Pak Awang, Terimakasih atas kehadirannya dalam sidang terbuka saya. Walaupun hanya mendengarkan dari luar, jelas-jelas pengertian anda tentang Kutai jauh melebihi apa yang sempat saya sampaikan dalam presentasi "ngebut" 35 menit tersebut.
Beberapa hal yang bisa saya terangkan sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis sampeyan adalah sebagai berikut: 1. Dalam dissertasi saya tidak menyebutkan bahwa Mersing subduction mengangkat Meratus Mts. Saya sebutkan bahwa Mersing subduction berakhir di akhir Miosen Awal karena "docking"nya Reed-Palawan Bank ke zona penunjaman menyebabkan pengangkatan Tinggian Kuching (BUKAN Meratus Mts.). Kebetulan dari arsitektur sedimen terutama di Barito Basin (yaitu Fm. Warukin / Miosen Tengah - Miosen Awal), kita mendapatkan kesimpulan bahwa Meratus Mts juga mulai terangkat pada saat itu. Alternatif penyebab pengangkatannya adalah dimulainya "docking" Banggai-Sula di zona penunjaman Sulawesi Timur (jadi, bukan karena Mersing Subduction). Saya sangat setuju dengan anda bahwa: terlalu jauh untuk menghubungkan penunjaman Mersing dengan pengangkatan Meratus. 2. Soal Kutai pernah menjadi "back-arc" basin, saya merujuk pada publikasi Soeria-atmadja, dkk, 1999 pada Special Edition dari Journal of Southeast Asia Research dimana dalam edisi tsb anda juga menulis tentang perbandingan Kutai-Tarakan-Barito. Di dalam paper itu mereka mendokumentasikan semua fenomena batuan volkanik yang ada di Kalimantan (termasuk Cekungan Kutai Hulu) dan merekonstruksi posisi tektonik lempengnya dalam suatu sistim penunjaman (dalam hal ini Lupar Subduction dan Mersing Subduction). Dari situlah istilah "back-arc" basin untuk Kutai saya munculkan. Fasa singkat aulacogen juga saya masukkan dalam alternatif evolusi Cekungan Kutai tersebut, seperti pernah saya presentasikan dalam "Kutai Basin Potpourri". Khusus buat nomer 3 s/d 5 saya beri catatan singkat dulu, nanti setelah acara sarasehan saya akan uraikan lebih rinci: 3. Intrusi-intrusi yang ada di Upper Kutai dalam skenario evolusi tektonik Kutai yang saya buat TIDAK bertentangan dengan sejarah pemekaran SCS (South China Sea) yang mengalami 2 fasa pemekaran. Selain itu, tidak semua intrusi tersebut terletak "ditengah" Rajang Flysch zone. Khusus untuk intrusi yang terletak di tengah Rajang Flysch zone, baik Hutchison (1996) maupun Soeria-atmadja (1999) menginterpretasikan sebagai "low-angle subduction" beneath the old/previous subduction zone. 4. Kutai gravity high sebagai batas antara Upper dan Lower Kutai kemungkinan merupakan kemenerusan dari jalur Meratus (Wain & Berod, 1989).(yang kemungkiinan tergeserkan ke Barat oleh sesar sinistral Adang #ADB) 5. Saya tidak secara apriori menerangkan inversi Cekungan Kutai hanya dengan mekanisme Coupling/Wrenching. Secara khusus saya menuliskan bahwa kondisi transpression-transtension pada Mio-Pliosen sampai Resen diakibatkan oleh mekanisme Coupling/Wrenching tersebut. Kalau anda membaca Bab IV dissertasi saya disitu diterangkan bahwa inversi terjadi karena berbagai macam sebab di berbagai posisi daerah dari Cekungan. DALAM ABSTRAK saya tuliskan: " Dari Miosen Tengah sampai Resen Cekungan Kutai mengalami inversi regional yang dilanjutkan dengan kondisi transpression - transtension akibat gaya tekanan wrenching dua sesar mengiri utama di batas utara dan selatan cekungan". Nah,...... dalam abstrak tersebut saya tidak menerangkan secara khusus penyebab inversi regional,..... ,... kalimat selanjutnya menerangkan bahwa: wrenching itu menyebabkan kondisi transpression-transtension (bukan