Saya tidak tahu seberapa jauh pembantaian terjadi di Jakarta. Yang jelas ada
penangkapan besar-besaran Lantas apa yang terjadi pada mereka yang ditangkap
itu? apakah diantaranya tidak ada yang "dibon" alias dibunuh? Ini masalah
pertama. Kedua, masalah keterlibatan organisasi Islam seperti NU dan Ansor,
dalam pembantaian, sudah diketahui umum dan tak terbantahkan. Maka itu Gus Dur
minta maaf. Saya tidak terlalu mempersoalkan apakah Ma'ruf amin terlibat
langsung dalam pembantaian. Seandainya dia tidak terlibat pun, saya anggap
dosanya terhadap kaum minoritas seharusnya, tidak mengijinkannya menjadi calon
wkpres. Tapi, karena negara ini memang dipimpin oleh para kriminal, maka
kriminal macam apapun bisa dipilih dan menjadi penguasa. Ketiga, masalah
keterlibatan AS juga jelas, tapi bukan dalam arti langsung ikut membunuh atau
membantai dengan parang, machete atau pisau atau senjata lainnya. Mereka
menyediakan syarat-syarat untuk melakukan pembantaian. Soal bukti, selama
pemerintahan bersifat anti-rakyat seperti sekarang ini, bukti satu gunungpun
tidak akan ada artinya. Dari dulu saya berpendapat perjuangan untuk membela
para korban pembantaian, usaha merehabilitasi, dsb, HARUS diintegrasikan dengan
perjuangan rakyat aktuil, artinya perjuangan kaum buruh, tani, mahasiswa,
perempuan, pemuda, kaum miskin kota dan semua sektor kelas pekerja lainnya.
Karena hanya dengan perubahan mendasar, rehabilitasi dan keadilan para korban
pembantaian dapat dicapai.
On Tuesday, August 21, 2018 5:18 PM, "ajeg [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Saya sederhana saja, pertanyaan soal kemungkinan
keterlibatan cawapres Jokowi dalam pembantaian
orang PKI di Jakarta (bukan pembakaran kantornya)
dasarnya hanyalah tendensius, yang pucuknya cuma
mengalihkan perhatian dari peran / keterlibatan AS
dalam peristiwa '65. Agak menggelikan kalau ada yangtergiring tendensius
sehingga teralih dari peran AS itu.
--- jetaimemucho1@... wrote:
Memang masih sangat banyak sekali orang yang tidak mau mengakui bahwa
Indonesia, sejak ORBA berkuasa, selalu dikuasai oleh orang-orang yang mewakili
kelas tuan tanah, kapitalis birokrat dan komprador alias Oligarki yang
merupakan kepanjangan tangan kaum imperialis. Mereka yang percaya nasib negara
dan bangsa tergantung pada hasil pemilu tidak pernah mau belajar dari
pengalaman sejarah dan sebenarnya secara sadar atau tidak, berpihak kepada
kelas penguasa, dus anti-rakyat.Sekarang orang berdebat tentang individu yang
mencalonkan dirinya sebagai presiden dan wakilnya. Mereka yang percaya pada
sistim pemilu selalu menghimbau: pilih yang "less evil". Padahal dalam
kenyataannya, semua calon, disamping mewakili kelas-kelas yang anti-rakyat,
juga merupakan kriminal-kriminal. Pada pemilu 2014, pasangan Jokowi dianggap
sebagai pasangan yang "baik", karena Jokowi seorang sipil dan "jujur" , tak
punya sejarah yang "kotor atau keruh" dengan kejahatan, dibanding dengan
Prabowo!! Kejahatan itu hanya dilihat dari segi pelanggaran HAM ! Tapi apakah
megaproyek infrastruktur yang sudah dan terus merampas tanah rakyat,
menghilangkan mata pencaharian rakyat, membuldoser rumah rakyat, pertambangan
yang memperburuk lingkungan dan mengakibatkan penyakit bagi penduduk, penekanan
upah rendah kaum buruh untuk mengundang para investor asing, penyerahahan
kekayaan alam kepada pemodal asing untuk diusung ke luar negeri, semua itu
bukan pelanggaran hak azazi rakyat Indonesia??? Apakah menggadaikan Tanah Air
itu bukan tindakan kriminal!!!???
Kemudian, Jusuf Kala.. Ada yang masih ingat film the act of killing? Lupakah
sudah peran Jusuf Kala sebagai pemimpin Pemuda Pancasila yang juga punya peran
penting dalam pembantaian 1965-66??? Disamping itu, dia juga pengusaha besar,
artinya kabir dan komprador!!!
