Bukan saya yang malas BELAJAR, juga bukan saya yang mengacaukan tahap Rev. Nasional Demokratis dan Tahap Rev. Sosialis! Tapi, ... nenek yang satu ini tertancap mati dalam dogma-dogma yang dipegang kuat tanpa berani melihat KEADAAN OBJEKTIF yang nyata dalam masyarakat yang dihadapi!
Justru saya sudah BERULANG KALI saya menekankan pendapat/pemikiran Mao Rev. Demokrasi Baru itulah yang BENAR, dimana masyarakat masih 1/2 jajahan, 1/2 feodal, tenaga produksi masih sangat terbelakang dan masyarakat masih sangat MISKIN, BELUM BISA melancarkan rev. Sosialis di Tiongkok! Harus melalui tahap rev. Demokrasi Baru, masih harus memperkenankan kapitalis hidup dan berkembang dahulu! Itulah sebab pada saat PKT, Mao memproklamasikan Pemerintah BARU yang dibentuk adalah Republik Rakyat Tiongkok, Diktatur Demokrasi Rakyat yang dipimpin PKT dan mempersatukan seluruh kekuatan rakyat, termasuk kapitalis. Yang menjadi PERTANYAAN, kapan rev. Sosialis itu baru dimulai? Disinilah perbedaan pendapat diantara kita, ... disinilah KESALAHAN Stalin yang kemudian diikuti Mao dengan buru-buru melancarkan rev. Sosialis di tahun 1957 untuk segera membasmi kapitalis, mensita hak-milik kapitalis perseorangan menjadi milik NEGARA, mendirikan komune-rakyat didesa-desa, ... akhirnya yang terjadi hanya meratakan kemiskinan, sulit meningkatkan kemakmuran masyarakat. Satu contoh kenyataan kesalahan kebijakan yang dijalankan ketika itu, didesa-desa karena KESADARAN PETANI belum bisa untuk bekerja kolektif model komune rakyat, bahkan banyak diantara mereka yang kecewa-berat, merasa tertipu oleh PKT! Lha, gimana, dimasa revolusi dibagikan tanah untuk penggarap, belum juga 10 tahun sudah diambil balik menjadi milik komune dan mereka kembali hanya menjadi buruh tani yang hanya punya tenaga kerja, tidak ada KEBEBASAN menentukan bekerja sendiri, ... belum lagi menghadapi kepala-barisan produksi yang kwalitasnya bapet, membuat saat menghadapi bencana-alam berat (3 tahun berturut-turut, 1959-1961) tidak sedikit orang mati kelaparan! Kenyataan yang juga tidak bisa disangkal, sejak tahun 1960-1977 begitu banyak penyelundup masuk ke HK! Disamping satu segi, pihak koloni Inggris semula sengaja mengangkat orang TIongkok yg berani menerjang maut masuk HK sebagai pahlawan, langsung mendapat KTP-HK untuk hidup menetap di HK, tentu ini membuktikan adanya perbedaan kehidupan yang mencolok antara sistem kapitalis di HK dan sistem sosialis di Tiongkok daratan! Lalu? Penjagaan perbatasan diperketat, dipagari kawat berduri, ... penyelundup lewat laut, baik dengan perahu nelayan/sampan bahkan berenang, ... Bagaimana PKT harus menghadapi kenyataan demikian dan membendungnya? Tembok Berlin pun roboh! Kenyataan-kenyataan berat inilah yang memaksa PKT, khususnya Deng berpikir menemukan SOLUSI yang tepat dan BAIK! Nah, jalan keluar yang diajukan adalah mengoreksi KESALAHAN yg ada, sistem sosialis harus bisa mengungguli sistem kapitalis! Padukan keunggulan kedua sistem itu dengan berani, ... untuk mencapai kemajuan pembangunan ekonomi nasional, meningkatkan kemakmuran kehidupan masyarakat lebih dahulu! Begitulah dalam 30-an tahun terakhir bangun ekonomi dan mencapai kemajuan dahsyat sekalipun diikuti dengan tantangan-tantangan kemerosotan moral sementara pejabat, ... tapi kenyataan yg terjadi, bahkan kebalikkan. Tingkat kehidupan penduduk HK jadi lebih rendah ketimbang kehidupan rakyat dibanyak kota besar Tiongkok, ...! Bukan orang Tiongkok dari daratan menyelundup masuk HK, tapi justru membanjiri turis Tiongkok ke HK, ngeborongin rumah/flat di HK, sampai-sampai harus direm Pemerintah HK, biar harga rumah tidak naik membumbung tinggi