Tegas saja, jangan lupakan keterlibatan AS dalam peristiwa '65. 
Jangan pernah pisahkan peristiwa '65 dari campurtangan 
imperialis AS. Sebab, kerusakan yang timbul adalah hancurnya 
jalan menuju cita-cita Proklamasi. Sebab, yang menderita 
bukan hanya anggota PKI, segelintir anggota AD, maupun NU 
yang terlibat pertikaian saja, tetapi seluruh Rakyat Indonesia 
yang tidak tahu-menahu juga ikut terkena getah pembangunan 
"new order" yang berpondasikan utang. Justru Rakyat yang 
tidak tahu-menahu inilah korban terbesarnya. Bahkan bayi 
yang baru lahir pun sudah langsung menjadi korban pembangunan 
hasil rancangan mafia Berkeley.
Memang, harus ada yang bertanggungjawab atas pembantaian 
massal '65. Tapi sudah lebih dari setengah abad kita hanya 
berputar-putar mencari siapa yang bersalah tanpa berani menyinggung 
si imperialis provokator - kalau tidak boleh disebut biang keladi. 
Berputar-putar, berkejaran dengan galak, sambil...tetap saja membayari 
utang pemerintah kepada impierialis! 

Karena tidak ada tanda-tanda pemerintah mau memenuhi janji 
untuk menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM, maka 
tegas saja tidak ada gunanya juga meneruskan gontok-gontokan 
sambil membayari utang pemerintah, karena sama saja ini mewariskan 
kesusahan kepada anak-cucu berikut keturunan mereka kelak. 

 Tidak malukah kita disebut sebagai orangtua yang egois, galak, 
tapi jiper sama imperialis? Tidak malukah merasa sebagai orangtua 
yang gagah, berani gegeran dengan pembantai, padahal cuma jadi 
gerr-gerran anak-cucu lantaran terus memiskinkan mereka dan 
memperkaya imperialis dengan bunga utang ..
Kalau tidak malu ya silakan cari terus siapa yang bertanggungjawab. 
Toh Soeharto sudah enak-enakan mati. Sedangkan si imperialis 
masih gampang menggarong kekayaan alam milik anak-cucu sambil 
senang-senang menghirup bunga utang. 
--- SADAR@... wrote:     
 

Nampaknya kita jadi TERBELOK untuk mengungkit masalah-masalah lebih kecil 
dengan memperluas sasaran dan dengan kata lain bisa MELEPASKAN masalah POKOK 
dan UTAMA yang sampai sekarang BELUM juga terselesaikan!
 
Sekalipun tidak mesti kita harus menyetujui sepenuhnya, jalan pemikiran Gus Dur 
ada benarnya dan patut menjadi perhatian kita, "Saya tidak menyalahkan 
kiai-kiai NU yang mengambil sikap keras pada PKI. Baik NU maupun PKI sama-sama 
korban keadaan. Membunuh atau dibunuh yang terjadi. Masalahnya pak Harto, 
menimpakan seluruh kesalahan pada PKI, dan seolah-olah tentara bersih." 
https://chirpstory.com/li/369727 
 
 Masalah utamanya ada pada jenderal Soeharto! Jangan sampai kita teralih 
kembali baku hantam apalagi saling bunuh-membunuh, berbalas dendam lagi! Hanya 
karena saat itu, ditahun-tahun 1965 itu ketua Ansor, ketua Pemuda Panca Sila 
ataupun pelaku-pelaku yang tangannya bverlumuran darah pembunuhan kejam 
terhadap orang-orang yang dituduh PKI, ...! Itu berarti memperluas sasaran dan 
bisa menenggelamkan masalah UTAMA yang kenyataan belum terselesaikan, yaitu 
jenderal Soeharto, PENANGGUNG JAWAB UTAMA kejadian culik-menculik, 
bunuh-membunuh yang terjadi tahun 1965 itu! Belum berhasil kita mengungkap 
keterlibatan jenderal Soeharto dalam G30S, sampai dimana keterlibatan jenderal 
Soeharto dalam gerakan penculikkan/pembunuhan atas 6 jenderal disubuh 1 Oktober 
1965 itu! Belum juga kita berhasil menyeret jenderal Soeharto  kedepan 
pengadilan untuk mempertanggungjawabkan PELANGGARAN HAM-BERAT dengan perintah 
pengejaran, pembantaian, penangkapan jutaan orang yg dituduh PKI, makar tanpa 
porses pengadilan yang sah dan adil! Inilah masalah utama, kekejaman 
kemanusiaan yang lebih dahulu harus dijernihkan dan diakui. Kejahatan NEGARA 
yang terjadi dan sampai sekarang sekalipun telah lewat 53 tahun belum juga 
berhasil dituntaskan, ...! Jangan sampai mudah terbelok dengan memperluas 
sasaran, ... yang tidak berkesudahan dan akan lebih mencelakakan BANGSA ini! 
Bukankah terhadap tokoh-tokoh, jenderal yg harus bertanggungjawab juga 
seharusnya dibatasi sampai tingkat tertentu saja, tidak semua yang terlibat dan 
pelaku harus dihajar, dihujat, ... syukurlah mereka-mereka itu bisa bertobat 
dengan menyadari kekejaman kemanusiaan yang dilakukan begitu kasus KEJAHATAN 
NEGARA yang pernah terjadi ditahun 1965 itu dijernihkan dan diselesaikan!
 