Sekarang berdebat soal Ma'ruf Amin, ketua Ansor. Apa lupa mengapa Gus Dur minta
maaf kepada para korban pembantaian 65-66? Semua orang tahu tentang
keterlibatan orang-orang Islam serta organisasi nya dalam pembantaian... begitu
juga orang-orang kristen serta organisasinya....
Salahkah kalau orang berkesimpulan bahwa Indonesia dikuasai oleh para
kriminal!!!!!????
On Tuesday, August 21, 2018 3:53 AM, Jonathan Goeij wrote:
Maksudnya bung Chan mau suruh si Ma'ruf Amin minta maaf pd para korban PKI itu
dan berusaha mencabut TAP MPRS, monggo2 bung Chan, good luck!
Di Indonesia itu apa yang bisa dibuktikan?
Si Prabowo yg ada rekomendasi TGPF sekalipun kasusnya menguap begitu saja.
Tidak bisa dibuktikan.Tetapi si Ahok yg cuman ngomong begitu saja sdh langsung
terbukti kena 2 tahun langsung masuk penjara.
On Monday, August 20, 2018, 6:19:24 PM PDT, ChanCT wrote:Kalau saja SULIT
dibuktikan, dan bahkan TIDAK MUNGKIN bisa dibuktikan Ma'ruf Amin terlibat
langsung, katakanlah ketika itu sebagai ketua ANSOR menurunkan PERINTAH pemuda
Ansor melibatkan diri dalam aksi pembunuhan orang-orang yang dituduh PKI,
sebenarnya kita bisa dan boleh menuntut berteladan pada sikap jiwa-besar dan
ketulusan hati Gus Dur, sebagai ketua PBNU dan Presiden RI ketika itu, berani
mintaa MAAF pada korban PKI dan berusaha mencabut TAP MPRS No.25/1966, ...
Sekalipun akibat ketegasan sikap demikian Gus Dur jadi terjungkel. Sedang
kesalahan fatwah MUI yg dikeluarkan, sekalipun TIDAK BISA kita setujui isi
fatwah itu, juga sulit dijadikan bukti Ma'ruf melanggar HAM! Atau ada yang bisa
buktikan, fatwah itu berarti menyuruh aniaya, basmi saja penganut Achmadiyah
dan penista Agama?
ajeg 於 21/8/2018 2:07 寫道:
Ya kalau yakin seperti itu silakan gugat saja,
tuntut secara hukum.
--- jonathangoeij@... wrote: Sudah tentu saya tidak punya bukti, tetapi
setidaknya ada benang merah seperti penyerbuan dan pembakaran kantor pusat PKI
di Kramat, disini apakah hanya gedung yg jadi korban bagaimana dengan
manusia2nya? bandingkan dengan kudatuli yg skalanya jauh lebih kecil. Apakah
sang ketua juga tidak tahu ribuan anggotanya menyerbu dan membakar (dan
mungkin juga membantai). Bagaimana dengan pembantaian2 yg dilakukan Ansor
diberbagai daerah dengan pembenaran doktrin halal membunuh kafir itu, bahkan
ada pimpinan Ansor di Blitar yang bersaksi menerima instruksi dari atas?
apakah sang ketua juga sama sekali tidak tahu? seandainya tidak ikut memberikan
instruksipun sukar dicerna tidak tahu sama sekali, apakah ada upaya2 mencegah
atau membiarkan begitu saja?
Melihat pada masa setelah itu sebagai Ketua Komisi Fatwa ataupun Ketua MUI,
dari berbagai produk yang di hasilkan, kita bisa melihat bagaimana pandangan
Ma'ruf Amin thd minoritas, terhadap mereka yg dianggap kafir ataupun yg
dianggap sesat.
--- ajegilelu@... wrote :
Di setiap kasus yang terpenting adalah bukti.
Itulah yang yang saya bela, akal sehat.
Jadi, supaya terlihat sehat coba tunjukkan adanya
bukti pembantaian seperti yang Anda tanyakan
(bukan serbuan dan pembakaran kantor). Sebab,
seperti biasa, tanpa bukti pun AS biasa menghasut.
Contoh gampangnya WMD di Irak. Betul-betul
sakit.
--- jonathangoeij@... wrote:
Bagus juga kalau anda se-kali2 membela Jokowi, tetapi dalam hal ini
kelihatannya anda membela Ma'ruf Amin. Saya hanya menanyakan adanya
kemungkinan keterlibatan Ma'ruf Amin dalam pembantaian 1965, uraian anda
bukan merupakan bantahan tetapi lebih tepat melemparkan kesalahan dan
tanggung jawab dan seperti biasa ke Amerika Serikat. AS terlibat tentu tidak
perlu dibantah lagi bahkan dengan jelas tercantum dalam dokumen2 rahasia yang
diungkapkan itu.
