Sama sekali tidak ada isinya komentar si Chan ini. Hanya memperlihatkan 
kebodohan dan ignorancenya saja. Kelihatan orang remo ini tidak melihat dan 
menyimak baik jalan perjuangan kaum buruh pabrik Coca-Cola yang dicerminkan 
dalam video itu.  Susah diskusi sama orang yang malas belajar dan congkak. 
Seperti juga sikapnya dalam menghakimi Lenin dan NEP. Mengaku tidak mempelajari 
sejarah Soviet tapi petantang petenteng dengan pendapat yang menyalahkan Lenin 
yang terlalu cepat membabat kaum kapitalis. Ditanya Lusi , kapan tiba waktunya 
membabat kaum kapitalis, tidak pernah dijawab. Menghakimi NEP tapi menolak 
mempelajari tulisan Lenin sendiri yang bersangkutan dengan masalah itu. Makanya 
secara serampangan dan bodoh sekali menggunakan NEP untuk membela restorasi 
kapitalis Deng xiao-ping. Pertanyaan dan argumentasi  pokok/penting yang 
berhubungan dengan hakekat masalahnya yang diajukan orang yang berdebat dengan 
dia tidak pernah dijawab, dia lewatkan begitu saja, karena dia memang tidak 
mempu menjawabnya.Sekarang menuduh saya bersikeras BASMI KAPITALIS. Padahal tak 
pernah orang yang berdebat dengan dia menyatakan BASMI KAPITALIS sekarang juga. 
Lagi-lagi akarnya ialah Chan tidak pernah membedakan tahap-tahap revolusi, 
karena menolak melakukan analisa kelas. Maka dia mengacaukan mana musuh dan 
mana kawan rakyat/revolusi. Disamping itu, chan  memasukkan KAPITALIS dalam 
satu keranjang. Dia tidak membedakan kapitalis nasional/bornas dengan kabir, 
dengan kapitalis komprador dan kapitalis monopoli. Lagi-lagi ya itu tadi, 
menolak membuat analisa kelas. Karena dia tidak mau dengan terang-terangan 
mengakui bahwa dirinya sudah bersatu dengan dan oleh karena itu membela 
kepantingan kaum kabir, komprador dan kapitalis monopoli, terutama yang berasal 
dari Tiongkok. Dia menganggap modal Tkk tidak sama dengan modal Jepang, AS , 
Eropa atau negara/bangsa lain. Kelihatan kan lain "bapak lain anak", buah jatuh 
SANGAT JAUH SEKALI dari pohonnya!!! Kalau saya sih terus terang mengikuti 
nasehat Jusuf Isak, wartawan kawakan revolusioner, sampai akhir hayatnya tidak 
luntur atau berubah warna!!! Bikin analisa kelas supaya tahu siapa musuh siapa 
kawan. Chan tidak mau bikin analisa kelas, karena dia  berkepentingan untuk 
mengaburkan antara kawan dan musuh, karena dia menginginkan kolaborasi kelas. 
Makanya kaum kabir, komprador, kapitalis monopoli Tkk dikasih embel-embel 
"komunis" untuk menipu rakyat. Bayangin Chan maunya rakyat melihat kaum 
penghisap Tiongkok itu sebagai juru selamatnya yang akan meneteskan 
"kemakmuran"!!!Udah gitu masih mau ngajarin bagaimana mesti berjuang di 
Indonesia!! Eni Lestari JAUH LEBIH CERDAS dari pada dirimu! Dia sudah 
memperlihatkan jalan benar yang ditempuhnya, maka perjuangan buruh migran 
setapak demi setapak maju, melawan status quo!   Kalau tidak dukung Jokowi, 
berarti bersatu dengan Prabowo, etc!!! Aduh, begitu ceteknya pikirannya. Kalau 
tidak pilih Hilary Clinton, berarti pilih Trump!!! Susan Sarandon pernah juga 
dituduh dukung Trump karena dia menolak memberi suaranya untuk Hillary.. 
Bintang film itu otaknya jauh lebih cerdas dari pada dirimu, walaupun tidak 
pernah jadi komunis. Dia menolak didikte dan dipaksa mengikuti dikotomi absurd 
itu! Tahu nggak apa yang dikatakan wartawan kawakan, pembuat film Australia, 
John Pilger, tentang pemilu AS yang lalu "The Truth is....there was no one to 
vote for...". Exactly! Persis seperti di Indonesia....Tapi karena sudah banyak 
orang yang merosot jadi sosdem, reformis dan remo seperti Chan ini, maka harus 
pilih Jokowi!!! Orang yang terus ngotot memuja Jokowi tidak mau mengakui 
kenyataan bahwa dari dulu Jokowi didukung kaum militer (Hendropriyono, 
Wiranto)... dan juga didukung kaum oligarki, seperti dijelaskan Jeffrey Winter, 
dan juga oleh Kwik Gian Gie. Tanpa dukungan dua faktor itu, dia tidak akan 
didudukkan di singgasana kekuasaan, seperti dulu ketika Megawati memenangkan 
Pemilu tapi dijegal untuk tidak naik singgasana!!!
Otak remo anda tidak mampu melihat bagaimana rakyat sudah memilih jalannya 
sendiri melalui semua kegiatannya selama dua tahun Jokowi memerintah. Mereka 
matanya tidak picek! Karena mereka merasakan sendiri betapa jahatnya kebijakan 
yang dijalankan Jokowi sejak berkuasa. Rakyat sudah tahu apa yang 
diinginkannya. Pertanyaan: lalu, maunya apa? adalah pertanyaan seorang penonton 
pro statusquo, karena tidak dapat menangkap arti dari semua perlawanan kaum 
tani, kaum miskin kota dan rakyat yang sudah terorganisasi dan sadar. Kasihan 
betul kau, remo!
 

