Hahahaa, ... nenek yang satu ini sekarang dengan tandas bisa menyatakanTIDAK 
BERSIKERAS BASMI KAPITALIS sekarang juga, ... dengan kata lain bisa membenarkan 
TIDAK melancarkan Revolusi Sosialis sekarang juga! Artinya membenarkan 
keibjaksanaan memperkenankan kapitalis-kapitalis tetap hidup, tumbuh dan 
berkembang, ... dan yang terjadi di Tiongkok sekarang kapitalis-kapitalis itu 
tumbuh, berkembang dibawah kendali Diktatur Proletariat! Jadi, ... di tingkat 
perjuangan sekarang ini yang BENAR adalah teori Revolusi Demokrasi Baru yang 
berhasil dimenangkan Mao menjadi kebijaksanaan PKT ditahun 1945 itu!

Kemudian dalam memilah kapitalis, ada komprador, kapitalis monopoli, 
borjuasi-nasional dan borjuasi kecil, ... sudah seharusnya bisa dilanjutkan 
setingkat lebih tinggi lagi, disaat sekarang yang dihadapi dari sekian banyak 
kapitalis komprador yang harus dihadapi, mana yang harus digempur dahulu! 
Darimana kekuatan anda kalau mau sekaligus digempur semua??? Bukankah selama 
lebih 1/2 abad ini rakyat Indonesia tercekik oleh imperialisme AS-Jepang, dan 
kenyataan Jokowi mulai berusaha keras melepas jerat AS-Jepang yang mencekik 
itu, beralih dan mendekat ke RRT? Dan kenyataan RRT adalah satu-satunya negara 
didunia ini yang berkemampuan menghadapi imperialisme AS, kenapa tidak 
digunakan? Lalu, ... kalau anda masih saja memusuhi dan menyasar RRT begitu, 
mau gunakan bantuan siapa lagi untuk melepas jerat “bantuan” AS yg selama ini 
mencekik leher itu??? TAKUT dengan BAHAYA dan ANCAMAN Komunis? Sebagaimana 
diisukan jenderal-jendral kanan begundal AS itu, ... pejabat dan pengusaha yang 
hendak mempertahankan gamblok pada AS???

Salam,
ChanCT


From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
Sent: Sunday, December 18, 2016 9:06 PM
To: [email protected] ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In 
Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan 
Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; 
Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. 
Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. 
Manuputty ; Oman Romana 
Subject: Re: [temu_eropa] Re: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola




Sama sekali tidak ada isinya komentar si Chan ini. Hanya memperlihatkan 
kebodohan dan ignorancenya saja. Kelihatan orang remo ini tidak melihat dan 
menyimak baik jalan perjuangan kaum buruh pabrik Coca-Cola yang dicerminkan 
dalam video itu.  Susah diskusi sama orang yang malas belajar dan congkak. 
Seperti juga sikapnya dalam menghakimi Lenin dan NEP. Mengaku tidak mempelajari 
sejarah Soviet tapi petantang petenteng dengan pendapat yang menyalahkan Lenin 
yang terlalu cepat membabat kaum kapitalis. Ditanya Lusi , kapan tiba waktunya 
membabat kaum kapitalis, tidak pernah dijawab. Menghakimi NEP tapi menolak 
mempelajari tulisan Lenin sendiri yang bersangkutan dengan masalah itu. Makanya 
secara serampangan dan bodoh sekali menggunakan NEP untuk membela restorasi 
kapitalis Deng xiao-ping. Pertanyaan dan argumentasi  pokok/penting yang 
berhubungan dengan hakekat masalahnya yang diajukan orang yang berdebat dengan 
dia tidak pernah dijawab, dia lewatkan begitu saja, karena dia memang tidak 
mempu menjawabnya.
Sekarang menuduh saya bersikeras BASMI KAPITALIS. Padahal tak pernah orang yang 
berdebat dengan dia menyatakan BASMI KAPITALIS sekarang juga. Lagi-lagi akarnya 
ialah Chan tidak pernah membedakan tahap-tahap revolusi, karena menolak 
melakukan analisa kelas. Maka dia mengacaukan mana musuh dan mana kawan 
rakyat/revolusi. Disamping itu, chan  memasukkan KAPITALIS dalam satu 
keranjang. Dia tidak membedakan kapitalis nasional/bornas dengan kabir, dengan 
kapitalis komprador dan kapitalis monopoli. Lagi-lagi ya itu tadi, menolak 
membuat analisa kelas. Karena dia tidak mau dengan terang-terangan mengakui 
bahwa dirinya sudah bersatu dengan dan oleh karena itu membela kepantingan kaum 
kabir, komprador dan kapitalis monopoli, terutama yang berasal dari Tiongkok. 
Dia menganggap modal Tkk tidak sama dengan modal Jepang, AS , Eropa atau 
negara/bangsa lain. Kelihatan kan lain "bapak lain anak", buah jatuh SANGAT 
JAUH SEKALI dari pohonnya!!! Kalau saya sih terus terang mengikuti nasehat 
Jusuf Isak, wartawan kawakan revolusioner, sampai akhir hayatnya tidak luntur 
atau berubah warna!!! Bikin analisa kelas supaya tahu siapa musuh siapa kawan. 
Chan tidak mau bikin analisa kelas, karena dia  berkepentingan untuk 
mengaburkan antara kawan dan musuh, karena dia menginginkan kolaborasi kelas. 
Makanya kaum kabir, komprador, kapitalis monopoli Tkk dikasih embel-embel 
"komunis" untuk menipu rakyat. Bayangin Chan maunya rakyat melihat kaum 
penghisap Tiongkok itu sebagai juru selamatnya yang akan meneteskan 
"kemakmuran"!!!
Udah gitu masih mau ngajarin bagaimana mesti berjuang di Indonesia!! Eni 
Lestari JAUH LEBIH CERDAS dari pada dirimu! Dia sudah memperlihatkan jalan 
benar yang ditempuhnya, maka perjuangan buruh migran setapak demi setapak maju, 
melawan status quo!  
Kalau tidak dukung Jokowi, berarti bersatu dengan Prabowo, etc!!! Aduh, begitu 
ceteknya pikirannya. Kalau tidak pilih Hilary Clinton, berarti pilih Trump!!! 
Susan Sarandon pernah juga dituduh dukung Trump karena dia menolak memberi 
suaranya untuk Hillary.. Bintang film itu otaknya jauh lebih cerdas dari pada 
dirimu, walaupun tidak pernah jadi komunis. Dia menolak didikte dan dipaksa 
mengikuti dikotomi absurd itu! Tahu nggak apa yang dikatakan wartawan kawakan, 
pembuat film Australia, John Pilger, tentang pemilu AS yang lalu "The Truth 
is....there was no one to vote for...". Exactly! Persis seperti di 
Indonesia....Tapi karena sudah banyak orang yang merosot jadi sosdem, reformis 
dan remo seperti Chan ini, maka harus pilih Jokowi!!! Orang yang terus ngotot 
memuja Jokowi tidak mau mengakui kenyataan bahwa dari dulu Jokowi didukung kaum 
militer (Hendropriyono, Wiranto)... dan juga didukung kaum oligarki, seperti 
dijelaskan Jeffrey Winter, dan juga oleh Kwik Gian Gie. Tanpa dukungan dua 
faktor itu, dia tidak akan didudukkan di singgasana kekuasaan, seperti dulu 
ketika Megawati memenangkan Pemilu tapi dijegal untuk tidak naik singgasana!!!


Otak remo anda tidak mampu melihat bagaimana rakyat sudah memilih jalannya 
sendiri melalui semua kegiatannya selama dua tahun Jokowi memerintah. Mereka 
matanya tidak picek! Karena mereka merasakan sendiri betapa jahatnya kebijakan 
yang dijalankan Jokowi sejak berkuasa. Rakyat sudah tahu apa yang 
diinginkannya. Pertanyaan: lalu, maunya apa? adalah pertanyaan seorang penonton 
pro statusquo, karena tidak dapat menangkap arti dari semua perlawanan kaum 
tani, kaum miskin kota dan rakyat yang sudah terorganisasi dan sadar. Kasihan 
betul kau, remo!




On Sunday, December 18, 2016 5:16 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:




  
Hahahaa, ... nenek yang satu ini kebingungan disatu sisi berkeras menyerukan 
BASMI KAPITALIS sekarang juga, begitu kapitalis hendak nutup pabrik Coca-Cola, 
dia berdiri bela klas proletariat dengan seruan HAM! Lalu, mau nya apa? Tidak 
tahu bagaimana harus berjuang, ...? 

