Bukan saya yang malas BELAJAR, juga bukan saya yang mengacaukan tahap Rev. 
Nasional Demokratis dan Tahap Rev. Sosialis! Tapi, ... nenek yang satu ini 
tertancap mati dalam dogma-dogma yang dipegang kuat tanpa berani melihat 
KEADAAN OBJEKTIF yang nyata dalam masyarakat yang dihadapi!

Justru saya sudah BERULANG KALI saya menekankan pendapat/pemikiran Mao Rev. 
Demokrasi Baru itulah yang BENAR, dimana masyarakat masih 1/2 jajahan, 1/2 
feodal, tenaga produksi masih sangat terbelakang dan masyarakat masih sangat 
MISKIN, BELUM BISA melancarkan rev. Sosialis di Tiongkok! Harus melalui tahap 
rev. Demokrasi Baru, masih harus memperkenankan kapitalis hidup dan berkembang 
dahulu! Itulah sebab pada saat PKT, Mao memproklamasikan Pemerintah BARU yang 
dibentuk adalah Republik Rakyat Tiongkok, Diktatur Demokrasi Rakyat yang 
dipimpin PKT dan mempersatukan seluruh kekuatan rakyat, termasuk kapitalis.

Yang menjadi PERTANYAAN, kapan rev. Sosialis itu baru dimulai? Disinilah 
perbedaan pendapat diantara kita, ... disinilah KESALAHAN Stalin yang kemudian 
diikuti Mao dengan buru-buru melancarkan rev. Sosialis di tahun 1957 untuk 
segera membasmi kapitalis, mensita hak-milik kapitalis perseorangan menjadi 
milik NEGARA, mendirikan komune-rakyat didesa-desa, ... akhirnya yang terjadi 
hanya meratakan kemiskinan, sulit meningkatkan kemakmuran masyarakat.

Satu contoh kenyataan kesalahan kebijakan yang dijalankan ketika itu, 
didesa-desa karena KESADARAN PETANI belum bisa untuk bekerja kolektif model 
komune rakyat, bahkan banyak diantara mereka yang kecewa-berat, merasa tertipu 
oleh PKT! Lha, gimana, dimasa revolusi dibagikan tanah untuk penggarap, belum 
juga 10 tahun sudah diambil balik menjadi milik komune dan mereka kembali hanya 
menjadi buruh tani yang hanya punya tenaga kerja, tidak ada KEBEBASAN 
menentukan bekerja sendiri, ... belum lagi menghadapi kepala-barisan produksi 
yang kwalitasnya bapet, membuat saat menghadapi bencana-alam berat (3 tahun 
berturut-turut, 1959-1961) tidak sedikit orang mati kelaparan!

Kenyataan yang juga tidak bisa disangkal, sejak tahun 1960-1977 begitu banyak 
penyelundup masuk ke HK! Disamping satu segi, pihak koloni Inggris semula 
sengaja mengangkat orang TIongkok yg berani menerjang maut masuk HK sebagai 
pahlawan, langsung mendapat KTP-HK untuk hidup menetap di HK, tentu ini 
membuktikan adanya perbedaan kehidupan yang mencolok antara sistem kapitalis di 
HK dan sistem sosialis di Tiongkok daratan! Lalu? Penjagaan perbatasan 
diperketat, dipagari kawat berduri, ... penyelundup lewat laut, baik dengan 
perahu nelayan/sampan bahkan berenang, ... Bagaimana PKT harus menghadapi 
kenyataan demikian dan membendungnya? Tembok Berlin pun roboh!

Kenyataan-kenyataan berat inilah yang memaksa PKT, khususnya Deng berpikir 
menemukan SOLUSI yang tepat dan BAIK! Nah, jalan keluar yang diajukan adalah 
mengoreksi KESALAHAN yg ada, sistem sosialis harus bisa mengungguli sistem 
kapitalis! Padukan keunggulan kedua sistem itu dengan berani, ... untuk 
mencapai kemajuan pembangunan ekonomi nasional, meningkatkan kemakmuran 
kehidupan masyarakat lebih dahulu! Begitulah dalam 30-an tahun terakhir bangun 
ekonomi dan mencapai kemajuan dahsyat sekalipun diikuti dengan 
tantangan-tantangan kemerosotan moral sementara pejabat, ... tapi kenyataan yg 
terjadi, bahkan kebalikkan. Tingkat kehidupan penduduk HK jadi lebih rendah 
ketimbang kehidupan rakyat dibanyak kota besar Tiongkok, ...! Bukan orang 
Tiongkok dari daratan menyelundup masuk HK, tapi justru membanjiri turis 
Tiongkok ke HK, ngeborongin rumah/flat di HK, sampai-sampai harus direm 
Pemerintah HK, biar harga rumah tidak naik membumbung tinggi terlalu cepat!