 Ketua Mao sejak masa perjuangan di Yan An juga begitu, memusatkan 
TANGGUNGJAWAB pada seorang dua-orang pejabat/jenderal saja yang dijatuhi 
hukuman berat, kalau perlu ditembak mati! Sedang terhadap kader, perwira 
Kuomintang yang hanya pelaksana "PERINTAH" diberi pengampunan! Bahkan saat 
Perang melawan Jepang, terhadap tawanan perang Jepang pun, Pasukan Tentara 
Merah nya Ketua Mao, dengan berani menggabungkan/melibatkan tawan-tawan Jepang 
dalam barisan pasukan rakyat untuk melawan tentara Jepang! Sungguh luar biasa 
keberanian Ketua Mao memberi kemurahan hati pada MUSUH-MUSUH nya, menyatukan 
front seluas mungkin untuk MENGALAHKAN MUSUH yang jauh lebih besar dan kuat 
itu! Dan itulah salah satu SEBAB ketua Mao berhasil mengalahkan Kuomintang dan 
agresi militerisme Jepang yang jauh lebih kuat!
 
 Itu pula yang selalu saya bilang, kita harus pandai-pandai melihat kekuatan 
rakyat yang masih harus menghadapi lawan yang jauh lebih KUAT, dimana belum 
mungkin menangkan perjuangan hanya dengan emosi mimpi muluk saja dengan ajukan 
menegakkan Pemerintah Rakyat sekarang juga! Perjuangkan saja apa kiranya yang 
BISA dicapai sesuai kekuatan rakyat sekarang ini, raih dan perjuangkanlah 
sedikit saja perbaikan dan kemajuan yang mungkin dicapai lebih dahulu! Bisa 
maju sedikit saja lebih baik sudah cukup BAGUUUS, biarlah seperti bayi merayap, 
karena memang kekuatan rakyat masih belum bisa tegak melangkah berjalan!
 
 Sementara ini, yaa ikuti saja pemilu-pemilu dengan prinsip bukan memilih calon 
yang terbaik, calon-colon pilihan yang ideal sebagaimana mimpi kita sendiri, 
karena memang belum berkemampuan keluarkan calon-calon ideal itu, tetap jangan 
GOLPUT! Berikanlah suara dengan pemikian JANGAN BIARKAN calon yang TERJELEK, 
TERJAHAT itu berhasil berkuasa! Karena jelas RAKYAT banyak akan lebih menderita 
kalau yang terjelek dan terjahat itu berhasil berkuasa!
 
 Salam,
 ChanCT
 
 Jonathan Goeij 於 21/8/2018 23:41 寫道:
Mungkin sebentar lagi beredar kisah "heroik" Ma'ruf Amin memimpin memimpin 
ribuan pemuda Ansor menyerbu dan membakar markas PKI (dan membantai?) di jalan 
Kramat itu. 
  Menurut penduduk setempat gedung itu berhantu, bisa dibikin film horor 
nantinya. Menelusuri "Gedung Berhantu" yang Pernah Jadi Markas PKI
 
  
  --- ajegilelu@... wrote :
 
