Kelanjutan diskusi antara Pak Soffian Surabaya dengan Pak Danny Hilman Bandung yang sempat saya monitor 22-23 April yang lalu adalah sbb:
(Pak Paulus,.... itu Pak Danny Hilman [EMAIL PROTECTED] ; dan Pak Soffian [EMAIL PROTECTED] apakah gak masuk di milis iagi-net? Alangkah sangat bermanfaatnya kalau diskusi-diskusi mereka spt yang saya tangkap dibawah ini dapat mereka lakukan di milis kita ini) Soffian: Terima kasih Pak Danny. Rencana saya sebenarnya adalah sosialisasi mitigasi, karena keberadaan rekan-rekan di IAGI minoritas dibidang geologi dinamik maka kalau ditarik pelan pelan "dengan mengusik" kepedulian mereka terhadap bencana alam yang terkait dengan ilmu kebumian dengan membekali mereka "tool" berupa field meassuring chart dan disebarkan via (numpang) Berita IAGI/ IAGI net, agak seperti memaksa namun saya yakin mereka akan tidak keberatan kalau dicubit dikit dan dibekali alat ukur, kompilasi data hasil pengamatan geologist dibanyak tempat rasanya akan sangat membantu para peminat serius dibidang ini. Masalahnya format dan content dari chart itu yang perlu "disederhanakan meskipun tetap efektif" sehingga setiap orang dengan basic geologi pasti bisa mempergunakan , karena sebaran kejadian yang demikian luas dan kemungkinan perubahan kondisi bukti kejadian dilapangan yang sebaiknya segera diukur sebelum rusak oleh aktifitas apapun setelah kejadian. Harap anda tidak keberatan kalau saya akan sering minta pentunjuk Danny: Pak Soffian, Saya sepaham dengan ide-nya. Benar, sejauh ini kelihatannya belum ada tim ilmiah yang secara konsisten menginventarisasi data bencana alam yang terjadi. Seperti misalnya gempa yang di Nabire baru-baru ini data lapangannya mungkin sudah hilang begitu saja. Saya tanya teman-teman yang terkait dengan masalah ini, tidak ada satupun yang pergi ke lokasi bencana. Sayang sekali, padahal gempa strike-slip, double main-shocks, masing-masing berkekuatan sekitar Mw 7.5 dan Mw 7.1 ini tentunya memperlihatkan kenampakan surface ruptures yang menarik dan sangat diperlukan untuk usaha mitigasi bencana ke depan. Apalagi surface deformation ini menimbulkan kerusakan pada infrastruktur dan korban jiwa. Untuk implementasinya mungkin perlu wadah yang lebih terorganisir. Seperti membentuk satu tim pasca bencana terdiri dari orang-orang dari berbagai instansi yang tertarik masalah ini. Kalau ada kejadian bencana maka salah satu atau beberapa orang dari tim ini atau dari sukarelawan lepas yang tertarik yang mau berpartisipasi dapat pergi ke lokasi. Khusus untuk pengambilan data fault surface deformation, saya punya format/chart standar yang biasa dipakai di U.S. Mungkin tim semacam ini bisa berpayung di IAGI. Begitu pendapat saya. Silakan,.... (ADB) ----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, April 28, 2004 7:14 AM Subject: Re: [iagi-net-l] Fw: microzonation > Bapak2, > > Kita langsung realisasikan saja. Apa yang dinyatakan oleh Danny memang > benar kita perlu wadah sepertu active tektonik group ataupun neotektonik > group. Sayasetuju kita usulkan ke ketua PIT-IAGI yang akan datang untuk > membuat special session untuk mendiskusikan masalah ini. Saya siap dan > bersedia untuk berpartisipasi. > > Ben Sapiie > > > > Mudah-mudahan fwd-an dari dikusi internal ini dapat menambah wawasan > > kita semua > > > > (Saya pernah postingkan juga fwd-an dari initiator diskusi ini pada 20 > > April yang lalu di IAGINET) > > > > adb > > > > ----- Original Message ----- > > From: D.H. Natawidjaja > > To: Posko Longsor ; pak Andang ; Dik Keyeub ; Pak Hery ; Pak Indra ; > > Empi ; Dik Fajar ; Pak Ridwan ; Bapake Cc: [EMAIL PROTECTED] > > Sent: Thursday, April 22, 2004 2:27 PM > > Subject: Re: microzonation > > > > > > Dengan hormat, > > Menanggapi e-mail Pak Soffian. Saya kebetulan sudah