Bung Chan mbok ya tegas begitu lho bilang saja mau menyuruh pilih siapa? Bagi kelompok milenial yang berusia antara 17-30 th (sekitar 70 juta pemilih) yang artinya waktu th 97-98 antara belum lahir atau terlalu kecil untuk mengetahui keadaan tentu tidak punya kesan jelek/jahat tentang Prabowo yang hanya sayup2 terdengar dari berbagai dongeng tetapi tidak dibuku sejarah, sedang Ma'ruf Amin tentu terasa sekali saat ini baik sebagai mastermind 212 ataupun orang mengeluarkan fatwa penista agama bahkan kesaksiannya terkesan sekali bigotri-nya belum lagi berbagai fatwa sesat yg menyebabkan tindakan main hakim sendiri pembakaran rumah2 ibadah pengusiran bahkan pembunuhan kelompok minoritas. Itukah yang anda maksud dengan yang terjelek dan terjahat itu? kutipan:Sementara ini, yaa ikuti saja pemilu-pemilu dengan prinsip bukan memilih calon yang terbaik, calon-colon pilihan yang ideal sebagaimana mimpi kita sendiri, karena memang belum berkemampuan keluarkan calon-calon ideal itu, tetap jangan GOLPUT! Berikanlah suara dengan pemikian JANGAN BIARKAN calon yang TERJELEK, TERJAHAT itu berhasil berkuasa! Karena jelas RAKYAT banyak akan lebih menderita kalau yang terjelek dan terjahat itu berhasil berkuasa!
On Tuesday, August 21, 2018, 7:03:44 PM PDT, ChanCT <[email protected]> wrote: Nampaknya kita jadi TERBELOK untuk mengungkit masalah-masalah lebih kecil dengan memperluas sasaran dan dengan kata lain bisa MELEPASKAN masalah POKOK dan UTAMA yang sampai sekarang BELUM juga terselesaikan! Sekalipun tidak mesti kita harus menyetujui sepenuhnya, jalan pemikiran Gus Dur ada benarnya dan patut menjadi perhatian kita, "Saya tidak menyalahkan kiai-kiai NU yang mengambil sikap keras pada PKI. Baik NU maupun PKI sama-sama korban keadaan. Membunuh atau dibunuh yang terjadi. Masalahnya pak Harto, menimpakan seluruh kesalahan pada PKI, dan seolah-olah tentara bersih." https://chirpstory.com/li/369727 Masalah utamanya ada pada jenderal Soeharto! Jangan sampai kita teralih kembali baku hantam apalagi saling bunuh-membunuh, berbalas dendam lagi! Hanya karena saat itu, ditahun-tahun 1965 itu ketua Ansor, ketua Pemuda Panca Sila ataupun pelaku-pelaku yang tangannya bverlumuran darah pembunuhan kejam terhadap orang-orang yang dituduh PKI, ...! Itu berarti memperluas sasaran dan bisa menenggelamkan masalah UTAMA yang kenyataan belum terselesaikan, yaitu jenderal Soeharto, PENANGGUNG JAWAB UTAMA kejadian culik-menculik, bunuh-membunuh yang terjadi tahun 1965 itu! Belum berhasil kita mengungkap keterlibatan jenderal Soeharto dalam G30S, sampai dimana keterlibatan jenderal Soeharto dalam gerakan penculikkan/pembunuhan atas 6 jenderal disubuh 1 Oktober 1965 itu! Belum juga kita berhasil menyeret jenderal Soeharto kedepan pengadilan untuk mempertanggungjawabkan PELANGGARAN HAM-BERAT dengan perintah pengejaran, pembantaian, penangkapan jutaan orang yg dituduh PKI, makar tanpa porses pengadilan yang sah dan adil! Inilah masalah utama, kekejaman kemanusiaan yang lebih dahulu harus dijernihkan dan diakui. Kejahatan NEGARA yang terjadi dan sampai sekarang sekalipun telah lewat 53 tahun belum juga berhasil dituntaskan, ...! Jangan sampai mudah terbelok dengan memperluas sasaran, ... yang tidak berkesudahan dan akan lebih mencelakakan BANGSA ini! Bukankah terhadap tokoh-tokoh, jenderal yg harus bertanggungjawab