  Saya sederhana saja, pertanyaan soal kemungkinan 
  keterlibatan cawapres Jokowi dalam pembantaian 
  orang PKI di Jakarta (bukan pembakaran kantornya) 
  dasarnya hanyalah tendensius, yang pucuknya cuma 
  mengalihkan perhatian dari peran / keterlibatan AS 
  dalam peristiwa '65. Agak menggelikan kalau ada yang tergiring tendensius 
sehingga teralih dari peran AS itu. 
  --- jetaimemucho1@... wrote: 
    Memang masih sangat banyak sekali orang yang tidak mau mengakui bahwa 
Indonesia, sejak ORBA berkuasa, selalu dikuasai oleh orang-orang yang mewakili 
kelas tuan tanah, kapitalis birokrat dan komprador alias Oligarki yang 
merupakan kepanjangan tangan kaum imperialis. Mereka yang percaya nasib negara 
dan bangsa tergantung pada hasil pemilu tidak pernah mau belajar dari 
pengalaman sejarah dan sebenarnya secara sadar atau tidak, berpihak kepada 
kelas penguasa, dus anti-rakyat. Sekarang orang berdebat tentang individu yang 
mencalonkan dirinya sebagai presiden dan wakilnya. Mereka yang percaya pada 
sistim pemilu selalu menghimbau: pilih yang "less evil". Padahal dalam 
kenyataannya, semua calon, disamping mewakili kelas-kelas yang anti-rakyat, 
juga merupakan kriminal-kriminal. Pada pemilu 2014, pasangan Jokowi dianggap 
sebagai pasangan yang "baik", karena Jokowi seorang sipil dan "jujur" , tak 
punya sejarah yang "kotor atau keruh" dengan kejahatan, dibanding dengan 
Prabowo!! Kejahatan itu hanya dilihat dari segi pelanggaran HAM ! Tapi apakah 
megaproyek infrastruktur yang sudah dan terus merampas tanah rakyat, 
menghilangkan mata pencaharian rakyat, membuldoser rumah rakyat, pertambangan 
yang memperburuk lingkungan dan mengakibatkan penyakit bagi penduduk, penekanan 
upah rendah kaum buruh untuk mengundang para investor asing, penyerahahan 
kekayaan alam kepada pemodal asing untuk diusung ke luar negeri, semua itu 
bukan pelanggaran hak azazi rakyat Indonesia??? Apakah menggadaikan Tanah Air 
itu bukan tindakan kriminal!!!??? 
  Kemudian, Jusuf Kala.. Ada yang masih ingat film the act of killing? Lupakah 
sudah peran Jusuf Kala sebagai pemimpin Pemuda Pancasila yang juga punya peran 
penting dalam pembantaian 1965-66??? Disamping itu, dia juga pengusaha besar, 
artinya kabir dan komprador!!! 
  Sekarang berdebat soal Ma'ruf Amin, ketua Ansor. Apa lupa mengapa Gus Dur 
minta maaf kepada para korban pembantaian 65-66? Semua orang tahu tentang 
keterlibatan orang-orang Islam serta organisasi nya dalam pembantaian... begitu 
juga orang-orang kristen serta organisasinya..... 
  Salahkah kalau orang berkesimpulan bahwa Indonesia dikuasai oleh para 
kriminal!!!!!???? 
  On Tuesday, August 21, 2018 3:53 AM, Jonathan Goeij wrote:
   
  Maksudnya bung Chan mau suruh si Ma'ruf Amin minta maaf pd para korban PKI 
itu dan berusaha mencabut TAP MPRS, monggo2 bung Chan, good luck! 
  Di Indonesia itu apa yang bisa dibuktikan?  
  Si Prabowo yg ada rekomendasi TGPF sekalipun kasusnya menguap begitu saja.. 
Tidak bisa dibuktikan. Tetapi si Ahok yg cuman ngomong begitu saja sdh langsung 
terbukti kena 2 tahun langsung masuk penjara. 
  
  
   On Monday, August 20, 2018, 6:19:24 PM PDT, ChanCT wrote:
 
Kalau saja SULIT dibuktikan, dan bahkan TIDAK MUNGKIN bisa dibuktikan Ma'ruf 
Amin terlibat langsung, katakanlah ketika itu sebagai ketua ANSOR menurunkan 
PERINTAH pemuda Ansor melibatkan diri dalam aksi pembunuhan orang-orang yang 
dituduh PKI, sebenarnya kita bisa dan boleh menuntut berteladan pada sikap 
jiwa-besar dan ketulusan hati Gus Dur, sebagai ketua PBNU dan Presiden RI 
ketika itu, berani mintaa MAAF pada korban PKI dan berusaha mencabut TAP MPRS 
No.25/1966, ... Sekalipun akibat ketegasan sikap demikian Gus Dur jadi 
terjungkel.
 Sedang kesalahan fatwah MUI yg dikeluarkan, sekalipun TIDAK BISA kita setujui 
isi fatwah itu, juga sulit dijadikan bukti Ma'ruf melanggar HAM! Atau ada yang 
bisa buktikan, fatwah itu berarti menyuruh aniaya, basmi saja penganut 
Achmadiyah dan penista Agama? 
  ajeg 於 21/8/2018 2:07 寫道: 
   Ya kalau yakin seperti itu silakan gugat saja, 
  tuntut secara hukum.
  