Padahal jelas di Spanyol itu pemerintah borjuis yg membela kepentingan 
kapitalis lebih berat, ... jadi TIDAK ada jalan lain bagi klas proletariat 
untuk memperkuat PERSATUAN barisan klas pekerja untuk menuntut keadilan dan 
memenangkan perjuangannya selangkah demi selangkah! Sebelum bisa merebut 
kekuasaan, yaah harus bisa menyatukan segala kekuatan yang bisa dipersatukan, 
bukan main hantam dengan menyasar semua kekuatan yang ada. 

Begitu juga dengan di Indonesia sekarang ini, jangan semua kekuatan disasar, 
diserang secara frontal! Kita bagaimanapun juga harus memilah-milah dengan 
teliti kekuatan-kekuatan yang ada. Kalau orang macam Jokowi, Ahok juga ikutan 
diserang, lalu kalian hendak bersatu dan mendukung siapa lagi? Bersatu dengan 
kekuatan macam Prabowo, SBY, ... bahkan Tommy Soeharto? Ada-ada saja nenek yang 
satu ini!  Atau menjadi pendekar seorangan wae, bisaaa??? 

Salam,
ChanCT


From: Tatiana Lukman 
Sent: Friday, December 16, 2016 7:42 PM
To: Chan CT ; Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In 
Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan 
Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; 
Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. 
Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. 
Manuputty ; Oman Romana 
Subject: Re: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola

Kasihan betul si Chan ini, otaknya terlalu banyak dempul revisionisnya sehingga 
tidak mampu mengerti arti dan makna sangat dalam dari pengalaman perjuangan 
kaum buruh Coca-Cola. Otaknya tidak mampu mengerti mengapa kaum buruh berjuang 
melawan penutupan pabrik yang merupakan sumber penghidupannya. Karena mikirnya 
pakai dengkul, dan yang lebih penting lagi adalah keberpihakannya kepada kaum 
kapitalis.Komentarnya "Dia mau tutup yaa biarkan saja" menunjukkan logika 
reaksionernya, yaitu kaum buruh harus menyerah saya diperlakukan secara 
semena-mena oleh kaum multinasional!! Dia tidak mengerti bahwa hak untuk 
bekerja adalah HAMnya kaum buruh, dan hak itu hanya dihormati sepenuhnya dalam 
sebuah pemerintahan sosialis seperti pada jaman Mao, di mana buruh memiliki 
status kerja seumur hidup. Hak inilah yang dihapus, diejek dan dicemooh oleh 
kaum revisionis Deng Xiao ping serta pengikut setianya seperti Chan demi 
membangun kapitalisme brutal alias "sosialisme dengan ciri Tkk". Kepicikan 
sekaligus kekurang-ajaran si Chan ini diperlihatkan lagi dengan membelokkan 
masalahnya kepada soal sehat tidaknya minuman Coca-Cola. Saya juga menganggap 
Coca-Cola tidak sehat, maka itu tidak pernah mau mengkonsumsinya, tapi bukan 
itu hakekat masalahnya. Hakekat masalahnya adalah sebuah pabrik yang sudah 
dibuktikan efisiensi dan produktivitas tinggi, tapi mau ditutup, yang berarti 
menghilangkan mata pencaharian lebih dari seribu buruhnya. Kemudian masih 
berani dan berhasil multinasional Coca-Cola mencampakkan keputusan Mahkamah 
Agung!  Ini persis seperti Ginanjar dan juga Jokowi yang tidak mau segera 
mematuhi keputusan MA yang sudah memerintahkan pabrik semen supaya menghentikan 
kegiatannya. Mereka adalah pejabat negara tapi menolak mematuhi keputusan 
lembaga negaranya sendiri! Apa artinya ini???? Seorang Marxis, dan Chan pernah 
mengaku dirinya seorang Marxis (tapi tidak pernah menjawab pertanyaan apakah 
dia mengakui dan menerima prinsip perjuangan kelas....Ya jelas dia tidak 
mengakuinya karena dia justru menghimbau kaum buruh untuk kerja sama dengan 
kaum majikan) pasti mengerti arti dari sikap membangkang multinasional 
Coca-Cola dan Ginanjar/Jokowi terhadap hukum negara yang dikelolanya. Saya yang 
dibilang "katak dalam tempurung" tapi si Chan yang "tahu segala" anehnya tidak 
tahu sudah berapa banyak politikus dan sejarawan Eropa yang mengatakan bahwa 
yang berkuasa di negara-negara EU adalah kaum multinasional. Para politikus itu 
hanyalah boneka yang mengabdi kepentingan kantongnya segelintir kaum 
oligarki/muiltinasional/ bankir yang menguasai ekonomi dunia. Si Chan yang 
"tahu segala" anehnya juga tidak tahu bahwa partai Demokrat dan Republik di AS 
hanya bonekanya Wall Street dan magnate/oligarki/multinasional. Mbok 
sekali-sekali tuan yang "tahu segala" itu mempostingkan berita dari dunia lain. 
Dunia ini besar dan luas, bukan hanya Tiongkok tanah air tercinta anda saja!

