Memang masih sangat banyak sekali orang yang tidak mau mengakui bahwa
Indonesia, sejak ORBA berkuasa, selalu dikuasai oleh orang-orang yang mewakili
kelas tuan tanah, kapitalis birokrat dan komprador alias Oligarki yang
merupakan kepanjangan tangan kaum imperialis. Mereka yang percaya nasib negara
dan bangsa tergantung pada hasil pemilu tidak pernah mau belajar dari
pengalaman sejarah dan sebenarnya secara sadar atau tidak, berpihak kepada
kelas penguasa, dus anti-rakyat.Sekarang orang berdebat tentang individu yang
mencalonkan dirinya sebagai presiden dan wakilnya. Mereka yang percaya pada
sistim pemilu selalu menghimbau: pilih yang "less evil". Padahal dalam
kenyataannya, semua calon, disamping mewakili kelas-kelas yang anti-rakyat,
juga merupakan kriminal-kriminal. Pada pemilu 2014, pasangan Jokowi dianggap
sebagai pasangan yang "baik", karena Jokowi seorang sipil dan "jujur" , tak
punya sejarah yang "kotor atau keruh" dengan kejahatan, dibanding dengan
Prabowo!! Kejahatan itu hanya dilihat dari segi pelanggaran HAM ! Tapi apakah
megaproyek infrastruktur yang sudah dan terus merampas tanah rakyat,
menghilangkan mata pencaharian rakyat, membuldoser rumah rakyat, pertambangan
yang memperburuk lingkungan dan mengakibatkan penyakit bagi penduduk, penekanan
upah rendah kaum buruh untuk mengundang para investor asing, penyerahahan
kekayaan alam kepada pemodal asing untuk diusung ke luar negeri, semua itu
bukan pelanggaran hak azazi rakyat Indonesia??? Apakah menggadaikan Tanah Air
itu bukan tindakan kriminal!!!???
Kemudian, Jusuf Kala. Ada yang masih ingat film the act of killing? Lupakah
sudah peran Jusuf Kala sebagai pemimpin Pemuda Pancasila yang juga punya peran
penting dalam pembantaian 1965-66??? Disamping itu, dia juga pengusaha besar,
artinya kabir dan komprador!!!
Sekarang berdebat soal Ma'ruf Amin, ketua Ansor. Apa lupa mengapa Gus Dur minta
maaf kepada para korban pembantaian 65-66? Semua orang tahu tentang
keterlibatan orang-orang Islam serta organisasi nya dalam pembantaian... begitu
juga orang-orang kristen serta organisasinya....
Salahkah kalau orang berkesimpulan bahwa Indonesia dikuasai oleh para
kriminal!!!!!????
On Tuesday, August 21, 2018 3:53 AM, "Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Maksudnya bung Chan mau suruh si Ma'ruf Amin minta maaf pd para korban
PKI itu dan berusaha mencabut TAP MPRS, monggo2 bung Chan, good luck!
Di Indonesia itu apa yang bisa dibuktikan?
Si Prabowo yg ada rekomendasi TGPF sekalipun kasusnya menguap begitu saja.
Tidak bisa dibuktikan.Tetapi si Ahok yg cuman ngomong begitu saja sdh langsung
terbukti kena 2 tahun langsung masuk penjara.
On Monday, August 20, 2018, 6:19:24 PM PDT, ChanCT <[email protected]>
wrote:
Kalau saja SULIT dibuktikan, dan bahkan TIDAK MUNGKIN bisa dibuktikan Ma'ruf
Amin terlibat langsung, katakanlah ketika itu sebagai ketua ANSOR menurunkan
PERINTAH pemuda Ansor melibatkan diri dalam aksi pembunuhan orang-orang yang
dituduh PKI, sebenarnya kita bisa dan boleh menuntut berteladan pada sikap
jiwa-besar dan ketulusan hati Gus Dur, sebagai ketua PBNU dan Presiden RI
ketika itu, berani mintaa MAAF pada korban PKI dan berusaha mencabut TAP MPRS
No.25/1966, ... Sekalipun akibat ketegasan sikap demikian Gus Dur jadi
terjungkel. Sedang kesalahan fatwah MUI yg dikeluarkan, sekalipun TIDAK BISA
kita setujui isi fatwah itu, juga sulit dijadikan bukti Ma'ruf melanggar HAM!