    On Sunday, December 18, 2016 5:16 AM, "'Chan CT' [email protected] 
[temu_eropa]" <[email protected]> wrote:
 

     Hahahaa, ... nenek yang satu ini kebingungan disatu sisi berkeras 
menyerukan BASMI KAPITALIS sekarang juga, begitu kapitalis hendak nutup pabrik 
Coca-Cola, dia berdiri bela klas proletariat dengan seruan HAM! Lalu, mau nya 
apa? Tidak tahu bagaimana harus berjuang, ...?  Padahal jelas di Spanyol itu 
pemerintah borjuis yg membela kepentingan kapitalis lebih berat, ... jadi TIDAK 
ada jalan lain bagi klas proletariat untuk memperkuat PERSATUAN barisan klas 
pekerja untuk menuntut keadilan dan memenangkan perjuangannya selangkah demi 
selangkah! Sebelum bisa merebut kekuasaan, yaah harus bisa menyatukan segala 
kekuatan yang bisa dipersatukan, bukan main hantam dengan menyasar semua 
kekuatan yang ada.  Begitu juga dengan di Indonesia sekarang ini, jangan semua 
kekuatan disasar, diserang secara frontal! Kita bagaimanapun juga harus 
memilah-milah dengan teliti kekuatan-kekuatan yang ada. Kalau orang macam 
Jokowi, Ahok juga ikutan diserang, lalu kalian hendak bersatu dan mendukung 
siapa lagi? Bersatu dengan kekuatan macam Prabowo, SBY, ... bahkan Tommy 
Soeharto? Ada-ada saja nenek yang satu ini!  Atau menjadi pendekar seorangan 
wae, bisaaa???  Salam,ChanCT  From: Tatiana Lukman Sent: Friday, December 16, 
2016 7:42 PMTo: Chan CT ; Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng 
; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; 
Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo 
Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; 
[email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; 
[email protected] ; [email protected] ; C. Manuputty ; Oman 
Romana Subject: Re: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola Kasihan betul si Chan ini, 
otaknya terlalu banyak dempul revisionisnya sehingga tidak mampu mengerti arti 
dan makna sangat dalam dari pengalaman perjuangan kaum buruh Coca-Cola. Otaknya 
tidak mampu mengerti mengapa kaum buruh berjuang melawan penutupan pabrik yang 
merupakan sumber penghidupannya. Karena mikirnya pakai dengkul, dan yang lebih 
penting lagi adalah keberpihakannya kepada kaum kapitalis.Komentarnya "Dia mau 
tutup yaa biarkan saja" menunjukkan logika reaksionernya, yaitu kaum buruh 
harus menyerah saya diperlakukan secara semena-mena oleh kaum multinasional!! 
Dia tidak mengerti bahwa hak untuk bekerja adalah HAMnya kaum buruh, dan hak 
itu hanya dihormati sepenuhnya dalam sebuah pemerintahan sosialis seperti pada 
jaman Mao, di mana buruh memiliki status kerja seumur hidup. Hak inilah yang 
dihapus, diejek dan dicemooh oleh kaum revisionis Deng Xiao ping serta pengikut 
setianya seperti Chan demi membangun kapitalisme brutal alias "sosialisme 
dengan ciri Tkk". Kepicikan sekaligus kekurang-ajaran si Chan ini diperlihatkan 
lagi dengan membelokkan masalahnya kepada soal sehat tidaknya minuman 
Coca-Cola. Saya juga menganggap Coca-Cola tidak sehat, maka itu tidak pernah 
mau mengkonsumsinya, tapi bukan itu hakekat masalahnya. Hakekat masalahnya 
adalah sebuah pabrik yang sudah dibuktikan efisiensi dan produktivitas tinggi, 
tapi mau ditutup, yang berarti menghilangkan mata pencaharian lebih dari seribu 
buruhnya. Kemudian masih berani dan berhasil multinasional Coca-Cola 
mencampakkan keputusan Mahkamah Agung!  Ini persis seperti Ginanjar dan juga 
Jokowi yang tidak mau segera mematuhi keputusan MA yang sudah memerintahkan 
pabrik semen supaya menghentikan kegiatannya. Mereka adalah pejabat negara tapi 
