Kalau begitu saran saya sebaiknya bung Chan langsung saja mengkampanyekan 
coblos Jokowi-Ma'ruf tidak perlu pakai kata2 bersayap mencegah orang jahat 
berkuasa, bagi saya sih kedua pasangan baik Jokowi-Ma'ruf ataupun Prabowo-Sandi 
sama2 tidak layak untuk dipilih. 
Dari jaman dahulu kala Ma'ruf Amin dan kelompoknya ingin menegakkan syariah 
walaupun disamarkan dengan "ayat suci lebih tinggi dari konstitusi" dan tidak 
segan2 memanfaatkan kelemahan UU bahkan membuat preseden fatwa penista agama yg 
kemudian jadi bukti seseorang menista agama, preseden yang terus berlaku sampai 
sekarang bahkan seseorang yang mengeluhkan suara speaker masjid yang terlalu 
keras saja langsung dipidana 1.5 tahun, dan ini terjadi pada masa pemerintahan 
Jokowi. 
Terus terang saya kok meragukan seandainya si Ma'ruf berulah bikin fatwa yang 
merugikan minoritas kemudian Jokowi berani menentang, apa masih tidak ingat 
waktu Jokowi agama dan politik  dipisahkan kemudian si Ma'ruf bilang agama dan 
politik tidak bisa dipisah eh ternyata yang balik kucing si Jokowi.
Siapa yang lebih berkuasa presiden atau wakil presiden? Yang jelas presiden 
tidak bisa memecat wakil presiden; sedangkan kalau presiden di makzulkan ya 
wakil presiden yang jadi presiden.

   On Wednesday, August 22, 2018, 5:11:42 PM PDT, ChanCT <[email protected]> 
wrote:  
 
  
Oouh, kalau begitu bung Goei perlu membaca ulang tulisan saya "Jangan GOLPUT!" 
( http://gelora45.com/news2/ChanCT_JanganGOLPUT.pdf ), kiranya sudah cukup 
TGEAS! Kalau saja masih juga merasa kurang TEGAS, ... mudah saja kok, dilihat 
saja yang lebih menentukan dan berkuasa dinegeri ini siapa? PRESIDEN atau 
Wapres nya? Lalu, bandingkan saja mana lebih jelek dan jahat, ... dan, dalam 
penglihatan saya, bagaimanapun juga PRABOWO masih lebih JELEK dan JAHAT 
ketimbang Jokowi! Jadi, suka atau tidak coblos saja dengan prinsip jangan 
biarkan PRABOWO yang lebih jelek, lebih jahat itu berkuasa! RAKYAT BANYAK akan 
lebih CELAKA dan MENDERITA kalau jenderal Prabowo berhasil berkuasa!
 
Sementara tidak ada jalan alternatif lain, karena betul kata bung Ajeg, 
sekarang ini GOLPUT tidak di perhitungan, TIDAK DIANGGAP dalm pemilu! Jadi, 
sekalipun GOLPUT berhasil mencapai 51%, tidak merubah keadaan! Sedang dari 
kekuatan rakyat, sampai sekarang pun belum berkemampuan menampilkan 
CAPRES-CAWAPRES nya sendiri yang dianggap ideal itu!
 
Namun demikian, saya TETAP berpendapat MAJUUU lah sekalipun dirasakan kurang 
ideal dan memuaskan yang bisa dicapai saat ini! Pragmatis saja, meraih apa 
kiranya yang bisa dicapai sesuai kemampuan kekuatan rakyat sekarang ini. Kalau 
saja sekarang baru bisa maju merayap, yaa ikuti saja dahulu, JANGAN dan TIDAK 
bisa memaksakan diri untuk berdiri maju melangkah, ... bisa terjungkel bahkan 
hancur lebur sendiri!
 