terlalu cepat! Yaa, ... memang kalau mau menemukan sistem sosialis yang BENAR, yang berkemampuan melawan dan mengalahkan sistem kapitalis, dong! Bukan dengan membangun tembok Berlin, atau melarang rakyatnya keluar negeri, ...! Harus BERANI buka pintu, memasuki semua gelanggang untuk bertarung menghadapi dan melawan bahkan mengalahkan kapitalis-kapitalis itu! Tapi, ... konkritnya Tiongkok sampai sekarang sekalipun sudah mencapai kemakmuran tertentu, tetap masih ada 50 juta rakyatnya dibawah garis kemiskinan. Baru nanti tahun 2020 menurut target plan 5 tahun ke-13 bisa diselesaikan. Sementara ada yang menyatakan lapisan klas menengah atas di Tiongkok sekarang ini sudah melebihi 300 juta orang, melebihi penduduk Indonesia yang berkemampuan melancong keluar negeri, makanya tidak aneh kalau banyak negara berebut menyedot masuk turis dari Tiongkok, termasuk membebaskan visa bagi mereka! Lalu, kembali pada pertanyaan kapan rev. Sosialis bisa dimulai? Yaaa, tunggu sampai masyarakat itu lebih makmur lagi, jadi yang diratakan nanti kemakmuran nya, bukan kemiskinannya! Jangan buru-buru, ... kalau kita perhatikan proses yang harus dilalui masyarakat feodal di TIongkok sampai 3 ribuan tahun, ... sekarang sekalipun sudah banyak industri TETAP belum sampai menjadi negara industri, lebih 60% penduduknya masih petani, kok! Salam, ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Tuesday, December 20, 2016 12:11 AM To: [email protected] ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: Re: [temu_eropa] Re: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola Chan: Hahahaa, ... nenek yang satu ini sekarang dengan tandas bisa menyatakanTIDAK BERSIKERAS BASMI KAPITALIS sekarang juga, ... dengan kata lain bisa membenarkan TIDAK melancarkan Revolusi Sosialis sekarang juga! Artinya membenarkan keibjaksanaan memperkenankan kapitalis-kapitalis tetap hidup, tumbuh dan berkembang, ... dan yang terjadi di Tiongkok sekarang kapitalis-kapitalis itu tumbuh, berkembang dibawah kendali Diktatur Proletariat! Jadi, ... di tingkat perjuangan sekarang ini yang BENAR adalah teori Revolusi Demokrasi Baru yang berhasil dimenangkan Mao menjadi kebijaksanaan PKT ditahun 1945 itu! Tatiana: Bolak balik kelihatan dangkalnya ( untuk tidak bilang goblok!) dan ketidak mampuan Chan untuk memahami argumentasi saya. Saya selalu menekankan pentingnya analisa kelas untuk mengetahui siapa musuh dan siapa kawan dalam setiap tahap revolusi. Di negeri semi kolonial dan semi feodal seperti Tiongkok SEBELUM pembebasan 1949 dan mayoritas negeri-negeri Dunia Ketiga sekarang, BUKAN REVOLUSI SOSIALIS yang mereka lancarkan. Yang MAO LANCARKAN KETIKA ITU dan sekarang sedang dikembangkan di negeri-negeri itu adalah REVOLUSI NASIONAL DEMOKRATIS, di mana musuh pokok adalah pemerintah yang mewakili kepentingan kaum tuan tanah, kaum kabir, kaum kapitalis komprador. Dan pemerintah yang begini selalu didukung kaum imperialis yang dikepalai AS melalui semua lembaga keuangan dan perdagangan internasional yang dikelolanya.Makanya rakyat bilang pemerintah yang begini adalah ANTEK KAUM IMPERIALIS. Dalam tahap ini BORJUASI / KAPITALIS NASIONAL BUKAN MUSUH REVOLUSI. OLEH KARENA ITU KAUM KAPITALIS NASIONAL TIDAK DIHANCURKAN. Makanya dalam tahap ini SALAH SATU tuntutan rakyat adalah pembangunan INDUSTRI NASIONAL. Sampai sini ngerti nggak Chan! Tahap Nasional Demokratis LAIN WATAKNYA dari tahap Revolusi Sosialis.JANGAN DIKACAUKAN ATAU DICAMPUR ADUKKAN! Tapi si Chan yang malas belajar (dan ingatannya SANGAT pendek karena sebenarnya semua ini sudah pernah saya jelaskan dalam perdebatan beberapa tahun yang lalu) , SELALU MENGACAUKAN DAN