Bapak2, Kita langsung realisasikan saja. Apa yang dinyatakan oleh Danny memang benar kita perlu wadah sepertu active tektonik group ataupun neotektonik group. Sayasetuju kita usulkan ke ketua PIT-IAGI yang akan datang untuk membuat special session untuk mendiskusikan masalah ini. Saya siap dan bersedia untuk berpartisipasi.
Ben Sapiie > Mudah-mudahan fwd-an dari dikusi internal ini dapat menambah wawasan > kita semua > > (Saya pernah postingkan juga fwd-an dari initiator diskusi ini pada 20 > April yang lalu di IAGINET) > > adb > > ----- Original Message ----- > From: D.H. Natawidjaja > To: Posko Longsor ; pak Andang ; Dik Keyeub ; Pak Hery ; Pak Indra ; > Empi ; Dik Fajar ; Pak Ridwan ; Bapake Cc: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Thursday, April 22, 2004 2:27 PM > Subject: Re: microzonation > > > Dengan hormat, > Menanggapi e-mail Pak Soffian. Saya kebetulan sudah baca artikel anda > di Berita IAGI. Bagus dan menarik, terutama menyangkut persepsi > masyarakat akan pola "keteraturan" (atau ketidakteraturan) kejadian > gempa bumi, dan reaksi masyarakat yang cenderung "mentakdirkan" bencana > gempa bumi sehingga kurang menyadari bahwa besar efek bencana yang > ditimbulkan sebenarnya bisa diperkecil dengan usaha mitigasi yang baik. > > Ada satu hal yang selalu berusaha saya komunikasikan ke masyarakat bahwa > ada dua aspek besar yang sifatnya berbeda dalam usaha mitigasi bencana > (gempa bumi). Yang pertama "short-term prediction" (meramalkan hari H > nya kejadian gempa) dan yang kedua adalah "long-term" prediction > (meng-kuantifikasikan potensi bencana gempa untuk satu kurun waktu > kedepan tanpa harus mengetahui hari H-nya). Usaha yang pertama hanya > mungkin kalau kita punya sistem monitoring gempa yang kontinyu dan > memadai (jaringan seismograph, GPS, alat pencatat perubahan > electromagnetic, dll.) yang dapat mendeteksi "pre-cursor" gempa, atau > anomali perubahan fisik sebelum kejadian gempa besar. Short-term > prediction bertujuan untuk evakuasi masyarakat agar tidak banyak korban > jiwa. Long-term prediction selain juga untuk memperkecil korban jiwa > tapi juga untuk memperkecil kerugian materi dan kerusakan infrastruktur > dengan cara memasukan aspek bencana geologi kedalam regional planning > dan peraturan kode (kualitas) bangunan seperti yang dikatakan Pak > Soffian. Jadi kita harap kedua bidang besar dalam bidang prediksi gempa > bumi ini tidak dikacaukan. > > Memang di Indonesia ini penelitian dan usaha mitigasi bencana alam > (khususnya gempa bumi, tsunami) masih minimal atau dalam taraf awal. > Menurut saya ada beberapa masalah besar yang kita hadapi: 1. Penelitian > masih sedikit sehingga datanya belum banyak. Kecuali untuk P. Sumatra > data gempanya sudah cukup banyak karena kami sudah dan sedang > mempelajarinya dalam 10 tahun terakhir ini, dan ada beberapa peneliti > asing lain yang juga mempelajarinya secara terpisah ataupun yang bekerja > sama dengan kami. Kenalan saya Dr. Mark Petersen (USGS) malah sudah > membuat peta Seismic Hazard Probabilistic untuk Sumatra dan Malaysia > (=kuantifikasi besaran ground motion yang mungkin terjadi untuk kurun > waktu tertentu ke depan). Sayapun sekarang sedang membimbing seorang > mahasiswa S-2 Sipil ITB yang penelitiannya ingin membuat peta seismic > hazard yang lebih baik untuk Sumatra. Untuk daerah lain di Indonesia > data patahan aktif, baik peta dan karakteristik patahan (sumber > gempanya) masih sangat sedikit. 