di Tkk 
sudah berdiri setelah menghancurkan struktur ekonomi, politik dan sosial 
sosialis yang dibangun Mao. Nah, untuk MEMBENARKAN restorasi kapitalis Deng 
xiao ping, DAN MEMBENARKAN PENGHISAPAN TERHADAP KAUM BURUH TKK oleh KAUM 
KAPITALIS BIROKRAT, KOMPRADOR, DAN MULTINASIONAL ASING, Chan bilang tahap 
sekarang di Tkk adalah TAHAP NASIONAL DEMOKRATIS! Padahal Mao SUDAH MULAI 
membangun SOSIALISME sejak tahun 50'an sampai akhir hayatnya tahun 1976! Chan 
menuduh MAO TERLALU CEPAT MEMBABAT KAUM KAPITALIS! Padahal praktek sudah 
membuktikan keberhasilan Mao membangun Sosialisme dan mempertahankannya sampai 
1976. Tapi Chan tetap ngotot dengan tuduhannya terhadap Mao dan bilang sekarang 
Tkk sedang dalam TAHAP NASIONAL DEMOKRATIS nya Mao. Ini adalah PENCATUTAN 
TERANG-TERANGAN terhadap konsep Mao tentang revolusi nasional demokratis! 
Apakah itu tidak berarti MEMUNDURKAN DENGAN PAKSA PERKEMBANGAN di Tkk? Saya 
bilang dengan paksa, karena kemunduran itu dilakukan dengan penindasan dan 
pembunuhan terhadap kaum pengikut Mao!  Memundurkan dan mengembalikan 
penghisapan dalam masyarakat Tiongkok itulah yang umum dikatakan oleh mereka 
yang berpikir pakai otak waras sebagai RESTORASI KAPITALIS. Sudah sejak lama 
sekali saya minta dia supaya menjelaskan apa KESAMAAN dan PERBEDAAN antara 
tahap nasional demokratis pada jaman Mao dengan tahap nasional demokratis jaman 
sekarang di Tkk. TIDAK PERNAH DIJAWAb.
Saya juga ingatkan bahwa SGT juga bicara tentang tahap nasional demokratis pada 
tahun 60-an di Indonesia. Oleh karena itu bornas bukan musuh! Saya minta Chan 
untuk menjelaskan bagaimana Tkk sekarang yang sudah melalui revolusi nasional 
demokratis yang dipimpin Mao dan menang pada tahun 1949, kemudian sudah 
melewati pembangunan sosialis sampai 1976, kok balik lagi ke tahap nasional 
demokratis? Jadi tahap di Indonesia sejak tahun 60-an sama dengan tahap di Tkk 
sekarang?
Dan kalau memang sekarang di Tkk sedang dalam tahap revolusi nasional 
demokratis, mengapa hidup dan tumbuh makmur kaum kapitalis birokrat dan 
komprador? Kok bisa kaum bilyuner yang jumlahnya terus meningkat menghisap 
buruh dan menggunakan kedudukannya dalam PKT dan Negara untuk cari keuntungan? 
Padahal dalam Revolusi Nas-Dem nya Mao, kabir dan komprador adalah musuh 
revolusi! Dan mengapa tidak kedengaran lagi "da dao mei di guo zhu yi " 
(ganyang imperialisme AS) di Tkk sekarang yang dulu santer kita dengar di 
Tkknya Mao? Mengapa tidak ada solidaritas dengan massa rakyat dunia yang sedang 
berjuang melawan kaum imperialis serta lembaga internasionalnya? Apa arti 
adanya Tkk di G20 dan WTO? Apakah itu untuk membela kepentingan rakyat negeri? 
Kalau sekarang ada kontradiksi antara Tkk dengan AS, sama sekali lain wataknya 
dari kontradiksi yang dulu. Dulu Tkk membela perjuangan rakyat negeri Dunia 
Ketiga, sekarang Tkk hanya tertarik untuk MENANAMKAN MODALNYA untuk cari 
profit! Bukan saja modalnya yang ditanam, orangnyapun mau "ditanam" di situ. 
Lihat pengalaman Afrika yang sudah pernah saya postingkan. Dan juga di 
Indonesia sendiri di mana sudah sering dibicarakan buruh dan orang-orang Tkk 
yang secara ilegal bekerja di Indonesia. Saya anti Tkk!! Begitu kedengaran 
tuduhan yang dapat dilemparkan!! Ya, saya anti Tkk kapitalis, anti Tkk yang 
sedang berkembang menjadi imperialis! Saya bela Tkk sosialis yang dipimpin Mao. 
Sebaliknya dari Chan yang mendukung Tkk kapitalis.
Jadi sekali lagi, jangan mencampur adukkan tahap nasional demokratis dengan 
tahap sosialis! Pada tahap nasional demokratis bornas bukan musuh. Tapi dalam 
tahap sosialis, bornas menjadi musuh. "Menjadi musuh" juga jangan 
diinterpretasikan seolah-olah Mao membunuhi kapitalis-kapitalis itu. "Menjadi 
musuh" artinya semua konsesi yang berhubungan dengan kegiatan bornas dalam 
ekonomi dihentikan. Harus diciptakan mekanisme baru dalam ekonomi sosialis yang 
menuju kepada penghapusan watak barang dagangan pada tenaga produksi dan 
penghapusan penghisapan manusia oleh manusia. Dengan demikian tercipta 
Sosialisme di mana tidak ada lagi penghisapan manusia oleh manusia lain. Dan 
Sosialisme yang beginilah yang juga diinginkan oleh Bung Karno.
Kalau penjelasan ini masih juga belum bisa dimengerti oleh Chan...Saya hanya 
bisa bilang; memang otak seorang remo tidak bisa dibetulkan. 
 