menolak mematuhi keputusan lembaga negaranya sendiri! Apa artinya ini???? 
Seorang Marxis, dan Chan pernah mengaku dirinya seorang Marxis (tapi tidak 
pernah menjawab pertanyaan apakah dia mengakui dan menerima prinsip perjuangan 
kelas....Ya jelas dia tidak mengakuinya karena dia justru menghimbau kaum buruh 
untuk kerja sama dengan kaum majikan) pasti mengerti arti dari sikap 
membangkang multinasional Coca-Cola dan Ginanjar/Jokowi terhadap hukum negara 
yang dikelolanya. Saya yang dibilang "katak dalam tempurung" tapi si Chan yang 
"tahu segala" anehnya tidak tahu sudah berapa banyak politikus dan sejarawan 
Eropa yang mengatakan bahwa yang berkuasa di negara-negara EU adalah kaum 
multinasional. Para politikus itu hanyalah boneka yang mengabdi kepentingan 
kantongnya segelintir kaum oligarki/muiltinasional/ bankir yang menguasai 
ekonomi dunia. Si Chan yang "tahu segala" anehnya juga tidak tahu bahwa partai 
Demokrat dan Republik di AS hanya bonekanya Wall Street dan 
magnate/oligarki/multinasional. Mbok sekali-sekali tuan yang "tahu segala" itu 
mempostingkan berita dari dunia lain. Dunia ini besar dan luas, bukan hanya 
Tiongkok tanah air tercinta anda saja! Arti penting dan dalam dari pengalaman 
perjuangan kaum buruh Coca-Cola adalah tidak cukup berjuang untuk reform dan 
perbaikan kondisi kerja dan kehidupan ekonomi saja. Seandainya tuntutan reform 
dan perbaikan kondisi diterima oleh majikan, hal itu tetap tidak akan 
menyelesaikan akar dari penghisapan dan menyelesaikan kontradiksi antara kaum 
buruh dan majikan yang bersifat antagonis. Perjuangan menuntut perbaikan nasib 
sudah tentu harus terus dilakukan selama buruh masih terus hidup dalam sistim 
kapitalis. Perjuangan itu akan mendidik dan meningkatkan kesadaran kelas. Namun 
buruh tidak dapat  mempercayakan dan menggantungkan nasibnya kepada sistim  
kapitalis serta lembaganya. Inilah pelajaran yang ditarik oleh kaum buruh 
Coca-Cola di Madrid. Hakekat masalahnya terletak pada struktur, pada sistim 
ekonomi kapitalis di mana buruh hanya punya tenaga kerja sedangkan alat 
produksi ada di tangan kaum kapitalis/ multinasional. Begitu alat produksinya 
diambil oleh yang punya, buruh hilang mata pencahariannya. Kaum multinasional 
dapat melanggar keputusan MA, sama sekali tidak ada resikonya. Tapi kalau kaum 
buruh dianggap melanggar hukum oleh majikan dan undang-undang serta peraturan 
yang ada, pasti buruh dihadapkan kepada pengadilan dan penjara. Begitu juga 
pengalaman kaum tani dan penduduk gunung Kendeng dalam melawan pabrik semen 
yang mengancam kelangsungan hidup mereka dan keluarganya. Lihat nggak bagaimana 
reaksi kaum perempuan tani Kendeng ketika mengetahui akal licik Ginanjar untuk 
menyelamatkan pabrik semen yang sudah bertahun-tahun ditentang rakyat? Orang 
seperti Chan tidak bisa diharapkan mengerti kemarahan sekaligus kesedihan kaum 
tani Kendeng. Apalagi bersimpati??? Simpati dan air matanya selalu bagi 
dedengkot remo Liu Shaoqi, bukan untuk kaum yang di bawah! Chan tidak akan 
mengerti kemarahan dan kesedihan mereka yang digusur di Jakarta, kaum tani dari 
26 desa yang ditenggelamkan waduk Jatigede (dengan modal kaum kapitalis Tkk 
yang dipuja setengah mati oleh Chan), kaum tani desa Sukamulya, kaum tani Kulon 
Progo dan kaum tani di segala pelosok kepulauan Indonesia yang masih terus 
melawan perampasan tanahnya oleh kaum pemodal dan investor, diantaranya kaum 
pemodal Tkk, pujaan Chan! Itulah wajah seorang revisionis kepala batu, penghina 
kaum tani dan pemuja kapitalisme!!! 