Yaa, ... memang kalau mau menemukan sistem sosialis yang BENAR, yang 
berkemampuan melawan dan mengalahkan sistem kapitalis, dong! Bukan dengan 
membangun tembok Berlin, atau melarang rakyatnya keluar negeri, ...! Harus 
BERANI buka pintu, memasuki semua gelanggang untuk bertarung menghadapi dan 
melawan bahkan mengalahkan kapitalis-kapitalis itu!

Tapi, ... konkritnya Tiongkok sampai sekarang sekalipun sudah mencapai 
kemakmuran tertentu, tetap masih ada 50 juta rakyatnya dibawah garis 
kemiskinan. Baru nanti tahun 2020 menurut target plan 5 tahun ke-13 bisa 
diselesaikan. Sementara ada yang menyatakan lapisan klas menengah atas di 
Tiongkok sekarang ini sudah melebihi 300 juta orang, melebihi penduduk 
Indonesia yang berkemampuan melancong keluar negeri, makanya tidak aneh kalau 
banyak negara berebut menyedot masuk turis dari Tiongkok, termasuk membebaskan 
visa bagi mereka!

Lalu, kembali pada pertanyaan kapan rev. Sosialis bisa dimulai? Yaaa, tunggu 
sampai masyarakat itu lebih makmur lagi, jadi yang diratakan nanti kemakmuran 
nya, bukan kemiskinannya! Jangan buru-buru, ... kalau kita perhatikan proses 
yang harus dilalui masyarakat feodal di TIongkok sampai 3 ribuan tahun, ... 
sekarang sekalipun sudah banyak industri TETAP belum sampai menjadi negara 
industri, lebih 60% penduduknya masih petani, kok!

Salam,
ChanCT



From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
Sent: Tuesday, December 20, 2016 12:11 AM
To: [email protected] ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In 
Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan 
Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; 
Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. 
Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. 
Manuputty ; Oman Romana 
Subject: Re: [temu_eropa] Re: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola

  

Chan: Hahahaa, ... nenek yang satu ini sekarang dengan tandas bisa 
menyatakanTIDAK BERSIKERAS BASMI KAPITALIS sekarang juga, ... dengan kata lain 
bisa membenarkan TIDAK melancarkan Revolusi Sosialis sekarang juga! Artinya 
membenarkan keibjaksanaan memperkenankan kapitalis-kapitalis tetap hidup, 
tumbuh dan berkembang, ... dan yang terjadi di Tiongkok sekarang 
kapitalis-kapitalis itu tumbuh, berkembang dibawah kendali Diktatur 
Proletariat! Jadi, ... di tingkat perjuangan sekarang ini yang BENAR adalah 
teori Revolusi Demokrasi Baru yang berhasil dimenangkan Mao menjadi 
kebijaksanaan PKT ditahun 1945 itu!


Tatiana: Bolak balik kelihatan dangkalnya ( untuk tidak bilang goblok!) dan 
ketidak mampuan Chan untuk memahami argumentasi saya. Saya selalu menekankan 
pentingnya analisa kelas untuk mengetahui siapa musuh dan siapa kawan dalam 
setiap tahap revolusi. Di negeri semi kolonial dan semi feodal seperti Tiongkok 
SEBELUM pembebasan 1949 dan mayoritas negeri-negeri Dunia Ketiga sekarang, 
BUKAN REVOLUSI SOSIALIS yang mereka lancarkan. Yang MAO LANCARKAN KETIKA ITU 
dan sekarang sedang dikembangkan di negeri-negeri itu adalah REVOLUSI NASIONAL 
DEMOKRATIS, di mana musuh pokok adalah pemerintah yang mewakili kepentingan 
kaum tuan tanah, kaum kabir, kaum kapitalis komprador. Dan pemerintah yang 
begini selalu didukung kaum imperialis yang dikepalai AS melalui semua lembaga 
keuangan dan perdagangan internasional yang dikelolanya.Makanya rakyat bilang 
pemerintah yang begini adalah ANTEK KAUM IMPERIALIS. Dalam tahap ini BORJUASI / 
KAPITALIS NASIONAL BUKAN MUSUH REVOLUSI. OLEH KARENA ITU KAUM KAPITALIS 
NASIONAL TIDAK DIHANCURKAN. Makanya dalam tahap ini SALAH SATU tuntutan rakyat 
adalah pembangunan INDUSTRI NASIONAL. Sampai sini ngerti nggak Chan!


