Nesare ini ingin supaya orang TIDAK melihat Jonathan sebagai orang kiri.
Padahal saya sendiri tidak pernah memberi kualifikasi kepada Jonathan sebagai
orang kiri atau kanan. Kualifikasi yang jelas hanya saya kasih kepada Chan
sebagai remo, yang memang saya kenal lama dan saya tahu isi kepalanya sejak
lama dan saya saksikan sekarang bagaimana perubahan isi kepalanya. Hanya dalam
diskusi sering kali Jonathan mengerti dan menyetujui berita yang saya
postingkan.
Saya dapat topi juga dari Nesare: kiri radikal, ekstrim kiri. Sekarang ditambah
lagi, saya punya masalah dengan sifat pribadi yang membuat saya subjektif!!
Ooo, malah saya eprnah dituduh "fundamentalis"!!! Ha...ha...Sedangkan Nesare
sendiri mengaku pendukung nasakom. Tapi melihat selama ini pendapat yang ia
tampilkan dalam diskusi langsung dan tak langsung, saya bertanya-tanya sendiri
di mana sifatnya yang mendukung Nasakom. Yang jelas sangat menonjol caranya
untuk "membantu" rakyat, yaitu dengan mendukung kebijakan Jokowi: dukung
penanaman modal asing, "pembangunan" yang sebetulnya mengabdi kelas menengah
keatas dan para oligarki yang berkuasa dan para pemodal asing dan swasta. Itu
sudah cukup bagi saya untuk mengetahui jalan pikiran si Nesare.
Jadi Nesare merasa dirinya kiri, dan kiri yang benar. sedangkan orang lain
seperti saya adalah kiri radikal yang mau menerapkan sekarang "komunisme" di
Indonesia. Makanya dia juga menuduh Roeslan mau "menasionalisasi a la
komunis"!!!! Ha...ha..ha
On Monday, September 4, 2017 9:11 PM, "Roeslan [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Nampaknya bung Nesare ini telah menjadi murit setianya Orde baru
Suharto, sehingga kejangkitan penyakit Komunistophobi, ini tercermin dalam
tulisannya yang menyatakan bahwa Nasionalissi roeslan ala komunis. Wah hebat
betul cuci otak yang telah dilakukan oleh rezim militerfasis suharto, sampai
sampai seorsng terpelajar seperti Nesare tak bisa membedakan antara
nasionalisasi dengan komunisme.Setiap orang bilang Nasionalisasi lalu distempel
Komunis. Ini membutikan bahwa nesara itu sejatinya adalah murit yang paling
setia pada Rezim milkiter fasis Suharto. Saya tidak yakin bahwa Nesare bisa
memahami apa yang dutulis di Wikipedia Indonesia, bahwa NASIONALISASI ADALAH
PROSES DI MANA NEGARA MENGAMBIL ALIH KEPEMILIKAN SUATU PERUSAHAAN MILIK SWASTA
ATAU ASUNG. Mengambil alih itu artinya seluruh perusahaan (100%) disita tanpa
bayar sepeserpun. Kutipan Wikipedia Indonesia dibawah ini saya ambil dari
Google (bukan karangan saya). Sekarang ganti bung harus menjelaskan apa yang
bung maksud Nasionalisasi ala komunis harap bung jelaskan secara ilmiah!!! Ini
penting buat kita semua. Semoga bung bisa sembuh dari penyakit
komunistophobi. Roeslan. WIKIPEDIA INDONESISA
Nasionalisasi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasNasionalisasi adalah proses
di mana negara mengambil alih kepemilikan suatu perusahaan milik swasta atau
asing. Apabila suatu perusahaan dinasionalisasi, negara yang bertindak sebagai
pembuat keputusan. Selain itu para pegawainya menjadi pegawai negeri. Lawan
dari nasionalisasi adalah privatisasi. Von: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Gesendet: Sonntag, 3. September 2017 17:02
An: [email protected]
Betreff: RE: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki
Untung Hehehehehe dulu dengan sombongnya bilang nasionalisasi (eh
nasionalisasi yg ente maksud = beli saham) freeport. Sekarang rejim Jokowi
sudah setuju beli 51% saham yg duitnya gak tahu dari mana, eh ente ngomong ini
seperti menyuntik duit.Sombongnya (baca: gobloknya) minta ampun. Persoalan
freeport itu bukan hanya persoalan bisnis saja. Itu persoalan “Corporate
America” yg menjadi soko guru negara ente. Disinggung sedikit saja bisa ngamuk
negara ente. Kenapa ngamuk? Karena “Corporate America” itu adalah alat yg
digunakan utk menjajah dalam sejarah modern dunia ini terutama setelah menang
PD2.Baca tulisan chan yg gak sok tahu. Teknis main saham nya saja ente ngak
ngerti (mana ngerti ente kalau jual beli saham pakai blok blokan?!!). Belum
lagi isi perut dalamnya freeport. Begitu juga: kemampuan teknis Indonesia dalam
mengelola; apakah masih feasible utk dikelola; USA kalau marah akan ganggu RI
tidak plus serangan2 baik langsung maupun pre emptive dll. SUDAH DIAM KAN?!!!
