Saya hanya ingin memberikan sedikit cerita pentingnya akurasi data, tapi ini jauh dari IT ;-) maaf intermeso.
Begini ceritanya ada seorang pak Kepala Desa, saat itu ditanya oleh seorang mahasiswa yang sedang survey. Pak Kepala Desa ditanya pak jumlah kambing disini berapa ? sebelum menjawab dia bertanya kepada Juru Tulisnya. Jurus tulis menjawab tujuh belas. Kemudian ditanya jumlah sapi berapa ? dia kembali bertanya kepada Juru Tulis, dia jawab dua puluh lima. Pak Kade menegaskan dua puluh lima. Kemudian mahasiswa bertanya jumlah janda berapa. Naaaah kalau itu saya hapal yaitu sepuluh orang, jawab pak kades sambil tersenyum penuh arti. Padahal mahasiswa tsb sedang studi potensi desanya. Akhirnya sang mahasiswa membuat laporannya dan menyimpulkan desa tsb berpotensi sebagai daerah peternakan kambing dan sapi. Manakala KUD desa tsb didaftarkan sebagai KUD potensial untuk eksppor sapi dan kambing, akhirnya kerepotan karena memang sebenarnya tidak berpotensi sama sekali. Mungkin data yang diberikan Juru Tulis adalah data beberapa tahun lalu yang sudah tidak valid., seab lahannya banyak berubah jadi perumahan satu perusahaan Real Estate. Akhirnya desa tsb tidak bisa memenuhi kuota ekspor sapi dan kambing. Saya pernah dengar juga soal ekspor kerajinan tangan di daerah jawa barat, akhirnya sekarang kurang terdengar lagi ;-). Salam -marno- -- STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED] START-LANGGANAN: 'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