juga seharusnya dibatasi sampai tingkat tertentu saja, tidak semua yang terlibat dan pelaku harus dihajar, dihujat, ... syukurlah mereka-mereka itu bisa bertobat dengan menyadari kekejaman kemanusiaan yang dilakukan begitu kasus KEJAHATAN NEGARA yang pernah terjadi ditahun 1965 itu dijernihkan dan diselesaikan! Ketua Mao sejak masa perjuangan di Yan An juga begitu, memusatkan TANGGUNGJAWAB pada seorang dua-orang pejabat/jenderal saja yang dijatuhi hukuman berat, kalau perlu ditembak mati! Sedang terhadap kader, perwira Kuomintang yang hanya pelaksana "PERINTAH" diberi pengampunan! Bahkan saat Perang melawan Jepang, terhadap tawanan perang Jepang pun, Pasukan Tentara Merah nya Ketua Mao, dengan berani menggabungkan/melibatkan tawan-tawan Jepang dalam barisan pasukan rakyat untuk melawan tentara Jepang! Sungguh luar biasa keberanian Ketua Mao memberi kemurahan hati pada MUSUH-MUSUH nya, menyatukan front seluas mungkin untuk MENGALAHKAN MUSUH yang jauh lebih besar dan kuat itu! Dan itulah salah satu SEBAB ketua Mao berhasil mengalahkan Kuomintang dan agresi militerisme Jepang yang jauh lebih kuat! Itu pula yang selalu saya bilang, kita harus pandai-pandai melihat kekuatan rakyat yang masih harus menghadapi lawan yang jauh lebih KUAT, dimana belum mungkin menangkan perjuangan hanya dengan emosi mimpi muluk saja dengan ajukan menegakkan Pemerintah Rakyat sekarang juga! Perjuangkan saja apa kiranya yang BISA dicapai sesuai kekuatan rakyat sekarang ini, raih dan perjuangkanlah sedikit saja perbaikan dan kemajuan yang mungkin dicapai lebih dahulu! Bisa maju sedikit saja lebih baik sudah cukup BAGUUUS, biarlah seperti bayi merayap, karena memang kekuatan rakyat masih belum bisa tegak melangkah berjalan! Sementara ini, yaa ikuti saja pemilu-pemilu dengan prinsip bukan memilih calon yang terbaik, calon-colon pilihan yang ideal sebagaimana mimpi kita sendiri, karena memang belum berkemampuan keluarkan calon-calon ideal itu, tetap jangan GOLPUT! Berikanlah suara dengan pemikian JANGAN BIARKAN calon yang TERJELEK, TERJAHAT itu berhasil berkuasa! Karena jelas RAKYAT banyak akan lebih menderita kalau yang terjelek dan terjahat itu berhasil berkuasa! Salam, ChanCT Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] 於 21/8/2018 23:41 寫道: Mungkin sebentar lagi beredar kisah "heroik" Ma'ruf Amin memimpin memimpin ribuan pemuda Ansor menyerbu dan membakar markas PKI (dan membantai?) di jalan Kramat itu. Menurut penduduk setempat gedung itu berhantu, bisa dibikin film horor nantinya. Menelusuri "Gedung Berhantu" yang Pernah Jadi Markas PKI ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote : Saya sederhana saja, pertanyaan soal kemungkinan keterlibatan cawapres Jokowi dalam pembantaian orang PKI di Jakarta (bukan pembakaran kantornya) dasarnya hanyalah tendensius, yang pucuknya cuma mengalihkan perhatian dari peran / keterlibatan AS dalam peristiwa '65. Agak menggelikan kalau ada yang tergiring tendensius sehingga teralih dari peran AS itu. --- jetaimemucho1@... wrote: Memang masih sangat banyak sekali orang yang tidak mau mengakui bahwa Indonesia, sejak ORBA berkuasa, selalu dikuasai oleh orang-orang yang mewakili kelas tuan tanah, kapitalis birokrat dan komprador alias Oligarki yang merupakan kepanjangan tangan kaum imperialis. Mereka yang percaya nasib negara dan bangsa tergantung