Atau ada yang bisa buktikan, fatwah itu berarti menyuruh aniaya, basmi saja
penganut Achmadiyah dan penista Agama?
ajeg [email protected] [GELORA45] 於 21/8/2018 2:07 寫道:
Ya kalau yakin seperti itu silakan gugat saja,
tuntut secara hukum.
--- jonathangoeij@... wrote: Sudah tentu saya tidak punya bukti,
tetapi setidaknya ada benang merah seperti penyerbuan dan pembakaran kantor
pusat PKI di Kramat, disini apakah hanya gedung yg jadi korban bagaimana dengan
manusia2nya? bandingkan dengan kudatuli yg skalanya jauh lebih kecil. Apakah
sang ketua juga tidak tahu ribuan anggotanya menyerbu dan membakar (dan
mungkin juga membantai). Bagaimana dengan pembantaian2 yg dilakukan Ansor
diberbagai daerah dengan pembenaran doktrin halal membunuh kafir itu, bahkan
ada pimpinan Ansor di Blitar yang bersaksi menerima instruksi dari atas?
apakah sang ketua juga sama sekali tidak tahu? seandainya tidak ikut memberikan
instruksipun sukar dicerna tidak tahu sama sekali, apakah ada upaya2 mencegah
atau membiarkan begitu saja?
Melihat pada masa setelah itu sebagai Ketua Komisi Fatwa ataupun Ketua MUI,
dari berbagai produk yang di hasilkan, kita bisa melihat bagaimana pandangan
Ma'ruf Amin thd minoritas, terhadap mereka yg dianggap kafir ataupun yg
dianggap sesat.
--- ajegilelu@... wrote :
Di setiap kasus yang terpenting adalah bukti.
Itulah yang yang saya bela, akal sehat.
Jadi, supaya terlihat sehat coba tunjukkan adanya
bukti pembantaian seperti yang Anda tanyakan
(bukan serbuan dan pembakaran kantor). Sebab,
seperti biasa, tanpa bukti pun AS biasa menghasut. <
spanid="ydpb21f447yiv8281885449ydpd9cdddf7ygrps-yiv-732746090ydp845039f9yiv5019425208ydp51d7e635yui_3_15_0_2_1534782152159_1783"style="font-size:13pt;">
Contoh gampangnya WMD di Irak. Betul-betul
sakit.
--- jonathangoeij@... wrote:
Bagus juga kalau anda se-kali2 membela Jokowi, tetapi dalam hal ini
kelihatannya anda membela Ma'ruf Amin. Saya hanya menanyakan adanya
kemungkinan keterlibatan Ma'ruf Amin dalam pembantaian 1965, uraian anda
bukan merupakan bantahan tetapi lebih tepat melemparkan kesalahan dan
tanggung jawab dan seperti biasa ke Amerika Serikat. AS terlibat tentu tidak
perlu dibantah lagi bahkan dengan jelas tercantum dalam dokumen2 rahasia yang
diungkapkan itu.
Victor M Fic dalam buku "Kudeta 1 Oktober 1965: sebuah studi tentang
konspirasi" mencatat ribuan Pemuda Ansor menyerbu dan memba kar habis kantor
PKI dijalan Kramat.
Pada Tribunal seorang Chudlori seorang pimpinan Ansor di Blitar
mengungkapkan adanya instruksi dari atas, sayang saya tidak menemukan siapa
yang memberi instruksi itu. Sedang waktu itu Ma'ruf Amin adalah Ketua Ansor,
apakah sebagai ketua beliau tidak tahu apa2 yang dilakukan anak buahnya? agak
sukar dicerna.