On Wednesday, December 14, 2016 1:07 AM, Chan CT <[email protected]> wrote:


Lha illaaaah, ... informasi apa ini dari “nenek dalam tempurung” dengan 
kesimpulan cupat pula “kapitalis-multinasional lah yang menentukan nasib 
BURUH”! Itukan hanya MEMBUKTIKAN pemerintah Spanyol yang berkuasa bukan 
PEMERINTAH RAKYAT, tapi pemerintah yang hanya mengabdi pada kapitalis saja! Itu 
menandakan KEKUATAN RAKYAT masih lemah, ...! Buruh tidak bisa berbuat apa-apa, 
... mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya??? Sedang nenek yang satu ini 
sudah cupat pula hanya menuduh orang lain TIDAK mau BELAJAR dan MENARIK 
PELAJARAN! Jangan menyalahkan siapa-siapa, ... BURUH harus BERSATU, menyatukan 
diri lebih kuat dalam barisan memperjuangkan NASIB lebih baik melawan 
keserakahan kapitalis dan kesewenang-wenangan penguasa! PERJUANGKAN KEADILAN 
bukan minta pada siapa-siapa, tapi HARUS BERSATU dengan TEGUH BERJUANG SENDIRI! 
Kalau HUKUM sudah bisa dimenangkan, yaa mestinya gunakan keputusan HUKUM itu 
meneruskan PERLAWANAN dan gebug PEMERINTAH yang menindas dengan TENTARA! Begitu 
aja, kok repot, ...! Tapi neng, ... kalau pabrik Coca-Cola kenapa harus 
dipertahankan, ya? Dia mau tutup yaa biarkan saja. Lha Coca-Cola itu jelas 
merusak kesehatan rakyat, kok! Kenapa tidak menuntut buka pabrik atau 
mengalihkan ke minuman yang yang lebih BERGUNA dan jelas tidak merusak 
kesehatan saja, ya? Salam,ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] 
[GELORA45] Sent: Wednesday, December 14, 2016 1:04 AMTo: Yahoogroups ; DISKUSI 
FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat 
Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; 
Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; 
[email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma 
I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; 
[email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: [GELORA45] 
Dokumental Coca-Cola   Informasi lagi dari orang yang sering mendapat cap 
"katak dalam tempurung"dari Chan. Video dalam bahasa Spanyol tapi ada subtitles 
bahasa Inggris. Di layar lebar baru bisa kelihatan dengan baik 
subtitlesnya.Video di bawah ini menceritakan perjuangan kaum buruh pabrik 
Coca-Cola di Fuenlabrada (Madrid) melawan pemecatan dan penutupan pabrik. 
Mula-mula melalui pemogokan, kemudian manifestasi di jalan-jalan dan akhirnya 
ke pengadilan. Perlawanan dilakukan sejak Januari 2014. Bulan April 2015 
Mahkamah Agung membenarkan kaum buruh dan menyatakan pemecatan dan penutupan 
pabrik melanggar hukum. Bisa dibayangkan kegembiraan dan kebahagian semua kaum 
buruh mendapatkan kembali pekerjaannya!!! Namun kegembiraan dan kebahagian itu 
kemudian dengan cepat lenyap...Multinasional Coca-Cola tidak kehilangan akal 
untuk menghindari keputusan MA dan melanggar hukum. Kaum buruh yang sudah 
dibenarkan oleh hukumpun masih harus berhadapan dengan kekerasan aparat 
militer. Dengan dikawal aparat kekuasaan, pabrik dipreteli... Buruh tidak bisa 
lagi berbuat apa-apa. Mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya? Wong hukum 
sudah membenarkannya. Nah, tidakkah kita dihadapkan kepada KEBENARAN DAN 
KENYATAAN? Bahwa yang berkuasa sungguh-sungguh di negeri-negeri yang menyandang 
nama "welfare state", dikenal sebagai negara hukum dan di mana HAM dihormati, 
adalah kaum multinasional! Kaum multinasional lah yang menentukan nasib warga 
dan keluarganya!!! Kapan saja kaum buruh tidak diperlukan lagi tenaga kerjanya, 
mereka dianggap sebagai debu saja yang mengotori jalan-jalan besar kota-kota 
metropolitan! Sebuah pelajaran buat mereka yang masih mau belajar dan menarik 
pelajaran! 
Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)
 