MENCAMPUR ADUKKAN KEDUA TAHAP TERSEBUT! Apa buktinya bahwa Chan mencampur-adukkan kedua tahap yang berlainan wataknya itu? Revolusi Nasional Demokratis di TIONGKOK SUDAH SELESAI PADA TAHUN 50'AN! Mao mempimpin rakyat Tiongkok masuk kedalam TAHAP SOSIALIS. Dalam TAHAP SOSIALIS inilah KAUM BORJUASI/ KAPITALIS MENJADI MUSUH POKOK! Dulu saya bahkan menampilkan kata-kata Mao sendiri berkaitan dengan ini. Kaum borjuasi/kapitalis ini mempunyai wakil-wakilnya didalam PKT, yaitu Liu Sho-qi dan Deng Xiao-ping!!! Itulah yang disebut "para pejabat tinggi dalam partai dan negara yang mengambil jalan kapitalis! Mereka TIDAK MAU MAJU KE TAHAP REVOLUSI SOSIALIS! MEREKA INGIN TERUS BERTAHAN DALAM TAHAP REVOLUSI NASIONAL DEMOKRATIS DENGAN MEMELIHARA TERUS KEPENTINGAN KAUM BORJUASI NASIONAL DENGAN TUJUAN MEMBANGUN KAPITALISME!!! Dalam pertempuran antara dua jalan itu, kaum REVISIONIS, KAUM PENEMPUH JALAN KAPITALIS berhasil mengalahkan garis Mao serta para pengikutnya. Hasilnya kita lihat sekarang ini: Kapitalisme di Tkk sudah berdiri setelah menghancurkan struktur ekonomi, politik dan sosial sosialis yang dibangun Mao. Nah, untuk MEMBENARKAN restorasi kapitalis Deng xiao ping, DAN MEMBENARKAN PENGHISAPAN TERHADAP KAUM BURUH TKK oleh KAUM KAPITALIS BIROKRAT, KOMPRADOR, DAN MULTINASIONAL ASING, Chan bilang tahap sekarang di Tkk adalah TAHAP NASIONAL DEMOKRATIS! Padahal Mao SUDAH MULAI membangun SOSIALISME sejak tahun 50'an sampai akhir hayatnya tahun 1976! Chan menuduh MAO TERLALU CEPAT MEMBABAT KAUM KAPITALIS! Padahal praktek sudah membuktikan keberhasilan Mao membangun Sosialisme dan mempertahankannya sampai 1976. Tapi Chan tetap ngotot dengan tuduhannya terhadap Mao dan bilang sekarang Tkk sedang dalam TAHAP NASIONAL DEMOKRATIS nya Mao. Ini adalah PENCATUTAN TERANG-TERANGAN terhadap konsep Mao tentang revolusi nasional demokratis! Apakah itu tidak berarti MEMUNDURKAN DENGAN PAKSA PERKEMBANGAN di Tkk? Saya bilang dengan paksa, karena kemunduran itu dilakukan dengan penindasan dan pembunuhan terhadap kaum pengikut Mao! Memundurkan dan mengembalikan penghisapan dalam masyarakat Tiongkok itulah yang umum dikatakan oleh mereka yang berpikir pakai otak waras sebagai RESTORASI KAPITALIS. Sudah sejak lama sekali saya minta dia supaya menjelaskan apa KESAMAAN dan PERBEDAAN antara tahap nasional demokratis pada jaman Mao dengan tahap nasional demokratis jaman sekarang di Tkk. TIDAK PERNAH DIJAWAb. Saya juga ingatkan bahwa SGT juga bicara tentang tahap nasional demokratis pada tahun 60-an di Indonesia. Oleh karena itu bornas bukan musuh! Saya minta Chan untuk menjelaskan bagaimana Tkk sekarang yang sudah melalui revolusi nasional demokratis yang dipimpin Mao dan menang pada tahun 1949, kemudian sudah melewati pembangunan sosialis sampai 1976, kok balik lagi ke tahap nasional demokratis? Jadi tahap di Indonesia sejak tahun 60-an sama dengan tahap di Tkk sekarang? Dan kalau memang sekarang di Tkk sedang dalam tahap revolusi nasional demokratis, mengapa hidup dan tumbuh makmur kaum kapitalis birokrat dan komprador? Kok bisa kaum bilyuner yang jumlahnya terus meningkat menghisap buruh dan menggunakan kedudukannya dalam PKT dan Negara untuk cari keuntungan? Padahal dalam Revolusi Nas-Dem nya Mao, kabir dan komprador adalah musuh revolusi! Dan mengapa tidak kedengaran lagi "da dao mei di guo zhu yi " (ganyang imperialisme AS) di Tkk sekarang yang dulu santer kita dengar di Tkknya Mao? Mengapa tidak ada solidaritas dengan massa rakyat dunia yang sedang berjuang melawan kaum imperialis serta lembaga internasionalnya? Apa arti adanya Tkk di G20 dan WTO? Apakah itu untuk membela kepentingan rakyat