Tahap Nasional Demokratis LAIN WATAKNYA  dari tahap Revolusi Sosialis.JANGAN 
DIKACAUKAN ATAU DICAMPUR ADUKKAN! Tapi si Chan yang malas belajar  (dan 
ingatannya SANGAT pendek karena sebenarnya semua ini sudah pernah saya jelaskan 
dalam perdebatan beberapa tahun yang lalu) , SELALU MENGACAUKAN DAN MENCAMPUR 
ADUKKAN KEDUA TAHAP TERSEBUT! Apa buktinya bahwa Chan mencampur-adukkan kedua 
tahap yang berlainan wataknya itu? Revolusi Nasional Demokratis di TIONGKOK 
SUDAH SELESAI PADA TAHUN 50'AN! Mao mempimpin rakyat Tiongkok masuk kedalam 
TAHAP SOSIALIS. Dalam TAHAP SOSIALIS inilah KAUM BORJUASI/ KAPITALIS MENJADI 
MUSUH POKOK! Dulu saya bahkan menampilkan kata-kata Mao sendiri berkaitan 
dengan ini. Kaum borjuasi/kapitalis ini mempunyai wakil-wakilnya didalam PKT, 
yaitu Liu Sho-qi dan Deng Xiao-ping!!! Itulah yang disebut "para pejabat tinggi 
dalam partai dan negara yang mengambil jalan kapitalis! Mereka TIDAK MAU MAJU 
KE TAHAP REVOLUSI SOSIALIS! MEREKA INGIN TERUS BERTAHAN DALAM TAHAP REVOLUSI 
NASIONAL DEMOKRATIS DENGAN MEMELIHARA TERUS KEPENTINGAN KAUM BORJUASI NASIONAL 
DENGAN TUJUAN MEMBANGUN KAPITALISME!!! Dalam pertempuran antara dua jalan itu, 
kaum REVISIONIS, KAUM PENEMPUH JALAN KAPITALIS berhasil mengalahkan garis Mao 
serta para pengikutnya. Hasilnya kita lihat sekarang ini: Kapitalisme di Tkk 
sudah berdiri setelah menghancurkan struktur ekonomi, politik dan sosial 
sosialis yang dibangun Mao. Nah, untuk MEMBENARKAN restorasi kapitalis Deng 
xiao ping, DAN MEMBENARKAN PENGHISAPAN TERHADAP KAUM BURUH TKK oleh KAUM 
KAPITALIS BIROKRAT, KOMPRADOR, DAN MULTINASIONAL ASING, Chan bilang tahap 
sekarang di Tkk adalah TAHAP NASIONAL DEMOKRATIS! Padahal Mao SUDAH MULAI 
membangun SOSIALISME sejak tahun 50'an sampai akhir hayatnya tahun 1976! Chan 
menuduh MAO TERLALU CEPAT MEMBABAT KAUM KAPITALIS! Padahal praktek sudah 
membuktikan keberhasilan Mao membangun Sosialisme dan mempertahankannya sampai 
1976. Tapi Chan tetap ngotot dengan tuduhannya terhadap Mao dan bilang sekarang 
Tkk sedang dalam TAHAP NASIONAL DEMOKRATIS nya Mao. Ini adalah PENCATUTAN 
TERANG-TERANGAN terhadap konsep Mao tentang revolusi nasional demokratis! 
Apakah itu tidak berarti MEMUNDURKAN DENGAN PAKSA PERKEMBANGAN di Tkk? Saya 
bilang dengan paksa, karena kemunduran itu dilakukan dengan penindasan dan 
pembunuhan terhadap kaum pengikut Mao!  Memundurkan dan mengembalikan 
penghisapan dalam masyarakat Tiongkok itulah yang umum dikatakan oleh mereka 
yang berpikir pakai otak waras sebagai RESTORASI KAPITALIS. Sudah sejak lama 
sekali saya minta dia supaya menjelaskan apa KESAMAAN dan PERBEDAAN antara 
tahap nasional demokratis pada jaman Mao dengan tahap nasional demokratis jaman 
sekarang di Tkk. TIDAK PERNAH DIJAWAb.


Saya juga ingatkan bahwa SGT juga bicara tentang tahap nasional demokratis pada 
tahun 60-an di Indonesia. Oleh karena itu bornas bukan musuh! Saya minta Chan 
untuk menjelaskan bagaimana Tkk sekarang yang sudah melalui revolusi nasional 
demokratis yang dipimpin Mao dan menang pada tahun 1949, kemudian sudah 
melewati pembangunan sosialis sampai 1976, kok balik lagi ke tahap nasional 
demokratis? Jadi tahap di Indonesia sejak tahun 60-an sama dengan tahap di Tkk 
sekarang?