secara khusus menerangkan bahwa INVERSI diakibatkan oleh WRENCHING). Mungkin segitu dulu,.... Thx banget atas diskusinya......... ADB ----- Original Message ----- From: "Awang Satyana" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Thursday, April 29, 2004 12:52 PM Subject: [iagi-net-l] Lupar Mersing Line-Kutei Basin-Meratus Range - part 1 > Menyaksikan sidang terbuka promosi doktor pak ketum kita, sekarang sudah resmi boleh disebut Dr. Andang Bachtiar, dengan pimpinan sidang Ibu Emmy Suparka, para promotor Pak Soejono, Pak Sukendar, Pak Ong; tim penyanggah Pak Koesoemadinata, Pak Bona Situmorang, dan John Decker (Unocal), Sabtu 24 April 2004 dari jam 13.00-15.00 di Gd. Pasca Sarjana ITB, dengan mayoritas yang hadir adalah para mahasiswa S2 dan S3 ITB, dan dinyatakan lulus; menyisakan beberapa pertanyaan dalam diri saya, pertanyaan-pertanyaan klasik yang sudah sering dimasalahkan dan mungkin menjadi "debate of decades" tanpa jawaban yang memuaskan. > > Kebetulan Pak Andang sembilan tahun menggumuli Kutei Basin untuk disertasinya, saya ingin menanyakan beberapa pertanyaan klasik di bawah ini, yang kebetulan saya dengar di sidang itu (walau saya duduk di luar, untung pak ketum kita bersuara lantang)dan saya baca di ringkasan disertasi. Kebetulan dalam sidang itu tidak diberikan kesempatan bertanya buat para penonton, selain kepada para promotor dan penyanggah, maka saya lewat jalur IAGI-net saja. > > 1. Bagaimana bisa Mersing subduction mengangkat Meratus Mts ? Kalau melihat sekuen sedimen Barito Basin, maka proper Meratus Mts. naik intra Warukin Atas di sekitar Miosen Atas dan pre Dahor molassic deposits di Pliosen. Katakanlah pengangkatannya Mio-Pliosen. Maka ini lebih muda dari Mersing subduction. Saya percaya Mersing subduction mengangkat Kuching High di Oligo-Miosen yang memulai delta progradation di Kutei Basin pada Early Miocene. Bagaimana mekanisme yang tepat agar Meratus bisa terangkat oleh Mersing sebab selain waktunya tidak cocok juga ada Schwaner Core yang sangat stabil yang bisa menghalangi propagasi gaya kompresif dari Mersing subduction. > > 2. Kutei pernah menjadi back-arc basin ? Kedudukan ini dihubungkan dengan tectonic/volcanic element yang mana ? Bila terhadap Lupar-Mersing Subduction Line rasanya Kutei adalah oceanic basin, fore-arc pun bukan. Katakanlah intrusi2 di Schwaner adalah hasil Mersing subduction, walaupun proper volcanic arc seperti di Sumatra-Jawa tidak pernah muncul di sini dan umurnya pun harus dicek dulu, maka yang back-arc basin lebih cocok adalah Barito walaupun untuk ini perlu banyak argumen. Di Kutei ada Sembulu volcanics, tetapi hanya spotted di sekitar Bungalun dan rasanya tidak bisa dipakai sebagai reference untuk tipe basin sebesar Kutei. Di bawah Meratus ada Alino Arc yang pre-Tertiary, tetapi tidak bisa dipakai sebagai referensi basin-basin Tertiary seperti Barito dan Kutei. Kutei, saya pikir, lebih cocok sebagai tipe basin yang berkembang di passive margin yang divergent (relatif terhadap North Makassar spreading), walaupun ini kemudian jadi failed/aborted rift basin. > > 3. Intrusi-intrusi Neogen (Mio-Pliosen) di Upper Kutei Basin itu dari mana atau berasosiasi dengan subduction Mersing ? Ini kontradiktif dengan sejarah pemekaran dan terhentinya South China Sea spreading dan collisionnya microplates Luconia, Reed Bank, Dangerous Ground, dan Palawan Ridge. Hampir semua intrusi itu terjadi di tengah Rajang flysh-melange, ini mengindikasi suatu migrasi antara subduction zone dan mungkin volcanic arc, ini bisa berhubungan dengan pertanyaan