Hahahaa, ... nenek yang satu ini kebingungan disatu sisi berkeras menyerukan BASMI KAPITALIS sekarang juga, begitu kapitalis hendak nutup pabrik Coca-Cola, dia berdiri bela klas proletariat dengan seruan HAM! Lalu, mau nya apa? Tidak tahu bagaimana harus berjuang, ...?
Padahal jelas di Spanyol itu pemerintah borjuis yg membela kepentingan kapitalis lebih berat, ... jadi TIDAK ada jalan lain bagi klas proletariat untuk memperkuat PERSATUAN barisan klas pekerja untuk menuntut keadilan dan memenangkan perjuangannya selangkah demi selangkah! Sebelum bisa merebut kekuasaan, yaah harus bisa menyatukan segala kekuatan yang bisa dipersatukan, bukan main hantam dengan menyasar semua kekuatan yang ada. Begitu juga dengan di Indonesia sekarang ini, jangan semua kekuatan disasar, diserang secara frontal! Kita bagaimanapun juga harus memilah-milah dengan teliti kekuatan-kekuatan yang ada. Kalau orang macam Jokowi, Ahok juga ikutan diserang, lalu kalian hendak bersatu dan mendukung siapa lagi? Bersatu dengan kekuatan macam Prabowo, SBY, ... bahkan Tommy Soeharto? Ada-ada saja nenek yang satu ini! Atau menjadi pendekar seorangan wae, bisaaa??? Salam, ChanCT From: Tatiana Lukman Sent: Friday, December 16, 2016 7:42 PM To: Chan CT ; Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: Re: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola Kasihan betul si Chan ini, otaknya terlalu banyak dempul revisionisnya sehingga tidak mampu mengerti arti dan makna sangat dalam dari pengalaman perjuangan kaum buruh Coca-Cola. Otaknya tidak mampu mengerti mengapa kaum buruh berjuang melawan penutupan pabrik yang merupakan sumber penghidupannya. Karena mikirnya pakai dengkul, dan yang lebih penting lagi adalah keberpihakannya kepada kaum kapitalis.Komentarnya "Dia mau tutup yaa biarkan saja" menunjukkan logika reaksionernya, yaitu kaum buruh harus menyerah saya diperlakukan secara semena-mena oleh kaum multinasional!! Dia tidak mengerti bahwa hak untuk bekerja adalah HAMnya kaum buruh, dan hak itu hanya dihormati sepenuhnya dalam sebuah pemerintahan sosialis seperti pada jaman Mao, di mana buruh memiliki status kerja seumur hidup. Hak inilah yang dihapus, diejek dan dicemooh oleh kaum revisionis Deng Xiao ping serta pengikut setianya seperti Chan demi membangun kapitalisme brutal alias "sosialisme dengan ciri Tkk". Kepicikan sekaligus kekurang-ajaran si Chan ini diperlihatkan lagi dengan membelokkan masalahnya kepada soal sehat tidaknya minuman Coca-Cola. Saya juga menganggap Coca-Cola tidak sehat, maka itu tidak pernah mau mengkonsumsinya, tapi bukan itu hakekat masalahnya. Hakekat masalahnya adalah sebuah pabrik yang sudah dibuktikan efisiensi dan produktivitas tinggi, tapi mau ditutup, yang berarti menghilangkan mata pencaharian lebih dari seribu buruhnya. Kemudian masih berani dan berhasil multinasional Coca-Cola mencampakkan keputusan Mahkamah Agung! Ini persis seperti Ginanjar dan juga Jokowi yang tidak mau segera mematuhi keputusan MA yang sudah memerintahkan pabrik semen supaya menghentikan kegiatannya. Mereka adalah pejabat negara tapi menolak mematuhi keputusan lembaga negaranya sendiri! Apa artinya ini???? Seorang Marxis, dan Chan pernah mengaku dirinya seorang Marxis (tapi tidak pernah menjawab pertanyaan apakah dia mengakui dan menerima prinsip perjuangan kelas....Ya jelas dia tidak mengakuinya karena dia justru menghimbau kaum buruh untuk kerja sama dengan kaum majikan) pasti mengerti arti dari sikap membangkang multinasional Coca-Cola dan Ginanjar/Jokowi