baca artikel anda > > di Berita IAGI. Bagus dan menarik, terutama menyangkut persepsi > > masyarakat akan pola "keteraturan" (atau ketidakteraturan) kejadian > > gempa bumi, dan reaksi masyarakat yang cenderung "mentakdirkan" bencana > > gempa bumi sehingga kurang menyadari bahwa besar efek bencana yang > > ditimbulkan sebenarnya bisa diperkecil dengan usaha mitigasi yang baik. > > > > Ada satu hal yang selalu berusaha saya komunikasikan ke masyarakat bahwa > > ada dua aspek besar yang sifatnya berbeda dalam usaha mitigasi bencana > > (gempa bumi). Yang pertama "short-term prediction" (meramalkan hari H > > nya kejadian gempa) dan yang kedua adalah "long-term" prediction > > (meng-kuantifikasikan potensi bencana gempa untuk satu kurun waktu > > kedepan tanpa harus mengetahui hari H-nya). Usaha yang pertama hanya > > mungkin kalau kita punya sistem monitoring gempa yang kontinyu dan > > memadai (jaringan seismograph, GPS, alat pencatat perubahan > > electromagnetic, dll.) yang dapat mendeteksi "pre-cursor" gempa, atau > > anomali perubahan fisik sebelum kejadian gempa besar. Short-term > > prediction bertujuan untuk evakuasi masyarakat agar tidak banyak korban > > jiwa. Long-term prediction selain juga untuk memperkecil korban jiwa > > tapi juga untuk memperkecil kerugian materi dan kerusakan infrastruktur > > dengan cara memasukan aspek bencana geologi kedalam regional planning > > dan peraturan kode (kualitas) bangunan seperti yang dikatakan Pak > > Soffian. Jadi kita harap kedua bidang besar dalam bidang prediksi gempa > > bumi ini tidak dikacaukan. > > > > Memang di Indonesia ini penelitian dan usaha mitigasi bencana alam > > (khususnya gempa bumi, tsunami) masih minimal atau dalam taraf awal. > > Menurut saya ada beberapa masalah besar yang kita hadapi: 1. Penelitian > > masih sedikit sehingga datanya belum banyak. Kecuali untuk P. Sumatra > > data gempanya sudah cukup banyak karena kami sudah dan sedang > > mempelajarinya dalam 10 tahun terakhir ini, dan ada beberapa peneliti > > asing lain yang juga mempelajarinya secara terpisah ataupun yang bekerja > > sama dengan kami. Kenalan saya Dr. Mark Petersen (USGS) malah sudah > > membuat peta Seismic Hazard Probabilistic untuk Sumatra dan Malaysia > > (=kuantifikasi besaran ground motion yang mungkin terjadi untuk kurun > > waktu tertentu ke depan). Sayapun sekarang sedang membimbing seorang > > mahasiswa S-2 Sipil ITB yang penelitiannya ingin membuat peta seismic > > hazard yang lebih baik untuk Sumatra. Untuk daerah lain di Indonesia > > data patahan aktif, baik peta dan karakteristik patahan (sumber > > gempanya) masih sangat sedikit. 2. Bidang mitigasi bencana, khususnya > > gempa bumi masih sangat kurang sosialisasinya, baik di kalangan ahli > > kebumian ataupun masyarakat. Salah satu sebabnya tentu karena orang > > yang menekuni bidang ini masih sangat sedikit. Sangat kontras dengan > > kenyataan bahwa Indonesia adalah daerah yang sangat rawan bencana. Di > > perguruan tinggi ilmu kebumian pun pelajaran tentang proses lingkungan > > dan bencana geologi masih sangat minor dibandingkan pelajaran yang > > menunjang ke arah explorasi dan exploitasi sumber alam. Di ITB, di > > Jurusan. Sipil bidang earthquake engineering sudah cukup lama > > berkembang, sedangkan di Jurusan Geologi mungkin baru tahun ini saya > > bersama-sama Pak Benyamin Sapii (Mino) dan Pak Prihadi baru memulai dua > > mata kuliah elektif baru untuk memperkenalkan bidang tektonik aktif > > (gempa bumi) dan mitigasi bencana alam. 3. Aspek bencana alam setahu > > saya memang belum resmi dimasukkan dalam peraturan pembangunan, misalnya > > untuk perencanaan tata-ruang dan penetapan kode(kualitas) bangunan. Hal > > ini juga disinyalir oleh Pak Soffian. Problemnya mungkin seperti > > lingkaran setan. Dari pihak birokrat dan praktisi bidang engineering > > kurang memahami aspek mitigasi bencana ini karena mungkin kurang > > mendapat "teriakan" dari pakar kebumian (yang masih sedikit dalam bidang > > ini). Dilain pihak pakar dan calon pakar kebumian kurang juga perhatian > > dan minatnya dalam bidang ini karena dianggap masih sepi "demand" atau > > pasaran-nya atau barangkalai karena "tak kenal maka tak sayang". 