negeri? Kalau sekarang ada kontradiksi antara Tkk dengan AS, sama sekali lain wataknya dari kontradiksi yang dulu. Dulu Tkk membela perjuangan rakyat negeri Dunia Ketiga, sekarang Tkk hanya tertarik untuk MENANAMKAN MODALNYA untuk cari profit! Bukan saja modalnya yang ditanam, orangnyapun mau "ditanam" di situ. Lihat pengalaman Afrika yang sudah pernah saya postingkan. Dan juga di Indonesia sendiri di mana sudah sering dibicarakan buruh dan orang-orang Tkk yang secara ilegal bekerja di Indonesia. Saya anti Tkk!! Begitu kedengaran tuduhan yang dapat dilemparkan!! Ya, saya anti Tkk kapitalis, anti Tkk yang sedang berkembang menjadi imperialis! Saya bela Tkk sosialis yang dipimpin Mao. Sebaliknya dari Chan yang mendukung Tkk kapitalis. Jadi sekali lagi, jangan mencampur adukkan tahap nasional demokratis dengan tahap sosialis! Pada tahap nasional demokratis bornas bukan musuh. Tapi dalam tahap sosialis, bornas menjadi musuh. "Menjadi musuh" juga jangan diinterpretasikan seolah-olah Mao membunuhi kapitalis-kapitalis itu. "Menjadi musuh" artinya semua konsesi yang berhubungan dengan kegiatan bornas dalam ekonomi dihentikan. Harus diciptakan mekanisme baru dalam ekonomi sosialis yang menuju kepada penghapusan watak barang dagangan pada tenaga produksi dan penghapusan penghisapan manusia oleh manusia. Dengan demikian tercipta Sosialisme di mana tidak ada lagi penghisapan manusia oleh manusia lain. Dan Sosialisme yang beginilah yang juga diinginkan oleh Bung Karno. Kalau penjelasan ini masih juga belum bisa dimengerti oleh Chan...Saya hanya bisa bilang; memang otak seorang remo tidak bisa dibetulkan. On Monday, December 19, 2016 5:33 AM, "'Chan CT' [email protected] [temu_eropa]" <[email protected]> wrote: Hahahaa, ... nenek yang satu ini sekarang dengan tandas bisa menyatakanTIDAK BERSIKERAS BASMI KAPITALIS sekarang juga, ... dengan kata lain bisa membenarkan TIDAK melancarkan Revolusi Sosialis sekarang juga! Artinya membenarkan keibjaksanaan memperkenankan kapitalis-kapitalis tetap hidup, tumbuh dan berkembang, ... dan yang terjadi di Tiongkok sekarang kapitalis-kapitalis itu tumbuh, berkembang dibawah kendali Diktatur Proletariat! Jadi, ... di tingkat perjuangan sekarang ini yang BENAR adalah teori Revolusi Demokrasi Baru yang berhasil dimenangkan Mao menjadi kebijaksanaan PKT ditahun 1945 itu! Kemudian dalam memilah kapitalis, ada komprador, kapitalis monopoli, borjuasi-nasional dan borjuasi kecil, ... sudah seharusnya bisa dilanjutkan setingkat lebih tinggi lagi, disaat sekarang yang dihadapi dari sekian banyak kapitalis komprador yang harus dihadapi, mana yang harus digempur dahulu! Darimana kekuatan anda kalau mau sekaligus digempur semua??? Bukankah selama lebih 1/2 abad ini rakyat Indonesia tercekik oleh imperialisme AS-Jepang, dan kenyataan Jokowi mulai berusaha keras melepas jerat AS-Jepang yang mencekik itu, beralih dan mendekat ke RRT? Dan kenyataan RRT adalah satu-satunya negara didunia ini yang berkemampuan menghadapi imperialisme AS, kenapa tidak digunakan? Lalu, ... kalau anda masih saja memusuhi dan menyasar RRT begitu, mau gunakan bantuan siapa lagi untuk melepas jerat “bantuan” AS yg selama ini mencekik leher itu??? TAKUT dengan BAHAYA dan ANCAMAN Komunis? Sebagaimana diisukan jenderal-jendral kanan begundal AS itu, ... pejabat dan pengusaha yang hendak mempertahankan gamblok pada AS??? Salam, ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Sunday, December 18, 2016 9:06 PM To: [email protected] ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: Re: [temu_eropa] Re: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola Sama sekali tidak ada isinya