Menangkapi publik yang aspirasinya berkembang jelas itu fasisme - yang memang 
dibutuhkan untuk menyokong otoriterisme. 

Terbukti banyak laporan/pengaduan yang pro penguasa segera diproses sampai 
masuk penjara. Sebaliknya, hampir semua kasus/laporan yang merugikan penguasa 
seperti sengaja diabaikan. Contoh gampangnya, kasus-kasus pelanggaran HAM, atau 
kasus Novel Baswedan misalnya. Timbangan jomplang. Perikemanusiaan yang Adil 
dan Beradab, musnah.
Praktek fasis-otoriter begini samasekali bukan pengalihan isu. Ini masuk 
kategori pembersihan dan pembungkaman sudah. Tidak ada yang perlu dialihkan, 
sebab segala hal yang jadi masalah buat Rakyat (utang, kebocoran, tol, bahkan 
terorisme) memang maunya seperti itu. Jadi ya tinggal memperenak posisi saja 
kan, sebagai gendruwo sontoloyo penabok, supaya yang terdengar cuma puja-puji 
keplok sanjung. 
Nggak ada yang aneh wong cuma ngulang-ulang sejarah kekuasaan selama ribuan 
tahun. Bedanya sekarang dipermodern lewat ritual pemilu. 

 --- jonathangoeij@... wrote:
isue2 seperti utang (ekonomi), kebocoran (korupsi), dan tol (infrastructure) 
adalah isue yg seharusnya dibahas dalam pilpres, tetapi kelihatannya kubu 
Jokowi berusaha mengalihkan perhatian ke isue2 gak genah seperti salat, ngaji, 
sontoloyo, tabok, genderuwo yg gak mutu dan tidak ada kaitannya. apa tidak 
percaya pada pencapaian diri sendiri? apakah kasus Maarif juga bagian pengalih 
perhatian juga?
--- ajegilelu@... wrote :

Oh itu cuma kengawuran biasa kok, dalam rangka nangkapi publik yang aspirasinya 
berkembang alias berseberangan sambil membiarkan pendukung buta bebas 
sejahtera. Istilah populernya, kekuasaan dengan pedang hukum yang tajam ke 
bawah tapi tumpul ke atas sehingga gambar timbangannya pun jomplang. Berat 
sebelah.
Sudah pastilah ini tambah merusak citra Jokowi yang masih kewalahan ditabok 
isu-isu yang susah dibantah seperti utang, kebocoran, tarif tol dll. Jelas, 
nangkapi aspirasi yang berkembang ini suatu keberanian merusak citra yang 
mengagumkan. Mirip orang putus asa.
Jadi, kayak-kayaknya Jokowi bakal milih Prabowo.
he heh..
--- jonathangoeij@... wrote:

Kurangjelas tentang kasus Maarif ini bagaimana, tetapi terus terang sajakurang 
paham dengan istilah presiden tak intervensi itu. Sewaktu kasusAhok tempo 
doeloe juga disebut tidak intervensi tetapi toh Jokowimemerintahkan Kapolri 
"memroses" kasus penistaan agama itu padahalsebelumnya seperti yg ber-kali2 
diutarakan Kapolri kasus itu tidak layakuntuk diproses, Kapolri bahkan terus 
terang menyebut pemrosesan itudalam rangka "menangkap aspirasi publik yang 
berkembang". Kalau hal ini bukan intervensi terus apa????
---"Beliau(Presiden) memerintahkan kepada saya untuk masalah penanganan 
kasusdugaan penodaan agama dengan terlapor Saudara Basuki Tjahaja Purnamaharus 
dilakukan dengan langkah-langkah yang cepat dan transparan," kataTito.
...."Namunsaya sudah perintahkan sesuai dengan kewenangan diskresi yang ada 
padasaya. Saya perintahkan kepada Kabareskrim untuk melaksanakan 
proses,menggulirkan proses penyelidikan. Ini dalam rangka untuk menangkap 
aspirasi publik yang berkembang," kata Tito.
https://tirto.id/presiden-perintahkan-gelar-perkara-ahok-dilakukan-terbuka-b2tx
---"Presidenmengatakan dia sudah memerintahkan (kepolisian) untuk memproses 
(dugaanpenistaan agama)," ujar Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) 
Ma'rufAmin setelah bertemu dengan Presiden Joko Widodo di kompleks 
IstanaKepresidenan, Selasa, 1 November 2016.
https://nasional.tempo.co/read/816651/mui-jokowi-perintahkan-polisi-proses-hukum-ahok/full&view=ok
---


Soal Maarif, Moeldoko Sebut Presiden Tak Intervensi Hukum

Kirim email ke