2. Bidang mitigasi bencana, khususnya > gempa bumi masih sangat kurang sosialisasinya, baik di kalangan ahli > kebumian ataupun masyarakat. Salah satu sebabnya tentu karena orang > yang menekuni bidang ini masih sangat sedikit. Sangat kontras dengan > kenyataan bahwa Indonesia adalah daerah yang sangat rawan bencana. Di > perguruan tinggi ilmu kebumian pun pelajaran tentang proses lingkungan > dan bencana geologi masih sangat minor dibandingkan pelajaran yang > menunjang ke arah explorasi dan exploitasi sumber alam. Di ITB, di > Jurusan. Sipil bidang earthquake engineering sudah cukup lama > berkembang, sedangkan di Jurusan Geologi mungkin baru tahun ini saya > bersama-sama Pak Benyamin Sapii (Mino) dan Pak Prihadi baru memulai dua > mata kuliah elektif baru untuk memperkenalkan bidang tektonik aktif > (gempa bumi) dan mitigasi bencana alam. 3. Aspek bencana alam setahu > saya memang belum resmi dimasukkan dalam peraturan pembangunan, misalnya > untuk perencanaan tata-ruang dan penetapan kode(kualitas) bangunan. Hal > ini juga disinyalir oleh Pak Soffian. Problemnya mungkin seperti > lingkaran setan. Dari pihak birokrat dan praktisi bidang engineering > kurang memahami aspek mitigasi bencana ini karena mungkin kurang > mendapat "teriakan" dari pakar kebumian (yang masih sedikit dalam bidang > ini). Dilain pihak pakar dan calon pakar kebumian kurang juga perhatian > dan minatnya dalam bidang ini karena dianggap masih sepi "demand" atau > pasaran-nya atau barangkalai karena "tak kenal maka tak sayang". 4. > Kerjasama antar instansi dan antar pakar kebumian yang meneliti gempa > bumi dan bencana alam masih harus ditingkatkan. Apalagi interaksi ahli > kebumian dengan kalangan ahli sipil sangat kurang, padahal merekalah > yang notabene paling dominan dalam menentukan kebijakan peraturan > pembangunan infrastruktur di Indonesia . Sampai saat ini kegiatan > praktis evaluasi mitigasi bencana, termasuk pembuatan peta seismic > hazard untuk Indonesia masih didominasi oleh pakar di kalangan sipil. > Pakar ilmu kebumian masih sedikit yang terlibat di dalamnya. Sekarang > pun saya dengar para pakar engineering sedang dalam proses menggodok > peraturan untuk pelaksanaan mitigasi bencana gempa bumi di Indonesia. > Entah apakah ada banyak pakar kebumian yang ikut terlibat di dalamnya > atau tidak, saya kurang tahu. > > Saya menyambut gembira ajakan dari Pak Soffian. Menimbang hal-hal > tersebut di atas, ada beberapa hal yang menurut saya penting untuk > dipikirkan. 1. Kita sebaiknya mempunyai semacam wadah komunikasi dan > kerjasama yang sifatnya nasional untuk bidang mitigasi bencana (gempa > bumi dll), sehingga usaha yang dilakukan tidak jalan sendiri-sendiri > atau terisolir di instansi masing-masing. Suatu "forum nasional" juga > akan lebih didengar suaranya dibanding suara seseorang atau salah satu > instansi. 2. Dalam mitigasi bencana (gempa), hal pertama yang sangat > dibutuhkan adalah DATA yang sampai saat ini masih minim, baik data > sumber bencana (gempa) ataupun data geologi dekat permukaan yang sangat > diperlukan untuk, misalnya, studi "microzoning" atau evaluasi bencana > untuk "site specific". Hal pemodelan fisik untuk prediksi bencana-nya > sebetulnya "is not really a big deal", sudah banyak dilakukan orang dan > sudah cukup canggih-canggih. Misalnya orang sudah banyak yang membuat > program simulasi komputer yang bisa menghitung dengan mudah berapa besar > "shaking" atau "displacement" horizontal ataupun vertikal di suatu > lokasi apabila terjadi gempa dengan magnitude tertentu di suatu sumber > gempa tertentu pula. Masalahnya INPUT DATA-nya itu darimana? 