Dan kalau memang sekarang di Tkk sedang dalam tahap revolusi nasional 
demokratis, mengapa hidup dan tumbuh makmur kaum kapitalis birokrat dan 
komprador? Kok bisa kaum bilyuner yang jumlahnya terus meningkat menghisap 
buruh dan menggunakan kedudukannya dalam PKT dan Negara untuk cari keuntungan? 
Padahal dalam Revolusi Nas-Dem nya Mao, kabir dan komprador adalah musuh 
revolusi! Dan mengapa tidak kedengaran lagi "da dao mei di guo zhu yi " 
(ganyang imperialisme AS) di Tkk sekarang yang dulu santer kita dengar di 
Tkknya Mao? Mengapa tidak ada solidaritas dengan massa rakyat dunia yang sedang 
berjuang melawan kaum imperialis serta lembaga internasionalnya? Apa arti 
adanya Tkk di G20 dan WTO? Apakah itu untuk membela kepentingan rakyat negeri? 
Kalau sekarang ada kontradiksi antara Tkk dengan AS, sama sekali lain wataknya 
dari kontradiksi yang dulu. Dulu Tkk membela perjuangan rakyat negeri Dunia 
Ketiga, sekarang Tkk hanya tertarik untuk MENANAMKAN MODALNYA untuk cari 
profit! Bukan saja modalnya yang ditanam, orangnyapun mau "ditanam" di situ. 
Lihat pengalaman Afrika yang sudah pernah saya postingkan. Dan juga di 
Indonesia sendiri di mana sudah sering dibicarakan buruh dan orang-orang Tkk 
yang secara ilegal bekerja di Indonesia. Saya anti Tkk!! Begitu kedengaran 
tuduhan yang dapat dilemparkan!! Ya, saya anti Tkk kapitalis, anti Tkk yang 
sedang berkembang menjadi imperialis! Saya bela Tkk sosialis yang dipimpin Mao. 
Sebaliknya dari Chan yang mendukung Tkk kapitalis.


Jadi sekali lagi, jangan mencampur adukkan tahap nasional demokratis dengan 
tahap sosialis! Pada tahap nasional demokratis bornas bukan musuh. Tapi dalam 
tahap sosialis, bornas menjadi musuh. "Menjadi musuh" juga jangan 
diinterpretasikan seolah-olah Mao membunuhi kapitalis-kapitalis itu. "Menjadi 
musuh" artinya semua konsesi yang berhubungan dengan kegiatan bornas dalam 
ekonomi dihentikan. Harus diciptakan mekanisme baru dalam ekonomi sosialis yang 
menuju kepada penghapusan watak barang dagangan pada tenaga produksi dan 
penghapusan penghisapan manusia oleh manusia. Dengan demikian tercipta 
Sosialisme di mana tidak ada lagi penghisapan manusia oleh manusia lain. Dan 
Sosialisme yang beginilah yang juga diinginkan oleh Bung Karno.


Kalau penjelasan ini masih juga belum bisa dimengerti oleh Chan...Saya hanya 
bisa bilang; memang otak seorang remo tidak bisa dibetulkan.








On Monday, December 19, 2016 5:33 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:




  
Hahahaa, ... nenek yang satu ini sekarang dengan tandas bisa menyatakanTIDAK 
BERSIKERAS BASMI KAPITALIS sekarang juga, ... dengan kata lain bisa membenarkan 
TIDAK melancarkan Revolusi Sosialis sekarang juga! Artinya membenarkan 
keibjaksanaan memperkenankan kapitalis-kapitalis tetap hidup, tumbuh dan 
berkembang, ... dan yang terjadi di Tiongkok sekarang kapitalis-kapitalis itu 
tumbuh, berkembang dibawah kendali Diktatur Proletariat! Jadi, ... di tingkat 
perjuangan sekarang ini yang BENAR adalah teori Revolusi Demokrasi Baru yang 
berhasil dimenangkan Mao menjadi kebijaksanaan PKT ditahun 1945 itu!

Kemudian dalam memilah kapitalis, ada komprador, kapitalis monopoli, 
borjuasi-nasional dan borjuasi kecil, ... sudah seharusnya bisa dilanjutkan 
setingkat lebih tinggi lagi, disaat sekarang yang dihadapi dari sekian banyak 
kapitalis komprador yang harus dihadapi, mana yang harus digempur dahulu! 
Darimana kekuatan anda kalau mau sekaligus digempur semua??? Bukankah selama 
lebih 1/2 abad ini rakyat Indonesia tercekik oleh imperialisme AS-Jepang, dan 
kenyataan Jokowi mulai berusaha keras melepas jerat AS-Jepang yang mencekik 
itu, beralih dan mendekat ke RRT? Dan kenyataan RRT adalah satu-satunya negara 
didunia ini yang berkemampuan menghadapi imperialisme AS, kenapa tidak 
digunakan? Lalu, ... kalau anda masih saja memusuhi dan menyasar RRT begitu, 
mau gunakan bantuan siapa lagi untuk melepas jerat “bantuan” AS yg selama ini 
mencekik leher itu??? TAKUT dengan BAHAYA dan ANCAMAN Komunis? Sebagaimana 
diisukan jenderal-jendral kanan begundal AS itu, ... pejabat dan pengusaha yang 
hendak mempertahankan gamblok pada AS???