komentar si Chan ini. Hanya memperlihatkan kebodohan dan ignorancenya saja. Kelihatan orang remo ini tidak melihat dan menyimak baik jalan perjuangan kaum buruh pabrik Coca-Cola yang dicerminkan dalam video itu. Susah diskusi sama orang yang malas belajar dan congkak. Seperti juga sikapnya dalam menghakimi Lenin dan NEP. Mengaku tidak mempelajari sejarah Soviet tapi petantang petenteng dengan pendapat yang menyalahkan Lenin yang terlalu cepat membabat kaum kapitalis. Ditanya Lusi , kapan tiba waktunya membabat kaum kapitalis, tidak pernah dijawab. Menghakimi NEP tapi menolak mempelajari tulisan Lenin sendiri yang bersangkutan dengan masalah itu. Makanya secara serampangan dan bodoh sekali menggunakan NEP untuk membela restorasi kapitalis Deng xiao-ping. Pertanyaan dan argumentasi pokok/penting yang berhubungan dengan hakekat masalahnya yang diajukan orang yang berdebat dengan dia tidak pernah dijawab, dia lewatkan begitu saja, karena dia memang tidak mempu menjawabnya. Sekarang menuduh saya bersikeras BASMI KAPITALIS. Padahal tak pernah orang yang berdebat dengan dia menyatakan BASMI KAPITALIS sekarang juga. Lagi-lagi akarnya ialah Chan tidak pernah membedakan tahap-tahap revolusi, karena menolak melakukan analisa kelas. Maka dia mengacaukan mana musuh dan mana kawan rakyat/revolusi. Disamping itu, chan memasukkan KAPITALIS dalam satu keranjang. Dia tidak membedakan kapitalis nasional/bornas dengan kabir, dengan kapitalis komprador dan kapitalis monopoli. Lagi-lagi ya itu tadi, menolak membuat analisa kelas. Karena dia tidak mau dengan terang-terangan mengakui bahwa dirinya sudah bersatu dengan dan oleh karena itu membela kepantingan kaum kabir, komprador dan kapitalis monopoli, terutama yang berasal dari Tiongkok. Dia menganggap modal Tkk tidak sama dengan modal Jepang, AS , Eropa atau negara/bangsa lain. Kelihatan kan lain "bapak lain anak", buah jatuh SANGAT JAUH SEKALI dari pohonnya!!! Kalau saya sih terus terang mengikuti nasehat Jusuf Isak, wartawan kawakan revolusioner, sampai akhir hayatnya tidak luntur atau berubah warna!!! Bikin analisa kelas supaya tahu siapa musuh siapa kawan. Chan tidak mau bikin analisa kelas, karena dia berkepentingan untuk mengaburkan antara kawan dan musuh, karena dia menginginkan kolaborasi kelas. Makanya kaum kabir, komprador, kapitalis monopoli Tkk dikasih embel-embel "komunis" untuk menipu rakyat. Bayangin Chan maunya rakyat melihat kaum penghisap Tiongkok itu sebagai juru selamatnya yang akan meneteskan "kemakmuran"!!! Udah gitu masih mau ngajarin bagaimana mesti berjuang di Indonesia!! Eni Lestari JAUH LEBIH CERDAS dari pada dirimu! Dia sudah memperlihatkan jalan benar yang ditempuhnya, maka perjuangan buruh migran setapak demi setapak maju, melawan status quo! Kalau tidak dukung Jokowi, berarti bersatu dengan Prabowo, etc!!! Aduh, begitu ceteknya pikirannya. Kalau tidak pilih Hilary Clinton, berarti pilih Trump!!! Susan Sarandon pernah juga dituduh dukung Trump karena dia menolak memberi suaranya untuk Hillary.. Bintang film itu otaknya jauh lebih cerdas dari pada dirimu, walaupun tidak pernah jadi komunis. Dia menolak didikte dan dipaksa mengikuti dikotomi absurd itu! Tahu nggak apa yang dikatakan wartawan kawakan, pembuat film Australia, John Pilger, tentang pemilu AS yang lalu "The Truth is....there was no one to vote for...". Exactly! Persis seperti di Indonesia....Tapi karena sudah banyak orang yang merosot jadi sosdem, reformis dan remo seperti Chan ini, maka harus pilih Jokowi!!! Orang yang terus ngotot memuja Jokowi tidak mau mengakui kenyataan bahwa dari dulu Jokowi didukung kaum militer (Hendropriyono, Wiranto)... dan