Wah saya terlambat sharing ya. Tapi boleh dong nambahin.

 

Saya, Nita dan Andree mungkin sama. Ada skala prioritas dalam hidup kita.
Saya ngga bisa bilang kalau prioritas x lebih bagus dari prioritas y. Nggak
bisa saya nyinyir bilang, "Jalan-jalan aja lo, urusin tuh rumah pada bocor
!". Kita nggak bisa maksain ukuran baju kita di badan orang lain.  Untuk
hidup saya, bisa jadi kondisi keluarga mempunyai pengaruh besar. Sehingga
prioritas dalam hidup saya waktu itu adalah selesai kuliah, kerja dan bisa
bantu keluarga.

 

Tapi saya bukan kutu buku. Jalan juga kesana-sini. Kedinginan di gunung dan
pacet dengan suka ria mentransfusi darah saya ke badannya. Masuk gua penuh
air, yang setelahnya baru kita sadar kalau ada-apa-apa ngga ada orang yang
tau, atau traveling  keliling pulau Jawa Bali. Masa kuliah memang
menyenangkan, ya. Ah gila ! Sudah 22 tahun yang lalu ! 

 

Apa yang saya jalanin itu memang tipikal anak-anak kuliah. Ongkos pasti
minta sama orang tua meski pas-pasan. Nggak pernah saya mikir seperti apa
yang dilakukan Tari, misalnya. Apalagi seperti Agustinus.  Atau mereka yang
cari cara bagaimana bisa traveling Rp.0. Di sini Trinity nggak masuk itungan
karena kalo baca ceritanya, dia termasuk orang yang dilahirkan dengan
keberuntungan finansial (quote Deedee).

 

Tapi saya tetep menganggap traveling itu bukan suatu hal yang dibela-belain
musti kita lakukan dalam jangka waktu tertentu, tetap dengan alasan
finansial. Meski saya pingin ngin ngin ! Tapi ada rumah yang cat nya
gompal-gompal, ada bak mandi yang bocor, ada tembok yang rembes, ada listrik
yang korslet, ada gas yang tiap  bulan naik, ada uang sekolah yang naik.
Saya musti akrobat jadi Menteri Keuangan Keluarga biar ga tekor sana sini.
Ah tapi ini bukan problem saya aja, problem semua orang lah, yang tiap bulan
bisa berubah-ubah macemnya . Jadi saya kok nggak kolu (ini bahasa ibu saya,
apa yah artinya, nggak tega kali) ninggalin rumah dalam kondisi begini. 

 

Kalau akhirnya saya bisa jalan-jalan itu adalah karena abidin disuruh
training sama kantor atau tugas-tugas luar.  Alhamdulilah. Nggak pa-pa pagi
sampe sore training atau kerja, weekend nya bisa explore. Di luar itu, untuk
travel sendiri  saya masih nggak tega ngeluarin 1 jt fiskal yang gak bisa
di-reimburse . hehehe .. Kalaupun jalan-jalan sama keluarga juga ga bisa
gembel-gembel amat mengingat anak-anak saya yang masih kecil-kecil. Belum
waktunya diajak susah.

 

Mungkin pada waktunya nanti saya bisa traveling sama anak-anak.   Ingat
cerita HOK Tanzil yang keliling dunia sama istrinya. Menyenangkan sekali.
Waktunya sekarang saya kembali mendalami fotografi dan mengasah bakat
tulis-menulis biar bisa seperti Tari. Saya lihat anak-anak muda sekarang (uh
gue udah tua ya ..huehuehe) pada pinter mensiasati traveling dengan low
budget. Mereka-mereka ini yang punya pikiran out of the box nggak kayak
saya. Dan saya yakin, mereka adalah orang yang nggak takut sama masa depan.

 

Salam,

Ningsih

 

 

 

 

 

 

 

Kirim email ke