Mungkin sebentar lagi beredar kisah "heroik" Ma'ruf Amin memimpin memimpin 
ribuan pemuda Ansor menyerbu dan membakar markas PKI (dan membantai?) di jalan 
Kramat itu.
Menurut penduduk setempat gedung itu berhantu, bisa dibikin film horor 
nantinya.Menelusuri "Gedung Berhantu" yang Pernah Jadi Markas PKI


---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

Saya sederhana saja, pertanyaan soal kemungkinan 
keterlibatan cawapres Jokowi dalam pembantaian 
orang PKI di Jakarta (bukan pembakaran kantornya) 
dasarnya hanyalah tendensius, yang pucuknya cuma 
mengalihkan perhatian dari peran / keterlibatan AS 
dalam peristiwa '65. Agak menggelikan kalau ada yangtergiring tendensius 
sehingga teralih dari peran AS itu.
--- jetaimemucho1@... wrote:
Memang masih sangat banyak sekali orang yang tidak mau mengakui bahwa 
Indonesia, sejak ORBA berkuasa, selalu dikuasai oleh orang-orang yang mewakili 
kelas tuan tanah, kapitalis birokrat dan komprador alias Oligarki yang 
merupakan kepanjangan tangan kaum imperialis. Mereka yang percaya nasib negara 
dan bangsa tergantung pada hasil pemilu tidak pernah mau belajar dari 
pengalaman sejarah dan sebenarnya secara sadar atau tidak, berpihak kepada 
kelas penguasa, dus anti-rakyat.Sekarang orang berdebat tentang individu yang 
mencalonkan dirinya sebagai presiden dan wakilnya. Mereka yang percaya pada 
sistim pemilu selalu menghimbau: pilih yang "less evil". Padahal dalam 
kenyataannya, semua calon, disamping mewakili kelas-kelas yang anti-rakyat, 
juga merupakan kriminal-kriminal. Pada pemilu 2014, pasangan Jokowi dianggap 
sebagai pasangan yang "baik", karena Jokowi seorang sipil dan "jujur" , tak 
punya sejarah yang "kotor atau keruh" dengan kejahatan, dibanding dengan 
Prabowo!! Kejahatan itu hanya dilihat dari segi pelanggaran HAM ! Tapi apakah 
megaproyek infrastruktur yang sudah dan terus merampas tanah rakyat, 
menghilangkan mata pencaharian rakyat, membuldoser rumah rakyat, pertambangan 
yang memperburuk lingkungan dan mengakibatkan penyakit bagi penduduk, penekanan 
upah rendah kaum buruh untuk mengundang para investor asing, penyerahahan 
kekayaan alam kepada pemodal asing untuk diusung ke luar negeri, semua itu 
bukan pelanggaran hak azazi rakyat Indonesia??? Apakah menggadaikan Tanah Air 
itu bukan tindakan kriminal!!!???
Kemudian, Jusuf Kala.. Ada yang masih ingat film the act of killing? Lupakah 
sudah peran Jusuf Kala sebagai pemimpin Pemuda Pancasila yang juga punya peran 
penting dalam pembantaian 1965-66??? Disamping itu, dia juga pengusaha besar, 
artinya kabir dan komprador!!!
Sekarang berdebat soal Ma'ruf Amin, ketua Ansor. Apa lupa mengapa Gus Dur minta 
maaf kepada para korban pembantaian 65-66? Semua orang tahu tentang 
keterlibatan orang-orang Islam serta organisasi nya dalam pembantaian... begitu 
juga orang-orang kristen serta organisasinya....
Salahkah kalau orang berkesimpulan bahwa Indonesia dikuasai oleh para 
kriminal!!!!!????
On Tuesday, August 21, 2018 3:53 AM, Jonathan Goeij wrote:

Maksudnya bung Chan mau suruh si Ma'ruf Amin minta maaf pd para korban PKI itu 
dan berusaha mencabut TAP MPRS, monggo2 bung Chan, good luck!
Di Indonesia itu apa yang bisa dibuktikan? 
Si Prabowo yg ada rekomendasi TGPF sekalipun kasusnya menguap begitu saja. 
Tidak bisa dibuktikan.Tetapi si Ahok yg cuman ngomong begitu saja sdh langsung 
terbukti kena 2 tahun langsung masuk penjara. 


On Monday, August 20, 2018, 6:19:24 PM PDT, ChanCT wrote:
Kalau saja SULIT dibuktikan, dan bahkan TIDAK MUNGKIN bisa dibuktikan Ma'ruf 
Amin terlibat langsung, katakanlah ketika itu sebagai ketua ANSOR menurunkan 
PERINTAH pemuda Ansor melibatkan diri dalam aksi pembunuhan orang-orang yang 
dituduh PKI, sebenarnya kita bisa dan boleh menuntut berteladan pada sikap 
jiwa-besar dan ketulusan hati Gus Dur, sebagai ketua PBNU dan Presiden RI 
ketika itu, berani mintaa MAAF pada korban PKI dan berusaha mencabut TAP MPRS 
No.25/1966, ... Sekalipun akibat ketegasan sikap demikian Gus Dur jadi 
terjungkel.
Sedang kesalahan fatwah MUI yg dikeluarkan, sekalipun TIDAK BISA kita setujui 
isi fatwah itu, juga sulit dijadikan bukti Ma'ruf melanggar HAM! Atau ada yang 
bisa buktikan, fatwah itu berarti menyuruh aniaya, basmi saja penganut 
Achmadiyah dan penista Agama?
ajeg 於 21/8/2018 2:07 寫道:
Ya kalau yakin seperti itu silakan gugat saja, 
tuntut secara hukum.