juga didukung kaum oligarki, seperti dijelaskan Jeffrey Winter, dan juga oleh Kwik Gian Gie. Tanpa dukungan dua faktor itu, dia tidak akan didudukkan di singgasana kekuasaan, seperti dulu ketika Megawati memenangkan Pemilu tapi dijegal untuk tidak naik singgasana!!! Otak remo anda tidak mampu melihat bagaimana rakyat sudah memilih jalannya sendiri melalui semua kegiatannya selama dua tahun Jokowi memerintah. Mereka matanya tidak picek! Karena mereka merasakan sendiri betapa jahatnya kebijakan yang dijalankan Jokowi sejak berkuasa. Rakyat sudah tahu apa yang diinginkannya. Pertanyaan: lalu, maunya apa? adalah pertanyaan seorang penonton pro statusquo, karena tidak dapat menangkap arti dari semua perlawanan kaum tani, kaum miskin kota dan rakyat yang sudah terorganisasi dan sadar. Kasihan betul kau, remo! On Sunday, December 18, 2016 5:16 AM, "'Chan CT' [email protected] [temu_eropa]" <[email protected]> wrote: Hahahaa, ... nenek yang satu ini kebingungan disatu sisi berkeras menyerukan BASMI KAPITALIS sekarang juga, begitu kapitalis hendak nutup pabrik Coca-Cola, dia berdiri bela klas proletariat dengan seruan HAM! Lalu, mau nya apa? Tidak tahu bagaimana harus berjuang, ...? Padahal jelas di Spanyol itu pemerintah borjuis yg membela kepentingan kapitalis lebih berat, ... jadi TIDAK ada jalan lain bagi klas proletariat untuk memperkuat PERSATUAN barisan klas pekerja untuk menuntut keadilan dan memenangkan perjuangannya selangkah demi selangkah! Sebelum bisa merebut kekuasaan, yaah harus bisa menyatukan segala kekuatan yang bisa dipersatukan, bukan main hantam dengan menyasar semua kekuatan yang ada. Begitu juga dengan di Indonesia sekarang ini, jangan semua kekuatan disasar, diserang secara frontal! Kita bagaimanapun juga harus memilah-milah dengan teliti kekuatan-kekuatan yang ada. Kalau orang macam Jokowi, Ahok juga ikutan diserang, lalu kalian hendak bersatu dan mendukung siapa lagi? Bersatu dengan kekuatan macam Prabowo, SBY, ... bahkan Tommy Soeharto? Ada-ada saja nenek yang satu ini! Atau menjadi pendekar seorangan wae, bisaaa??? Salam, ChanCT From: Tatiana Lukman Sent: Friday, December 16, 2016 7:42 PM To: Chan CT ; Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: Re: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola Kasihan betul si Chan ini, otaknya terlalu banyak dempul revisionisnya sehingga tidak mampu mengerti arti dan makna sangat dalam dari pengalaman perjuangan kaum buruh Coca-Cola. Otaknya tidak mampu mengerti mengapa kaum buruh berjuang melawan penutupan pabrik yang merupakan sumber penghidupannya. Karena mikirnya pakai dengkul, dan yang lebih penting lagi adalah keberpihakannya kepada kaum kapitalis.Komentarnya "Dia mau tutup yaa biarkan saja" menunjukkan logika reaksionernya, yaitu kaum buruh harus menyerah saya diperlakukan secara semena-mena oleh kaum multinasional!! Dia tidak mengerti bahwa hak untuk bekerja adalah HAMnya kaum buruh, dan hak itu hanya dihormati sepenuhnya dalam sebuah pemerintahan sosialis seperti pada jaman Mao, di mana buruh memiliki status kerja seumur hidup. Hak inilah yang dihapus, diejek dan dicemooh oleh kaum revisionis Deng Xiao ping serta pengikut setianya seperti Chan demi membangun kapitalisme brutal alias "sosialisme dengan ciri Tkk". Kepicikan sekaligus kekurang-ajaran si Chan ini diperlihatkan lagi dengan membelokkan masalahnya kepada soal sehat tidaknya minuman Coca-Cola. Saya juga menganggap Coca-Cola tidak sehat, maka itu tidak pernah mau mengkonsumsinya, tapi bukan itu hakekat masalahnya. Hakekat masalahnya adalah sebuah pabrik yang sudah dibuktikan efisiensi dan produktivitas tinggi, tapi