ke-2 di atas. > > 4. Apa sebenarnya yang memisahkan Upper dengan Lower Kutei Basin ? Tinggian basement pre-Tertiary mestinya kalau mau ideal. Kalau sekedar intrusi Neogen apa bisa ? Dulu, oleh Hank Ott (1987) katanya ada Kutei "Gravity High" yang suka dipakai sebagai batas itu walaupun apakah high ini berasosiasi dengan basement tidak dielaborasi lebih jauh, hanya dipakai sebagai origin of present Kutei lakes di aliran Sungai Mahakam sekarang. Menurut Pak Andang, High ini terangkat sezaman dengan Meratus Uplift pada 17.5 Ma. Jadi pertanyaan, apa High ini ? Kalau sezaman dengan Meratus dan jadi tempat Kutei Lakes sekarang, kenapa "high" ini tergeser lebih ke barat dibanding Meratus, seolah-olah ada sesar mendatar sinistral (ini akan berantai ke pertanyaan : origin dan reaktivasi Adang-Lupar Fault, slipnya; dan apa hubungan antara Samarinda Anticlinorium dengan Meratus uplift, sebab di tempat Meratus berakhir, di situlah Samarinda Anticlinorium mulai). > > 5. Asal inversi di Kutei Basin. Ini benar2 "debate of decades" Dari paper2 yang pernah terbit saya bisa golongkan menjadi 7 mekanisme : (1) vertical diapirism, (2) gravitational gliding, (3) stress couple of regional wrenching, (4) micro-continental (East Sulawesi) collision, (5) detachment folding above overpressured sediments, (6) differential loading within deltaic sediments, dan (7) inverted deltaic growth fault system. Kalau saya ikuti, mekanisme no. 5 - 7 belakangan banyak diikuti dan banyak eksperimen analog dengan sand box modelling. Mekanisme no. 1 terjadi di beberapa tempat, tetapi tidak regional. Mekanisme no. 2 diawali oleh van Bemmelen (1949), Rose & Hartono (1978), dan didetailkan Ott (1987) dan jadi dasar berpikir mekanisme no. 5-7. Mekanisme no. 4 yang sempat disebut oleh van de Weerd dan Armin (1992) dan no. 3 tidak mendapat evaluasi dan pengujian lebih jauh. Pak Andang memilih mekanisme no. 3 untuk asal inversi di Kutei Basin, menggunakan Adang dan Mangkalihat > Faults. Suatu stress couple dari dua regional wrenching bisa bikin pop-pup structure yang kelihatannya tidak mirip dengan karakter struktur Samarinda anticlinorium (juga tidak cocok dengan karakter struktur Lengguru Belt di Kepala Burung Papua kalau dibilang sebagai disebabkan Sorong dan Tarera-Aiduna Faults). Pertanyaannya, kanapa Pak Andang memilih no. 3 ini, dan apa keberatan-keberatan dengan mekanisme2 lainnya. > > Itu dulu pertanyaan2/komentar2 di sekitar regional tectonics yang sempat menyelinap di pikiran saya sambil mendengarkan presentasi Pak Andang. Pertanyaan2 tentang sedimentologi dan geokimia selanjutnya di part-2. Mohon jawaban/komentar Pak Andang. > > Salam, > awang > > > > --------------------------------- > Do you Yahoo!? > Win a $20,000 Career Makeover at Yahoo! HotJobs --------------------------------------------------------------------- To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Visit IAGI Website: http://iagi.or.id IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/ IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi Komisi Sedimentologi (FOSI) : F. Hasan Sidi([EMAIL PROTECTED])-http://fosi.iagi.or.id Komisi SDM/Pendidikan : Edy Sunardi([EMAIL PROTECTED]) Komisi Karst : Hanang Samodra([EMAIL PROTECTED]) Komisi Sertifikasi : M. Suryowibowo([EMAIL PROTECTED]) Komisi OTODA : Ridwan Djamaluddin([EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]), Arif Zardi Dahlius([EMAIL PROTECTED]) Komisi Database Geologi : Aria A. Mulhadiono([EMAIL PROTECTED]) ---------------------------------------------------------------------