KABUR KEMANA ENTE?!!! Ni baca tulisan ente yg dulu: 12/6/2015Oon,
nasionalisasi itu perlu biaya baik itu di BUMN-kan ataupun di provatisasi,
terkecuali Indonesia mau menjadi negara "tirai rotan".
---In [email protected], <nesare@...> wrote :Bung Roeslan ngerti tidak
apa yang dimaksud oleh jonathan dengan nasionalisasi Freeport itu? Ini tulisan
jonathan selanjutnya: Harga saham Freeport saat ini lagi murah2nya, ditambah
berita licensing tidak akan diperpanjang harganya bisa "dirt-cheap". Saat yang
tepat sekali untuk nasionalisasi. Nasionalisasi Freeport versi jonathan itu
adalah beli saham Freeport yang sedang murah.Dia ini lagi ngomong dalam konteks
neoliberal.Dari dulu jonathan ini sudah saya telanjangi bahwa dia itu bukan
democrat. Dia ngomongnya adalah registered democratic party di USA. Tetapi isi
sebetulnya, dia itu adalah anggota partai democrat krn unsur pragmatisme saja,
tetapi bukan idealisme. Jadi jonathan itu bukan orang kiri. Beda dengan bung
Roeslan yang memang orang kiri. Hati2 kalau menyetujui ide seseorang. Memangnya
ini yang dimaksud nasionalisasi bung Roeslan? SalamNesare From:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Friday, December 04, 2015 2:53 PM
To: [email protected]; 'Jonathan Goeij'
Subject: AW: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke
Persoalan Pokok: Neokolonialisme! Usulan yang bagus bung JG, saya juga
setuju, karena menasionalisasi Freeport itu sejalan dengan Pasal 33 UUD45.
Salam, Roeslan Von: [email protected] [mailto:[email protected]]
Gesendet: Freitag, 4. Dezember 2015 21:31
An: [email protected]
Betreff: [GELORA45] Re: #sastra-pembebasan# Soal Freeport, Fokuslah Ke
Persoalan Pokok: Neokolonialisme! Saya kok setuju Freeport di nasionalisasi,
dengan demikian kepentingan US di Papua akan berkurang banyak bahkan mungkin
tidak ada lagi, resolusi PBB agar diadakan referendum penentuan nasib sendiri
bisa gol karena tidak ada lagi negara besar yg menghalangi.
---In [email protected], <lusi_d@...> wrote :
Karakter penguasa pemerintahan Indonesia sekarang ini komprador atau
bukan? Apa mungkin komprador mensita milik tuannya? From:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Saturday, September 2, 2017 10:22 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki
Untung
Melihat apa yg akan dilakukan dgn divestasi 51% ini, kok sepertinya pihak
Indonesia jadinya kayak menyuntik dana. Freeport Indonesia go public di BEJ dan
telah terjamin ada yg beli 51% sahamnya.
---In [email protected], <SADAR@...> wrote :Dilihat sepintas apa yang
bung ajukan point ketiga itu ada betulnya! Tapi, apakah masalah Freeport,
tambang emas terbesar di Nusantara ini begitu sederhana? Kalau begitu sederhana
kenapa pula kedua-b elah pihak, RI dan Freeport saling ngotot bertahan pada
pendapat masing-masing, dan diahri terakhir pihak Freeport baru ngalah dan
bersedia devestasi untuk bisa memperpanjang KK sampai 2041? Apa dan dimana
masalahnya? PASTI KEUNTUNGAN yang masih bisa didapat lebih BESAR! Bagi siapa?