Menurut Wikipedia buku2 yang mencatat pembantaian PKI dibakar:
kutipan: Pembantaian ini telah banyak dihilangkan dari buku pelajaran
sejarah Indonesia. Dalam buku pelajaran sejarah, disebutkan bahwa pembantaian
ini ad alah "kampanye patriotik" yang menghasilkan kurang dari 80.000 korban
jiwa. Pada tahun 2004, buku-buku pelajaran diubah dan mencantumkan kejadian
tersebut, tetapi kurikulum baru ini ditinggalkan pada tahun 2006 karena
adanya protes dari kelompok militer dan Islam.[49] Buku-buku pelajaran yang
menyebutkan pembunuhan massal itu kemudian dibakar,[49]atas perintah Jaksa
Agung.[83]
--- ajegilelu@... wrote :
Sesekali belain Jokowi.
Menurut Anda, apa yang mendasari pertanyaan itu? Apa hanya
karena seseorang adalah anggota sebuah organisasi lantas dia harus
ikut menanggung dosa organisasinya? Alias main gebyah uyah
seperti imperialis AS memberi label 'komunis' pada pihak yang
dimusuhinya maupun menjerit "crusade" demi menyamaratakan
teroris dengan Islam, padahal AS sendirilah yang membentuk,
melatih, dan mempersenjatai kaum teroris.
Dalam hal cawapres Joko Widodo ini, pertanyaan itu jelas kelewat
bernafsu dan tendensius. Sebab, saya belum pernah baca adanya
cerita pembantaian terhadap orang PKI di Jakarta, kota di mana sang
cawapres menjabat ketua Ansor saat peristiwa '65. Kalau ada, di mana
bisa dibaca cerita pembantaian itu? Siapa tahu bisa dijadikan bukti
keterlibatan cawapres.
Kalau pun Ansor / NU terlibat, seperti juga segelintir AD, itu kan
tidak lain karena menelan hasutan yang skenarionya ditulis Amerika
Serikat. Dokumen-dokumen rahasia AS sendiri mengungkap bahwa
kapitalisme AS terlibat aktif (melibatkan diri) dalam peristiwa '65.
Tentu, terlibat sejak dari perencanaan hingga operasional. Sejak perencanaan
pembunuhan presidennya sendiri (Kennedy) hingga operasi jua lan senjata
di Vietnam (Gestok cuma "infrastruktur" pasar senjata di Vietnam).
Jangan remehkan kemampuan imperialis AS dalam mengarang skenario,
karena sudah banyak cerita yang membuat orang mainkan perannya dalam
lakon karangan AS. Bukan mustahil termasuk skenario kematian Giovani
Battista disusul tewasnya Albino Luciani yang segera digantikan Karol
Wojtyla, sebagai sang penyemangat buruh galangan kapal Gdanks mengawali
penenggelaman komunisme.
On Monday, August 20, 2018, 2:18:19 AM GMT+7, Noroyono 1963 wrote:
Dear Sdr Jonathan,
Saya rasa pertanyaan (atau mungkin lebih tepat disebut bahan pemikiran) yg
Anda gulirkan bukanlah tanpa dasar. Dengan segala kerendahan hati harus saya
berikan, sekali lagi, komplimen kepada Anda atas kejelian dalam mel ihat suatu
peristiwa politik.
Pertanyaan Anda itu telah menggelitik benak saya untuk mencoba menelusuri
curicullum vitae Ma'ruf A min lewat, antara lain, Wikipedia. Menurut
Wikipedia, sebagaimana Anda kutip, pada periode pembantaian manusia tahun 1965
-- yg notabene belum pernah ada presedennya dalam sejarah Indonesia -- Ma'ruf
Amin menjabat orang nomor wahid dalam berbagai organisasi, yg menurut berbagai
kalangan terlibat dalam pembantaian tsb (atau minimal mengiyakannya).
