Pak Andang,
 
Terima kasih atas diskusinya yang menarik. Beberapa catatan lanjutan dari saya adalah 
seperti di bawah ini.
 
1. Mungkin saya salah dengar kalau begitu bahwa Meratus terangkat karena Mersing 
subduction, maklum hanya mendengar dari luar he2... Docking Banggai-Sula di Sulawesi 
Timur pun atau mungkin lebih tepat Buton-Tukang Besi di SE Sulawesi pun rasanya masih 
sulit dipakai untuk menerangkan terangkatnya Meratus sebab banyak buffer untuk itu, 
yaitu ofiolit zone Sulawesi Timur, Teluk Bone, Sulawesi Barat, dan Makassar Strait 
yang luas. Saya di sebuah paper di PIT IAGI 1994 pernah menyebut asal gaya itu dari 
Sesar Adang yang reactivated lalu mengangkat northern massifs of Meratus Mts 
(Halat-Misi-Panaan-Kesale-Sihung highs), sementara bagian selatan Meratus tidak 
terangkat tapi plunging ke Florence Ridge di Laut Jawa. Untuk itu Adang Fault harus 
nyambung ke Walanae Fault di Sulawesi Selatan, kemudian nyambung lagi ke sisa-sisa 
Sumba Fracture. Dan, pada saat Australia collided Timor, maka ada propagasi gaya lewat 
retakan-retakan besar itu yang sekaligus mengubah slip geser Adang. Tapi ini hanya
 mekanisme alternatif, saya melihat uplift Meratus itu kompleks tectonic origin-nya. 
Semoga kapan-kapan bisa dipecahkan dengan memuaskan.
 
2 dan 3. Sebuah low-angle Wadati-Benioff zone mestinya akan terjadi pada saat umur 
kerak oseanik masih muda dan bukannya tua. Kerak yang tua akan cenderung mengalami 
roll-back dan membuat sudut Wadati-Benioff zone akan curam, sehingga memicu 
pertumbuhan sel konveksi yang akan menyebabkan marginal basin spreading. Maka, 
pernyataan Soeria-Atmadja et al (1999) dan Hutchison (1996) akan sangat terkait dengan 
umur volkanik yang ditelitinya. Hanya, di Upper Kutei Basin kebanyakan umur volkanik 
adalah Mio-Pliosen, saat SCS sudah berhenti spreading; dan ini jadinya bertentangan 
dengan keberadaan low-angle subduction zone; saat-saat itu mestinya oceanic crust 
sudah menunjam dengan curam, atau malah patah oleh desakan collision mikrokontinen 
Luconia-Reed Bank dkk, dan ini akan sangat berefek ke komposisi volkaniknya. Rasanya 
banyak implikasi memberatkan yang butuh dukungan banyak data kalau Kutei pernah jadi 
back-arc basin; dibanding passive margin aulacogen yang sangat simple dan
 well-resolved. Tapi, bagaimanapun, ini menarik. Menyebut suatu basin tipe apa pun 
akan banyak dibutuhkan sekian banyak pemikiran. Tipenya simpel tapi prosesnya tidak 
ternyata. 
 
Bertentangan dengan Soeria-Atmadja (1999) dan Hutchison (1996), sebuah low-angle 
subduction zone mestinya akan membuat volkanism muncul di tepi timur Rajang flysch 
zone, bukan di tengahnya (lebih ke barat), kalau di tengahnya justru itu mengindikasi 
normal atau malahan high-angle subduction zone. Pernyataan ini harus masih dibuktikan 
dengan umur anomali magnetik di kerak oseanik SCS, kalau ada, sekaligus untuk 
membuktikan apakah dua fase pemekaran SCS itu menghasilkan kerak oseanik baru atau 
tidak.
 
4. Ini harus didukung oleh umur-umur tektonik : Meratus Uplift, Samarinda 
Anticlinorium, dan reaktivasi Sesar Adang. Apa yang membuat Adang bergerak harus jelas 
dulu. Kutei-Gravity High dari dulu sudah disebut2, tetapi ini barang apa, masih tidak 
diketahui, oceanic crust seperti Meratus ? Tidak tahu, belum pernah ada sumur2 yang 
menembusnya. Sumur2 zaman dulu di Blok Semayang, Ritan, Maruwai (Elf Aquitaine dan 
Mobil) tidak ada yang menunjukkan barang "high" ini apa. Barangkali surface geology di 
Upper Kutei Basin ? 
 