terhadap hukum negara yang dikelolanya. Saya yang dibilang "katak dalam tempurung" tapi si Chan yang "tahu segala" anehnya tidak tahu sudah berapa banyak politikus dan sejarawan Eropa yang mengatakan bahwa yang berkuasa di negara-negara EU adalah kaum multinasional. Para politikus itu hanyalah boneka yang mengabdi kepentingan kantongnya segelintir kaum oligarki/muiltinasional/ bankir yang menguasai ekonomi dunia. Si Chan yang "tahu segala" anehnya juga tidak tahu bahwa partai Demokrat dan Republik di AS hanya bonekanya Wall Street dan magnate/oligarki/multinasional. Mbok sekali-sekali tuan yang "tahu segala" itu mempostingkan berita dari dunia lain. Dunia ini besar dan luas, bukan hanya Tiongkok tanah air tercinta anda saja! Arti penting dan dalam dari pengalaman perjuangan kaum buruh Coca-Cola adalah tidak cukup berjuang untuk reform dan perbaikan kondisi kerja dan kehidupan ekonomi saja. Seandainya tuntutan reform dan perbaikan kondisi diterima oleh majikan, hal itu tetap tidak akan menyelesaikan akar dari penghisapan dan menyelesaikan kontradiksi antara kaum buruh dan majikan yang bersifat antagonis. Perjuangan menuntut perbaikan nasib sudah tentu harus terus dilakukan selama buruh masih terus hidup dalam sistim kapitalis. Perjuangan itu akan mendidik dan meningkatkan kesadaran kelas. Namun buruh tidak dapat mempercayakan dan menggantungkan nasibnya kepada sistim kapitalis serta lembaganya. Inilah pelajaran yang ditarik oleh kaum buruh Coca-Cola di Madrid. Hakekat masalahnya terletak pada struktur, pada sistim ekonomi kapitalis di mana buruh hanya punya tenaga kerja sedangkan alat produksi ada di tangan kaum kapitalis/ multinasional. Begitu alat produksinya diambil oleh yang punya, buruh hilang mata pencahariannya. Kaum multinasional dapat melanggar keputusan MA, sama sekali tidak ada resikonya. Tapi kalau kaum buruh dianggap melanggar hukum oleh majikan dan undang-undang serta peraturan yang ada, pasti buruh dihadapkan kepada pengadilan dan penjara. Begitu juga pengalaman kaum tani dan penduduk gunung Kendeng dalam melawan pabrik semen yang mengancam kelangsungan hidup mereka dan keluarganya. Lihat nggak bagaimana reaksi kaum perempuan tani Kendeng ketika mengetahui akal licik Ginanjar untuk menyelamatkan pabrik semen yang sudah bertahun-tahun ditentang rakyat? Orang seperti Chan tidak bisa diharapkan mengerti kemarahan sekaligus kesedihan kaum tani Kendeng. Apalagi bersimpati??? Simpati dan air matanya selalu bagi dedengkot remo Liu Shaoqi, bukan untuk kaum yang di bawah! Chan tidak akan mengerti kemarahan dan kesedihan mereka yang digusur di Jakarta, kaum tani dari 26 desa yang ditenggelamkan waduk Jatigede (dengan modal kaum kapitalis Tkk yang dipuja setengah mati oleh Chan), kaum tani desa Sukamulya, kaum tani Kulon Progo dan kaum tani di segala pelosok kepulauan Indonesia yang masih terus melawan perampasan tanahnya oleh kaum pemodal dan investor, diantaranya kaum pemodal Tkk, pujaan Chan! Itulah wajah seorang revisionis kepala batu, penghina kaum tani dan pemuja kapitalisme!!! On Wednesday, December 14, 2016 1:07 AM, Chan CT <[email protected]> wrote: Lha illaaaah, ... informasi apa ini dari “nenek dalam tempurung” dengan kesimpulan cupat pula “kapitalis-multinasional lah yang menentukan nasib BURUH”! Itukan hanya MEMBUKTIKAN pemerintah Spanyol yang berkuasa bukan PEMERINTAH RAKYAT, tapi pemerintah yang hanya mengabdi pada kapitalis saja! Itu menandakan KEKUATAN RAKYAT masih lemah, ...! Buruh tidak bisa berbuat