ngomong2 Pak Mino bisa elaborasi istilah neotektonik? dipolitik ada juga neo2an...
sanggam ---
At 07:14 AM 4/28/2004 +0700, you wrote:
Bapak2,
Kita langsung realisasikan saja. Apa yang dinyatakan oleh Danny memang benar kita perlu wadah sepertu active tektonik group ataupun neotektonik group. Sayasetuju kita usulkan ke ketua PIT-IAGI yang akan datang untuk membuat special session untuk mendiskusikan masalah ini. Saya siap dan bersedia untuk berpartisipasi.
Ben Sapiie
> Mudah-mudahan fwd-an dari dikusi internal ini dapat menambah wawasan
> kita semua
>
> (Saya pernah postingkan juga fwd-an dari initiator diskusi ini pada 20
> April yang lalu di IAGINET)
>
> adb
>
> ----- Original Message -----
> From: D.H. Natawidjaja
> To: Posko Longsor ; pak Andang ; Dik Keyeub ; Pak Hery ; Pak Indra ;
> Empi ; Dik Fajar ; Pak Ridwan ; Bapake Cc: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Thursday, April 22, 2004 2:27 PM
> Subject: Re: microzonation
>
>
> Dengan hormat,
> Menanggapi e-mail Pak Soffian. Saya kebetulan sudah baca artikel anda
> di Berita IAGI. Bagus dan menarik, terutama menyangkut persepsi
> masyarakat akan pola "keteraturan" (atau ketidakteraturan) kejadian
> gempa bumi, dan reaksi masyarakat yang cenderung "mentakdirkan" bencana
> gempa bumi sehingga kurang menyadari bahwa besar efek bencana yang
> ditimbulkan sebenarnya bisa diperkecil dengan usaha mitigasi yang baik.
>
> Ada satu hal yang selalu berusaha saya komunikasikan ke masyarakat bahwa
> ada dua aspek besar yang sifatnya berbeda dalam usaha mitigasi bencana
> (gempa bumi). Yang pertama "short-term prediction" (meramalkan hari H
> nya kejadian gempa) dan yang kedua adalah "long-term" prediction
> (meng-kuantifikasikan potensi bencana gempa untuk satu kurun waktu
> kedepan tanpa harus mengetahui hari H-nya). Usaha yang pertama hanya
> mungkin kalau kita punya sistem monitoring gempa yang kontinyu dan
> memadai (jaringan seismograph, GPS, alat pencatat perubahan
> electromagnetic, dll.) yang dapat mendeteksi "pre-cursor" gempa, atau
> anomali perubahan fisik sebelum kejadian gempa besar. Short-term
> prediction bertujuan untuk evakuasi masyarakat agar tidak banyak korban
> jiwa. Long-term prediction selain juga untuk memperkecil korban jiwa
> tapi juga untuk memperkecil kerugian materi dan kerusakan infrastruktur
> dengan cara memasukan aspek bencana geologi kedalam regional planning
> dan peraturan kode (kualitas) bangunan seperti yang dikatakan Pak
> Soffian. Jadi kita harap kedua bidang besar dalam bidang prediksi gempa
> bumi ini tidak dikacaukan.
>
> Memang di Indonesia ini penelitian dan usaha mitigasi bencana alam
> (khususnya gempa bumi, tsunami) masih minimal atau dalam taraf awal.
