Mungkinkah salah satu penghambat naluri menjelajah adalah gara2 fiskal?
Indonesia adalah salah satu negara terakhir di dunia yang masih membatasi 
rakyatnya sendiri untuk keluar negeri.

Ini menyebabkan hanya yang kaya yang berhak melihat2 dunia dan mengembangkan 
wawasan, sedangkan yang muda dan berpotensi dikurung dan pikirannya menjadi 
sempit. 

Padahal, kesempatan terbesar manusia Indonesia untuk keluar dari dunianya dan 
mencari petualangan baru adalah saat muda, 19 - 25 tahun, di mana belum terikat 
oleh kewajiban bekerja dan keluarga. Dengan adanya fiskal, membuat anak2 muda 
yang belum berpenghasilan ini tidak dapat melihat sisi-sisi dunia yang lebih 
maju atau mencari ide untuk pengembangan diri dan negeri. 

Generasi yang terbiasa terkungkung ini dapat menjadi hilang naluri 
mengembangkan dirinya, karena tidak terbiasa mengambil risiko dan mencari dunia 
baru. 
Secara psikologis, generasi terkungkung ini pun dapat menjadi:
1) Menjadi kerdil dan sangat menghamba bule - karena yang dilihat hanya bule 
kaya (padahal di negerinya bule yang sama bisa cuma sekedar kerja kasar). 

atau

2) Paranoid dan malah membenci berlebihan segala yang asing - mungkin karena 
pelampiasan minder dalam hati, atau xenophobia.

Bagaimana menurut teman2?


sulistp <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               konon, jaman 
dahulu kala, nenek moyang bangsa Indonesia adalah kaum 
 pelaut dan the great explorer. ingat kapal borobudur?
 
 konon, bahkan nenek moyang dalai lama belajar spiritual ke kiblat 
 budhis dunia kala itu yaitu sriwijaya di sekitar palembang.
 
 konon, sblm pengaruh2 timur tengah dan barat masuk, manusia di pulau 
 jawa sudah lengkap instrumen kehidupannya sbg manusia, komplit dgn 
 panduan spiritual, bahasa, huruf, musik, dan macem2 asli tanah jawi.
 
 konon, raja jawa pernah menaklukkan dan menguasai asia tenggara raya 
 nyaris menyaingi kubilai khan dan jengis khan yang belum pernah 
 tercatat bisa menaklukkan nusantara.
 
 konon, nenek moyang manusia jawa pernah membangun karya arsitektur 
 monumental yang pernah tercatat sbg salah satu keajaiban dunia, tapi 
 terus gak masuk lagi krn menteri pariwisatanya skr lupa lobi2.
 
 konon, patung2 di lembah bada (60km dari tentena tempatku pernah 
 digerebek polisi jam 2 malem) yang perkiraan tertua berusia 4ribu 
 tahun namun desainnya post modern - berarti sblm rennaissance muncul 
 di eropa, udah jauh lebih dulu di sulawesi - tidak diketahui siapa 
 pembuatnya krn nenek moyang orang setempat generasi sekarang waktu 
 dateng ke daerah itu udah ada patung2nya...
 
 kayaknya ada missing link dalam sejarah bangsa Indonesia.
 ada yg hilang antara nenek moyang generasi korup tak berkultur 
 penjelajah sekarang ini dgn generasi nenek moyang sebelumnya yang 
 membuat sejarah besar, the great explorer, the conqueror.
 
 yg penting punya kesadaran bhw masa purbakala nenek moyang kita punya 
 kultur maju. kesadaran ini smg bisa membantu membangkitkan kultur 
 penjelajahan, petualangan, kejujuran, kebesaran hati, kebanggaan 
 bangsa - gak minder dan gak malu2in sbg orang melayu, gak mau kerjaan 
 sama tapi digaji lebih rendah dari bule, berdiri sama tinggi duduk 
 sama rendah dgn semua manusia di seluruh dunia.
 
