Kalau saja SULIT dibuktikan, dan bahkan TIDAK MUNGKIN bisa dibuktikan
Ma'ruf Amin terlibat langsung, katakanlah ketika itu sebagai ketua ANSOR
menurunkan PERINTAH pemuda Ansor melibatkan diri dalam aksi pembunuhan
orang-orang yang dituduh PKI, sebenarnya kita bisa dan boleh menuntut
berteladan pada sikap jiwa-besar dan ketulusan hati Gus Dur, sebagai
ketua PBNU dan Presiden RI ketika itu, berani mintaa MAAF pada korban
PKI dan berusaha mencabut TAP MPRS No.25/1966, ... Sekalipun akibat
ketegasan sikap demikian Gus Dur jadi terjungkel.
Sedang kesalahan fatwah MUI yg dikeluarkan, sekalipun TIDAK BISA kita
setujui isi fatwah itu, juga sulit dijadikan bukti Ma'ruf melanggar HAM!
Atau ada yang bisa buktikan, fatwah itu berarti menyuruh aniaya, basmi
saja penganut Achmadiyah dan penista Agama?
ajeg [email protected] [GELORA45] 於 21/8/2018 2:07 寫道:
Ya kalau yakin seperti itu silakan gugat saja,
tuntut secara hukum.
--- jonathangoeij@... wrote:
Sudah tentu saya tidak punya bukti, tetapi setidaknya ada benang merah
seperti penyerbuan dan pembakaran kantor pusat PKI di Kramat, disini
apakah hanya gedung yg jadi korban bagaimana dengan manusia2nya?
bandingkan dengan kudatuli yg skalanya jauh lebih kecil. Apakah sang
ketua juga tidak tahu ribuan anggotanya menyerbu dan membakar (dan
mungkin juga membantai). Bagaimana dengan pembantaian2 yg dilakukan
Ansor diberbagai daerah dengan pembenaran doktrin halal membunuh kafir
itu, bahkan ada pimpinan Ansor di Blitar yang bersaksi menerima
instruksi dari atas? apakah sang ketua juga sama sekali tidak tahu?
seandainya tidak ikut memberikan instruksipun sukar dicerna tidak tahu
sama sekali, apakah ada upaya2 mencegah atau membiarkan begitu saja?
Melihat pada masa setelah itu sebagai Ketua Komisi Fatwa ataupun Ketua
MUI, dari berbagai produk yang di hasilkan, kita bisa melihat
bagaimana pandangan Ma'ruf Amin thd minoritas, terhadap mereka yg
dianggap kafir ataupun yg dianggap sesat.
--- ajegilelu@... wrote :
Di setiap kasus yang terpenting adalah bukti.
Itulah yang yang saya bela, akal sehat.
Jadi, supaya terlihat sehat coba tunjukkan adanya
bukti pembantaian seperti yang Anda tanyakan
(bukan serbuan dan pembakaran kantor). Sebab,
seperti biasa, tanpa bukti pun AS biasa menghasut.
< span
id="ydpb21f447yiv8281885449ydpd9cdddf7ygrps-yiv-732746090ydp845039f9yiv5019425208ydp51d7e635yui_3_15_0_2_1534782152159_1783"
style="font-size:13pt;">
Contoh gampangnya WMD di Irak. Betul-betul
sakit.
--- jonathangoeij@... wrote:
Bagus juga kalau anda se-kali2 membela Jokowi, tetapi dalam hal ini
kelihatannya anda membela Ma'ruf Amin. Saya hanya menanyakan adanya
kemungkinan keterlibatan Ma'ruf Amin dalam pembantaian 1965, uraian
anda bukan merupakan bantahan tetapi lebih tepat melemparkan kesalahan
dan tanggung jawab dan seperti biasa ke Amerika Serikat. AS terlibat
tentu tidak perlu dibantah lagi bahkan dengan jelas tercantum dalam
dokumen2 rahasia yang diungkapkan itu.
Victor M Fic dalam buku "Kudeta 1 Oktober 1965: sebuah studi tentang
konspirasi" mencatat ribuan Pemuda Ansor menyerbu dan memba kar habis
kantor PKI dijalan Kramat.
Pada Tribunal seorang Chudlori seorang pimpinan Ansor di Blitar
mengungkapkan adanya instruksi dari atas, sayang saya tidak menemukan
siapa yang memberi instruksi itu. Sedang waktu itu Ma'ruf Amin adalah
Ketua Ansor, apakah sebagai ketua beliau tidak tahu apa2 yang
dilakukan anak buahnya? agak sukar dicerna.