5. Kelihatannya, efek dua sesar regional itu tidak ke seluruh transpression dan 
transtension Cekungan Kutei, tetapi hanya di sebatas kejadian sesar-sesar itu. 
Coupling dua sesar memang bisa terjadi, tetapi sejauh dan seluas batas-batas Kutei 
dipertanyakan, di samping keaktifan kedua sesar ini hanya lebih disebabkan propagasi 
gaya dari tempat regional lain. Katakanlah Mangkalihat Fault dari Palu-Koro, dan Adang 
dari Walanae-Sumba Fracture, ini pun mesti dipertanyakan.
 
Terima kasih, semoga diskusi memperkaya pengetahuan dan problema di Kutei Basin - the 
home of the giants...
 
Salam,
awang
 
ANDANG BACHTIAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Awang,
Terimakasih atas kehadirannya dalam sidang terbuka saya. Walaupun hanya
mendengarkan dari luar, jelas-jelas pengertian anda tentang Kutai jauh
melebihi apa yang sempat saya sampaikan dalam presentasi "ngebut" 35 menit
tersebut.

Beberapa hal yang bisa saya terangkan sehubungan dengan
pertanyaan-pertanyaan kritis sampeyan adalah sebagai berikut:

1. Dalam dissertasi saya tidak menyebutkan bahwa Mersing subduction
mengangkat Meratus Mts. Saya sebutkan bahwa Mersing subduction berakhir di
akhir Miosen Awal karena "docking"nya Reed-Palawan Bank ke zona penunjaman
menyebabkan pengangkatan Tinggian Kuching (BUKAN Meratus Mts.). Kebetulan
dari arsitektur sedimen terutama di Barito Basin (yaitu Fm. Warukin / Miosen
Tengah - Miosen Awal), kita mendapatkan kesimpulan bahwa Meratus Mts juga
mulai terangkat pada saat itu. Alternatif penyebab pengangkatannya adalah
dimulainya "docking" Banggai-Sula di zona penunjaman Sulawesi Timur (jadi,
bukan karena Mersing Subduction). Saya sangat setuju dengan anda bahwa:
terlalu jauh untuk menghubungkan penunjaman Mersing dengan pengangkatan
Meratus.

2. Soal Kutai pernah menjadi "back-arc" basin, saya merujuk pada publikasi
Soeria-atmadja, dkk, 1999 pada Special Edition dari Journal of Southeast
Asia Research dimana dalam edisi tsb anda juga menulis tentang perbandingan
Kutai-Tarakan-Barito. Di dalam paper itu mereka mendokumentasikan semua
fenomena batuan volkanik yang ada di Kalimantan (termasuk Cekungan Kutai
Hulu) dan merekonstruksi posisi tektonik lempengnya dalam suatu sistim
penunjaman (dalam hal ini Lupar Subduction dan Mersing Subduction). Dari
situlah istilah "back-arc" basin untuk Kutai saya munculkan. Fasa singkat
aulacogen juga saya masukkan dalam alternatif evolusi Cekungan Kutai
tersebut, seperti pernah saya presentasikan dalam "Kutai Basin Potpourri".

Khusus buat nomer 3 s/d 5 saya beri catatan singkat dulu, nanti setelah
acara sarasehan saya akan uraikan lebih rinci:

3. Intrusi-intrusi yang ada di Upper Kutai dalam skenario evolusi tektonik
Kutai yang saya buat TIDAK bertentangan dengan sejarah pemekaran SCS (South
China Sea) yang mengalami 2 fasa pemekaran. Selain itu, tidak semua intrusi
tersebut terletak "ditengah" Rajang Flysch zone. Khusus untuk intrusi yang
terletak di tengah Rajang Flysch zone, baik Hutchison (1996) maupun
Soeria-atmadja (1999) menginterpretasikan sebagai "low-angle subduction"
beneath the old/previous subduction zone.

4. Kutai gravity high sebagai batas antara Upper dan Lower Kutai kemungkinan
merupakan kemenerusan dari jalur Meratus (Wain & Berod, 1989).(yang
kemungkiinan tergeserkan ke Barat oleh sesar sinistral Adang #ADB)

5. Saya tidak secara apriori menerangkan inversi Cekungan Kutai hanya dengan
mekanisme Coupling/Wrenching. Secara khusus saya menuliskan bahwa kondisi
transpression-transtension pada Mio-Pliosen sampai Resen diakibatkan oleh
mekanisme Coupling/Wrenching tersebut. Kalau anda membaca Bab IV dissertasi
saya disitu diterangkan bahwa inversi terjadi karena berbagai macam sebab di
berbagai posisi daerah dari Cekungan.