RI atau Freeport yang lebih diuntungkan, ..? Saya melihat KESALAHAN pihak RI,
dari penandatanganan menyerahkan Freeport membuka tambang emas ini di tahun
1967! Dimana Suharto sepenuhnya menyerahkan pada Freeport tanpa ada usaha
memperjuangkan keuntungan/kepentingan bangsa dan rakyat Indonesia sebagai
PEMILIK HARTA BUMI kekayaan Nusantara ini! Disini perbedaan PRINSIP antara
Suharto dan Deng saat jalankan politik buka-pintu, mengundang masuk
MODAL-ASING! Deng b erusaha dengan masuk modal-asing, rakyat TIongkok bisa
diuntungkan, belajar dan akhirnya menguasai usaha yang dijalankan itu! Tidak
lebih dari 20 tahun, rakyat Tiongkok bisa menguasai dan bikin sendiri segala
produksi yang dikerjakan modal-asing itu! Bahkan dengan prinsip BERDIKARI,
KREATIF, rakyat Tiongkok berhasil mengembangkan prinsip-prinsip teknologi yang
berhasil dikuasai itu! Sedang Suharto, TIDAK! Yang diperhitungkan berapa besar
KOMISI yang bisa masuk kantong sendiri, bagaimana kesejahteraan rakyat tidak
peduli, ... begitulah akhirnya rakyat banyak tetap menderita kemiskinan,
ekonomi nasional belum berhasil keluar dari lembah keterpurukkan sampai
sekarang. Yang menjadi problem Freeport kalau dihentikan KK di tahun 2021,
sudah bisa dan mampukah RI meneruskannya sendiri? Pertanyaan yang harus
diperhitungkan serius oleh pemerintah untuk menjamin kelanjutan kerja buruh
Freeport yang jumlahnya belasan atau puluhan ribu itu! Kalau masih belum mampu,
tentu ada 2 cara, melanjutkan KK Freeport atau menemukan modal-asing lain.
Nampaknya RI memilih Freeport bisa meneruskan dgn bisa memberikan keuntungan
LEBIH BESAR pada RI! Saya tidak tahu bagaimana perhitungan rinci RI mengambil
cara minta 51% saham dan menaikkan pajak penghasilan/keuntungan Freeport
sebagai jalan yang dianggap paling baik, dengan membiarkan Freeport menerusakan
usaha sampai 2041. Dan jelas, areal operasi tambang diperluas entah sampai
kemana-mana! Dan sangat saya sesalkan, ... dalam perjanjian perpanjangan KK
itu, kemungkinan juga tidak menegaskan KEHARUSAN pihak Freeport mengoper
teknologi penampangan pada pihak pekerja Indonesia! Agar pihak Indonesia bisa
menjalani sendiri usaha tambang emas itu sebelum emasnya habis diangkut ke AS!
Salam,ChanCT From: Jonathan Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] Sent: Saturday,
September 2, 2017 2:59 AMTo: Yahoogroups Subject: [GELORA45] Kuasai 51% Saham
Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung Kelihatannya banyak yang bermata
jernih bisa melihat hal simple seperti ini. ---Ketiga, Redhi menilai pembelian
saham divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan
yang sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham
divestasi pun maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT
Freeport menjadi milik Pemerintah Indonesia....30 August 2017 09:10 WITA
Kuasai 51% Saham Freeport, Indonesia Tak Memiliki Untung
Editor: Adil Patawai AnarRAKYATKU.COM - Pengamat Energi dan Sumberdaya Alam
Universitas Tarumanegara, Ahmad Redhi menilai disetujuinya poin kesepakatan
melalui perundingan antara PTFI dan Pemerintah, sesungguhnya tidak memberikan
keuntungan bagi Pemerintah Indonesia. Hal ini karena, poin-poin kesepakatan
perundingan mengandung masalah. Ia menilai, Pemberian IUPK kepada PT Freeport
tidak sesuai dengan UU Minerba. Menurut UU Minerba IUPK dapat diberikan melalui
penetapan WPN yang harus disetujui DPR. IUPK pun diprioritaskan diberikan
kepada BUMN. Kedua, Pembangunan smelter merupakan kewajiban lama PT Freeport
yang di waktu yang lalu pun diperjanjikan oleh PT Freeport untuk dibangun.