   

 On Monday, December 19, 2016 5:33 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:
 

     Hahahaa, ... nenek yang satu ini sekarang dengan tandas bisa 
menyatakanTIDAK BERSIKERAS BASMI KAPITALIS sekarang juga, ... dengan kata lain 
bisa membenarkan TIDAK melancarkan Revolusi Sosialis sekarang juga! Artinya 
membenarkan keibjaksanaan memperkenankan kapitalis-kapitalis tetap hidup, 
tumbuh dan berkembang, ... dan yang terjadi di Tiongkok sekarang 
kapitalis-kapitalis itu tumbuh, berkembang dibawah kendali Diktatur 
Proletariat! Jadi, ... di tingkat perjuangan sekarang ini yang BENAR adalah 
teori Revolusi Demokrasi Baru yang berhasil dimenangkan Mao menjadi 
kebijaksanaan PKT ditahun 1945 itu! Kemudian dalam memilah kapitalis, ada 
komprador, kapitalis monopoli, borjuasi-nasional dan borjuasi kecil, ... sudah 
seharusnya bisa dilanjutkan setingkat lebih tinggi lagi, disaat sekarang yang 
dihadapi dari sekian banyak kapitalis komprador yang harus dihadapi, mana yang 
harus digempur dahulu! Darimana kekuatan anda kalau mau sekaligus digempur 
semua??? Bukankah selama lebih 1/2 abad ini rakyat Indonesia tercekik oleh 
imperialisme AS-Jepang, dan kenyataan Jokowi mulai berusaha keras melepas jerat 
AS-Jepang yang mencekik itu, beralih dan mendekat ke RRT? Dan kenyataan RRT 
adalah satu-satunya negara didunia ini yang berkemampuan menghadapi 
imperialisme AS, kenapa tidak digunakan? Lalu, ... kalau anda masih saja 
memusuhi dan menyasar RRT begitu, mau gunakan bantuan siapa lagi untuk melepas 
jerat “bantuan” AS yg selama ini mencekik leher itu??? TAKUT dengan BAHAYA dan 
ANCAMAN Komunis? Sebagaimana diisukan jenderal-jendral kanan begundal AS itu, 
... pejabat dan pengusaha yang hendak mempertahankan gamblok pada AS??? 
Salam,ChanCT  From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: 
Sunday, December 18, 2016 9:06 PMTo: [email protected] ; DISKUSI FORUM 
HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; 
Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; 
Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy 
Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic 
Service Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; 
C. Manuputty ; Oman Romana Subject: Re: [temu_eropa] Re: [GELORA45] Dokumental 
Coca-Cola 

