At 05:47 AM 3/10/02 +0700, you wrote: >masalahnya, kita kerepotan dengan siapa yang "berhak" >mengatur tata cara itu jika memang diserahkan kepada >lembaga resmi. >misal kalau kita ambil go.id. ada banyak pihak yang >merasa "berhak". contoh: >- menpan merasa bahwa standarisasi adalah hak mereka. > dan saat ini mereka memang sedang merumuskan standarisasi > (entah standarisasi apa saya tidak tahu) untuk government
Kalo Bapak2 di sini gak diajak utk rembukan standarisasi itu pasti jadinya gak jelas deh. Dijamin. >- menegkominfo merasa bahwa urusan communication & information > (termasuk internet) berada di bawah kementrian ini Mungkin kantor saya termasuk yg pertama nguber menteri2 pas habis dilantik Megawati. Waktu itu Pak Menteri ini sampe 2 minggu setelah dilantik masih bingung koordinasi sama Sekjen Badan Informasi Nasional (ex Deppen) dan belum punya struktur (Meneg Pariwisata sampe skr juga belum beres strukturnya kabarnya). >- menhub, karena direktorat jendral pos & telekomunikasi > (yang mengeluarkan ijin ISP/dsb.) ada di sini, maka mereka > yang lebih berhak Koordinasinya gimana ya Dirjen Postel di bawah Dephub (= TRANSPORTATIONS) dg Meneginfo? >- sekneg, karena yang mengambil keputusan dan sudah menjalankan ri-net >- menristek, karena BPPT berada di bawah pengelolaannya maka > mereka lebih tahu masalah internet dan masih plat merah >- kumdang, karena mereka yang menetapkan hukum, trademark, > dan yang berhubungan dengan legalitas >- menperindag, karena nama domain berhubungan dengan commerce > dan di Amerika juga Dept.of Commerce (DoC) yang mengurusi > soal nama domain Tapi di AS begitu sudah dibikin saklek yg ngiris beginian DoC kan lembaga lain gak rebutan ya? >apa nggak bingung tuh? masing-masing tentunya punya kepentingan >dan intrik-intrik sendiri ;-) Sebetulnya kalo Manajemen Pemerintahan Republik Indonesia itu bagus, WORKFLOW-nya kan bisa dibuat dan dijalankan ya.... Jadi semua yg terkait memang berkoordinasi - ada expert yg kasih spec & rambu2, ada pihak2 yg masukin kebutuhannya masing2, ada yg mengolah, dan ada yg MENGESAHKAN DOANG. > > Terima kasih kembali, tapi kalau 'pengaturan idnic' yang ada sekarang > > dianggap lebih baik (katakanlah lebih longgar) dibanding kalau 'mereka' > > yang mengatur, justru itu lebih sarkastis :-) > >wahh... anda belum tahu rencana/proposal mereka sih. >misalnya pernah ada proposal bahwa untuk mendaftarkan >co.id harus dilegalisir/approved dulu oleh KADIN. >nah lho. apa ini ndak lebih ribet? Ribet dan DIJAMIN BAKALAN LEBIH MAHAL! Resiko registrasi domain kalo dikelola pihak2 spt Kadin sbb (maaf Bapak2 Kadin, masukan ini utk direspon jangan sampe terjadi): 1. Form online ditiadakan, semua harus datang ke satu kantor anu utk isi form kertas dgn bayaran yg lebih mahal 2. Form online diadakan tapi harus datang ke satu kantor anu utk AMBIL SERTIFIKAT DOMAIN (tahunan) dg bayaran ekstra 3. Form online diadakan, sertifikat domain tidak ada, tapi bayaran tetap lebih mahal dan urusannya gak jelas lah pokoknya. Review: Siapa yg suka ngurus pembuatan PT dan TDR sebelum diserahkan KADIN mungkin paham hal ini: Lebih enak mana jaman dulu sama jaman setelah diurus KADIN (overall aspects)? Sulis'tp >-- budi > >On Sat, Mar 09, 2002 at 10:52:57PM +0700, adi wrote: > > tapi, maksudnya saya, serahkan ke lembaga resmi pemerintah > > atau militer untuk PENGATURAN TATA NAMA SAJA (untuk domain go.id, > > mil.id dan ac.id). >... -- STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED] START-LANGGANAN: 'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