mau ditutup, yang berarti menghilangkan mata pencaharian lebih dari seribu buruhnya. Kemudian masih berani dan berhasil multinasional Coca-Cola mencampakkan keputusan Mahkamah Agung! Ini persis seperti Ginanjar dan juga Jokowi yang tidak mau segera mematuhi keputusan MA yang sudah memerintahkan pabrik semen supaya menghentikan kegiatannya. Mereka adalah pejabat negara tapi menolak mematuhi keputusan lembaga negaranya sendiri! Apa artinya ini???? Seorang Marxis, dan Chan pernah mengaku dirinya seorang Marxis (tapi tidak pernah menjawab pertanyaan apakah dia mengakui dan menerima prinsip perjuangan kelas....Ya jelas dia tidak mengakuinya karena dia justru menghimbau kaum buruh untuk kerja sama dengan kaum majikan) pasti mengerti arti dari sikap membangkang multinasional Coca-Cola dan Ginanjar/Jokowi terhadap hukum negara yang dikelolanya. Saya yang dibilang "katak dalam tempurung" tapi si Chan yang "tahu segala" anehnya tidak tahu sudah berapa banyak politikus dan sejarawan Eropa yang mengatakan bahwa yang berkuasa di negara-negara EU adalah kaum multinasional. Para politikus itu hanyalah boneka yang mengabdi kepentingan kantongnya segelintir kaum oligarki/muiltinasional/ bankir yang menguasai ekonomi dunia. Si Chan yang "tahu segala" anehnya juga tidak tahu bahwa partai Demokrat dan Republik di AS hanya bonekanya Wall Street dan magnate/oligarki/multinasional. Mbok sekali-sekali tuan yang "tahu segala" itu mempostingkan berita dari dunia lain. Dunia ini besar dan luas, bukan hanya Tiongkok tanah air tercinta anda saja! Arti penting dan dalam dari pengalaman perjuangan kaum buruh Coca-Cola adalah tidak cukup berjuang untuk reform dan perbaikan kondisi kerja dan kehidupan ekonomi saja. Seandainya tuntutan reform dan perbaikan kondisi diterima oleh majikan, hal itu tetap tidak akan menyelesaikan akar dari penghisapan dan menyelesaikan kontradiksi antara kaum buruh dan majikan yang bersifat antagonis. Perjuangan menuntut perbaikan nasib sudah tentu harus terus dilakukan selama buruh masih terus hidup dalam sistim kapitalis. Perjuangan itu akan mendidik dan meningkatkan kesadaran kelas. Namun buruh tidak dapat mempercayakan dan menggantungkan nasibnya kepada sistim kapitalis serta lembaganya. Inilah pelajaran yang ditarik oleh kaum buruh Coca-Cola di Madrid. Hakekat masalahnya terletak pada struktur, pada sistim ekonomi kapitalis di mana buruh hanya punya tenaga kerja sedangkan alat produksi ada di tangan kaum kapitalis/ multinasional. Begitu alat produksinya diambil oleh yang punya, buruh hilang mata pencahariannya. Kaum multinasional dapat melanggar keputusan MA, sama sekali tidak ada resikonya. Tapi kalau kaum buruh dianggap melanggar hukum oleh majikan dan undang-undang serta peraturan yang ada, pasti buruh dihadapkan kepada pengadilan dan penjara. Begitu juga pengalaman kaum tani dan penduduk gunung Kendeng dalam melawan pabrik semen yang mengancam kelangsungan hidup mereka dan keluarganya. Lihat nggak bagaimana reaksi kaum perempuan tani Kendeng ketika mengetahui akal licik Ginanjar untuk menyelamatkan pabrik semen yang sudah bertahun-tahun ditentang rakyat? Orang seperti Chan tidak bisa diharapkan mengerti kemarahan sekaligus kesedihan kaum tani Kendeng. Apalagi bersimpati??? Simpati dan air matanya selalu bagi dedengkot remo Liu Shaoqi, bukan untuk kaum yang di bawah! Chan tidak akan mengerti kemarahan dan kesedihan mereka yang digusur di Jakarta, kaum tani dari 26 desa yang ditenggelamkan waduk Jatigede (dengan modal kaum kapitalis Tkk yang dipuja setengah mati oleh Chan), kaum tani desa Sukamulya, kaum tani Kulon Progo dan kaum tani di segala pelosok kepulauan