|  
|  
|  
|  |   |

 |

 |
|  
|   |  
Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés)
 COCA COLA EN LUCHA Cuando David se enfrenta a Goliat Esta es la historia de 
una lucha titánica. La de los trabaj... |  |

 |

 |

 

  #yiv8981457048 #yiv8981457048 -- #yiv8981457048ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048ygrp-mkp #yiv8981457048hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-mkp #yiv8981457048ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-mkp .yiv8981457048ad 
{padding:0 0;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-mkp .yiv8981457048ad p 
{margin:0;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-mkp .yiv8981457048ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-sponsor 
#yiv8981457048ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048ygrp-sponsor #yiv8981457048ygrp-lc #yiv8981457048hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048ygrp-sponsor #yiv8981457048ygrp-lc .yiv8981457048ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv8981457048 #yiv8981457048actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv8981457048
 #yiv8981457048activity span {font-weight:700;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv8981457048 #yiv8981457048activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv8981457048 #yiv8981457048activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv8981457048 #yiv8981457048activity span 
.yiv8981457048underline {text-decoration:underline;}#yiv8981457048 
.yiv8981457048attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv8981457048 .yiv8981457048attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv8981457048 .yiv8981457048attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv8981457048 .yiv8981457048attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv8981457048 .yiv8981457048attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv8981457048 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv8981457048 .yiv8981457048bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv8981457048 
.yiv8981457048bold a {text-decoration:none;}#yiv8981457048 dd.yiv8981457048last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8981457048 dd.yiv8981457048last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8981457048 
dd.yiv8981457048last p span.yiv8981457048yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv8981457048 div.yiv8981457048attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv8981457048 div.yiv8981457048attach-table 
{width:400px;}#yiv8981457048 div.yiv8981457048file-title a, #yiv8981457048 
div.yiv8981457048file-title a:active, #yiv8981457048 
div.yiv8981457048file-title a:hover, #yiv8981457048 div.yiv8981457048file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv8981457048 div.yiv8981457048photo-title a, 
#yiv8981457048 div.yiv8981457048photo-title a:active, #yiv8981457048 
div.yiv8981457048photo-title a:hover, #yiv8981457048 
div.yiv8981457048photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv8981457048 
div#yiv8981457048ygrp-mlmsg #yiv8981457048ygrp-msg p a 
span.yiv8981457048yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv8981457048 
.yiv8981457048green {color:#628c2a;}#yiv8981457048 .yiv8981457048MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv8981457048 o {font-size:0;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048photos div {float:left;width:72px;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv8981457048
 #yiv8981457048reco-category {font-size:77%;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048reco-desc {font-size:77%;}#yiv8981457048 .yiv8981457048replbq 
{margin:4px;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048ygrp-mlmsg select, #yiv8981457048 input, #yiv8981457048 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048ygrp-mlmsg pre, #yiv8981457048 code {font:115% 
monospace;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-mlmsg #yiv8981457048logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-msg 
p#yiv8981457048attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048ygrp-reco #yiv8981457048reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-sponsor 
#yiv8981457048ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048ygrp-sponsor #yiv8981457048ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048ygrp-sponsor #yiv8981457048ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv8981457048 #yiv8981457048ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv8981457048 
#yiv8981457048ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv8981457048 

   

Kirim email ke