> Menurut saya ada beberapa masalah besar yang kita hadapi: 1. Penelitian
> masih sedikit sehingga datanya belum banyak. Kecuali untuk P. Sumatra
> data gempanya sudah cukup banyak karena kami sudah dan sedang
> mempelajarinya dalam 10 tahun terakhir ini, dan ada beberapa peneliti
> asing lain yang juga mempelajarinya secara terpisah ataupun yang bekerja
> sama dengan kami. Kenalan saya Dr. Mark Petersen (USGS) malah sudah
> membuat peta Seismic Hazard Probabilistic untuk Sumatra dan Malaysia
> (=kuantifikasi besaran ground motion yang mungkin terjadi untuk kurun
> waktu tertentu ke depan). Sayapun sekarang sedang membimbing seorang
> mahasiswa S-2 Sipil ITB yang penelitiannya ingin membuat peta seismic
> hazard yang lebih baik untuk Sumatra. Untuk daerah lain di Indonesia
> data patahan aktif, baik peta dan karakteristik patahan (sumber
> gempanya) masih sangat sedikit. 2. Bidang mitigasi bencana, khususnya
> gempa bumi masih sangat kurang sosialisasinya, baik di kalangan ahli
> kebumian ataupun masyarakat. Salah satu sebabnya tentu karena orang
> yang menekuni bidang ini masih sangat sedikit. Sangat kontras dengan
> kenyataan bahwa Indonesia adalah daerah yang sangat rawan bencana. Di
> perguruan tinggi ilmu kebumian pun pelajaran tentang proses lingkungan
> dan bencana geologi masih sangat minor dibandingkan pelajaran yang
> menunjang ke arah explorasi dan exploitasi sumber alam. Di ITB, di
> Jurusan. Sipil bidang earthquake engineering sudah cukup lama
> berkembang, sedangkan di Jurusan Geologi mungkin baru tahun ini saya
> bersama-sama Pak Benyamin Sapii (Mino) dan Pak Prihadi baru memulai dua
> mata kuliah elektif baru untuk memperkenalkan bidang tektonik aktif
> (gempa bumi) dan mitigasi bencana alam. 3. Aspek bencana alam setahu
> saya memang belum resmi dimasukkan dalam peraturan pembangunan, misalnya
> untuk perencanaan tata-ruang dan penetapan kode(kualitas) bangunan. Hal
> ini juga disinyalir oleh Pak Soffian. Problemnya mungkin seperti
> lingkaran setan. Dari pihak birokrat dan praktisi bidang engineering
> kurang memahami aspek mitigasi bencana ini karena mungkin kurang
> mendapat "teriakan" dari pakar kebumian (yang masih sedikit dalam bidang
> ini). Dilain pihak pakar dan calon pakar kebumian kurang juga perhatian
> dan minatnya dalam bidang ini karena dianggap masih sepi "demand" atau
> pasaran-nya atau barangkalai karena "tak kenal maka tak sayang". 4.
> Kerjasama antar instansi dan antar pakar kebumian yang meneliti gempa
> bumi dan bencana alam masih harus ditingkatkan. Apalagi interaksi ahli
> kebumian dengan kalangan ahli sipil sangat kurang, padahal merekalah
> yang notabene paling dominan dalam menentukan kebijakan peraturan
> pembangunan infrastruktur di Indonesia . Sampai saat ini kegiatan
> praktis evaluasi mitigasi bencana, termasuk pembuatan peta seismic
> hazard untuk Indonesia masih didominasi oleh pakar di kalangan sipil.
> Pakar ilmu kebumian masih sedikit yang terlibat di dalamnya. Sekarang
> pun saya dengar para pakar engineering sedang dalam proses menggodok
> peraturan untuk pelaksanaan mitigasi bencana gempa bumi di Indonesia.
> Entah apakah ada banyak pakar kebumian yang ikut terlibat di dalamnya
> atau tidak, saya kurang tahu.
>
> Saya menyambut gembira ajakan dari Pak Soffian. Menimbang hal-hal
> tersebut di atas, ada beberapa hal yang menurut saya penting untuk
> dipikirkan. 1. Kita sebaiknya mempunyai semacam wadah komunikasi dan
> kerjasama yang sifatnya nasional untuk bidang mitigasi bencana (gempa
> bumi dll), sehingga usaha yang dilakukan tidak jalan sendiri-sendiri
> atau terisolir di instansi masing-masing. Suatu "forum nasional" juga
> akan lebih didengar suaranya dibanding suara seseorang atau salah satu
> instansi. 2. Dalam mitigasi bencana (gempa), hal pertama yang sangat
> dibutuhkan adalah DATA yang sampai saat ini masih minim, baik data
> sumber bencana (gempa) ataupun data geologi dekat permukaan yang sangat
> diperlukan untuk, misalnya, studi "microzoning" atau evaluasi bencana
> untuk "site specific". Hal pemodelan fisik untuk prediksi bencana-nya
> sebetulnya "is not really a big deal", sudah banyak dilakukan orang dan
> sudah cukup canggih-canggih. Misalnya orang sudah banyak yang membuat
> program simulasi komputer yang bisa menghitung dengan mudah berapa besar
> "shaking" atau "displacement" horizontal ataupun vertikal di suatu
> lokasi apabila terjadi gempa dengan magnitude tertentu di suatu sumber
> gempa tertentu pula. Masalahnya INPUT DATA-nya itu darimana? 3.
> Seismic hazard dan Microzoning saya pikir memang harus sudah mulai
> dilakukan di Indonesia, tapi hasilnya harus selalu di-update secara
> berkala untuk direvisi sesuai dengan data baru yang masuk.
>
> Untuk rencana jangka pendek, kalau orang yang berminat cukup banyak
> mungkin bisa diadakan suatu session/workshop khusus masalah ini di PIT
> IAGI mendatang di Bandung , bagaimana?