Sama sekali tidak ada isinya komentar si Chan ini. Hanya memperlihatkan 
kebodohan dan ignorancenya saja. Kelihatan orang remo ini tidak melihat dan 
menyimak baik jalan perjuangan kaum buruh pabrik Coca-Cola yang dicerminkan 
dalam video itu.  Susah diskusi sama orang yang malas belajar dan congkak. 
Seperti juga sikapnya dalam menghakimi Lenin dan NEP. Mengaku tidak mempelajari 
sejarah Soviet tapi petantang petenteng dengan pendapat yang menyalahkan Lenin 
yang terlalu cepat membabat kaum kapitalis. Ditanya Lusi , kapan tiba waktunya 
membabat kaum kapitalis, tidak pernah dijawab. Menghakimi NEP tapi menolak 
mempelajari tulisan Lenin sendiri yang bersangkutan dengan masalah itu. Makanya 
secara serampangan dan bodoh sekali menggunakan NEP untuk membela restorasi 
kapitalis Deng xiao-ping. Pertanyaan dan argumentasi  pokok/penting yang 
berhubungan dengan hakekat masalahnya yang diajukan orang yang berdebat dengan 
dia tidak pernah dijawab, dia lewatkan begitu saja, karena dia memang tidak 
mempu menjawabnya.Sekarang menuduh saya bersikeras BASMI KAPITALIS. Padahal tak 
pernah orang yang berdebat dengan dia menyatakan BASMI KAPITALIS sekarang juga. 
Lagi-lagi akarnya ialah Chan tidak pernah membedakan tahap-tahap revolusi, 
karena menolak melakukan analisa kelas. Maka dia mengacaukan mana musuh dan 
mana kawan rakyat/revolusi. Disamping itu, chan  memasukkan KAPITALIS dalam 
satu keranjang. Dia tidak membedakan kapitalis nasional/bornas dengan kabir, 
dengan kapitalis komprador dan kapitalis monopoli. Lagi-lagi ya itu tadi, 
menolak membuat analisa kelas. Karena dia tidak mau dengan terang-terangan 
mengakui bahwa dirinya sudah bersatu dengan dan oleh karena itu membela 
kepantingan kaum kabir, komprador dan kapitalis monopoli, terutama yang berasal 
dari Tiongkok. Dia menganggap modal Tkk tidak sama dengan modal Jepang, AS , 
Eropa atau negara/bangsa lain. Kelihatan kan lain "bapak lain anak", buah jatuh 
SANGAT JAUH SEKALI dari pohonnya!!! Kalau saya sih terus terang mengikuti 
nasehat Jusuf Isak, wartawan kawakan revolusioner, sampai akhir hayatnya tidak 
luntur atau berubah warna!!! Bikin analisa kelas supaya tahu siapa musuh siapa 
kawan. Chan tidak mau bikin analisa kelas, karena dia  berkepentingan untuk 
mengaburkan antara kawan dan musuh, karena dia menginginkan kolaborasi kelas. 
Makanya kaum kabir, komprador, kapitalis monopoli Tkk dikasih embel-embel 
"komunis" untuk menipu rakyat. Bayangin Chan maunya rakyat melihat kaum 
penghisap Tiongkok itu sebagai juru selamatnya yang akan meneteskan 
"kemakmuran"!!!Udah gitu masih mau ngajarin bagaimana mesti berjuang di 
Indonesia!! Eni Lestari JAUH LEBIH CERDAS dari pada dirimu! Dia sudah 
memperlihatkan jalan benar yang ditempuhnya, maka perjuangan buruh migran 
setapak demi setapak maju, melawan status quo!  Kalau tidak dukung Jokowi, 
berarti bersatu dengan Prabowo, etc!!! Aduh, begitu ceteknya pikirannya. Kalau 
tidak pilih Hilary Clinton, berarti pilih Trump!!! Susan Sarandon pernah juga 
dituduh dukung Trump karena dia menolak memberi suaranya untuk Hillary.. 
Bintang film itu otaknya jauh lebih cerdas dari pada dirimu, walaupun tidak 
pernah jadi komunis. Dia menolak didikte dan dipaksa mengikuti dikotomi absurd 
itu! Tahu nggak apa yang dikatakan wartawan kawakan, pembuat film Australia, 
John Pilger, tentang pemilu AS yang lalu "The Truth is....there was no one to 
vote for...". Exactly! Persis seperti di Indonesia....Tapi karena sudah banyak 
orang yang merosot jadi sosdem, reformis dan remo seperti Chan ini, maka harus 
pilih Jokowi!!! Orang yang terus ngotot memuja Jokowi tidak mau mengakui 
kenyataan bahwa dari dulu Jokowi didukung kaum militer (Hendropriyono, 
Wiranto)... dan juga didukung kaum oligarki, seperti dijelaskan Jeffrey Winter, 
dan juga oleh Kwik Gian Gie. Tanpa dukungan dua faktor itu, dia tidak akan 
didudukkan di singgasana kekuasaan, seperti dulu ketika Megawati memenangkan 
Pemilu tapi dijegal untuk tidak naik singgasana!!!
Otak remo anda tidak mampu melihat bagaimana rakyat sudah memilih jalannya 
sendiri melalui semua kegiatannya selama dua tahun Jokowi memerintah. Mereka 
matanya tidak picek! Karena mereka merasakan sendiri betapa jahatnya kebijakan 
yang dijalankan Jokowi sejak berkuasa. Rakyat sudah tahu apa yang 
diinginkannya. Pertanyaan: lalu, maunya apa? adalah pertanyaan seorang penonton 
pro statusquo, karena tidak dapat menangkap arti dari semua perlawanan kaum 
tani, kaum miskin kota dan rakyat yang sudah terorganisasi dan sadar. Kasihan 
betul kau, remo! 