3. > Seismic hazard dan Microzoning saya pikir memang harus sudah mulai > dilakukan di Indonesia, tapi hasilnya harus selalu di-update secara > berkala untuk direvisi sesuai dengan data baru yang masuk. > > Untuk rencana jangka pendek, kalau orang yang berminat cukup banyak > mungkin bisa diadakan suatu session/workshop khusus masalah ini di PIT > IAGI mendatang di Bandung , bagaimana? > > Sebagai informasi, saat ini kami masih sangat sibuk dengan penelitian > tektonik aktif dan gempa bumi di Sumatra. Tahun ini kita berencana > menambah 12 statsiun Kontinyu GPS di Sumatra dari 6 buah yang sudah kami > pasang dua tahun lalu. Dalam beberapa bulan mendatang ini rencananya > kami sudah akan menyelesaikan pembuatan brosur dan poster populer > tentang gempa bumi dan mitigasinya untuk memulai program sosialisasi dan > pendidikan ke masyarakat dan instansi terkait. > > Sekian saja dulu diskusinya, terimakasih. > > > Wassalam, > > Danny Hilman Natawidjaja > > -------------------------------------------------------------------- > ---------- Original Message ----- > From: Posko Longsor > To: pak Andang ; Pak Danny ; Dik Keyeub ; Pak Hery ; Pak Indra ; Empi > ; Dik Fajar ; Pak Ridwan ; Bapake Cc: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Tuesday, April 20, 2004 12:47 PM > Subject: microzonation > > > Dengan hormat , rekan rekan, saya percaya kalau dimasa depan > kalau kita sudah tahu dengan rinci penyebaran dan sifat fisik , > termasuk dimensinya, baik lateral maupun vertical dari batuan, > keberadaan patahan maupun retakan, arah sumber daya tekan maupun > tarik, sudah mampu mengukur regangan maupun tegangan, dan ada > computer yang cukup besar untuk mengolahnya kita bisa meprediksi > dengan seksama hari H, jam J kapan terjadinya sebuah gempa. > > Menurut pak Untung Sudarsono selama ini, kualitatif kita pakai > Richter scale maupun MMI scale, sedang kuantitatif kita gunakan > data BMG (mohon dikoreksi Bapake). > > Kalangan teknik sipil mempersiapkan bangunannya untuk "mendapat" > beban ayun horizontal dari segala arah kecuali dari > "bawah"(gravitasi negative), meskipun secara teoritis hal ini > mungkin terjadi kalau sumber gempanya tepat berada dibawah kita. > > Dari probabilitas ayun yang mungkin muncul tadi secara statistic > ada arah ayun mayoritas, seperti saya yang tinggal di Surabaya, > beban ayun yang sampai di kami selalu dari > "Yogya","Pacitan","Malang selatan"atau dari "Banyuwangi > selatan", kadang-kadang dari "Sumenep" atau "Semarang" tidak > pernah dari "Banjarmasin" > > Secara global kita sudah coba bagi wilayah resiko kegempaan dari > sisi Fore arc , Middle arc, maupun Back arc, padahal seperti > Surabaya, bagian barat terdiri dari batuan tersier sedang di > bagian timur tersusun dari batuan kwarter maupun recent dimana > perilaku daya hantar rambatan gelombang tentunya berlainan > ketika sampai dibangunan kita. > > Untuk itu saya berpendapat bagaimana kalau kita mulai > mengembangkan microzonation. > > Bentuk konkritnya berupa metoda pengukuran gabungan antara > kualitatif dan kuantitatif, berupa chart yang berisi tanda > kerusakan fisik pada bangunan dan batuan maupun soil mirip > MMI/Richter berikut pengukuran kuantitatif dimensi /struktur > kerusakan seperti orientasi arah retakan, lebar bukak an pada > retakan , korelasi struktur retakan terhadap sumbu kekakuan > konstruksi bangunan, pengamatan distribusi beban bangunan dan > pola retak yang mungkin muncul dengan tujuan diketahuinya arah > umum pola ayun yang mungkin muncul pada microzona > tersebut.Dimana pengetahuan akan arah mayoritas ini akan sangat > membantu dalam perencanaan keamanan bangunan dan kemungkinan > "penghematan" biaya konstruksi yang sangat significant. > > Ini baru ide awal tentu penjabarannya perlu banyak langkah ke > depan. > > Terimakasih atas pencerahan yang anda berikan. > > > > Surabaya 20 April 2004 > > > > Salam > > > > Soffian > > Anggota IAGI no 2794 > > > > > > > > ------------------------------------------------------------------------------ > Do you Yahoo!? > Yahoo! Photos: High-quality 4x6 digital prints for 25� --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