 
 
 Jonathan Goeij 於 22/8/2018 22:39 寫道:
  
 
 Bung Chan mbok ya tegas begitu lho bilang saja mau menyuruh pilih siapa? 
  Bagi kelompok milenial yang berusia antara 17-30 th (sekitar 70 juta pemilih) 
yang artinya waktu th 97-98 antara belum lahir atau terlalu kecil untuk 
mengetahui keadaan tentu tidak punya kesan jelek/jahat tentang Prabowo yang 
hanya sayup2 terdengar dari berbagai dongeng tetapi tidak dibuku sejarah, 
sedang Ma'ruf Amin tentu terasa sekali saat ini baik sebagai mastermind 212 
ataupun orang mengeluarkan fatwa penista agama bahkan kesaksiannya terkesan 
sekali bigotri-nya belum lagi berbagai fatwa sesat yg menyebabkan tindakan main 
hakim sendiri pembakaran rumah2 ibadah pengusiran bahkan pembunuhan kelompok 
minoritas. Itukah yang anda maksud dengan yang terjelek dan terjahat itu? 
  kutipan: Sementara ini, yaa ikuti saja pemilu-pemilu dengan prinsip bukan 
memilih calon yang terbaik, calon-colon pilihan yang ideal sebagaimana mimpi  
kita sendiri, karena memang belum berkemampuan keluarkan calon-calon ideal itu, 
tetap jangan GOLPUT! Berikanlah suara dengan pemikian JANGAN BIARKAN calon yang 
TERJELEK, TERJAHAT itu berhasil berkuasa! Karena jelas RAKYAT banyak akan lebih 
menderita kalau yang terjelek dan terjahat itu  berhasil berkuasa!
  
     On Tuesday, August 21, 2018, 7:03:44 PM PDT, ChanCT <[email protected]> 
wrote:  
  
     
Nampaknya kita jadi TERBELOK untuk mengungkit masalah-masalah lebih kecil 
dengan memperluas sasaran dan dengan kata lain bisa MELEPASKAN masalah POKOK 
dan UTAMA yang sampai sekarang BELUM juga terselesaikan!
 
Sekalipun tidak mesti kita harus menyetujui sepenuhnya, jalan pemikiran Gus Dur 
ada benarnya dan patut menjadi perhatian kita, "Saya tidak menyalahkan 
kiai-kiai NU yang mengambil sikap keras pada PKI. Baik NU maupun PKI sama-sama 
korban keadaan. Membunuh atau dibunuh yang terjadi. Masalahnya pak Harto, 
menimpakan seluruh kesalahan pada PKI, dan seolah-olah tentara bersih." 
https://chirpstory.com/li/369727 
 
 Masalah utamanya ada pada jenderal Soeharto! Jangan sampai kita teralih 
kembali baku hantam apalagi saling bunuh-membunuh, berbalas dendam lagi! Hanya 
karena saat itu, ditahun-tahun  1965 itu ketua Ansor, ketua Pemuda Panca Sila 
ataupun pelaku-pelaku yang tangannya bverlumuran darah pembunuhan kejam 
terhadap orang-orang yang dituduh PKI, ...! Itu berarti memperluas sasaran dan 
bisa menenggelamkan masalah UTAMA yang kenyataan belum terselesaikan, yaitu 
jenderal Soeharto, PENANGGUNG JAWAB UTAMA kejadian culik-menculik, 
bunuh-membunuh yang terjadi tahun 1965 itu! Belum  berhasil kita mengungkap 
keterlibatan jenderal Soeharto dalam G30S, sampai dimana keterlibatan jenderal 
Soeharto dalam gerakan penculikkan/pembunuhan atas 6 jenderal disubuh 1 Oktober 
1965 itu! Belum juga kita berhasil menyeret jenderal Soeharto  kedepan 
pengadilan untuk mempertanggungjawabkan PELANGGARAN HAM-BERAT dengan perintah 
pengejaran, pembantaian, penangkapan jutaan orang yg dituduh  PKI, makar tanpa 
porses pengadilan yang sah dan adil! Inilah masalah utama, kekejaman 
kemanusiaan yang lebih dahulu harus dijernihkan dan diakui. Kejahatan NEGARA 
yang terjadi dan sampai sekarang sekalipun telah lewat 53 tahun belum juga 
berhasil dituntaskan, ...! Jangan sampai mudah terbelok dengan memperluas 
sasaran, ... yang tidak berkesudahan dan akan lebih mencelakakan BANGSA ini! 
Bukankah terhadap tokoh-tokoh, jenderal yg harus bertanggungjawab juga 
seharusnya dibatasi sampai tingkat tertentu saja, tidak semua yang terlibat dan 
pelaku harus dihajar, dihujat, ... syukurlah mereka-mereka itu bisa bertobat 
dengan  menyadari kekejaman kemanusiaan yang dilakukan begitu kasus KEJAHATAN 
NEGARA yang pernah terjadi ditahun 1965 itu dijernihkan dan diselesaikan!
 