Sebagai seorang yg mengakui kebenaran pesan "kasihilah sesamamu manusia
seperti dirimu sendiri"*), saya berpendapat tidaklah pantas seorang yg,
minimal, mengiyakan pembantaian manusia tahun 1965 menduduki kursi Orang Nomor
2 di negeri ini. Negeri dimana saya dan Anda dilah irkan dan sama-sama kita
cintai. [*) Lukas 10: 27]
Salam, Noroyono 19/08/2018
Op zondag 19 augustus 19:47 2018 schreef jonathangoeij@... het
volgende:
Apakah ada kemungkinan Ma'ruf Amin terlibat dalam pembantaian 1965?
kutipan:
- Ketua Ansor, Jakarta (1964-1966)
- Ketua Front Pemuda (1964-1967)
- Ketua NU, Jakarta (1966-1970)
-
_
| | 不含病毒。www.avg.com |
#yiv2546087977 #yiv2546087977 -- #yiv2546087977ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv2546087977
#yiv2546087977ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv2546087977
#yiv2546087977ygrp-mkp #yiv2546087977hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-mkp #yiv2546087977ads
{margin-bottom:10px;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-mkp ..yiv2546087977ad
{padding:0 0;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-mkp .yiv2546087977ad p
{margin:0;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-mkp .yiv2546087977ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-sponsor
#yiv2546087977ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2546087977
#yiv2546087977ygrp-sponsor #yiv2546087977ygrp-lc #yiv2546087977hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2546087977
#yiv2546087977ygrp-sponsor #yiv2546087977ygrp-lc .yiv2546087977ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2546087977 #yiv2546087977actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2546087977
#yiv2546087977activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2546087977
#yiv2546087977activity span {font-weight:700;}#yiv2546087977
#yiv2546087977activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv2546087977 #yiv2546087977activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2546087977 #yiv2546087977activity span
span {color:#ff7900;}#yiv2546087977 #yiv2546087977activity span
.yiv2546087977underline {text-decoration:underline;}#yiv2546087977
.yiv2546087977attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv2546087977 .yiv2546087977attach div a
{text-decoration:none;}#yiv2546087977 .yiv2546087977attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2546087977 .yiv2546087977attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2546087977 .yiv2546087977attach label a
{text-decoration:none;}#yiv2546087977 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv2546087977 .yiv2546087977bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2546087977
.yiv2546087977bold a {text-decoration:none;}#yiv2546087977 dd.yiv2546087977last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2546087977 dd.yiv2546087977last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2546087977
dd.yiv2546087977last p span.yiv2546087977yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv2546087977 div.yiv2546087977attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv2546087977 div.yiv2546087977attach-table
{width:400px;}#yiv2546087977 div.yiv2546087977file-title a, #yiv2546087977
div.yiv2546087977file-title a:active, #yiv2546087977
div.yiv2546087977file-title a:hover, #yiv2546087977 div.yiv2546087977file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2546087977 div.yiv2546087977photo-title a,
#yiv2546087977 div.yiv2546087977photo-title a:active, #yiv2546087977
div.yiv2546087977photo-title a:hover, #yiv2546087977
div.yiv2546087977photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2546087977
div#yiv2546087977ygrp-mlmsg #yiv2546087977ygrp-msg p a
span.yiv2546087977yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2546087977
.yiv2546087977green {color:#628c2a;}#yiv2546087977 .yiv2546087977MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv2546087977 o {font-size:0;}#yiv2546087977
#yiv2546087977photos div {float:left;width:72px;}#yiv2546087977
#yiv2546087977photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2546087977
#yiv2546087977photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2546087977
#yiv2546087977reco-category {font-size:77%;}#yiv2546087977
#yiv2546087977reco-desc {font-size:77%;}#yiv2546087977 .yiv2546087977replbq
{margin:4px;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2546087977
#yiv2546087977ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2546087977
#yiv2546087977ygrp-mlmsg select, #yiv2546087977 input, #yiv2546087977 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2546087977
#yiv2546087977ygrp-mlmsg pre, #yiv2546087977 code {font:115%
monospace;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-mlmsg #yiv2546087977logo
{padding-bottom:10px;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-msg
p#yiv2546087977attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2546087977
#yiv2546087977ygrp-reco #yiv2546087977reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-sponsor
#yiv2546087977ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2546087977
#yiv2546087977ygrp-sponsor #yiv2546087977ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2546087977
#yiv2546087977ygrp-sponsor #yiv2546087977ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv2546087977 #yiv2546087977ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2546087977
#yiv2546087977ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv2546087977