On Sunday, December 18, 2016 5:16 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:


  Hahahaa, ... nenek yang satu ini kebingungan disatu sisi berkeras menyerukan 
BASMI KAPITALIS sekarang juga, begitu kapitalis hendak nutup pabrik Coca-Cola, 
dia berdiri bela klas proletariat dengan seruan HAM! Lalu, mau nya apa? Tidak 
tahu bagaimana harus berjuang, ...?  Padahal jelas di Spanyol itu pemerintah 
borjuis yg membela kepentingan kapitalis lebih berat, ... jadi TIDAK ada jalan 
lain bagi klas proletariat untuk memperkuat PERSATUAN barisan klas pekerja 
untuk menuntut keadilan dan memenangkan perjuangannya selangkah demi selangkah! 
Sebelum bisa merebut kekuasaan, yaah harus bisa menyatukan segala kekuatan yang 
bisa dipersatukan, bukan main hantam dengan menyasar semua kekuatan yang ada.  
Begitu juga dengan di Indonesia sekarang ini, jangan semua kekuatan disasar, 
diserang secara frontal! Kita bagaimanapun juga harus memilah-milah dengan 
teliti kekuatan-kekuatan yang ada. Kalau orang macam Jokowi, Ahok juga ikutan 
diserang, lalu kalian hendak bersatu dan mendukung siapa lagi? Bersatu dengan 
kekuatan macam Prabowo, SBY, ... bahkan Tommy Soeharto? Ada-ada saja nenek yang 
satu ini!  Atau menjadi pendekar seorangan wae, bisaaa???  Salam,ChanCT  From: 
Tatiana Lukman Sent: Friday, December 16, 2016 7:42 PMTo: Chan CT ; Yahoogroups 
; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat 
Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; 
Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; 
[email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma 
I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; 
[email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: Re: [GELORA45] 
Dokumental Coca-Cola Kasihan betul si Chan ini, otaknya terlalu banyak dempul 
revisionisnya sehingga tidak mampu mengerti arti dan makna sangat dalam dari 
pengalaman perjuangan kaum buruh Coca-Cola. Otaknya tidak mampu mengerti 
mengapa kaum buruh berjuang melawan penutupan pabrik yang merupakan sumber 
penghidupannya. Karena mikirnya pakai dengkul, dan yang lebih penting lagi 
adalah keberpihakannya kepada kaum kapitalis.Komentarnya "Dia mau tutup yaa 
biarkan saja" menunjukkan logika reaksionernya, yaitu kaum buruh harus menyerah 
saya diperlakukan secara semena-mena oleh kaum multinasional!! Dia tidak 
mengerti bahwa hak untuk bekerja adalah HAMnya kaum buruh, dan hak itu hanya 
dihormati sepenuhnya dalam sebuah pemerintahan sosialis seperti pada jaman Mao, 
di mana buruh memiliki status kerja seumur hidup. Hak inilah yang dihapus, 
diejek dan dicemooh oleh kaum revisionis Deng Xiao ping serta pengikut setianya 
seperti Chan demi membangun kapitalisme brutal alias "sosialisme dengan ciri 
Tkk". Kepicikan sekaligus kekurang-ajaran si Chan ini diperlihatkan lagi dengan 
membelokkan masalahnya kepada soal sehat tidaknya minuman Coca-Cola. Saya juga 
menganggap Coca-Cola tidak sehat, maka itu tidak pernah mau mengkonsumsinya, 
tapi bukan itu hakekat masalahnya. Hakekat masalahnya adalah sebuah pabrik yang 
sudah dibuktikan efisiensi dan produktivitas tinggi, tapi mau ditutup, yang 
berarti menghilangkan mata pencaharian lebih dari seribu buruhnya. Kemudian 
masih berani dan berhasil multinasional Coca-Cola mencampakkan keputusan 
Mahkamah Agung!  Ini persis seperti Ginanjar dan juga Jokowi yang tidak mau 
segera mematuhi keputusan MA yang sudah memerintahkan pabrik semen supaya 
menghentikan kegiatannya. Mereka adalah pejabat negara tapi menolak mematuhi 