Salam,
ChanCT


From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
Sent: Sunday, December 18, 2016 9:06 PM
To: [email protected] ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In 
Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan 
Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; 
Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. 
Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. 
Manuputty ; Oman Romana 
Subject: Re: [temu_eropa] Re: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola




Sama sekali tidak ada isinya komentar si Chan ini. Hanya memperlihatkan 
kebodohan dan ignorancenya saja. Kelihatan orang remo ini tidak melihat dan 
menyimak baik jalan perjuangan kaum buruh pabrik Coca-Cola yang dicerminkan 
dalam video itu.  Susah diskusi sama orang yang malas belajar dan congkak. 
Seperti juga sikapnya dalam menghakimi Lenin dan NEP. Mengaku tidak mempelajari 
sejarah Soviet tapi petantang petenteng dengan pendapat yang menyalahkan Lenin 
yang terlalu cepat membabat kaum kapitalis. Ditanya Lusi , kapan tiba waktunya 
membabat kaum kapitalis, tidak pernah dijawab. Menghakimi NEP tapi menolak 
mempelajari tulisan Lenin sendiri yang bersangkutan dengan masalah itu. Makanya 
secara serampangan dan bodoh sekali menggunakan NEP untuk membela restorasi 
kapitalis Deng xiao-ping. Pertanyaan dan argumentasi  pokok/penting yang 
berhubungan dengan hakekat masalahnya yang diajukan orang yang berdebat dengan 
dia tidak pernah dijawab, dia lewatkan begitu saja, karena dia memang tidak 
mempu menjawabnya.
Sekarang menuduh saya bersikeras BASMI KAPITALIS. Padahal tak pernah orang yang 
berdebat dengan dia menyatakan BASMI KAPITALIS sekarang juga. Lagi-lagi akarnya 
ialah Chan tidak pernah membedakan tahap-tahap revolusi, karena menolak 
melakukan analisa kelas. Maka dia mengacaukan mana musuh dan mana kawan 
rakyat/revolusi. Disamping itu, chan  memasukkan KAPITALIS dalam satu 
keranjang. Dia tidak membedakan kapitalis nasional/bornas dengan kabir, dengan 
kapitalis komprador dan kapitalis monopoli. Lagi-lagi ya itu tadi, menolak 
membuat analisa kelas. Karena dia tidak mau dengan terang-terangan mengakui 
bahwa dirinya sudah bersatu dengan dan oleh karena itu membela kepantingan kaum 
kabir, komprador dan kapitalis monopoli, terutama yang berasal dari Tiongkok. 
Dia menganggap modal Tkk tidak sama dengan modal Jepang, AS , Eropa atau 
negara/bangsa lain. Kelihatan kan lain "bapak lain anak", buah jatuh SANGAT 
JAUH SEKALI dari pohonnya!!! Kalau saya sih terus terang mengikuti nasehat 
Jusuf Isak, wartawan kawakan revolusioner, sampai akhir hayatnya tidak luntur 
atau berubah warna!!! Bikin analisa kelas supaya tahu siapa musuh siapa kawan. 
Chan tidak mau bikin analisa kelas, karena dia  berkepentingan untuk 
mengaburkan antara kawan dan musuh, karena dia menginginkan kolaborasi kelas. 
Makanya kaum kabir, komprador, kapitalis monopoli Tkk dikasih embel-embel 
"komunis" untuk menipu rakyat. Bayangin Chan maunya rakyat melihat kaum 
penghisap Tiongkok itu sebagai juru selamatnya yang akan meneteskan 
"kemakmuran"!!!
Udah gitu masih mau ngajarin bagaimana mesti berjuang di Indonesia!! Eni 
Lestari JAUH LEBIH CERDAS dari pada dirimu! Dia sudah memperlihatkan jalan 
benar yang ditempuhnya, maka perjuangan buruh migran setapak demi setapak maju, 
melawan status quo!  
Kalau tidak dukung Jokowi, berarti bersatu dengan Prabowo, etc!!! Aduh, begitu 
ceteknya pikirannya. Kalau tidak pilih Hilary Clinton, berarti pilih Trump!!! 
Susan Sarandon pernah juga dituduh dukung Trump karena dia menolak memberi 
suaranya untuk Hillary.. Bintang film itu otaknya jauh lebih cerdas dari pada 
dirimu, walaupun tidak pernah jadi komunis. Dia menolak didikte dan dipaksa 
mengikuti dikotomi absurd itu! Tahu nggak apa yang dikatakan wartawan kawakan, 
pembuat film Australia, John Pilger, tentang pemilu AS yang lalu "The Truth 
is....there was no one to vote for...". Exactly! Persis seperti di 
Indonesia....Tapi karena sudah banyak orang yang merosot jadi sosdem, reformis 
dan remo seperti Chan ini, maka harus pilih Jokowi!!! Orang yang terus ngotot 
memuja Jokowi tidak mau mengakui kenyataan bahwa dari dulu Jokowi didukung kaum 
militer (Hendropriyono, Wiranto)... dan juga didukung kaum oligarki, seperti 
dijelaskan Jeffrey Winter, dan juga oleh Kwik Gian Gie. Tanpa dukungan dua 
faktor itu, dia tidak akan didudukkan di singgasana kekuasaan, seperti dulu 
ketika Megawati memenangkan Pemilu tapi dijegal untuk tidak naik singgasana!!!