Victor M Fic dalam buku "Kudeta 1 Oktober 1965: sebuah studi tentang
konspirasi" mencatat ribuan Pemuda Ansor menyerbu dan memba kar habis kantor
PKI dijalan Kramat.
Pada Tribunal seorang Chudlori seorang pimpinan Ansor di Blitar
mengungkapkan adanya instruksi dari atas, sayang saya tidak menemukan siapa
yang memberi instruksi itu. Sedang waktu itu Ma'ruf Amin adalah Ketua Ansor,
apakah sebagai ketua beliau tidak tahu apa2 yang dilakukan anak buahnya? agak
sukar dicerna.
Menurut Wikipedia buku2 yang mencatat pembantaian PKI dibakar:
kutipan: Pembantaian ini telah banyak dihilangkan dari buku pelajaran
sejarah Indonesia. Dalam buku pelajaran sejarah, disebutkan bahwa pembantaian
ini ad alah "kampanye patriotik" yang menghasilkan kurang dari 80.000 korban
jiwa. Pada tahun 2004, buku-buku pelajaran diubah dan mencantumkan kejadian
tersebut, tetapi kurikulum baru ini ditinggalkan pada tahun 2006 karena
adanya protes dari kelompok militer dan Islam.[49] Buku-buku pelajaran yang
menyebutkan pembunuhan massal itu kemudian dibakar,[49]atas perintah Jaksa
Agung.[83]
--- ajegilelu@... wrote :
Sesekali belain Jokowi.
Menurut Anda, apa yang mendasari pertanyaan itu? Apa hanya karena seseorang
adalah anggota sebuah organisasi lantas dia harus ikut menanggung dosa
organisasinya? Alias main gebyah uyah seperti imperialis AS memberi label
'komunis' pada pihak yang dimusuhinya maupun menjerit "crusade" demi
menyamaratakan teroris dengan Islam, padahal AS sendirilah yang membentuk,
melatih, dan mempersenjatai kaum teroris.
Dalam hal cawapres Joko Widodo ini, pertanyaan itu jelas kelewat bernafsu dan
tendensius. Sebab, saya belum pernah baca adanya cerita pembantaian terhadap
orang PKI di Jakarta, kota di mana sang cawapres menjabat ketua Ansor saat
peristiwa '65. Kalau ada, di mana bisa dibaca cerita pembantaian itu? Siapa
tahu bisa dijadikan bukti keterlibatan cawapres.
Kalau pun Ansor / NU terlibat, seperti juga segelintir AD, itu kan tidak lain
karena menelan hasutan yang skenarionya ditulis Amerika Serikat.
Dokumen-dokumen rahasia AS sendiri mengungkap bahwa kapitalisme AS terlibat
aktif (melibatkan diri) dalam peristiwa '65. Tentu, terlibat sejak dari
perencanaan hingga operasional. Sejak perencanaan pembunuhan presidennya
sendiri (Kennedy) hingga operasi jualan senjata di Vietnam (Gestok cuma
"infrastruktur" pasar senjata di Vietnam).
Jangan remehkan kemampuan imperialis AS dalam mengarang skenario, karena sudah
banyak cerita yang membuat orang mainkan perannya dalam
lakon karangan AS. Bukan mustahil termasuk skenario kematian Giovani Battista
disusul tewasnya Albino Luciani yang segera digantikan Karol Wojtyla, sebagai
sang penyemangat buruh galangan kapal Gdanks mengawalipenenggelaman komunisme.
On Monday, August 20, 2018, 2:18:19 AM GMT+7, Noroyono 1963 wrote:
Dear Sdr Jonathan,
Saya rasa pertanyaan (atau mungkin lebih tepat disebut bahan pemikiran) yg
Anda gulirkan bukanlah tanpa dasar. Dengan segala kerendahan hati harus saya
berikan, sekali lagi, komplimen kepada Anda atas kejelian dalam mel ihat suatu
peristiwa politik.
Pertanyaan Anda itu telah menggelitik benak saya untuk mencoba menelusuri
curicullum vitae Ma'ruf A min lewat, antara lain, Wikipedia. Menurut
Wikipedia, sebagaimana Anda kutip, pada periode pembantaian manusia tahun 1965
-- yg notabene belum pernah ada presedennya dalam sejarah Indonesia -- Ma'ruf
Amin menjabat orang nomor wahid dalam berbagai organisasi, yg menurut berbagai
kalangan terlibat dalam pembantaian tsb (atau minimal mengiyakannya).