pada hasil pemilu tidak pernah mau belajar dari pengalaman sejarah dan sebenarnya secara sadar atau tidak, berpihak kepada kelas penguasa, dus anti-rakyat. Sekarang orang berdebat tentang individu yang mencalonkan dirinya sebagai presiden dan wakilnya. Mereka yang percaya pada sistim pemilu selalu menghimbau: pilih yang "less evil". Padahal dalam kenyataannya, semua calon, disamping mewakili kelas-kelas yang anti-rakyat, juga merupakan kriminal-kriminal. Pada pemilu 2014, pasangan Jokowi dianggap sebagai pasangan yang "baik", karena Jokowi seorang sipil dan "jujur" , tak punya sejarah yang "kotor atau keruh" dengan kejahatan, dibanding dengan Prabowo!! Kejahatan itu hanya dilihat dari segi pelanggaran HAM ! Tapi apakah megaproyek infrastruktur yang sudah dan terus merampas tanah rakyat, menghilangkan mata pencaharian rakyat, membuldoser rumah rakyat, pertambangan yang memperburuk lingkungan dan mengakibatkan penyakit bagi penduduk, penekanan upah rendah kaum buruh untuk mengundang para investor asing, penyerahahan kekayaan alam kepada pemodal asing untuk diusung ke luar negeri, semua itu bukan pelanggaran hak azazi rakyat Indonesia??? Apakah menggadaikan Tanah Air itu bukan tindakan kriminal!!!??? Kemudian, Jusuf Kala.. Ada yang masih ingat film the act of killing? Lupakah sudah peran Jusuf Kala sebagai pemimpin Pemuda Pancasila yang juga punya peran penting dalam pembantaian 1965-66??? Disamping itu, dia juga pengusaha besar, artinya kabir dan komprador!!! Sekarang berdebat soal Ma'ruf Amin, ketua Ansor. Apa lupa mengapa Gus Dur minta maaf kepada para korban pembantaian 65-66? Semua orang tahu tentang keterlibatan orang-orang Islam serta organisasi nya dalam pembantaian... begitu juga orang-orang kristen serta organisasinya..... Salahkah kalau orang berkesimpulan bahwa Indonesia dikuasai oleh para kriminal!!!!!???? On Tuesday, August 21, 2018 3:53 AM, Jonathan Goeij wrote: Maksudnya bung Chan mau suruh si Ma'ruf Amin minta maaf pd para korban PKI itu dan berusaha mencabut TAP MPRS, monggo2 bung Chan, good luck! Di Indonesia itu apa yang bisa dibuktikan? Si Prabowo yg ada rekomendasi TGPF sekalipun kasusnya menguap begitu saja.. Tidak bisa dibuktikan. Tetapi si Ahok yg cuman ngomong begitu saja sdh langsung terbukti kena 2 tahun langsung masuk penjara. On Monday, August 20, 2018, 6:19:24 PM PDT, ChanCT wrote: Kalau saja SULIT dibuktikan, dan bahkan TIDAK MUNGKIN bisa dibuktikan Ma'ruf Amin terlibat langsung, katakanlah ketika itu sebagai ketua ANSOR menurunkan PERINTAH pemuda Ansor melibatkan diri dalam aksi pembunuhan orang-orang yang dituduh PKI, sebenarnya kita bisa dan boleh menuntut berteladan pada sikap jiwa-besar dan ketulusan hati Gus Dur, sebagai ketua PBNU dan Presiden RI ketika itu, berani mintaa MAAF pada korban PKI dan berusaha mencabut TAP MPRS No.25/1966, ... Sekalipun akibat ketegasan sikap demikian Gus Dur jadi terjungkel. Sedang kesalahan fatwah MUI yg dikeluarkan, sekalipun TIDAK BISA kita setujui isi fatwah itu, juga sulit dijadikan bukti Ma'ruf melanggar HAM! Atau ada yang bisa buktikan, fatwah itu berarti menyuruh aniaya, basmi saja penganut Achmadiyah dan penista Agama? ajeg 於 21/8/2018 2:07 寫道: Ya kalau yakin seperti itu silakan gugat saja, tuntut secara hukum. --- jonathangoeij@... wrote: Sudah tentu saya tidak punya bukti, tetapi setidaknya