 Ketua Mao sejak masa perjuangan di Yan An juga begitu, memusatkan 
TANGGUNGJAWAB pada seorang dua-orang pejabat/jenderal saja yang dijatuhi 
hukuman berat, kalau perlu ditembak mati! Sedang terhadap kader, perwira 
Kuomintang yang hanya pelaksana "PERINTAH" diberi pengampunan! Bahkan saat 
Perang melawan Jepang, terhadap tawanan perang Jepang pun, Pasukan Tentara 
Merah nya Ketua Mao, dengan berani menggabungkan/melibatkan tawan-tawan Jepang 
dalam barisan pasukan rakyat untuk melawan tentara Jepang! Sungguh luar biasa 
keberanian Ketua Mao memberi kemurahan hati pada MUSUH-MUSUH nya, menyatukan 
front seluas mungkin untuk MENGALAHKAN  MUSUH yang jauh lebih besar dan kuat 
itu! Dan itulah salah satu SEBAB ketua Mao berhasil mengalahkan Kuomintang dan 
agresi militerisme Jepang yang jauh lebih kuat!
 
 Itu pula yang selalu saya bilang, kita harus pandai-pandai melihat kekuatan 
rakyat yang masih harus menghadapi lawan yang jauh lebih KUAT, dimana belum 
mungkin menangkan perjuangan hanya dengan emosi mimpi muluk saja dengan ajukan 
menegakkan  Pemerintah Rakyat sekarang juga! Perjuangkan saja apa kiranya yang 
BISA dicapai sesuai kekuatan rakyat sekarang ini, raih dan perjuangkanlah 
sedikit saja perbaikan dan kemajuan yang mungkin dicapai lebih dahulu! Bisa 
maju sedikit saja lebih baik sudah cukup BAGUUUS, biarlah seperti bayi merayap, 
karena memang kekuatan rakyat masih belum bisa tegak melangkah berjalan!
 
 Sementara ini, yaa ikuti saja pemilu-pemilu dengan prinsip bukan memilih calon 
yang terbaik, calon-colon pilihan yang ideal sebagaimana mimpi kita sendiri, 
karena memang belum berkemampuan keluarkan calon-calon ideal itu, tetap jangan 
GOLPUT! Berikanlah suara dengan pemikian JANGAN BIARKAN calon yang TERJELEK, 
TERJAHAT itu berhasil berkuasa! Karena jelas RAKYAT banyak akan lebih menderita 
kalau yang terjelek dan terjahat itu berhasil berkuasa!
 
 Salam,
 ChanCT
 
 
 
  Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 於 21/8/2018 23:41 寫道:
  
 
                  Mungkin sebentar lagi beredar kisah "heroik" Ma'ruf Amin 
memimpin memimpin ribuan pemuda Ansor menyerbu dan membakar  markas PKI (dan 
membantai?) di jalan Kramat itu. 
  Menurut penduduk setempat gedung itu berhantu, bisa dibikin film horor 
nantinya. Menelusuri "Gedung Berhantu" yang Pernah Jadi Markas PKI
 
  
    ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :
 