keputusan lembaga negaranya sendiri! Apa artinya ini???? Seorang Marxis, dan 
Chan pernah mengaku dirinya seorang Marxis (tapi tidak pernah menjawab 
pertanyaan apakah dia mengakui dan menerima prinsip perjuangan kelas....Ya 
jelas dia tidak mengakuinya karena dia justru menghimbau kaum buruh untuk kerja 
sama dengan kaum majikan) pasti mengerti arti dari sikap membangkang 
multinasional Coca-Cola dan Ginanjar/Jokowi terhadap hukum negara yang 
dikelolanya. Saya yang dibilang "katak dalam tempurung" tapi si Chan yang "tahu 
segala" anehnya tidak tahu sudah berapa banyak politikus dan sejarawan Eropa 
yang mengatakan bahwa yang berkuasa di negara-negara EU adalah kaum 
multinasional. Para politikus itu hanyalah boneka yang mengabdi kepentingan 
kantongnya segelintir kaum oligarki/muiltinasional/ bankir yang menguasai 
ekonomi dunia. Si Chan yang "tahu segala" anehnya juga tidak tahu bahwa partai 
Demokrat dan Republik di AS hanya bonekanya Wall Street dan 
magnate/oligarki/multinasional. Mbok sekali-sekali tuan yang "tahu segala" itu 
mempostingkan berita dari dunia lain. Dunia ini besar dan luas, bukan hanya 
Tiongkok tanah air tercinta anda saja! Arti penting dan dalam dari pengalaman 
perjuangan kaum buruh Coca-Cola adalah tidak cukup berjuang untuk reform dan 
perbaikan kondisi kerja dan kehidupan ekonomi saja. Seandainya tuntutan reform 
dan perbaikan kondisi diterima oleh majikan, hal itu tetap tidak akan 
menyelesaikan akar dari penghisapan dan menyelesaikan kontradiksi antara kaum 
buruh dan majikan yang bersifat antagonis. Perjuangan menuntut perbaikan nasib 
sudah tentu harus terus dilakukan selama buruh masih terus hidup dalam sistim 
kapitalis. Perjuangan itu akan mendidik dan meningkatkan kesadaran kelas. Namun 
buruh tidak dapat  mempercayakan dan menggantungkan nasibnya kepada sistim  
kapitalis serta lembaganya. Inilah pelajaran yang ditarik oleh kaum buruh 
Coca-Cola di Madrid. Hakekat masalahnya terletak pada struktur, pada sistim 
ekonomi kapitalis di mana buruh hanya punya tenaga kerja sedangkan alat 
produksi ada di tangan kaum kapitalis/ multinasional. Begitu alat produksinya 
diambil oleh yang punya, buruh hilang mata pencahariannya. Kaum multinasional 
dapat melanggar keputusan MA, sama sekali tidak ada resikonya. Tapi kalau kaum 
buruh dianggap melanggar hukum oleh majikan dan undang-undang serta peraturan 
yang ada, pasti buruh dihadapkan kepada pengadilan dan penjara. Begitu juga 
pengalaman kaum tani dan penduduk gunung Kendeng dalam melawan pabrik semen 
yang mengancam kelangsungan hidup mereka dan keluarganya. Lihat nggak bagaimana 
reaksi kaum perempuan tani Kendeng ketika mengetahui akal licik Ginanjar untuk 
menyelamatkan pabrik semen yang sudah bertahun-tahun ditentang rakyat? Orang 
seperti Chan tidak bisa diharapkan mengerti kemarahan sekaligus kesedihan kaum 
tani Kendeng. Apalagi bersimpati??? Simpati dan air matanya selalu bagi 
dedengkot remo Liu Shaoqi, bukan untuk kaum yang di bawah! Chan tidak akan 
mengerti kemarahan dan kesedihan mereka yang digusur di Jakarta, kaum tani dari 
26 desa yang ditenggelamkan waduk Jatigede (dengan modal kaum kapitalis Tkk 
yang dipuja setengah mati oleh Chan), kaum tani desa Sukamulya, kaum tani Kulon 
Progo dan kaum tani di segala pelosok kepulauan Indonesia yang masih terus 
melawan perampasan tanahnya oleh kaum pemodal dan investor, diantaranya kaum 
pemodal Tkk, pujaan Chan! Itulah wajah seorang revisionis kepala batu, penghina 
kaum tani dan pemuja kapitalisme!!! 