Indonesia yang masih terus melawan perampasan tanahnya oleh kaum pemodal dan investor, diantaranya kaum pemodal Tkk, pujaan Chan! Itulah wajah seorang revisionis kepala batu, penghina kaum tani dan pemuja kapitalisme!!! On Wednesday, December 14, 2016 1:07 AM, Chan CT <[email protected]> wrote: Lha illaaaah, ... informasi apa ini dari “nenek dalam tempurung” dengan kesimpulan cupat pula “kapitalis-multinasional lah yang menentukan nasib BURUH”! Itukan hanya MEMBUKTIKAN pemerintah Spanyol yang berkuasa bukan PEMERINTAH RAKYAT, tapi pemerintah yang hanya mengabdi pada kapitalis saja! Itu menandakan KEKUATAN RAKYAT masih lemah, ...! Buruh tidak bisa berbuat apa-apa, ... mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya??? Sedang nenek yang satu ini sudah cupat pula hanya menuduh orang lain TIDAK mau BELAJAR dan MENARIK PELAJARAN! Jangan menyalahkan siapa-siapa, ... BURUH harus BERSATU, menyatukan diri lebih kuat dalam barisan memperjuangkan NASIB lebih baik melawan keserakahan kapitalis dan kesewenang-wenangan penguasa! PERJUANGKAN KEADILAN bukan minta pada siapa-siapa, tapi HARUS BERSATU dengan TEGUH BERJUANG SENDIRI! Kalau HUKUM sudah bisa dimenangkan, yaa mestinya gunakan keputusan HUKUM itu meneruskan PERLAWANAN dan gebug PEMERINTAH yang menindas dengan TENTARA! Begitu aja, kok repot, ...! Tapi neng, ... kalau pabrik Coca-Cola kenapa harus dipertahankan, ya? Dia mau tutup yaa biarkan saja. Lha Coca-Cola itu jelas merusak kesehatan rakyat, kok! Kenapa tidak menuntut buka pabrik atau mengalihkan ke minuman yang yang lebih BERGUNA dan jelas tidak merusak kesehatan saja, ya? Salam, ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday, December 14, 2016 1:04 AM To: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola Informasi lagi dari orang yang sering mendapat cap "katak dalam tempurung" dari Chan. Video dalam bahasa Spanyol tapi ada subtitles bahasa Inggris. Di layar lebar baru bisa kelihatan dengan baik subtitlesnya. Video di bawah ini menceritakan perjuangan kaum buruh pabrik Coca-Cola di Fuenlabrada (Madrid) melawan pemecatan dan penutupan pabrik. Mula-mula melalui pemogokan, kemudian manifestasi di jalan-jalan dan akhirnya ke pengadilan. Perlawanan dilakukan sejak Januari 2014. Bulan April 2015 Mahkamah Agung membenarkan kaum buruh dan menyatakan pemecatan dan penutupan pabrik melanggar hukum. Bisa dibayangkan kegembiraan dan kebahagian semua kaum buruh mendapatkan kembali pekerjaannya!!! Namun kegembiraan dan kebahagian itu kemudian dengan cepat lenyap...Multinasional Coca-Cola tidak kehilangan akal untuk menghindari keputusan MA dan melanggar hukum. Kaum buruh yang sudah dibenarkan oleh hukumpun masih harus berhadapan dengan kekerasan aparat militer. Dengan dikawal aparat kekuasaan, pabrik dipreteli... Buruh tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya? Wong hukum sudah membenarkannya. Nah, tidakkah kita dihadapkan kepada KEBENARAN DAN KENYATAAN? Bahwa yang berkuasa sungguh-sungguh di negeri-negeri yang menyandang nama "welfare state", dikenal sebagai negara hukum dan di mana HAM dihormati, adalah kaum multinasional! Kaum multinasional lah yang menentukan nasib warga dan keluarganya!!! Kapan saja kaum buruh tidak diperlukan lagi tenaga kerjanya, mereka dianggap sebagai debu saja yang mengotori jalan-jalan besar kota-kota metropolitan! Sebuah pelajaran buat mereka yang masih mau belajar dan menarik pelajaran! Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés) Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés) COCA COLA EN LUCHA Cuando David se enfrenta a Goliat Esta es la historia de una lucha titánica. La de los trabaj...