Sebagai seorang yg mengakui kebenaran pesan "kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri"*), saya berpendapat tidaklah pantas seorang yg, minimal,
mengiyakan pembantaian manusia tahun 1965 menduduki kursi Orang Nomor 2 di
negeri ini. Negeri dimana saya dan Anda dilah irkan dan sama-sama kita cintai.
[*) Lukas 10: 27]
Salam, Noroyono 19/08/2018
Op zondag 19 augustus 19:47 2018 schreef jonathangoeij@... het
volgende:
Apakah ada kemungkinan Ma'ruf Amin terlibat dalam pembantaian 1965?
kutipan:
- Ketua Ansor, Jakarta (1964-1966)
- Ketua Front Pemuda (1964-1967)
- Ketua NU, Jakarta (1966-1970)
#yiv8512624165 #yiv8512624165 -- #yiv8512624165ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv8512624165
#yiv8512624165ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv8512624165
#yiv8512624165ygrp-mkp #yiv8512624165hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-mkp #yiv8512624165ads
{margin-bottom:10px;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-mkp .yiv8512624165ad
{padding:0 0;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-mkp .yiv8512624165ad p
{margin:0;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-mkp .yiv8512624165ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-sponsor
#yiv8512624165ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv8512624165
#yiv8512624165ygrp-sponsor #yiv8512624165ygrp-lc #yiv8512624165hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv8512624165
#yiv8512624165ygrp-sponsor #yiv8512624165ygrp-lc .yiv8512624165ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv8512624165 #yiv8512624165actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv8512624165
#yiv8512624165activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv8512624165
#yiv8512624165activity span {font-weight:700;}#yiv8512624165
#yiv8512624165activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv8512624165 #yiv8512624165activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv8512624165 #yiv8512624165activity span
span {color:#ff7900;}#yiv8512624165 #yiv8512624165activity span
.yiv8512624165underline {text-decoration:underline;}#yiv8512624165
.yiv8512624165attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv8512624165 .yiv8512624165attach div a
{text-decoration:none;}#yiv8512624165 .yiv8512624165attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv8512624165 .yiv8512624165attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv8512624165 .yiv8512624165attach label a
{text-decoration:none;}#yiv8512624165 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv8512624165 .yiv8512624165bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv8512624165
.yiv8512624165bold a {text-decoration:none;}#yiv8512624165 dd.yiv8512624165last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8512624165 dd.yiv8512624165last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8512624165
dd.yiv8512624165last p span.yiv8512624165yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv8512624165 div.yiv8512624165attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv8512624165 div.yiv8512624165attach-table
{width:400px;}#yiv8512624165 div.yiv8512624165file-title a, #yiv8512624165
div.yiv8512624165file-title a:active, #yiv8512624165
div.yiv8512624165file-title a:hover, #yiv8512624165 div.yiv8512624165file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv8512624165 div.yiv8512624165photo-title a,
#yiv8512624165 div.yiv8512624165photo-title a:active, #yiv8512624165
div.yiv8512624165photo-title a:hover, #yiv8512624165
div.yiv8512624165photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv8512624165
div#yiv8512624165ygrp-mlmsg #yiv8512624165ygrp-msg p a
span.yiv8512624165yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv8512624165
.yiv8512624165green {color:#628c2a;}#yiv8512624165 .yiv8512624165MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv8512624165 o {font-size:0;}#yiv8512624165
#yiv8512624165photos div {float:left;width:72px;}#yiv8512624165
#yiv8512624165photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv8512624165
#yiv8512624165photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv8512624165
#yiv8512624165reco-category {font-size:77%;}#yiv8512624165
#yiv8512624165reco-desc {font-size:77%;}#yiv8512624165 .yiv8512624165replbq
{margin:4px;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8512624165
#yiv8512624165ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv8512624165
#yiv8512624165ygrp-mlmsg select, #yiv8512624165 input, #yiv8512624165 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8512624165
#yiv8512624165ygrp-mlmsg pre, #yiv8512624165 code {font:115%
monospace;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-mlmsg #yiv8512624165logo
{padding-bottom:10px;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-msg
p#yiv8512624165attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv8512624165
#yiv8512624165ygrp-reco #yiv8512624165reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-sponsor
#yiv8512624165ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv8512624165
#yiv8512624165ygrp-sponsor #yiv8512624165ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv8512624165
#yiv8512624165ygrp-sponsor #yiv8512624165ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv8512624165 #yiv8512624165ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv8512624165
#yiv8512624165ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv8512624165