Arti penting dan dalam dari pengalaman perjuangan kaum buruh Coca-Cola adalah 
tidak cukup berjuang untuk reform dan perbaikan kondisi kerja dan kehidupan 
ekonomi saja. Seandainya tuntutan reform dan perbaikan kondisi diterima oleh 
majikan, hal itu tetap tidak akan menyelesaikan akar dari penghisapan dan 
menyelesaikan kontradiksi antara kaum buruh dan majikan yang bersifat 
antagonis. Perjuangan menuntut perbaikan nasib sudah tentu harus terus 
dilakukan selama buruh masih terus hidup dalam sistim kapitalis. Perjuangan itu 
akan mendidik dan meningkatkan kesadaran kelas. Namun buruh tidak dapat  
mempercayakan dan menggantungkan nasibnya kepada sistim  kapitalis serta 
lembaganya. Inilah pelajaran yang ditarik oleh kaum buruh Coca-Cola di Madrid. 
Hakekat masalahnya terletak pada struktur, pada sistim ekonomi kapitalis di 
mana buruh hanya punya tenaga kerja sedangkan alat produksi ada di tangan kaum 
kapitalis/ multinasional. Begitu alat produksinya diambil oleh yang punya, 
buruh hilang mata pencahariannya. Kaum multinasional dapat melanggar keputusan 
MA, sama sekali tidak ada resikonya. Tapi kalau kaum buruh dianggap melanggar 
hukum oleh majikan dan undang-undang serta peraturan yang ada, pasti buruh 
dihadapkan kepada pengadilan dan penjara.

Begitu juga pengalaman kaum tani dan penduduk gunung Kendeng dalam melawan 
pabrik semen yang mengancam kelangsungan hidup mereka dan keluarganya.

Lihat nggak bagaimana reaksi kaum perempuan tani Kendeng ketika mengetahui akal 
licik Ginanjar untuk menyelamatkan pabrik semen yang sudah bertahun-tahun 
ditentang rakyat? Orang seperti Chan tidak bisa diharapkan mengerti kemarahan 
sekaligus kesedihan kaum tani Kendeng. Apalagi bersimpati??? Simpati dan air 
matanya selalu bagi dedengkot remo Liu Shaoqi, bukan untuk kaum yang di bawah! 
Chan tidak akan mengerti kemarahan dan kesedihan mereka yang digusur di 
Jakarta, kaum tani dari 26 desa yang ditenggelamkan waduk Jatigede (dengan 
modal kaum kapitalis Tkk yang dipuja setengah mati oleh Chan), kaum tani desa 
Sukamulya, kaum tani Kulon Progo dan kaum tani di segala pelosok kepulauan 
Indonesia yang masih terus melawan perampasan tanahnya oleh kaum pemodal dan 
investor, diantaranya kaum pemodal Tkk, pujaan Chan! Itulah wajah seorang 
revisionis kepala batu, penghina kaum tani dan pemuja kapitalisme!!!