--- jonathangoeij@... wrote: Sudah tentu saya tidak punya bukti, tetapi 
setidaknya ada benang merah seperti penyerbuan dan pembakaran kantor pusat PKI 
di Kramat, disini apakah hanya gedung yg jadi korban bagaimana dengan 
manusia2nya? bandingkan dengan kudatuli yg skalanya jauh lebih kecil. Apakah 
sang ketua juga tidak tahu ribuan anggotanya menyerbu dan membakar (dan mungkin 
juga membantai). Bagaimana dengan pembantaian2 yg dilakukan Ansor diberbagai 
daerah dengan pembenaran doktrin halal membunuh kafir itu, bahkan ada pimpinan 
Ansor di Blitar yang bersaksi menerima instruksi dari atas? apakah sang ketua 
juga sama sekali tidak tahu? seandainya tidak ikut memberikan instruksipun 
sukar dicerna tidak tahu sama sekali, apakah ada upaya2 mencegah atau 
membiarkan begitu saja?
Melihat pada masa setelah itu sebagai Ketua Komisi Fatwa ataupun Ketua MUI, 
dari berbagai produk yang di hasilkan, kita bisa melihat bagaimana pandangan 
Ma'ruf Amin thd minoritas, terhadap mereka yg dianggap kafir ataupun yg 
dianggap sesat.

--- ajegilelu@... wrote :

Di setiap kasus yang terpenting adalah bukti. 
Itulah yang yang saya bela, akal sehat.
Jadi, supaya terlihat sehat coba tunjukkan adanya 
bukti pembantaian seperti yang Anda tanyakan
(bukan serbuan dan pembakaran kantor). Sebab, 
seperti biasa, tanpa bukti pun AS biasa menghasut.
Contoh gampangnya WMD di Irak. Betul-betul 
sakit.

--- jonathangoeij@... wrote:
 Bagus juga kalau anda se-kali2 membela Jokowi, tetapi dalam hal ini 
kelihatannya anda membela Ma'ruf Amin. Saya hanya menanyakan adanya kemungkinan 
keterlibatan Ma'ruf Amin dalam pembantaian 1965, uraian anda bukan merupakan 
bantahan tetapi lebih tepat melemparkan kesalahan dan tanggung jawab dan 
seperti biasa ke Amerika Serikat. AS terlibat tentu tidak perlu dibantah lagi 
bahkan dengan jelas tercantum dalam dokumen2 rahasia yang diungkapkan itu.
Victor M Fic dalam buku "Kudeta 1 Oktober 1965: sebuah studi tentang 
konspirasi" mencatat ribuan Pemuda Ansor menyerbu dan memba kar habis kantor 
PKI dijalan Kramat.
Pada Tribunal seorang Chudlori seorang pimpinan Ansor di Blitar mengungkapkan 
adanya instruksi dari atas, sayang saya tidak menemukan siapa yang memberi 
instruksi itu. Sedang waktu itu Ma'ruf Amin adalah Ketua Ansor, apakah sebagai 
ketua beliau tidak tahu apa2 yang dilakukan anak buahnya? agak sukar dicerna.
Menurut Wikipedia buku2 yang mencatat pembantaian PKI dibakar:
kutipan:Pembantaian ini telah banyak dihilangkan dari buku pelajaran sejarah 
Indonesia. Dalam buku pelajaran sejarah, disebutkan bahwa pembantaian ini ad 
alah "kampanye patriotik" yang menghasilkan kurang dari 80.000 korban jiwa. 
Pada tahun 2004, buku-buku pelajaran diubah dan mencantumkan kejadian tersebut, 
tetapi kurikulum baru ini ditinggalkan pada tahun 2006 karena adanya protes 
dari kelompok militer dan Islam.[49] Buku-buku pelajaran yang menyebutkan 
pembunuhan massal itu kemudian dibakar,[49]atas perintah Jaksa Agung.[83]
--- ajegilelu@... wrote :
Sesekali belain Jokowi.
Menurut Anda, apa yang mendasari pertanyaan itu? Apa hanya karena seseorang 
adalah anggota sebuah organisasi lantas dia harus ikut menanggung dosa 
organisasinya? Alias main gebyah uyah seperti imperialis AS memberi label 
'komunis' pada pihak yang dimusuhinya maupun menjerit "crusade" demi 
menyamaratakan teroris dengan Islam, padahal AS sendirilah yang membentuk, 
melatih, dan mempersenjatai kaum teroris.

Kirim email ke