On Wednesday, December 14, 2016 1:07 AM, Chan CT <[email protected]> wrote:


Lha illaaaah, ... informasi apa ini dari “nenek dalam tempurung” dengan 
kesimpulan cupat pula “kapitalis-multinasional lah yang menentukan nasib 
BURUH”! Itukan hanya MEMBUKTIKAN pemerintah Spanyol yang berkuasa bukan 
PEMERINTAH RAKYAT, tapi pemerintah yang hanya mengabdi pada kapitalis saja! Itu 
menandakan KEKUATAN RAKYAT masih lemah, ...! Buruh tidak bisa berbuat apa-apa, 
... mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya??? Sedang nenek yang satu ini 
sudah cupat pula hanya menuduh orang lain TIDAK mau BELAJAR dan MENARIK 
PELAJARAN! Jangan menyalahkan siapa-siapa, ... BURUH harus BERSATU, menyatukan 
diri lebih kuat dalam barisan memperjuangkan NASIB lebih baik melawan 
keserakahan kapitalis dan kesewenang-wenangan penguasa! PERJUANGKAN KEADILAN 
bukan minta pada siapa-siapa, tapi HARUS BERSATU dengan TEGUH BERJUANG SENDIRI! 
Kalau HUKUM sudah bisa dimenangkan, yaa mestinya gunakan keputusan HUKUM itu 
meneruskan PERLAWANAN dan gebug PEMERINTAH yang menindas dengan TENTARA! Begitu 
aja, kok repot, ...! Tapi neng, ... kalau pabrik Coca-Cola kenapa harus 
dipertahankan, ya? Dia mau tutup yaa biarkan saja. Lha Coca-Cola itu jelas 
merusak kesehatan rakyat, kok! Kenapa tidak menuntut buka pabrik atau 
mengalihkan ke minuman yang yang lebih BERGUNA dan jelas tidak merusak 
kesehatan saja, ya? Salam,ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] 
[GELORA45] Sent: Wednesday, December 14, 2016 1:04 AMTo: Yahoogroups ; DISKUSI 
FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat 
Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; 
Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; 
[email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma 
I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; 
[email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: [GELORA45] 
Dokumental Coca-Cola   Informasi lagi dari orang yang sering mendapat cap 
"katak dalam tempurung"dari Chan. Video dalam bahasa Spanyol tapi ada subtitles 
bahasa Inggris. Di layar lebar baru bisa kelihatan dengan baik 
subtitlesnya.Video di bawah ini menceritakan perjuangan kaum buruh pabrik 
Coca-Cola di Fuenlabrada (Madrid) melawan pemecatan dan penutupan pabrik. 
Mula-mula melalui pemogokan, kemudian manifestasi di jalan-jalan dan akhirnya 
ke pengadilan. Perlawanan dilakukan sejak Januari 2014. Bulan April 2015 
Mahkamah Agung membenarkan kaum buruh dan menyatakan pemecatan dan penutupan 
pabrik melanggar hukum. Bisa dibayangkan kegembiraan dan kebahagian semua kaum 
buruh mendapatkan kembali pekerjaannya!!! Namun kegembiraan dan kebahagian itu 
kemudian dengan cepat lenyap...Multinasional Coca-Cola tidak kehilangan akal 
untuk menghindari keputusan MA dan melanggar hukum. Kaum buruh yang sudah 
dibenarkan oleh hukumpun masih harus berhadapan dengan kekerasan aparat 
militer. Dengan dikawal aparat kekuasaan, pabrik dipreteli... Buruh tidak bisa 
lagi berbuat apa-apa. Mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya? Wong hukum 
sudah membenarkannya. Nah, tidakkah kita dihadapkan kepada KEBENARAN DAN 
KENYATAAN? Bahwa yang berkuasa sungguh-sungguh di negeri-negeri yang menyandang 
nama "welfare state", dikenal sebagai negara hukum dan di mana HAM dihormati, 
adalah kaum multinasional! Kaum multinasional lah yang menentukan nasib warga 
dan keluarganya!!! Kapan saja kaum buruh tidak diperlukan lagi tenaga kerjanya, 
mereka dianggap sebagai debu saja yang mengotori jalan-jalan besar kota-kota 
metropolitan! Sebuah pelajaran buat mereka yang masih mau belajar dan menarik 
pelajaran! 
Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)
 