 Tommy Tomahawk
 www.friendster.com/tomahawks
 
 --- In [email protected], "puguh_imanto" 
 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >
 > 
 > pertanyaan yang masih menggelitik; dari sekian banyak orang 
 indonesia 
 > yang secara finasial stabil, kenapa belum ada satupun yang kayak 
 Kang 
 > Steve Fosset (http://en.wikipedia.org/wiki/Steve_Fosset) ato KAwan 
 > Richard Brason (http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Branson), yang 
 > cita2nya sederhana: naek balon keliling bumi...
 > 
 > Apa batas aktualisasi diri khas melayu: rumah gedong, mobil 
 kinclong. 
 > 
 > Dan kehidupan berhenti...
 > 
 > :)
 > Puguh
 > 
 > 
 > --- In [email protected], "sulistp" <tommy@> wrote:
 > >
 > > Ada masalah kultural.
 > > Indonesia sebagai bangsa tidak punya kultur penjelajahan dan 
 > > petualangan.
 > > Mentok2 mudik Lebaran.
 > > 
 > > Maaf bagi Anda yang merasa berjiwa dan bertradisi petualang, 
 > > tengoklah berapa orang di sekeliling Anda yang seperti Anda.
 > > Anda minoritas!
 > > 
 > > Tommy Tomahawk 
 > > 
 > > --- In [email protected], joko santoso 
 > > <devratodeswa@> wrote:
 > > >
 > > > Pangsa wisata mayoritas bukan remaja tapi dari yang berduit.  
 > > Naasnya, yang berduit umumnya sudah mapan dan tidak punya waktu 
 > > luang.  Makanya mereka lebih senang 'serba ringkas serba beres'.  
 > > Ikut tour.  Dengan target remaja, sebenarnya iklan itu tepat 
 > > sasaran.  Remaja bisanya punya waktu longgar dan dapat uang dari 
 > > orang tuanya.  Bukankah ada kiat klasik "jika ingin menguras 
 > kantong 
 > > orang tua pikatlah anaknya?"  Tengok saja industri musik dan 
 mode.  
 > > Mana pangsa terbesarnya?
 > > > 
 > > > Kalau mau sedikit nakal, membidik remaja itu sifatnya mirip 
 > > indoktrinasi .. he-he-he.  Dari sebelum bisa mencari uang sendiri 
 > > telah ditanamkan anggapan bahwa wisata (backpacking) itu bukan 
 > > sekadar buang duit.  Harapannya tentu menyusupkan wisata 
 > > (backpacking) ke dalam senarai kebutuhan hidup.  Jika ini 
 berhasil, 
 > > saat remaja tadi hidupnya mapan ia tetap berwisata 
 (backpacking).  
 > > Bisa saja kemapanan mengubah gaya jalan-jalannya.  Tapi yang 
 lebih 
 > > penting adalah ia berwisata (backpacking) lebih karena 
 > > alasan 'ideologis' ketimbang dalih 'punya duit lebih'. 
 > > > 
 > > > Maaf kalau ada yang tersinggung.  Seiring peningkatan kualitas 
 > > hidup, orang perlu 'pentas' lebih luas untuk 
 > > mengekspresikan 'kelebihannya'.  Salah satu yang dirambah adalah 
 > > dunia wisata.  Jika hal buruk tak dapat dihindari dan 'tak ada 
 lagi 
 > > uang lebih', mereka akan mencoret wisata (backpacking) dari 
 daftar 
 > > kebutuhannya.  Bagi yang backpacking karena 'ideologi' agak 
 > mustahil 
 > > menghilangkan rasa ketagihan jalan yang sudah meracuni jiwa-
 > raganya.  
 > > Apapun akan ia upayakan, seperti misalnya berhemat, agar bisa 
 > > menabung untuk jalan.
 > > > 
 > > > Bagi para pelaku bisnis wisata, pejalan karena 'punya duit 
 lebih' 
 > > umumnya lebih disukai.  Umumnya merka lebih 'royal' membelanjakan 
 > > uang.  Sebaliknya yang jalan karena 'ideologi' lebih rewel dan 
 > maunya 
 > > serba irit .. he-he-he. 
 > > > 
 > > > Salam dari Sangatta
 > > > 
 > > > 
 > > > 
 > > > -----Original Message-----
 > > > From: [email protected]
 > > > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Laila 
 Aryani
 > > > Sent: Tuesday, October 02, 2007 5:24 PM
 > > > To: Indobackpacker
 > > > Subject: Re: [indobackpacker] Lagu rasa Sayange??
 > > > 
 > > > udah liat iklan pariwisatanya Indonesia?
 > > > kok kata2 himbauannya (kalo ga salah denger) 
 > > > "hai remaja Indonesia...."
 > > > lha kok cuman remaja aja sih?
 > > > segmen pariwisata ga cuman untuk remaja.
 > > > mungkin maksudnya supaya nginetin ke para remaja untuk lebih 
 cinta
 > > > negeri ini.
 > > > 
 > > > 
 > > >       
 > > > __________________________________ 
 > > > Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and 
 photos. 
 > > > http://sg.movies.yahoo.com/
 > > >
 > >
 >
 
 
     
                               


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke