Menyaksikan sidang terbuka promosi doktor pak ketum kita, sekarang sudah resmi boleh
disebut Dr. Andang Bachtiar, dengan pimpinan sidang Ibu Emmy Suparka, para promotor
Pak Soejono, Pak Sukendar, Pak Ong; tim penyanggah Pak Koesoemadinata, Pak Bona
Situmorang, dan John Decker (Unocal), Sabtu 24 April 2004 dari jam 13.00-15.00 di Gd.
Pasca Sarjana ITB, dengan mayoritas yang hadir adalah para mahasiswa S2 dan S3 ITB,
dan dinyatakan lulus; menyisakan beberapa pertanyaan dalam diri saya,
pertanyaan-pertanyaan klasik yang sudah sering dimasalahkan dan mungkin menjadi
"debate of decades" tanpa jawaban yang memuaskan.
Kebetulan Pak Andang sembilan tahun menggumuli Kutei Basin untuk disertasinya, saya
ingin menanyakan beberapa pertanyaan klasik di bawah ini, yang kebetulan saya dengar
di sidang itu (walau saya duduk di luar, untung pak ketum kita bersuara lantang)dan
saya baca di ringkasan disertasi. Kebetulan dalam sidang itu tidak diberikan
kesempatan bertanya buat para penonton, selain kepada para promotor dan penyanggah,
maka saya lewat jalur IAGI-net saja.
1. Bagaimana bisa Mersing subduction mengangkat Meratus Mts ? Kalau melihat sekuen
sedimen Barito Basin, maka proper Meratus Mts. naik intra Warukin Atas di sekitar
Miosen Atas dan pre Dahor molassic deposits di Pliosen. Katakanlah pengangkatannya
Mio-Pliosen. Maka ini lebih muda dari Mersing subduction. Saya percaya Mersing
subduction mengangkat Kuching High di Oligo-Miosen yang memulai delta progradation di
Kutei Basin pada Early Miocene. Bagaimana mekanisme yang tepat agar Meratus bisa
terangkat oleh Mersing sebab selain waktunya tidak cocok juga ada Schwaner Core yang
sangat stabil yang bisa menghalangi propagasi gaya kompresif dari Mersing subduction.
2. Kutei pernah menjadi back-arc basin ? Kedudukan ini dihubungkan dengan
tectonic/volcanic element yang mana ? Bila terhadap Lupar-Mersing Subduction Line
rasanya Kutei adalah oceanic basin, fore-arc pun bukan. Katakanlah intrusi2 di
Schwaner adalah hasil Mersing subduction, walaupun proper volcanic arc seperti di
Sumatra-Jawa tidak pernah muncul di sini dan umurnya pun harus dicek dulu, maka yang
back-arc basin lebih cocok adalah Barito walaupun untuk ini perlu banyak argumen. Di
Kutei ada Sembulu volcanics, tetapi hanya spotted di sekitar Bungalun dan rasanya
tidak bisa dipakai sebagai reference untuk tipe basin sebesar Kutei. Di bawah Meratus
ada Alino Arc yang pre-Tertiary, tetapi tidak bisa dipakai sebagai referensi
basin-basin Tertiary seperti Barito dan Kutei. Kutei, saya pikir, lebih cocok sebagai
tipe basin yang berkembang di passive margin yang divergent (relatif terhadap North
Makassar spreading), walaupun ini kemudian jadi failed/aborted rift basin.
3. Intrusi-intrusi Neogen (Mio-Pliosen) di Upper Kutei Basin itu dari mana atau
berasosiasi dengan subduction Mersing ? Ini kontradiktif dengan sejarah pemekaran dan
terhentinya South China Sea spreading dan collisionnya microplates Luconia, Reed Bank,
Dangerous Ground, dan Palawan Ridge. Hampir semua intrusi itu terjadi di tengah Rajang
flysh-melange, ini mengindikasi suatu migrasi antara subduction zone dan mungkin
volcanic arc, ini bisa berhubungan dengan pertanyaan ke-2 di atas.
4. Apa sebenarnya yang memisahkan Upper dengan Lower Kutei Basin ? Tinggian basement
pre-Tertiary mestinya kalau mau ideal. Kalau sekedar intrusi Neogen apa bisa ? Dulu,
oleh Hank Ott (1987) katanya ada Kutei "Gravity High" yang suka dipakai sebagai batas
itu walaupun apakah high ini berasosiasi dengan basement tidak dielaborasi lebih jauh,
hanya dipakai sebagai origin of present Kutei lakes di aliran Sungai Mahakam sekarang.
Menurut Pak Andang, High ini terangkat sezaman dengan Meratus Uplift pada 17.5 Ma.
Jadi pertanyaan, apa High ini ? Kalau sezaman dengan Meratus dan jadi tempat Kutei
Lakes sekarang, kenapa "high" ini tergeser lebih ke barat dibanding Meratus,
seolah-olah ada sesar mendatar sinistral (ini akan berantai ke pertanyaan : origin dan
reaktivasi Adang-Lupar Fault, slipnya; dan apa hubungan antara Samarinda Anticlinorium
dengan Meratus uplift, sebab di tempat Meratus berakhir, di situlah Samarinda
Anticlinorium mulai).
5. Asal inversi di Kutei Basin. Ini benar2 "debate of decades" Dari paper2 yang pernah
terbit saya bisa golongkan menjadi 7 mekanisme : (1) vertical diapirism, (2)
gravitational gliding, (3) stress couple of regional wrenching, (4) micro-continental
(East Sulawesi) collision, (5) detachment folding above overpressured sediments, (6)
differential loading within deltaic sediments, dan (7) inverted deltaic growth fault
system. Kalau saya ikuti, mekanisme no. 5 - 7 belakangan banyak diikuti dan banyak
eksperimen analog dengan sand box modelling. Mekanisme no. 1 terjadi di beberapa
tempat, tetapi tidak regional. Mekanisme no. 2 diawali oleh van Bemmelen (1949), Rose
& Hartono (1978), dan didetailkan Ott (1987) dan jadi dasar berpikir mekanisme no.
5-7. Mekanisme no. 4 yang sempat disebut oleh van de Weerd dan Armin (1992) dan no. 3
tidak mendapat evaluasi dan pengujian lebih jauh. Pak Andang memilih mekanisme no. 3
untuk asal inversi di Kutei Basin, menggunakan Adang dan Mangkalihat
Faults. Suatu stress couple dari dua regional wrenching bisa bikin pop-pup structure
yang kelihatannya tidak mirip dengan karakter struktur Samarinda anticlinorium (juga
tidak cocok dengan karakter struktur Lengguru Belt di Kepala Burung Papua kalau
dibilang sebagai disebabkan Sorong dan Tarera-Aiduna Faults). Pertanyaannya, kanapa
Pak Andang memilih no. 3 ini, dan apa keberatan-keberatan dengan mekanisme2 lainnya.
Itu dulu pertanyaan2/komentar2 di sekitar regional tectonics yang sempat menyelinap di
pikiran saya sambil mendengarkan presentasi Pak Andang. Pertanyaan2 tentang
sedimentologi dan geokimia selanjutnya di part-2. Mohon jawaban/komentar Pak Andang.
Salam,
awang
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs