Sambil menunggu komentar tambahan dari Pak Andang atau rekan-rekan yang lain, saya 
melanjutkan diskusi ini dengan beberapa pertanyaan lanjutan (part 2) tentang 
sedimentologi dan geokimia yang saya bangun dari disertasi Pak Andang.
 
1. Sedimen di Selatan-Wain Sub-Basin berasal dari Peg. Meratus dan Paternoster 
Platform di sebelah selatannya. Saya ingin mengkontraskannya dengan sedimen di 
Tengah-Utara Sub-Basin yang diendapkan oleh Sungai Mahakam purba yang mungkin 
mengindikasi provenance di western hinterland (katakanlah bagian dari Kuching High). 
Saya ingin menanyakan pengaruh dua provenance yang secara geologi berbeda ini terhadap 
kualitas reservoir di Selatan-Wain Sub-Basin dan Tengah-Utara Sub Basin. Dalam pikiran 
saya, kualitas reservoir di Selatan-Wain Sub-Basin akan lebih buruk dibanding 
Tengah-Utara Sub-Basin. Alasannya, karena Peg. Meratus adalah kompleks batuan 
basa-ultrabasa dengan mineral mafik yang tidak stabil dalam sedimentasi dan litifikasi 
reservoir dan Paternoster Platform adalah kompleks karbonat yang sering menghasilkan 
calcareous sands/clays. Di samping itu, letak provenance ini  terlalu dekat dengan 
Selatan-Sub Basin sehingga mature sand grains tak akan ditemukan sematang seperti di
 Tengah-Utara Sub Basin yang telah tertransportasi cukup jauh dari provenance-nya. Dua 
sumur Amerada Hess Tanjung Aru Block Halimun-1 dan Papandayan-1 membuktikan ini. 
Begitu dekatnya dua sumur ini dengan Paternoster Platform, dan objektif reservoir Late 
Miocene yang ditemukannya tak berkembang, digantikan calcareous clay.  Saya tidak 
menemukan perbandingan kualitas reservoir dari kedua sub-basin tersebut, barangkali 
Pak Andang bisa menambahkan ?
 
2. Tentang sequence stratigraphic framework of source rocks. Batuan induk Early 
Miocene terbaik ternyata ditemukan di LST. Pertanyaannya, kesimpulan ini berbeda 
dengan general knowledge bahwa the best source rocks biasanya ditemukan di bagian 
teratas TST pada MFS atau condensed section karena dominasi fine-grained sediments. Di 
deep-water Kutei, memang pengayaan source rocks terdapat bersama-sama reservoir pasir 
LST. Pertanyaan lanjutannya, apakah di onshore Kutei Basin (di Selatan-Wain Sub-Basin 
dan Tengah-Utara) pada Early Miocene sudah berkembang sistem deep-water sedimentation, 
mengingat selama ini didominasi sistem deltaik dan batas shelf-edge Early Miocene 
masih jauh ke timur.
 
3. Dalam disertasi dibahas HC proneness dua sub-basin di atas dengan distribusi 
kitchen dan jarak migrasi. Dalam pikiran saya, pengetahuan ini dibangun dengan 
memeriksa geokimia existing oil/gas accumulation di kedua sub-basin tersebut dan 
membuat semacam HC grouping, juga memeriksa geokimia expected source rocks. Dari data 
yang sempat saya lihat-lihat, oil to source rock correlation-nya baik dengan bulk 
properties, isotop, maupun biomarker belum saya temukan. Barangkali Pak Andang bisa 
menambahkan ?  
 
Itu saja. Terima kasih.
 
salam,
awang

Awang Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Andang,

Terima kasih atas diskusinya yang menarik. Beberapa catatan lanjutan dari saya adalah 
seperti di bawah ini.

1. Mungkin saya salah dengar kalau begitu bahwa Meratus terangkat karena Mersing 
subduction, maklum hanya mendengar dari luar he2... Docking Banggai-Sula di Sulawesi 
Timur pun atau mungkin lebih tepat Buton-Tukang Besi di SE Sulawesi pun rasanya masih 
sulit dipakai untuk menerangkan terangkatnya Meratus sebab banyak buffer untuk itu, 
yaitu ofiolit zone Sulawesi Timur, Teluk Bone, Sulawesi Barat, dan Makassar Strait 
yang luas. Saya di sebuah paper di PIT IAGI 1994 pernah menyebut asal gaya itu dari 
Sesar Adang yang reactivated lalu mengangkat northern massifs of Meratus Mts 
(Halat-Misi-Panaan-Kesale-Sihung highs), sementara bagian selatan Meratus tidak 
terangkat tapi plunging ke Florence Ridge di Laut Jawa. Untuk itu Adang Fault harus 
nyambung ke Walanae Fault di Sulawesi Selatan, kemudian nyambung lagi ke sisa-sisa 
Sumba Fracture. Dan, pada saat Australia collided Timor, maka ada propagasi gaya lewat 
retakan-retakan besar itu yang sekaligus mengubah slip geser Adang. Tapi ini hanya
mekanisme alternatif, saya melihat uplift Meratus itu kompleks tectonic origin-nya. 
Semoga kapan-kapan bisa dipecahkan dengan memuaskan.

2 dan 3. Sebuah low-angle Wadati-Benioff zone mestinya akan terjadi pada saat umur 
kerak oseanik masih muda dan bukannya tua. Kerak yang tua akan cenderung mengalami 
roll-back dan membuat sudut Wadati-Benioff zone akan curam, sehingga memicu 
pertumbuhan sel konveksi yang akan menyebabkan marginal basin spreading. Maka, 
pernyataan Soeria-Atmadja et al (1999) dan Hutchison (1996) akan sangat terkait dengan 
umur volkanik yang ditelitinya. Hanya, di Upper Kutei Basin kebanyakan umur volkanik 
adalah Mio-Pliosen, saat SCS sudah berhenti spreading; dan ini jadinya bertentangan 
dengan keberadaan low-angle subduction zone; saat-saat itu mestinya oceanic crust 
sudah menunjam dengan curam, atau malah patah oleh desakan collision mikrokontinen 
Luconia-Reed Bank dkk, dan ini akan sangat berefek ke komposisi volkaniknya. Rasanya 
banyak implikasi memberatkan yang butuh dukungan banyak data kalau Kutei pernah jadi 
back-arc basin; dibanding passive margin aulacogen yang sangat simple dan
well-resolved. Tapi, bagaimanapun, ini menarik. Menyebut suatu basin tipe apa pun akan 
banyak dibutuhkan sekian banyak pemikiran. Tipenya simpel tapi prosesnya tidak 
ternyata. 

Bertentangan dengan Soeria-Atmadja (1999) dan Hutchison (1996), sebuah low-angle 
subduction zone mestinya akan membuat volkanism muncul di tepi timur Rajang flysch 
zone, bukan di tengahnya (lebih ke barat), kalau di tengahnya justru itu mengindikasi 
normal atau malahan high-angle subduction zone. Pernyataan ini harus masih dibuktikan 
dengan umur anomali magnetik di kerak oseanik SCS, kalau ada, sekaligus untuk 
membuktikan apakah dua fase pemekaran SCS itu menghasilkan kerak oseanik baru atau 
tidak.

4. Ini harus didukung oleh umur-umur tektonik : Meratus Uplift, Samarinda 
Anticlinorium, dan reaktivasi Sesar Adang. Apa yang membuat Adang bergerak harus jelas 
dulu. Kutei-Gravity High dari dulu sudah disebut2, tetapi ini barang apa, masih tidak 
diketahui, oceanic crust seperti Meratus ? Tidak tahu, belum pernah ada sumur2 yang 
menembusnya. Sumur2 zaman dulu di Blok Semayang, Ritan, Maruwai (Elf Aquitaine dan 
Mobil) tidak ada yang menunjukkan barang "high" ini apa. Barangkali surface geology di 
Upper Kutei Basin ? 

5. Kelihatannya, efek dua sesar regional itu tidak ke seluruh transpression dan 
transtension Cekungan Kutei, tetapi hanya di sebatas kejadian sesar-sesar itu. 
Coupling dua sesar memang bisa terjadi, tetapi sejauh dan seluas batas-batas Kutei 
dipertanyakan, di samping keaktifan kedua sesar ini hanya lebih disebabkan propagasi 
gaya dari tempat regional lain. Katakanlah Mangkalihat Fault dari Palu-Koro, dan Adang 
dari Walanae-Sumba Fracture, ini pun mesti dipertanyakan.

Terima kasih, semoga diskusi memperkaya pengetahuan dan problema di Kutei Basin - the 
home of the giants...

Salam,
awang

ANDANG BACHTIAR wrote:
Pak Awang,
Terimakasih atas kehadirannya dalam sidang terbuka saya. Walaupun hanya
mendengarkan dari luar, jelas-jelas pengertian anda tentang Kutai jauh
melebihi apa yang sempat saya sampaikan dalam presentasi "ngebut" 35 menit
tersebut.

