konon, jaman dahulu kala, nenek moyang bangsa Indonesia adalah kaum 
pelaut dan the great explorer. ingat kapal borobudur?

konon, bahkan nenek moyang dalai lama belajar spiritual ke kiblat 
budhis dunia kala itu yaitu sriwijaya di sekitar palembang.

konon, sblm pengaruh2 timur tengah dan barat masuk, manusia di pulau 
jawa sudah lengkap instrumen kehidupannya sbg manusia, komplit dgn 
panduan spiritual, bahasa, huruf, musik, dan macem2 asli tanah jawi.

konon, raja jawa pernah menaklukkan dan menguasai asia tenggara raya 
nyaris menyaingi kubilai khan dan jengis khan yang belum pernah 
tercatat bisa menaklukkan nusantara.

konon, nenek moyang manusia jawa pernah membangun karya arsitektur 
monumental yang pernah tercatat sbg salah satu keajaiban dunia, tapi 
terus gak masuk lagi krn menteri pariwisatanya skr lupa lobi2.

konon, patung2 di lembah bada (60km dari tentena tempatku pernah 
digerebek polisi jam 2 malem) yang perkiraan tertua berusia 4ribu 
tahun namun desainnya post modern - berarti sblm rennaissance muncul 
di eropa, udah jauh lebih dulu di sulawesi - tidak diketahui siapa 
pembuatnya krn nenek moyang orang setempat generasi sekarang waktu 
dateng ke daerah itu udah ada patung2nya...

kayaknya ada missing link dalam sejarah bangsa Indonesia.
ada yg hilang antara nenek moyang generasi korup tak berkultur 
penjelajah sekarang ini dgn generasi nenek moyang sebelumnya yang 
membuat sejarah besar, the great explorer, the conqueror.

yg penting punya kesadaran bhw masa purbakala nenek moyang kita punya 
kultur maju. kesadaran ini smg bisa membantu membangkitkan kultur 
penjelajahan, petualangan, kejujuran, kebesaran hati, kebanggaan 
bangsa - gak minder dan gak malu2in sbg orang melayu, gak mau kerjaan 
sama tapi digaji lebih rendah dari bule, berdiri sama tinggi duduk 
sama rendah dgn semua manusia di seluruh dunia.

Tommy Tomahawk
www.friendster.com/tomahawks


--- In [email protected], "puguh_imanto" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> pertanyaan yang masih menggelitik; dari sekian banyak orang 
indonesia 
> yang secara finasial stabil, kenapa belum ada satupun yang kayak 
Kang 
> Steve Fosset (http://en.wikipedia.org/wiki/Steve_Fosset) ato KAwan 
> Richard Brason (http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Branson), yang 
> cita2nya sederhana: naek balon keliling bumi...
> 
> Apa batas aktualisasi diri khas melayu: rumah gedong, mobil 
kinclong. 
> 
> Dan kehidupan berhenti...
> 
> :)
> Puguh
> 
> 
> --- In [email protected], "sulistp" <tommy@> wrote:
> >
> > Ada masalah kultural.
> > Indonesia sebagai bangsa tidak punya kultur penjelajahan dan 
> > petualangan.
> > Mentok2 mudik Lebaran.
> > 
> > Maaf bagi Anda yang merasa berjiwa dan bertradisi petualang, 
> > tengoklah berapa orang di sekeliling Anda yang seperti Anda.
> > Anda minoritas!
> > 
> > Tommy Tomahawk 
> > 
> > --- In [email protected], joko santoso 
> > <devratodeswa@> wrote:
> > >
> > > Pangsa wisata mayoritas bukan remaja tapi dari yang berduit.  
> > Naasnya, yang berduit umumnya sudah mapan dan tidak punya waktu 
> > luang.  Makanya mereka lebih senang 'serba ringkas serba beres'.  
> > Ikut tour.  Dengan target remaja, sebenarnya iklan itu tepat 
> > sasaran.  Remaja bisanya punya waktu longgar dan dapat uang dari 
> > orang tuanya.  Bukankah ada kiat klasik "jika ingin menguras 
> kantong 
> > orang tua pikatlah anaknya?"  Tengok saja industri musik dan 
mode.  
> > Mana pangsa terbesarnya?
> > > 
> > > Kalau mau sedikit nakal, membidik remaja itu sifatnya mirip 
> > indoktrinasi .. he-he-he.  Dari sebelum bisa mencari uang sendiri 
> > telah ditanamkan anggapan bahwa wisata (backpacking) itu bukan 
> > sekadar buang duit.  Harapannya tentu menyusupkan wisata 
> > (backpacking) ke dalam senarai kebutuhan hidup.  Jika ini 
berhasil, 
> > saat remaja tadi hidupnya mapan ia tetap berwisata 
(backpacking).  
> > Bisa saja kemapanan mengubah gaya jalan-jalannya.  Tapi yang 
lebih 
> > penting adalah ia berwisata (backpacking) lebih karena 
> > alasan 'ideologis' ketimbang dalih 'punya duit lebih'. 
> > > 
> > > Maaf kalau ada yang tersinggung.  Seiring peningkatan kualitas 
> > hidup, orang perlu 'pentas' lebih luas untuk 
> > mengekspresikan 'kelebihannya'.  Salah satu yang dirambah adalah 
> > dunia wisata.  Jika hal buruk tak dapat dihindari dan 'tak ada 
lagi 
> > uang lebih', mereka akan mencoret wisata (backpacking) dari 
daftar 
> > kebutuhannya.  Bagi yang backpacking karena 'ideologi' agak 
> mustahil 
> > menghilangkan rasa ketagihan jalan yang sudah meracuni jiwa-
> raganya.  
> > Apapun akan ia upayakan, seperti misalnya berhemat, agar bisa 
> > menabung untuk jalan.
> > > 
> > > Bagi para pelaku bisnis wisata, pejalan karena 'punya duit 
lebih' 
> > umumnya lebih disukai.  Umumnya merka lebih 'royal' membelanjakan 
> > uang.  Sebaliknya yang jalan karena 'ideologi' lebih rewel dan 
> maunya 
> > serba irit .. he-he-he. 
> > > 
> > > Salam dari Sangatta
> > > 
> > > 
> > > 
> > > -----Original Message-----
> > > From: [email protected]
> > > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Laila 
Aryani
> > > Sent: Tuesday, October 02, 2007 5:24 PM
> > > To: Indobackpacker
> > > Subject: Re: [indobackpacker] Lagu rasa Sayange??
> > > 
> > > udah liat iklan pariwisatanya Indonesia?
> > > kok kata2 himbauannya (kalo ga salah denger) 
> > > "hai remaja Indonesia...."
> > > lha kok cuman remaja aja sih?
> > > segmen pariwisata ga cuman untuk remaja.
> > > mungkin maksudnya supaya nginetin ke para remaja untuk lebih 
cinta
> > > negeri ini.
> > > 
> > > 
> > >       
> > > __________________________________ 
> > > Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and 
photos. 
> > > http://sg.movies.yahoo.com/
> > >
> >
>


Kirim email ke