|  
|  
|  
|  |   |

 |

 |
|  
|   |  
Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)
 COCA COLA EN LUCHA Cuando David se enfrenta a Goliat Esta es la historia de 
una lucha titánica. La de los trabaj... |  |

 |

 |

 



  #yiv2248851211 -- #yiv2248851211ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211ygrp-mkp #yiv2248851211hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-mkp #yiv2248851211ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-mkp .yiv2248851211ad 
{padding:0 0;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-mkp .yiv2248851211ad p 
{margin:0;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-mkp .yiv2248851211ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-sponsor 
#yiv2248851211ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211ygrp-sponsor #yiv2248851211ygrp-lc #yiv2248851211hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211ygrp-sponsor #yiv2248851211ygrp-lc .yiv2248851211ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2248851211 #yiv2248851211actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2248851211
 #yiv2248851211activity span {font-weight:700;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv2248851211 #yiv2248851211activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2248851211 #yiv2248851211activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv2248851211 #yiv2248851211activity span 
.yiv2248851211underline {text-decoration:underline;}#yiv2248851211 
.yiv2248851211attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv2248851211 .yiv2248851211attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv2248851211 .yiv2248851211attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2248851211 .yiv2248851211attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2248851211 .yiv2248851211attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv2248851211 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv2248851211 .yiv2248851211bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2248851211 
.yiv2248851211bold a {text-decoration:none;}#yiv2248851211 dd.yiv2248851211last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2248851211 dd.yiv2248851211last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2248851211 
dd.yiv2248851211last p span.yiv2248851211yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv2248851211 div.yiv2248851211attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv2248851211 div.yiv2248851211attach-table 
{width:400px;}#yiv2248851211 div.yiv2248851211file-title a, #yiv2248851211 
div.yiv2248851211file-title a:active, #yiv2248851211 
div.yiv2248851211file-title a:hover, #yiv2248851211 div.yiv2248851211file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2248851211 div.yiv2248851211photo-title a, 
#yiv2248851211 div.yiv2248851211photo-title a:active, #yiv2248851211 
div.yiv2248851211photo-title a:hover, #yiv2248851211 
div.yiv2248851211photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2248851211 
div#yiv2248851211ygrp-mlmsg #yiv2248851211ygrp-msg p a 
span.yiv2248851211yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2248851211 
.yiv2248851211green {color:#628c2a;}#yiv2248851211 .yiv2248851211MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv2248851211 o {font-size:0;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211photos div {float:left;width:72px;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2248851211
  #yiv2248851211reco-category {font-size:77%;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211reco-desc {font-size:77%;}#yiv2248851211 .yiv2248851211replbq 
{margin:4px;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211ygrp-mlmsg select, #yiv2248851211 input, #yiv2248851211 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211ygrp-mlmsg pre, #yiv2248851211 code {font:115% 
monospace;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-mlmsg #yiv2248851211logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-msg 
p#yiv2248851211attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211ygrp-reco #yiv2248851211reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-sponsor 
#yiv2248851211ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211ygrp-sponsor #yiv2248851211ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211ygrp-sponsor #yiv2248851211ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv2248851211 #yiv2248851211ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2248851211 
#yiv2248851211ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv2248851211 

   

Kirim email ke