Beberapa hal yang bisa saya terangkan sehubungan dengan
pertanyaan-pertanyaan kritis sampeyan adalah sebagai berikut:

1. Dalam dissertasi saya tidak menyebutkan bahwa Mersing subduction
mengangkat Meratus Mts. Saya sebutkan bahwa Mersing subduction berakhir di
akhir Miosen Awal karena "docking"nya Reed-Palawan Bank ke zona penunjaman
menyebabkan pengangkatan Tinggian Kuching (BUKAN Meratus Mts.). Kebetulan
dari arsitektur sedimen terutama di Barito Basin (yaitu Fm. Warukin / Miosen
Tengah - Miosen Awal), kita mendapatkan kesimpulan bahwa Meratus Mts juga
mulai terangkat pada saat itu. Alternatif penyebab pengangkatannya adalah
dimulainya "docking" Banggai-Sula di zona penunjaman Sulawesi Timur (jadi,
bukan karena Mersing Subduction). Saya sangat setuju dengan anda bahwa:
terlalu jauh untuk menghubungkan penunjaman Mersing dengan pengangkatan
Meratus.

2. Soal Kutai pernah menjadi "back-arc" basin, saya merujuk pada publikasi
Soeria-atmadja, dkk, 1999 pada Special Edition dari Journal of Southeast
Asia Research dimana dalam edisi tsb anda juga menulis tentang perbandingan
Kutai-Tarakan-Barito. Di dalam paper itu mereka mendokumentasikan semua
fenomena batuan volkanik yang ada di Kalimantan (termasuk Cekungan Kutai
Hulu) dan merekonstruksi posisi tektonik lempengnya dalam suatu sistim
penunjaman (dalam hal ini Lupar Subduction dan Mersing Subduction). Dari
situlah istilah "back-arc" basin untuk Kutai saya munculkan. Fasa singkat
aulacogen juga saya masukkan dalam alternatif evolusi Cekungan Kutai
tersebut, seperti pernah saya presentasikan dalam "Kutai Basin Potpourri".

Khusus buat nomer 3 s/d 5 saya beri catatan singkat dulu, nanti setelah
acara sarasehan saya akan uraikan lebih rinci:

3. Intrusi-intrusi yang ada di Upper Kutai dalam skenario evolusi tektonik
Kutai yang saya buat TIDAK bertentangan dengan sejarah pemekaran SCS (South
China Sea) yang mengalami 2 fasa pemekaran. Selain itu, tidak semua intrusi
tersebut terletak "ditengah" Rajang Flysch zone. Khusus untuk intrusi yang
terletak di tengah Rajang Flysch zone, baik Hutchison (1996) maupun
Soeria-atmadja (1999) menginterpretasikan sebagai "low-angle subduction"
beneath the old/previous subduction zone.

4. Kutai gravity high sebagai batas antara Upper dan Lower Kutai kemungkinan
merupakan kemenerusan dari jalur Meratus (Wain & Berod, 1989).(yang
kemungkiinan tergeserkan ke Barat oleh sesar sinistral Adang #ADB)

5. Saya tidak secara apriori menerangkan inversi Cekungan Kutai hanya dengan
mekanisme Coupling/Wrenching. Secara khusus saya menuliskan bahwa kondisi
transpression-transtension pada Mio-Pliosen sampai Resen diakibatkan oleh
mekanisme Coupling/Wrenching tersebut. Kalau anda membaca Bab IV dissertasi
saya disitu diterangkan bahwa inversi terjadi karena berbagai macam sebab di
berbagai posisi daerah dari Cekungan.

DALAM ABSTRAK saya tuliskan: " Dari Miosen Tengah sampai Resen Cekungan
Kutai mengalami inversi regional yang dilanjutkan dengan kondisi
transpression - transtension akibat gaya tekanan wrenching dua sesar mengiri
utama di batas utara dan selatan cekungan". Nah,...... dalam abstrak
tersebut saya tidak menerangkan secara khusus penyebab inversi
regional,..... ,... kalimat selanjutnya menerangkan bahwa: wrenching itu
menyebabkan kondisi transpression-transtension (bukan secara khusus
menerangkan bahwa INVERSI diakibatkan oleh WRENCHING).


Mungkin segitu dulu,....
Thx banget atas diskusinya.........

ADB


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs 

Kirim email ke