          Saya sederhana saja, pertanyaan soal kemungkinan 
  keterlibatan cawapres Jokowi dalam pembantaian 
  orang PKI di Jakarta (bukan pembakaran kantornya) 
  dasarnya hanyalah tendensius, yang pucuknya cuma 
  mengalihkan perhatian dari peran / keterlibatan AS 
  dalam peristiwa '65. Agak menggelikan kalau ada yang tergiring tendensius 
sehingga teralih dari peran AS itu. 
  --- jetaimemucho1@... wrote: 
       Memang masih sangat banyak sekali orang yang tidak mau  mengakui bahwa 
Indonesia, sejak ORBA berkuasa, selalu dikuasai oleh orang-orang  yang mewakili 
kelas tuan tanah, kapitalis birokrat dan komprador alias Oligarki yang 
merupakan kepanjangan tangan kaum imperialis.  Mereka yang percaya nasib negara 
dan bangsa tergantung pada hasil pemilu tidak pernah mau belajar dari 
pengalaman sejarah dan  sebenarnya secara sadar atau tidak, berpihak kepada 
kelas penguasa, dus anti-rakyat. Sekarang orang berdebat tentang individu yang 
mencalonkan  dirinya sebagai presiden dan wakilnya. Mereka yang percaya pada 
sistim pemilu  selalu menghimbau: pilih yang "less evil". Padahal dalam 
kenyataannya, semua calon, disamping mewakili kelas-kelas yang  anti-rakyat, 
juga merupakan kriminal-kriminal. Pada pemilu 2014, pasangan Jokowi dianggap 
sebagai pasangan yang "baik", karena Jokowi  seorang sipil dan "jujur" , tak 
punya sejarah yang "kotor atau keruh" dengan  kejahatan, dibanding dengan 
Prabowo!! Kejahatan itu  hanya dilihat dari segi pelanggaran HAM ! Tapi apakah 
megaproyek  infrastruktur yang sudah dan terus merampas tanah rakyat, 
menghilangkan mata pencaharian rakyat, membuldoser rumah rakyat,  pertambangan 
yang memperburuk lingkungan dan mengakibatkan penyakit bagi  penduduk, 
penekanan upah rendah kaum buruh untuk mengundang para investor asing, 
penyerahahan kekayaan alam kepada pemodal asing  untuk diusung ke luar negeri, 
semua itu bukan pelanggaran hak azazi rakyat Indonesia??? Apakah menggadaikan 
Tanah Air itu bukan tindakan kriminal!!!??? 
  Kemudian, Jusuf Kala.. Ada yang masih ingat film the act of killing? Lupakah 
sudah peran Jusuf Kala sebagai pemimpin Pemuda Pancasila yang juga punya peran 
penting dalam pembantaian 1965-66??? Disamping itu, dia juga  pengusaha besar, 
artinya kabir dan komprador!!! 
  Sekarang berdebat soal Ma'ruf Amin, ketua Ansor. Apa lupa mengapa Gus Dur 
minta maaf kepada para korban pembantaian 65-66? Semua orang tahu tentang 
keterlibatan orang-orang Islam serta organisasi nya dalam pembantaian... begitu 
juga  orang-orang kristen serta organisasinya..... 
  Salahkah kalau orang berkesimpulan bahwa Indonesia dikuasai oleh para 
kriminal!!!!!???? 
  On Tuesday, August 21, 2018 3:53 AM, Jonathan Goeij  wrote:
   
  Maksudnya bung Chan mau suruh si Ma'ruf Amin minta maaf pd para korban  PKI 
itu dan berusaha mencabut TAP MPRS, monggo2 bung Chan, good luck! 
  Di Indonesia itu apa yang bisa dibuktikan?  
  Si Prabowo yg ada rekomendasi TGPF sekalipun kasusnya menguap begitu saja.. 
Tidak bisa dibuktikan. Tetapi si Ahok yg cuman ngomong begitu saja sdh langsung 
 terbukti kena 2 tahun langsung masuk penjara. 
  
  
   On Monday, August 20, 2018, 6:19:24 PM PDT, ChanCT wrote:                   
Kalau saja SULIT dibuktikan, dan bahkan TIDAK  MUNGKIN bisa dibuktikan Ma'ruf 
Amin terlibat langsung, katakanlah ketika  itu sebagai ketua ANSOR menurunkan 
PERINTAH pemuda  Ansor melibatkan diri dalam aksi  pembunuhan orang-orang yang 
dituduh PKI,  sebenarnya kita bisa dan boleh menuntut  berteladan pada sikap 
jiwa-besar  dan ketulusan hati Gus Dur, sebagai ketua PBNU dan  Presiden RI 
ketika itu, berani mintaa  MAAF pada korban PKI dan berusaha mencabut TAP MPRS  
No.25/1966, ... Sekalipun akibat  ketegasan sikap demikian Gus Dur jadi 
terjungkel.
 Sedang kesalahan fatwah MUI yg  dikeluarkan, sekalipun TIDAK BISA kita setujui 
 isi fatwah itu, juga sulit dijadikan bukti Ma'ruf melanggar HAM! Atau ada yang 
 bisa buktikan, fatwah itu berarti menyuruh aniaya, basmi saja penganut  
Achmadiyah dan penista Agama? 
  ajeg 於 21/8/2018 2:07 寫道: 
      Ya kalau yakin seperti itu silakan gugat saja, 
  tuntut secara hukum.
  