DALAM ABSTRAK saya tuliskan: " Dari Miosen Tengah sampai Resen Cekungan
Kutai mengalami inversi regional yang dilanjutkan dengan kondisi
transpression - transtension akibat gaya tekanan wrenching dua sesar mengiri
utama di batas utara dan selatan cekungan". Nah,...... dalam abstrak
tersebut saya tidak menerangkan secara khusus penyebab inversi
regional,..... ,... kalimat selanjutnya menerangkan bahwa: wrenching itu
menyebabkan kondisi transpression-transtension (bukan secara khusus
menerangkan bahwa INVERSI diakibatkan oleh WRENCHING).


Mungkin segitu dulu,....
Thx banget atas diskusinya.........

ADB

----- Original Message -----
From: "Awang Satyana" 
To: 
Sent: Thursday, April 29, 2004 12:52 PM
Subject: [iagi-net-l] Lupar Mersing Line-Kutei Basin-Meratus Range - part 1


> Menyaksikan sidang terbuka promosi doktor pak ketum kita, sekarang sudah
resmi boleh disebut Dr. Andang Bachtiar, dengan pimpinan sidang Ibu Emmy
Suparka, para promotor Pak Soejono, Pak Sukendar, Pak Ong; tim penyanggah
Pak Koesoemadinata, Pak Bona Situmorang, dan John Decker (Unocal), Sabtu 24
April 2004 dari jam 13.00-15.00 di Gd. Pasca Sarjana ITB, dengan mayoritas
yang hadir adalah para mahasiswa S2 dan S3 ITB, dan dinyatakan lulus;
menyisakan beberapa pertanyaan dalam diri saya, pertanyaan-pertanyaan klasik
yang sudah sering dimasalahkan dan mungkin menjadi "debate of decades" tanpa
jawaban yang memuaskan.
>
> Kebetulan Pak Andang sembilan tahun menggumuli Kutei Basin untuk
disertasinya, saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan klasik di bawah ini,
yang kebetulan saya dengar di sidang itu (walau saya duduk di luar, untung
pak ketum kita bersuara lantang)dan saya baca di ringkasan disertasi.
Kebetulan dalam sidang itu tidak diberikan kesempatan bertanya buat para
penonton, selain kepada para promotor dan penyanggah, maka saya lewat jalur
IAGI-net saja.
>
> 1. Bagaimana bisa Mersing subduction mengangkat Meratus Mts ? Kalau
melihat sekuen sedimen Barito Basin, maka proper Meratus Mts. naik intra
Warukin Atas di sekitar Miosen Atas dan pre Dahor molassic deposits di
Pliosen. Katakanlah pengangkatannya Mio-Pliosen. Maka ini lebih muda dari
Mersing subduction. Saya percaya Mersing subduction mengangkat Kuching High
di Oligo-Miosen yang memulai delta progradation di Kutei Basin pada Early
Miocene. Bagaimana mekanisme yang tepat agar Meratus bisa terangkat oleh
Mersing sebab selain waktunya tidak cocok juga ada Schwaner Core yang sangat
stabil yang bisa menghalangi propagasi gaya kompresif dari Mersing
subduction.
>
> 2. Kutei pernah menjadi back-arc basin ? Kedudukan ini dihubungkan dengan
tectonic/volcanic element yang mana ? Bila terhadap Lupar-Mersing Subduction
Line rasanya Kutei adalah oceanic basin, fore-arc pun bukan. Katakanlah
intrusi2 di Schwaner adalah hasil Mersing subduction, walaupun proper
volcanic arc seperti di Sumatra-Jawa tidak pernah muncul di sini dan umurnya
pun harus dicek dulu, maka yang back-arc basin lebih cocok adalah Barito
walaupun untuk ini perlu banyak argumen. Di Kutei ada Sembulu volcanics,
tetapi hanya spotted di sekitar Bungalun dan rasanya tidak bisa dipakai
sebagai reference untuk tipe basin sebesar Kutei. Di bawah Meratus ada Alino
Arc yang pre-Tertiary, tetapi tidak bisa dipakai sebagai referensi
basin-basin Tertiary seperti Barito dan Kutei. Kutei, saya pikir, lebih
cocok sebagai tipe basin yang berkembang di passive margin yang divergent