apa-apa, ... mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya??? Sedang nenek yang satu ini sudah cupat pula hanya menuduh orang lain TIDAK mau BELAJAR dan MENARIK PELAJARAN! Jangan menyalahkan siapa-siapa, ... BURUH harus BERSATU, menyatukan diri lebih kuat dalam barisan memperjuangkan NASIB lebih baik melawan keserakahan kapitalis dan kesewenang-wenangan penguasa! PERJUANGKAN KEADILAN bukan minta pada siapa-siapa, tapi HARUS BERSATU dengan TEGUH BERJUANG SENDIRI! Kalau HUKUM sudah bisa dimenangkan, yaa mestinya gunakan keputusan HUKUM itu meneruskan PERLAWANAN dan gebug PEMERINTAH yang menindas dengan TENTARA! Begitu aja, kok repot, ...! Tapi neng, ... kalau pabrik Coca-Cola kenapa harus dipertahankan, ya? Dia mau tutup yaa biarkan saja. Lha Coca-Cola itu jelas merusak kesehatan rakyat, kok! Kenapa tidak menuntut buka pabrik atau mengalihkan ke minuman yang yang lebih BERGUNA dan jelas tidak merusak kesehatan saja, ya? Salam, ChanCT From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday, December 14, 2016 1:04 AM To: Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; GELORA_In Cc: Daeng ; Lusi.D ; Roeslan ; Gol ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Mitri ; Jonathan Goeij ; Harry Singgih ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; Ajeg ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Farida Ishaja ; [email protected] ; Billy Gunadi ; N. Nugroho ; [email protected] ; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] ; [email protected] ; [email protected] ; C. Manuputty ; Oman Romana Subject: [GELORA45] Dokumental Coca-Cola Informasi lagi dari orang yang sering mendapat cap "katak dalam tempurung" dari Chan. Video dalam bahasa Spanyol tapi ada subtitles bahasa Inggris. Di layar lebar baru bisa kelihatan dengan baik subtitlesnya. Video di bawah ini menceritakan perjuangan kaum buruh pabrik Coca-Cola di Fuenlabrada (Madrid) melawan pemecatan dan penutupan pabrik. Mula-mula melalui pemogokan, kemudian manifestasi di jalan-jalan dan akhirnya ke pengadilan. Perlawanan dilakukan sejak Januari 2014. Bulan April 2015 Mahkamah Agung membenarkan kaum buruh dan menyatakan pemecatan dan penutupan pabrik melanggar hukum. Bisa dibayangkan kegembiraan dan kebahagian semua kaum buruh mendapatkan kembali pekerjaannya!!! Namun kegembiraan dan kebahagian itu kemudian dengan cepat lenyap...Multinasional Coca-Cola tidak kehilangan akal untuk menghindari keputusan MA dan melanggar hukum. Kaum buruh yang sudah dibenarkan oleh hukumpun masih harus berhadapan dengan kekerasan aparat militer. Dengan dikawal aparat kekuasaan, pabrik dipreteli... Buruh tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Mau kemana lagi mereka melaporkan nasibnya? Wong hukum sudah membenarkannya. Nah, tidakkah kita dihadapkan kepada KEBENARAN DAN KENYATAAN? Bahwa yang berkuasa sungguh-sungguh di negeri-negeri yang menyandang nama "welfare state", dikenal sebagai negara hukum dan di mana HAM dihormati, adalah kaum multinasional! Kaum multinasional lah yang menentukan nasib warga dan keluarganya!!! Kapan saja kaum buruh tidak diperlukan lagi tenaga kerjanya, mereka dianggap sebagai debu saja yang mengotori jalan-jalan besar kota-kota metropolitan! Sebuah pelajaran buat mereka yang masih mau belajar dan menarik pelajaran! Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés) Documental COCA COLA EN LUCHA (subtítulos en inglés) COCA COLA EN LUCHA Cuando David se enfrenta a Goliat Esta es la historia de una lucha titánica. La de los trabaj...