4. > > Kerjasama antar instansi dan antar pakar kebumian yang meneliti gempa > > bumi dan bencana alam masih harus ditingkatkan. Apalagi interaksi ahli > > kebumian dengan kalangan ahli sipil sangat kurang, padahal merekalah > > yang notabene paling dominan dalam menentukan kebijakan peraturan > > pembangunan infrastruktur di Indonesia . Sampai saat ini kegiatan > > praktis evaluasi mitigasi bencana, termasuk pembuatan peta seismic > > hazard untuk Indonesia masih didominasi oleh pakar di kalangan sipil. > > Pakar ilmu kebumian masih sedikit yang terlibat di dalamnya. Sekarang > > pun saya dengar para pakar engineering sedang dalam proses menggodok > > peraturan untuk pelaksanaan mitigasi bencana gempa bumi di Indonesia. > > Entah apakah ada banyak pakar kebumian yang ikut terlibat di dalamnya > > atau tidak, saya kurang tahu. > > > > Saya menyambut gembira ajakan dari Pak Soffian. Menimbang hal-hal > > tersebut di atas, ada beberapa hal yang menurut saya penting untuk > > dipikirkan. 1. Kita sebaiknya mempunyai semacam wadah komunikasi dan > > kerjasama yang sifatnya nasional untuk bidang mitigasi bencana (gempa > > bumi dll), sehingga usaha yang dilakukan tidak jalan sendiri-sendiri > > atau terisolir di instansi masing-masing. Suatu "forum nasional" juga > > akan lebih didengar suaranya dibanding suara seseorang atau salah satu > > instansi. 2. Dalam mitigasi bencana (gempa), hal pertama yang sangat > > dibutuhkan adalah DATA yang sampai saat ini masih minim, baik data > > sumber bencana (gempa) ataupun data geologi dekat permukaan yang sangat > > diperlukan untuk, misalnya, studi "microzoning" atau evaluasi bencana > > untuk "site specific". Hal pemodelan fisik untuk prediksi bencana-nya > > sebetulnya "is not really a big deal", sudah banyak dilakukan orang dan > > sudah cukup canggih-canggih. Misalnya orang sudah banyak yang membuat > > program simulasi komputer yang bisa menghitung dengan mudah berapa besar > > "shaking" atau "displacement" horizontal ataupun vertikal di suatu > > lokasi apabila terjadi gempa dengan magnitude tertentu di suatu sumber > > gempa tertentu pula. Masalahnya INPUT DATA-nya itu darimana? 3. > > Seismic hazard dan Microzoning saya pikir memang harus sudah mulai > > dilakukan di Indonesia, tapi hasilnya harus selalu di-update secara > > berkala untuk direvisi sesuai dengan data baru yang masuk. > > > > Untuk rencana jangka pendek, kalau orang yang berminat cukup banyak > > mungkin bisa diadakan suatu session/workshop khusus masalah ini di PIT > > IAGI mendatang di Bandung , bagaimana? > > > > Sebagai informasi, saat ini kami masih sangat sibuk dengan penelitian > > tektonik aktif dan gempa bumi di Sumatra. Tahun ini kita berencana > > menambah 12 statsiun Kontinyu GPS di Sumatra dari 6 buah yang sudah kami > > pasang dua tahun lalu. Dalam beberapa bulan mendatang ini rencananya > > kami sudah akan menyelesaikan pembuatan brosur dan poster populer > > tentang gempa bumi dan mitigasinya untuk memulai program sosialisasi dan > > pendidikan ke masyarakat dan instansi terkait. > > > > Sekian saja dulu diskusinya, terimakasih. > > > > > > Wassalam, > > > > Danny Hilman Natawidjaja > > > > -------------------------------------------------------------------- > > ---------- Original Message ----- > > From: Posko Longsor > > To: pak Andang ; Pak Danny ; Dik Keyeub ; Pak Hery ; Pak Indra ; Empi > > ; Dik Fajar ; Pak Ridwan ; Bapake Cc: [EMAIL PROTECTED] > > Sent: Tuesday, April 20, 2004 12:47 PM > > Subject: microzonation > > > > > > Dengan hormat , rekan rekan, saya percaya kalau dimasa depan > > kalau kita sudah tahu dengan rinci penyebaran dan sifat fisik , > > termasuk dimensinya, baik lateral maupun vertical dari batuan, > > keberadaan patahan maupun retakan, arah sumber daya tekan maupun > > tarik, sudah mampu mengukur regangan maupun tegangan, dan ada > > computer yang cukup besar untuk mengolahnya kita bisa meprediksi > > dengan seksama hari H, jam J kapan terjadinya sebuah gempa. > > > > Menurut pak Untung Sudarsono selama ini, kualitatif kita pakai > > Richter scale maupun MMI scale, sedang kuantitatif kita gunakan > > data BMG (mohon dikoreksi Bapake). > > > > Kalangan teknik sipil mempersiapkan bangunannya untuk "mendapat" > > beban ayun horizontal dari segala arah kecuali dari > > "bawah"(gravitasi negative), meskipun secara teoritis hal ini > > mungkin terjadi kalau sumber gempanya tepat berada dibawah kita. > > > > Dari probabilitas ayun yang mungkin muncul tadi secara statistic > > ada arah ayun mayoritas, seperti saya yang tinggal di Surabaya, > > beban ayun yang sampai di kami selalu dari > > "Yogya","Pacitan","Malang selatan"atau dari "Banyuwangi > > selatan", kadang-kadang dari "Sumenep" atau "Semarang" tidak > > pernah dari "Banjarmasin" > > > > Secara global kita sudah coba bagi wilayah resiko kegempaan dari > > sisi Fore arc , Middle arc, maupun Back arc, padahal seperti > > Surabaya, bagian barat terdiri dari batuan tersier sedang di > > bagian timur tersusun dari batuan kwarter maupun recent dimana > > perilaku daya hantar rambatan gelombang tentunya berlainan > > ketika sampai dibangunan kita. > > > > Untuk itu saya berpendapat bagaimana kalau kita mulai > > mengembangkan microzonation. > > > > Bentuk konkritnya berupa metoda pengukuran gabungan antara > > kualitatif dan kuantitatif, berupa chart yang berisi tanda > > kerusakan fisik pada bangunan dan batuan maupun soil mirip > > MMI/Richter berikut pengukuran kuantitatif dimensi /struktur > > kerusakan seperti orientasi arah retakan, lebar bukak an pada > > retakan , korelasi struktur retakan terhadap sumbu kekakuan > > konstruksi bangunan, pengamatan distribusi beban bangunan dan > > pola retak yang mungkin muncul dengan tujuan diketahuinya arah > > umum pola ayun yang mungkin muncul pada microzona > > tersebut.Dimana pengetahuan akan arah mayoritas ini akan sangat > > membantu dalam perencanaan keamanan bangunan dan kemungkinan > > "penghematan" biaya konstruksi yang sangat significant. > > > > Ini baru ide awal tentu penjabarannya perlu banyak langkah ke > > depan. > > > > Terimakasih atas pencerahan yang anda berikan. > > > > > > > > Surabaya 20 April 2004 > > > > > > > > Salam > > > > > > > > Soffian > > > > Anggota IAGI no 2794 > > > > > > > > > > > > > > > > -------------------------------------------------------------------------- ---- > > Do you Yahoo!? > > Yahoo! Photos: High-quality 4x6 digital prints for 25� > > > > > --------------------------------------------------------------------- > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] > Visit IAGI Website: http://iagi.or.id > IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ > IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi > > Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id > Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) > Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) > Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) > --------------------------------------------------------------------- > --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