>
> Sebagai informasi, saat ini kami masih sangat sibuk dengan penelitian
> tektonik aktif dan gempa bumi di Sumatra. Tahun ini kita berencana
> menambah 12 statsiun Kontinyu GPS di Sumatra dari 6 buah yang sudah kami
> pasang dua tahun lalu. Dalam beberapa bulan mendatang ini rencananya
> kami sudah akan menyelesaikan pembuatan brosur dan poster populer
> tentang gempa bumi dan mitigasinya untuk memulai program sosialisasi dan
> pendidikan ke masyarakat dan instansi terkait.
>
> Sekian saja dulu diskusinya, terimakasih.
>
>
> Wassalam,
>
> Danny Hilman Natawidjaja
>
> --------------------------------------------------------------------
> ---------- Original Message -----
> From: Posko Longsor
> To: pak Andang ; Pak Danny ; Dik Keyeub ; Pak Hery ; Pak Indra ; Empi
> ; Dik Fajar ; Pak Ridwan ; Bapake Cc: [EMAIL PROTECTED]
> Sent: Tuesday, April 20, 2004 12:47 PM
> Subject: microzonation
>
>
> Dengan hormat , rekan rekan, saya percaya kalau dimasa depan
> kalau kita sudah tahu dengan rinci penyebaran dan sifat fisik ,
> termasuk dimensinya, baik lateral maupun vertical dari batuan,
> keberadaan patahan maupun retakan, arah sumber daya tekan maupun
> tarik, sudah mampu mengukur regangan maupun tegangan, dan ada
> computer yang cukup besar untuk mengolahnya kita bisa meprediksi
> dengan seksama hari H, jam J kapan terjadinya sebuah gempa.
>
> Menurut pak Untung Sudarsono selama ini, kualitatif kita pakai
> Richter scale maupun MMI scale, sedang kuantitatif kita gunakan
> data BMG (mohon dikoreksi Bapake).
>
> Kalangan teknik sipil mempersiapkan bangunannya untuk "mendapat"
> beban ayun horizontal dari segala arah kecuali dari
> "bawah"(gravitasi negative), meskipun secara teoritis hal ini
> mungkin terjadi kalau sumber gempanya tepat berada dibawah kita.
>
> Dari probabilitas ayun yang mungkin muncul tadi secara statistic
> ada arah ayun mayoritas, seperti saya yang tinggal di Surabaya,
> beban ayun yang sampai di kami selalu dari
> "Yogya","Pacitan","Malang selatan"atau dari "Banyuwangi
> selatan", kadang-kadang dari "Sumenep" atau "Semarang" tidak
> pernah dari "Banjarmasin"
>
> Secara global kita sudah coba bagi wilayah resiko kegempaan dari
> sisi Fore arc , Middle arc, maupun Back arc, padahal seperti
> Surabaya, bagian barat terdiri dari batuan tersier sedang di
> bagian timur tersusun dari batuan kwarter maupun recent dimana
> perilaku daya hantar rambatan gelombang tentunya berlainan
> ketika sampai dibangunan kita.
>
> Untuk itu saya berpendapat bagaimana kalau kita mulai
> mengembangkan microzonation.
>
> Bentuk konkritnya berupa metoda pengukuran gabungan antara
> kualitatif dan kuantitatif, berupa chart yang berisi tanda
> kerusakan fisik pada bangunan dan batuan maupun soil mirip
> MMI/Richter berikut pengukuran kuantitatif dimensi /struktur
> kerusakan seperti orientasi arah retakan, lebar bukak an pada
> retakan , korelasi struktur retakan terhadap sumbu kekakuan
> konstruksi bangunan, pengamatan distribusi beban bangunan dan
> pola retak yang mungkin muncul dengan tujuan diketahuinya arah
> umum pola ayun yang mungkin muncul pada microzona
> tersebut.Dimana pengetahuan akan arah mayoritas ini akan sangat
> membantu dalam perencanaan keamanan bangunan dan kemungkinan
> "penghematan" biaya konstruksi yang sangat significant.
>
> Ini baru ide awal tentu penjabarannya perlu banyak langkah ke
> depan.
>
> Terimakasih atas pencerahan yang anda berikan.
>
>
>
> Surabaya 20 April 2004
>
>
>
> Salam
>
>
>
> Soffian
>
> Anggota IAGI no 2794
>
>
>
>
>
>
>
> ------------------------------------------------------------------------------
> Do you Yahoo!?
> Yahoo! Photos: High-quality 4x6 digital prints for 25�
---------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id
Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED])
Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED])
Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED])
Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED])
Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED])
---------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