On Wednesday, December 14, 2016 1:07 AM, Chan CT <[email protected]> wrote:




Lha illaaaah, ... informasi apa ini dari “nenek dalam tempurung” dengan 
kesimpulan cupat pula “kapitalis-multinasional lah yang menentukan nasib 
BURUH”! Itukan hanya MEMBUKTIKAN pemerintah Spanyol yang berkuasa bukan 
PEMERINTAH RAKYAT, tapi pemerintah yang hanya mengabdi pada kapitalis saja! Itu 
menandakan KEKUATAN RAKYAT masih lemah, ...!

Buruh tidak bisa berbuat apa-apa, ... mau kemana lagi mereka melaporkan 
nasibnya??? Sedang nenek yang satu ini sudah cupat pula hanya menuduh orang 
lain TIDAK mau BELAJAR dan MENARIK PELAJARAN!

Jangan menyalahkan siapa-siapa, ... BURUH harus BERSATU, menyatukan diri lebih 
kuat dalam barisan memperjuangkan NASIB lebih baik melawan keserakahan 
kapitalis dan kesewenang-wenangan penguasa! PERJUANGKAN KEADILAN bukan minta 
pada siapa-siapa, tapi HARUS BERSATU dengan TEGUH BERJUANG SENDIRI! Kalau HUKUM 
sudah bisa dimenangkan, yaa mestinya gunakan keputusan HUKUM itu meneruskan 
PERLAWANAN dan gebug PEMERINTAH yang menindas dengan TENTARA! Begitu aja, kok 
repot, ...!

Tapi neng, ... kalau pabrik Coca-Cola kenapa harus dipertahankan, ya? Dia mau 
tutup yaa biarkan saja. Lha Coca-Cola itu jelas merusak kesehatan rakyat, kok! 
Kenapa tidak menuntut buka pabrik atau mengalihkan ke minuman yang yang lebih 
BERGUNA dan jelas tidak merusak kesehatan saja, ya?

Salam,
ChanCT

From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 
Sent: Wednesday, December 14, 2016 1:04 AM
To: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In 
Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan 
Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; 
Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. 
Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. 
Manuputty ; Oman Romana 
Subject: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola

  
Informasi lagi dari orang yang sering mendapat cap "katak dalam tempurung"
dari Chan. Video dalam bahasa Spanyol tapi ada subtitles bahasa Inggris. Di 
layar lebar baru bisa kelihatan dengan baik subtitlesnya.
Video di bawah ini menceritakan perjuangan kaum buruh pabrik Coca-Cola di 
Fuenlabrada (Madrid) melawan pemecatan dan penutupan pabrik. Mula-mula melalui 
pemogokan, kemudian manifestasi di jalan-jalan dan akhirnya ke pengadilan. 
Perlawanan dilakukan sejak Januari 2014. Bulan April 2015 Mahkamah Agung 
membenarkan kaum buruh dan menyatakan pemecatan dan penutupan pabrik melanggar 
hukum. Bisa dibayangkan kegembiraan dan kebahagian semua kaum buruh mendapatkan 
kembali pekerjaannya!!! Namun kegembiraan dan kebahagian itu kemudian dengan 
cepat lenyap...Multinasional Coca-Cola tidak kehilangan akal untuk menghindari 
keputusan MA dan melanggar hukum. Kaum buruh yang sudah dibenarkan oleh 
hukumpun masih harus berhadapan dengan kekerasan aparat militer. Dengan dikawal 
aparat kekuasaan, pabrik dipreteli... Buruh tidak bisa lagi berbuat apa-apa. 
Mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya? Wong hukum sudah membenarkannya. 
Nah, tidakkah kita dihadapkan kepada KEBENARAN DAN KENYATAAN? Bahwa yang 
berkuasa sungguh-sungguh di negeri-negeri yang menyandang nama "welfare state", 
dikenal sebagai negara hukum dan di mana HAM dihormati, adalah kaum 
multinasional! Kaum multinasional lah yang menentukan nasib warga dan 
keluarganya!!! Kapan saja kaum buruh tidak diperlukan lagi tenaga kerjanya, 
mereka dianggap sebagai debu saja yang mengotori jalan-jalan besar kota-kota 
metropolitan! Sebuah pelajaran buat mereka yang masih mau belajar dan menarik 
pelajaran!



Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)


                        
                 
           
                    Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)
                  COCA COLA EN LUCHA Cuando David se enfrenta a Goliat Esta es 
la historia de una lucha titánica. La de los trabaj...  
           
     













Kirim email ke