   --- jonathangoeij@... wrote:   Sudah tentu saya tidak punya bukti, tetapi 
setidaknya ada benang merah seperti penyerbuan dan pembakaran kantor pusat PKI 
di Kramat, disini apakah hanya gedung yg jadi korban bagaimana dengan 
manusia2nya? bandingkan dengan kudatuli yg skalanya jauh lebih kecil. Apakah 
sang ketua juga tidak tahu ribuan anggotanya menyerbu dan membakar (dan mungkin 
juga membantai). Bagaimana dengan pembantaian2 yg dilakukan Ansor diberbagai 
daerah dengan pembenaran doktrin halal membunuh kafir itu, bahkan ada pimpinan 
Ansor di Blitar yang bersaksi menerima instruksi dari atas? apakah sang ketua 
juga sama sekali tidak tahu? seandainya tidak ikut memberikan instruksipun 
sukar dicerna tidak tahu sama sekali, apakah ada upaya2 mencegah atau 
membiarkan begitu saja? 
  Melihat pada masa setelah itu sebagai Ketua Komisi Fatwa ataupun Ketua MUI, 
dari berbagai produk yang di hasilkan, kita bisa melihat bagaimana pandangan 
Ma'ruf Amin thd minoritas, terhadap mereka yg dianggap kafir ataupun yg 
dianggap sesat. 
  
  --- ajegilelu@... wrote :
 
 Di setiap kasus yang terpenting adalah bukti. 
  Itulah yang yang saya bela, akal sehat. 
  Jadi, supaya terlihat sehat coba tunjukkan adanya 
  bukti pembantaian seperti yang Anda tanyakan
  (bukan serbuan dan pembakaran kantor). Sebab, 
  seperti biasa, tanpa bukti pun AS biasa menghasut. 
  Contoh gampangnya WMD di Irak. Betul-betul 
  sakit.
  
  --- jonathangoeij@... wrote: 
   Bagus juga kalau anda se-kali2 membela Jokowi, tetapi dalam hal ini 
kelihatannya anda membela Ma'ruf Amin. Saya hanya menanyakan adanya kemungkinan 
keterlibatan Ma'ruf Amin dalam pembantaian 1965, uraian anda bukan merupakan 
bantahan tetapi lebih tepat melemparkan kesalahan dan tanggung jawab dan 
seperti biasa ke Amerika Serikat. AS terlibat tentu tidak perlu dibantah lagi 
bahkan dengan jelas tercantum dalam dokumen2 rahasia yang diungkapkan itu. 
  Victor M Fic dalam buku "Kudeta 1 Oktober 1965: sebuah studi tentang 
konspirasi" mencatat ribuan Pemuda Ansor menyerbu dan memba kar habis kantor 
PKI dijalan Kramat. 
  Pada Tribunal seorang Chudlori seorang pimpinan Ansor di Blitar mengungkapkan 
adanya instruksi dari atas, sayang saya tidak menemukan siapa yang memberi 
instruksi itu. Sedang waktu itu Ma'ruf Amin adalah Ketua Ansor, apakah sebagai 
ketua beliau tidak tahu apa2 yang dilakukan anak buahnya? agak sukar dicerna. 
  Menurut Wikipedia buku2 yang mencatat pembantaian PKI dibakar: 
  kutipan: Pembantaian ini telah banyak dihilangkan dari buku pelajaran sejarah 
Indonesia. Dalam buku pelajaran sejarah, disebutkan bahwa pembantaian ini ad 
alah "kampanye patriotik" yang menghasilkan kurang dari 80.000 korban jiwa. 
Pada tahun 2004, buku-buku pelajaran diubah dan mencantumkan kejadian tersebut, 
tetapi kurikulum baru ini ditinggalkan pada tahun 2006 karena adanya protes 
dari kelompok militer dan Islam.[49] Buku-buku pelajaran yang menyebutkan 
pembunuhan massal itu kemudian dibakar,[49]atas perintah Jaksa Agung.[83]  
    --- ajegilelu@... wrote :    
   Sesekali belain Jokowi.    
  Menurut Anda, apa yang mendasari pertanyaan itu? Apa hanya  karena seseorang 
adalah anggota sebuah organisasi lantas dia harus  ikut menanggung dosa 
organisasinya? Alias main gebyah uyah  seperti imperialis AS memberi label 
'komunis' pada pihak yang  dimusuhinya maupun menjerit "crusade" demi 
menyamaratakan  teroris dengan Islam, padahal AS sendirilah yang membentuk,  
melatih, dan mempersenjatai kaum teroris.


  

Kirim email ke