Otak remo anda tidak mampu melihat bagaimana rakyat sudah memilih jalannya 
sendiri melalui semua kegiatannya selama dua tahun Jokowi memerintah. Mereka 
matanya tidak picek! Karena mereka merasakan sendiri betapa jahatnya kebijakan 
yang dijalankan Jokowi sejak berkuasa. Rakyat sudah tahu apa yang 
diinginkannya. Pertanyaan: lalu, maunya apa? adalah pertanyaan seorang penonton 
pro statusquo, karena tidak dapat menangkap arti dari semua perlawanan kaum 
tani, kaum miskin kota dan rakyat yang sudah terorganisasi dan sadar. Kasihan 
betul kau, remo!




On Sunday, December 18, 2016 5:16 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:




  
Hahahaa, ... nenek yang satu ini kebingungan disatu sisi berkeras menyerukan 
BASMI KAPITALIS sekarang juga, begitu kapitalis hendak nutup pabrik Coca-Cola, 
dia berdiri bela klas proletariat dengan seruan HAM! Lalu, mau nya apa? Tidak 
tahu bagaimana harus berjuang, ...? 

Padahal jelas di Spanyol itu pemerintah borjuis yg membela kepentingan 
kapitalis lebih berat, ... jadi TIDAK ada jalan lain bagi klas proletariat 
untuk memperkuat PERSATUAN barisan klas pekerja untuk menuntut keadilan dan 
memenangkan perjuangannya selangkah demi selangkah! Sebelum bisa merebut 
kekuasaan, yaah harus bisa menyatukan segala kekuatan yang bisa dipersatukan, 
bukan main hantam dengan menyasar semua kekuatan yang ada. 

Begitu juga dengan di Indonesia sekarang ini, jangan semua kekuatan disasar, 
diserang secara frontal! Kita bagaimanapun juga harus memilah-milah dengan 
teliti kekuatan-kekuatan yang ada. Kalau orang macam Jokowi, Ahok juga ikutan 
diserang, lalu kalian hendak bersatu dan mendukung siapa lagi? Bersatu dengan 
kekuatan macam Prabowo, SBY, ... bahkan Tommy Soeharto? Ada-ada saja nenek yang 
satu ini!  Atau menjadi pendekar seorangan wae, bisaaa??? 

Salam,
ChanCT


From: Tatiana Lukman 
Sent: Friday, December 16, 2016 7:42 PM
To: Chan CT ; Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In 
Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan 
Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; 
Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. 
Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. 
Manuputty ; Oman Romana 
Subject: Re: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola

Kasihan betul si Chan ini, otaknya terlalu banyak dempul revisionisnya sehingga 
tidak mampu mengerti arti dan makna sangat dalam dari pengalaman perjuangan 
kaum buruh Coca-Cola. Otaknya tidak mampu mengerti mengapa kaum buruh berjuang 
melawan penutupan pabrik yang merupakan sumber penghidupannya. Karena mikirnya 
pakai dengkul, dan yang lebih penting lagi adalah keberpihakannya kepada kaum 
kapitalis.Komentarnya "Dia mau tutup yaa biarkan saja" menunjukkan logika 
reaksionernya, yaitu kaum buruh harus menyerah saya diperlakukan secara 
semena-mena oleh kaum multinasional!! Dia tidak mengerti bahwa hak untuk 
bekerja adalah HAMnya kaum buruh, dan hak itu hanya dihormati sepenuhnya dalam 
sebuah pemerintahan sosialis seperti pada jaman Mao, di mana buruh memiliki 
status kerja seumur hidup. Hak inilah yang dihapus, diejek dan dicemooh oleh 
kaum revisionis Deng Xiao ping serta pengikut setianya seperti Chan demi 
membangun kapitalisme brutal alias "sosialisme dengan ciri Tkk". Kepicikan 
sekaligus kekurang-ajaran si Chan ini diperlihatkan lagi dengan membelokkan 
masalahnya kepada soal sehat tidaknya minuman Coca-Cola. Saya juga menganggap 
Coca-Cola tidak sehat, maka itu tidak pernah mau mengkonsumsinya, tapi bukan 
itu hakekat masalahnya. Hakekat masalahnya adalah sebuah pabrik yang sudah 
dibuktikan efisiensi dan produktivitas tinggi, tapi mau ditutup, yang berarti 
menghilangkan mata pencaharian lebih dari seribu buruhnya. Kemudian masih 
berani dan berhasil multinasional Coca-Cola mencampakkan keputusan Mahkamah 
Agung!  Ini persis seperti Ginanjar dan juga Jokowi yang tidak mau segera 
mematuhi keputusan MA yang sudah memerintahkan pabrik semen supaya menghentikan 
kegiatannya. Mereka adalah pejabat negara tapi menolak mematuhi keputusan 
lembaga negaranya sendiri! Apa artinya ini???? Seorang Marxis, dan Chan pernah 
mengaku dirinya seorang Marxis (tapi tidak pernah menjawab pertanyaan apakah 
dia mengakui dan menerima prinsip perjuangan kelas....Ya jelas dia tidak 
mengakuinya karena dia justru menghimbau kaum buruh untuk kerja sama dengan 
kaum majikan) pasti mengerti arti dari sikap membangkang multinasional 
Coca-Cola dan Ginanjar/Jokowi terhadap hukum negara yang dikelolanya. Saya yang 
dibilang "katak dalam tempurung" tapi si Chan yang "tahu segala" anehnya tidak 
tahu sudah berapa banyak politikus dan sejarawan Eropa yang mengatakan bahwa 
yang berkuasa di negara-negara EU adalah kaum multinasional. Para politikus itu 
hanyalah boneka yang mengabdi kepentingan kantongnya segelintir kaum 
oligarki/muiltinasional/ bankir yang menguasai ekonomi dunia. Si Chan yang 
"tahu segala" anehnya juga tidak tahu bahwa partai Demokrat dan Republik di AS 
hanya bonekanya Wall Street dan magnate/oligarki/multinasional. Mbok 
sekali-sekali tuan yang "tahu segala" itu mempostingkan berita dari dunia lain. 
Dunia ini besar dan luas, bukan hanya Tiongkok tanah air tercinta anda saja!

Arti penting dan dalam dari pengalaman perjuangan kaum buruh Coca-Cola adalah 
tidak cukup berjuang untuk reform dan perbaikan kondisi kerja dan kehidupan 
ekonomi saja. Seandainya tuntutan reform dan perbaikan kondisi diterima oleh 
majikan, hal itu tetap tidak akan menyelesaikan akar dari penghisapan dan 
menyelesaikan kontradiksi antara kaum buruh dan majikan yang bersifat 
antagonis. Perjuangan menuntut perbaikan nasib sudah tentu harus terus 
dilakukan selama buruh masih terus hidup dalam sistim kapitalis. Perjuangan itu 
akan mendidik dan meningkatkan kesadaran kelas. Namun buruh tidak dapat  
mempercayakan dan menggantungkan nasibnya kepada sistim  kapitalis serta 
lembaganya. Inilah pelajaran yang ditarik oleh kaum buruh Coca-Cola di Madrid. 
Hakekat masalahnya terletak pada struktur, pada sistim ekonomi kapitalis di 
mana buruh hanya punya tenaga kerja sedangkan alat produksi ada di tangan kaum 
kapitalis/ multinasional. Begitu alat produksinya diambil oleh yang punya, 
buruh hilang mata pencahariannya. Kaum multinasional dapat melanggar keputusan 
MA, sama sekali tidak ada resikonya. Tapi kalau kaum buruh dianggap melanggar 
hukum oleh majikan dan undang-undang serta peraturan yang ada, pasti buruh 
dihadapkan kepada pengadilan dan penjara.

Begitu juga pengalaman kaum tani dan penduduk gunung Kendeng dalam melawan 
pabrik semen yang mengancam kelangsungan hidup mereka dan keluarganya.

Lihat nggak bagaimana reaksi kaum perempuan tani Kendeng ketika mengetahui akal 
licik Ginanjar untuk menyelamatkan pabrik semen yang sudah bertahun-tahun 
ditentang rakyat? Orang seperti Chan tidak bisa diharapkan mengerti kemarahan 
sekaligus kesedihan kaum tani Kendeng. Apalagi bersimpati??? Simpati dan air 
matanya selalu bagi dedengkot remo Liu Shaoqi, bukan untuk kaum yang di bawah! 
Chan tidak akan mengerti kemarahan dan kesedihan mereka yang digusur di 
Jakarta, kaum tani dari 26 desa yang ditenggelamkan waduk Jatigede (dengan 
modal kaum kapitalis Tkk yang dipuja setengah mati oleh Chan), kaum tani desa 
Sukamulya, kaum tani Kulon Progo dan kaum tani di segala pelosok kepulauan 
Indonesia yang masih terus melawan perampasan tanahnya oleh kaum pemodal dan 
investor, diantaranya kaum pemodal Tkk, pujaan Chan! Itulah wajah seorang 
revisionis kepala batu, penghina kaum tani dan pemuja kapitalisme!!!