(relatif terhadap North Makassar spreading), walaupun ini kemudian jadi
failed/aborted rift basin.
>
> 3. Intrusi-intrusi Neogen (Mio-Pliosen) di Upper Kutei Basin itu dari mana
atau berasosiasi dengan subduction Mersing ? Ini kontradiktif dengan sejarah
pemekaran dan terhentinya South China Sea spreading dan collisionnya
microplates Luconia, Reed Bank, Dangerous Ground, dan Palawan Ridge. Hampir
semua intrusi itu terjadi di tengah Rajang flysh-melange, ini mengindikasi
suatu migrasi antara subduction zone dan mungkin volcanic arc, ini bisa
berhubungan dengan pertanyaan ke-2 di atas.
>
> 4. Apa sebenarnya yang memisahkan Upper dengan Lower Kutei Basin ?
Tinggian basement pre-Tertiary mestinya kalau mau ideal. Kalau sekedar
intrusi Neogen apa bisa ? Dulu, oleh Hank Ott (1987) katanya ada Kutei
"Gravity High" yang suka dipakai sebagai batas itu walaupun apakah high ini
berasosiasi dengan basement tidak dielaborasi lebih jauh, hanya dipakai
sebagai origin of present Kutei lakes di aliran Sungai Mahakam sekarang.
Menurut Pak Andang, High ini terangkat sezaman dengan Meratus Uplift pada
17.5 Ma. Jadi pertanyaan, apa High ini ? Kalau sezaman dengan Meratus dan
jadi tempat Kutei Lakes sekarang, kenapa "high" ini tergeser lebih ke barat
dibanding Meratus, seolah-olah ada sesar mendatar sinistral (ini akan
berantai ke pertanyaan : origin dan reaktivasi Adang-Lupar Fault, slipnya;
dan apa hubungan antara Samarinda Anticlinorium dengan Meratus uplift, sebab
di tempat Meratus berakhir, di situlah Samarinda Anticlinorium mulai).
>
> 5. Asal inversi di Kutei Basin. Ini benar2 "debate of decades" Dari paper2
yang pernah terbit saya bisa golongkan menjadi 7 mekanisme : (1) vertical
diapirism, (2) gravitational gliding, (3) stress couple of regional
wrenching, (4) micro-continental (East Sulawesi) collision, (5) detachment
folding above overpressured sediments, (6) differential loading within
deltaic sediments, dan (7) inverted deltaic growth fault system. Kalau saya
ikuti, mekanisme no. 5 - 7 belakangan banyak diikuti dan banyak eksperimen
analog dengan sand box modelling. Mekanisme no. 1 terjadi di beberapa
tempat, tetapi tidak regional. Mekanisme no. 2 diawali oleh van Bemmelen
(1949), Rose & Hartono (1978), dan didetailkan Ott (1987) dan jadi dasar
berpikir mekanisme no. 5-7. Mekanisme no. 4 yang sempat disebut oleh van de
Weerd dan Armin (1992) dan no. 3 tidak mendapat evaluasi dan pengujian lebih
jauh. Pak Andang memilih mekanisme no. 3 untuk asal inversi di Kutei Basin,
menggunakan Adang dan Mangkalihat
> Faults. Suatu stress couple dari dua regional wrenching bisa bikin
pop-pup structure yang kelihatannya tidak mirip dengan karakter struktur
Samarinda anticlinorium (juga tidak cocok dengan karakter struktur Lengguru
Belt di Kepala Burung Papua kalau dibilang sebagai disebabkan Sorong dan
Tarera-Aiduna Faults). Pertanyaannya, kanapa Pak Andang memilih no. 3 ini,
dan apa keberatan-keberatan dengan mekanisme2 lainnya.
>
> Itu dulu pertanyaan2/komentar2 di sekitar regional tectonics yang sempat
menyelinap di pikiran saya sambil mendengarkan presentasi Pak Andang.
Pertanyaan2 tentang sedimentologi dan geokimia selanjutnya di part-2. Mohon
jawaban/komentar Pak Andang.
>
> Salam,
> awang
>
>
>
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs



---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi

Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif 
Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs 

Kirim email ke