   --- jonathangoeij@... wrote:   Sudah tentu saya tidak punya bukti, tetapi 
setidaknya ada benang merah seperti penyerbuan  dan pembakaran kantor pusat PKI 
di Kramat, disini apakah hanya gedung yg jadi  korban bagaimana dengan 
manusia2nya? bandingkan dengan kudatuli yg skalanya jauh  lebih kecil. Apakah 
sang ketua juga tidak tahu ribuan anggotanya menyerbu dan membakar (dan mungkin 
juga membantai). Bagaimana dengan pembantaian2 yg dilakukan Ansor  diberbagai 
daerah dengan pembenaran doktrin halal membunuh kafir itu, bahkan ada pimpinan 
Ansor di Blitar yang bersaksi menerima instruksi dari atas? apakah sang ketua 
juga sama  sekali tidak tahu? seandainya tidak ikut memberikan instruksipun 
sukar dicerna tidak tahu  sama sekali, apakah ada upaya2 mencegah atau 
membiarkan begitu saja? 
  Melihat pada masa setelah itu sebagai Ketua Komisi Fatwa ataupun Ketua MUI, 
dari berbagai  produk yang di hasilkan, kita bisa melihat bagaimana pandangan 
Ma'ruf Amin thd minoritas, terhadap mereka yg dianggap kafir ataupun yg 
dianggap sesat. 
  
  --- ajegilelu@... wrote :
 
          Di setiap kasus yang terpenting adalah bukti. 
  Itulah yang yang saya bela, akal sehat. 
  Jadi, supaya terlihat sehat coba tunjukkan adanya 
  bukti pembantaian seperti yang Anda tanyakan
  (bukan serbuan dan pembakaran kantor). Sebab, 
  seperti biasa, tanpa bukti pun AS biasa menghasut. 
  Contoh gampangnya WMD di Irak. Betul-betul 
  sakit.
  
  --- jonathangoeij@... wrote: 
                        Bagus juga kalau anda se-kali2 membela Jokowi, tetapi 
dalam hal ini kelihatannya anda membela  Ma'ruf Amin. Saya hanya menanyakan 
adanya kemungkinan keterlibatan  Ma'ruf Amin dalam pembantaian 1965, uraian 
anda bukan  merupakan bantahan tetapi lebih tepat melemparkan kesalahan dan  
tanggung jawab dan seperti biasa ke Amerika Serikat. AS  terlibat tentu tidak 
perlu dibantah lagi bahkan dengan jelas tercantum  dalam dokumen2 rahasia yang 
diungkapkan itu. 
     Victor M Fic dalam buku "Kudeta 1 Oktober 1965: sebuah studi tentang 
konspirasi"  mencatat ribuan Pemuda Ansor menyerbu dan memba kar habis kantor  
PKI dijalan Kramat. 
  Pada Tribunal seorang Chudlori seorang pimpinan Ansor di Blitar mengungkapkan 
 adanya instruksi dari atas, sayang saya tidak menemukan  siapa yang memberi 
instruksi itu. Sedang waktu itu Ma'ruf Amin adalah  Ketua Ansor, apakah sebagai 
ketua beliau tidak tahu apa2 yang  dilakukan anak buahnya? agak sukar dicerna. 
  Menurut Wikipedia buku2 yang mencatat pembantaian PKI dibakar: 
  kutipan:   Pembantaian ini telah banyak dihilangkan dari buku pelajaran  
sejarah Indonesia. Dalam buku pelajaran sejarah, disebutkan  bahwa pembantaian 
ini ad alah "kampanye patriotik"  yang menghasilkan kurang dari 80.000 korban 
jiwa. Pada tahun 2004,  buku-buku pelajaran diubah dan mencantumkan kejadian  
tersebut, tetapi kurikulum baru ini ditinggalkan pada tahun  2006 karena adanya 
protes dari kelompok militer dan Islam.[49] Buku-buku pelajaran yang 
menyebutkan pembunuhan massal itu kemudian dibakar,[49]atas perintah Jaksa 
Agung.[83]  
    --- ajegilelu@... wrote :    
    Sesekali belain Jokowi.       
  Menurut Anda, apa yang mendasari pertanyaan itu? Apa hanya  karena seseorang 
adalah anggota sebuah organisasi lantas dia harus  ikut menanggung dosa 
organisasinya? Alias main gebyah uyah  seperti imperialis AS memberi label 
'komunis' pada pihak yang  dimusuhinya maupun menjerit "crusade" demi 
menyamaratakan  teroris dengan Islam, padahal AS sendirilah yang membentuk,  
melatih, dan mempersenjatai kaum teroris.  
                          
     
 
 
|  | 不含病毒。www.avg.com    |

           
   

Kirim email ke