Namun hingga saat ini belum ada progres terkait hal tersebut. "Toh hingga detik
ini pun tidak terbangun. Harusnya pemerintah punya langkah strategis untuk bisa
menekan Freeport untuk bisa konsekuen dengan janji ini," ujar Redhi, dilansir
republika.co.id, Rabu (29/8/2017). Ketiga, Redhi menilai pembelian saham
divestasi di masa akan berakhirnya Kontrak Karya (KK) merupakan kebijakan yang
sesungguhnya merugikan bagi Indonesia, karena tanpa membeli saham divestasi pun
maka pada tahun 2021 atau setelah KK berakhir maka wilayah eks PT Freeport
menjadi milik Pemerintah Indonesia. Terkait divestasi saham oleh PT Freeport,
sesungguhnya dalam KK perpanjangan 1991 sudah ada kewajiban divestasi saham PT
Freeport yang harusnya pada tahun 2011 sudah 51 persen dimiliki pemerintah,
namun faktanya hingga detik ini kewajiban divestasi 51 persen ini tidak juga
direalisasikan PT Freeport. Ia menilai, hasil perundingan ini malah bentuk
mengukuhkan kembali PT Freeport untuk mengeksploitasi SDA Indonesia yang
kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia sangat rendah.
"Pemerintah sekarang pun menjadi pewaris potensi masalah PT Freeport
sebagaimana tahun 1967 dan 1991 ketika Orde baru mewariskan masalah PT Freeport
kepada generasi saat ini," ujar Redhi. #yiv5124765509 #yiv5124765509 --
#yiv5124765509ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-mkp #yiv5124765509hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-mkp #yiv5124765509ads
{margin-bottom:10px;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-mkp .yiv5124765509ad
{padding:0 0;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-mkp .yiv5124765509ad p
{margin:0;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-mkp .yiv5124765509ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-sponsor
#yiv5124765509ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv5124765509
#yiv5124765509ygrp-sponsor #yiv5124765509ygrp-lc #yiv5124765509hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5124765509
#yiv5124765509ygrp-sponsor #yiv5124765509ygrp-lc .yiv5124765509ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5124765509 #yiv5124765509actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5124765509
#yiv5124765509activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5124765509
#yiv5124765509activity span {font-weight:700;}#yiv5124765509
#yiv5124765509activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv5124765509 #yiv5124765509activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5124765509 #yiv5124765509activity span
span {color:#ff7900;}#yiv5124765509 #yiv5124765509activity span
.yiv5124765509underline {text-decoration:underline;}#yiv5124765509
.yiv5124765509attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv5124765509 .yiv5124765509attach div a
{text-decoration:none;}#yiv5124765509 .yiv5124765509attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5124765509 .yiv5124765509attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5124765509 .yiv5124765509attach label a
{text-decoration:none;}#yiv5124765509 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv5124765509 .yiv5124765509bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5124765509
.yiv5124765509bold a {text-decoration:none;}#yiv5124765509 dd.yiv5124765509last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5124765509 dd.yiv5124765509last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5124765509
dd.yiv5124765509last p span.yiv5124765509yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv5124765509 div.yiv5124765509attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv5124765509 div.yiv5124765509attach-table
{width:400px;}#yiv5124765509 div.yiv5124765509file-title a, #yiv5124765509
div.yiv5124765509file-title a:active, #yiv5124765509
div.yiv5124765509file-title a:hover, #yiv5124765509 div.yiv5124765509file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5124765509 div.yiv5124765509photo-title a,
#yiv5124765509 div.yiv5124765509photo-title a:active, #yiv5124765509
div.yiv5124765509photo-title a:hover, #yiv5124765509
div.yiv5124765509photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5124765509
div#yiv5124765509ygrp-mlmsg #yiv5124765509ygrp-msg p a
span.yiv5124765509yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5124765509
.yiv5124765509green {color:#628c2a;}#yiv5124765509 .yiv5124765509MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv5124765509 o {font-size:0;}#yiv5124765509
#yiv5124765509photos div {float:left;width:72px;}#yiv5124765509
#yiv5124765509photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5124765509
#yiv5124765509photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5124765509
#yiv5124765509reco-category {font-size:77%;}#yiv5124765509
#yiv5124765509reco-desc {font-size:77%;}#yiv5124765509 .yiv5124765509replbq
{margin:4px;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5124765509
#yiv5124765509ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5124765509
#yiv5124765509ygrp-mlmsg select, #yiv5124765509 input, #yiv5124765509 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5124765509
#yiv5124765509ygrp-mlmsg pre, #yiv5124765509 code {font:115%
monospace;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-mlmsg #yiv5124765509logo
{padding-bottom:10px;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-msg
p#yiv5124765509attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv5124765509
#yiv5124765509ygrp-reco #yiv5124765509reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-sponsor
#yiv5124765509ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5124765509
#yiv5124765509ygrp-sponsor #yiv5124765509ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5124765509
#yiv5124765509ygrp-sponsor #yiv5124765509ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv5124765509 #yiv5124765509ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5124765509
#yiv5124765509ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv5124765509