ada benang merah seperti penyerbuan dan pembakaran kantor pusat PKI di Kramat, disini apakah hanya gedung yg jadi korban bagaimana dengan manusia2nya? bandingkan dengan kudatuli yg skalanya jauh lebih kecil.. Apakah sang ketua juga tidak tahu ribuan anggotanya menyerbu dan membakar (dan mungkin juga membantai). Bagaimana dengan pembantaian2 yg dilakukan Ansor diberbagai daerah dengan pembenaran doktrin halal membunuh kafir itu, bahkan ada pimpinan Ansor di Blitar yang bersaksi menerima instruksi dari atas? apakah sang ketua juga sama sekali tidak tahu? seandainya tidak ikut memberikan instruksipun sukar dicerna tidak tahu sama sekali, apakah ada upaya2 mencegah atau membiarkan begitu saja? Melihat pada masa setelah itu sebagai Ketua Komisi Fatwa ataupun Ketua MUI, dari berbagai produk yang di hasilkan, kita bisa melihat bagaimana pandangan Ma'ruf Amin thd minoritas, terhadap mereka yg dianggap kafir ataupun yg dianggap sesat. --- ajegilelu@... wrote : Di setiap kasus yang terpenting adalah bukti. Itulah yang yang saya bela, akal sehat. Jadi, supaya terlihat sehat coba tunjukkan adanya bukti pembantaian seperti yang Anda tanyakan (bukan serbuan dan pembakaran kantor). Sebab, seperti biasa, tanpa bukti pun AS biasa menghasut. Contoh gampangnya WMD di Irak. Betul-betul sakit. --- jonathangoeij@... wrote: Bagus juga kalau anda se-kali2 membela Jokowi, tetapi dalam hal ini kelihatannya anda membela Ma'ruf Amin. Saya hanya menanyakan adanya kemungkinan keterlibatan Ma'ruf Amin dalam pembantaian 1965, uraian anda bukan merupakan bantahan tetapi lebih tepat melemparkan kesalahan dan tanggung jawab dan seperti biasa ke Amerika Serikat. AS terlibat tentu tidak perlu dibantah lagi bahkan dengan jelas tercantum dalam dokumen2 rahasia yang diungkapkan itu. Victor M Fic dalam buku "Kudeta 1 Oktober 1965: sebuah studi tentang konspirasi" mencatat ribuan Pemuda Ansor menyerbu dan memba kar habis kantor PKI dijalan Kramat. Pada Tribunal seorang Chudlori seorang pimpinan Ansor di Blitar mengungkapkan adanya instruksi dari atas, sayang saya tidak menemukan siapa yang memberi instruksi itu. Sedang waktu itu Ma'ruf Amin adalah Ketua Ansor, apakah sebagai ketua beliau tidak tahu apa2 yang dilakukan anak buahnya? agak sukar dicerna. Menurut Wikipedia buku2 yang mencatat pembantaian PKI dibakar: kutipan: Pembantaian ini telah banyak dihilangkan dari buku pelajaran sejarah Indonesia. Dalam buku pelajaran sejarah, disebutkan bahwa pembantaian ini ad alah "kampanye patriotik" yang menghasilkan kurang dari 80.000 korban jiwa. Pada tahun 2004, buku-buku pelajaran diubah dan mencantumkan kejadian tersebut, tetapi kurikulum baru ini ditinggalkan pada tahun 2006 karena adanya protes dari kelompok militer dan Islam.[49] Buku-buku pelajaran yang menyebutkan pembunuhan massal itu kemudian dibakar,[49]atas perintah Jaksa Agung.[83] --- ajegilelu@... wrote : Sesekali belain Jokowi. Menurut Anda, apa yang mendasari pertanyaan itu? Apa hanya karena seseorang adalah anggota sebuah organisasi lantas dia harus ikut menanggung dosa organisasinya? Alias main gebyah uyah seperti imperialis AS memberi label 'komunis' pada pihak yang dimusuhinya maupun menjerit "crusade" demi menyamaratakan teroris dengan Islam, padahal AS sendirilah yang membentuk, melatih, dan mempersenjatai kaum teroris. | | 不含病毒。www.avg.com |