Menurut Wikipedia buku2 yang mencatat pembantaian PKI dibakar:
kutipan:
Pembantaian ini telah banyak dihilangkan dari buku pelajaran sejarah
Indonesia. Dalam buku pelajaran sejarah, disebutkan bahwa pembantaian
ini ad alah "kampanye patriotik" yang menghasilkan kurang dari 80.000
korban jiwa. Pada tahun 2004, buku-buku pelajaran diubah dan
mencantumkan kejadian tersebut, tetapi kurikulum baru ini ditinggalkan
pada tahun 2006 karena adanya protes dari kelompok militer dan
Islam.[49]
<https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_di_Indonesia_1965%E2%80%931966#cite_note-SMH-49> Buku-buku
pelajaran yang menyebutkan pembunuhan massal itu kemudian dibakar
<https://id.wikipedia.org/wiki/Pembakaran_Buku>,[49]
<https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_di_Indonesia_1965%E2%80%931966#cite_note-SMH-49>atas
perintah Jaksa Agung
<https://id.wikipedia.org/wiki/Jaksa_Agung_Indonesia>.[83]
<https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_di_Indonesia_1965%E2%80%931966#cite_note-83>
--- ajegilelu@... wrote :
Sesekali belain Jokowi.
Menurut Anda, apa yang mendasari pertanyaan itu? Apa hanya
karena seseorang adalah anggota sebuah organisasi lantas dia harus
ikut menanggung dosa organisasinya? Alias main gebyah uyah
seperti imperialis AS memberi label 'komunis' pada pihak yang
dimusuhinya maupun menjerit "crusade" demi menyamaratakan
teroris dengan Islam, padahal AS sendirilah yang membentuk,
melatih, dan mempersenjatai kaum teroris.
Dalam hal cawapres Joko Widodo ini, pertanyaan itu jelas kelewat
bernafsu dan tendensius. Sebab, saya belum pernah baca adanya
cerita pembantaian terhadap orang PKI di Jakarta, kota di mana sang
cawapres menjabat ketua Ansor saat peristiwa '65. Kalau ada, di mana
bisa dibaca cerita pembantaian itu? Siapa tahu bisa dijadikan bukti
keterlibatan cawapres.
Kalau pun Ansor / NU terlibat, seperti juga segelintir AD, itu kan
tidak lain karena menelan hasutan yang skenarionya ditulis Amerika
Serikat. Dokumen-dokumen rahasia AS sendiri mengungkap bahwa
kapitalisme AS terlibat aktif (melibatkan diri) dalam peristiwa '65.
Tentu, terlibat sejak dari perencanaan hingga operasional. Sejak
perencanaan
pembunuhan presidennya sendiri (Kennedy) hingga operasi jua lan senjata
di Vietnam (Gestok cuma "infrastruktur" pasar senjata di Vietnam).
Jangan remehkan kemampuan imperialis AS dalam mengarang skenario,
karena sudah banyak cerita yang membuat orang mainkan perannya dalam
lakon karangan AS. Bukan mustahil termasuk skenario kematian Giovani
Battista disusul tewasnya Albino Luciani yang segera digantikan Karol
Wojtyla, sebagai sang penyemangat buruh galangan kapal Gdanks mengawali
penenggelaman komunisme.
On Monday, August 20, 2018, 2:18:19 AM GMT+7, Noroyono 1963 wrote:
Dear Sdr Jonathan,
Saya rasa pertanyaan (atau mungkin lebih tepat disebut /bahan
pemikiran/) yg Anda gulirkan bukanlah tanpa dasar. Dengan segala
kerendahan hati harus saya berikan, sekali lagi, komplimen kepada Anda
atas kejelian dalam mel ihat suatu peristiwa politik.
Pertanyaan Anda itu telah menggelitik benak saya untuk mencoba
menelusuri curicullum vitae Ma'ruf A min lewat, antara lain,
Wikipedia. Menurut Wikipedia, sebagaimana Anda kutip, pada periode
pembantaian manusia tahun 1965 -- yg notabene belum pernah ada
presedennya dalam sejarah Indonesia -- Ma'ruf Amin menjabat orang
nomor wahid dalam berbagai organisasi, yg menurut berbagai kalangan
terlibat dalam pembantaian tsb (atau minimal mengiyakannya).
Sebagai seorang yg mengakui kebenaran pesan /"//kasihilah sesamamu
manusia seperti dirimu sendiri"****)*, /saya berpendapat tidaklah
pantas seorang yg, minimal, mengiyakan pembantaian manusia tahun 1965
menduduki kursi Orang Nomor 2 di negeri ini. Negeri dimana saya dan
Anda dilah irkan dan sama-sama kita cintai. [**) *Lukas 10: 27]
Salam,
*Noroyono*
*19/08/2018*
Op zondag 19 augustus 19:47 2018 schreef jonathangoeij@... het volgende:
Apakah ada kemungkinan Ma'ruf Amin terlibat dalam pembantaian 1965?
kutipan:
* Ketua Ansor, Jakarta (1964-1966)
* Ketua Front Pemuda (1964-1967)
* Ketua NU, Jakarta (1966-1970)
*
_
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com