On Wednesday, December 14, 2016 1:07 AM, Chan CT <[email protected]> wrote:




Lha illaaaah, ... informasi apa ini dari “nenek dalam tempurung” dengan 
kesimpulan cupat pula “kapitalis-multinasional lah yang menentukan nasib 
BURUH”! Itukan hanya MEMBUKTIKAN pemerintah Spanyol yang berkuasa bukan 
PEMERINTAH RAKYAT, tapi pemerintah yang hanya mengabdi pada kapitalis saja! Itu 
menandakan KEKUATAN RAKYAT masih lemah, ...!

Buruh tidak bisa berbuat apa-apa, ... mau kemana lagi mereka melaporkan 
nasibnya??? Sedang nenek yang satu ini sudah cupat pula hanya menuduh orang 
lain TIDAK mau BELAJAR dan MENARIK PELAJARAN!

Jangan menyalahkan siapa-siapa, ... BURUH harus BERSATU, menyatukan diri lebih 
kuat dalam barisan memperjuangkan NASIB lebih baik melawan keserakahan 
kapitalis dan kesewenang-wenangan penguasa! PERJUANGKAN KEADILAN bukan minta 
pada siapa-siapa, tapi HARUS BERSATU dengan TEGUH BERJUANG SENDIRI! Kalau HUKUM 
sudah bisa dimenangkan, yaa mestinya gunakan keputusan HUKUM itu meneruskan 
PERLAWANAN dan gebug PEMERINTAH yang menindas dengan TENTARA! Begitu aja, kok 
repot, ...!

Tapi neng, ... kalau pabrik Coca-Cola kenapa harus dipertahankan, ya? Dia mau 
tutup yaa biarkan saja. Lha Coca-Cola itu jelas merusak kesehatan rakyat, kok! 
Kenapa tidak menuntut buka pabrik atau mengalihkan ke minuman yang yang lebih 
BERGUNA dan jelas tidak merusak kesehatan saja, ya?

Salam,
ChanCT

From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
Sent: Wednesday, December 14, 2016 1:04 AM
To: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In 
Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan 
Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; 
Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. 
Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. 
Manuputty ; Oman Romana 
Subject: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola

  
Informasi lagi dari orang yang sering mendapat cap "katak dalam tempurung"
dari Chan. Video dalam bahasa Spanyol tapi ada subtitles bahasa Inggris. Di 
layar lebar baru bisa kelihatan dengan baik subtitlesnya.
Video di bawah ini menceritakan perjuangan kaum buruh pabrik Coca-Cola di 
Fuenlabrada (Madrid) melawan pemecatan dan penutupan pabrik. Mula-mula melalui 
pemogokan, kemudian manifestasi di jalan-jalan dan akhirnya ke pengadilan. 
Perlawanan dilakukan sejak Januari 2014. Bulan April 2015 Mahkamah Agung 
membenarkan kaum buruh dan menyatakan pemecatan dan penutupan pabrik melanggar 
hukum. Bisa dibayangkan kegembiraan dan kebahagian semua kaum buruh mendapatkan 
kembali pekerjaannya!!! Namun kegembiraan dan kebahagian itu kemudian dengan 
cepat lenyap...Multinasional Coca-Cola tidak kehilangan akal untuk menghindari 
keputusan MA dan melanggar hukum. Kaum buruh yang sudah dibenarkan oleh 
hukumpun masih harus berhadapan dengan kekerasan aparat militer. Dengan dikawal 
aparat kekuasaan, pabrik dipreteli... Buruh tidak bisa lagi berbuat apa-apa. 
Mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya? Wong hukum sudah membenarkannya. 
Nah, tidakkah kita dihadapkan kepada KEBENARAN DAN KENYATAAN? Bahwa yang 
berkuasa sungguh-sungguh di negeri-negeri yang menyandang nama "welfare state", 
dikenal sebagai negara hukum dan di mana HAM dihormati, adalah kaum 
multinasional! Kaum multinasional lah yang menentukan nasib warga dan 
keluarganya!!! Kapan saja kaum buruh tidak diperlukan lagi tenaga kerjanya, 
mereka dianggap sebagai debu saja yang mengotori jalan-jalan besar kota-kota 
metropolitan! Sebuah pelajaran buat mereka yang masih mau belajar dan menarik 
pelajaran!



Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)


                        
                 
           
                    Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)
                  COCA COLA EN LUCHA Cuando David se enfrenta a Goliat Esta es 
la historia de una lucha titánica. La de los trabaj...  
           
     














Kirim email ke