Maaf kalau ikut nimbrung, dan sedikit opini dari saya dibawah ini tidak bermaksud untuk menciptakan debat.
IMHO, dalam banyak hal saya setuju sekali dengan apa yang diutarakan Mbak Ambar. Hanya saja saya melihat kasus menjual budaya negeri asing sebagai salah satu atraksi pariwisata adalah kasus yang berbeda sama sekali dengan tindakan mengklaim budaya negeri asing sebagai budaya negeri sendiri seperti apa yang dilakukan Malaysia. Kalau seandainya hari ini ada kampung Indonesia di seluruh belahan dunia, dan pemerintah lokal di negara yang bersangkutan mencantumkan eksistensi kampung Indonesia sebagai salah satu atraksi budaya yang mereka miliki di dalam promosi pariwisatanya, saya kira seluruh orang Indonesia akan bertepuk dada, bangga karena budaya khas Indonesia sedemikian memiliki daya jual dan terbukti bahkan laku keras di tanah lain. Tetapi apa yang dilakukan Malaysia jelas adalah mencaplok budaya bangsa lain dan mengklaim sebagai budaya sendiri, bukan sekedar meminjam budaya negeri lain untuk dijual sebagai salah satu atraksi budaya. Sah-sah saja bahwa Malaysia mengambil slogan "Malaysia Truly Asia" untuk menunjukkan aspek keanekaragaman budaya yang mereka miliki dengan memiliki 3 kelompok etnis besar (Melayu, Tionghoa & Tamil), hanya saja alangkah lebih terhormat apabila mereka mendalami asal usul produk budaya tsb sebelum mereka mendengungkannya sebagai produk budaya bangsa sendiri secara membabi buta. Kalau produk budaya yang diklaim sebagai milik sendiri adalah hasil perbauran atau hasil evolusi dari produk budaya negeri lain seperti halnya beberapa produk budaya Indonesia yang terpengaruh oleh budaya Hindu (baca : India), mungkin hal ini masih dapat diterima. Tetapi kalau sebuah lagu daerah dengan irama dan syair yang sama dicaplok persis berikut judulnya kemudian diklaim sebagai milik sendiri, jelas ini sebuah tindakan tidak tahu malu. Tetapi kembali lagi, mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya adalah kita telah bertindak lamban dalam mempromosikan budaya kita sendiri. Kenapa lamban? Jelas karena kebanggaan dan apresiasi terhadap budaya sendiri masih jauh dari yang diharapkan. Kalau kebanggaan, rasa memiliki dan apresiasi terhadap budaya negeri sendiri masih belum kuat sehingga menjual kepada bangsa sendiri saja masih susah, tidak perlu berharap akan muncul kampung Indonesia di tanah bangsa lain. Sekedar opini pribadi. Djohan http://flashpackerindonesia.wordpress.com --- In [email protected], Ambar Briastuti <ambar.briast...@...> wrote: > > Mumpung tahun baru Imlek, saya melihat sebuah pelajaran berharga. Di negeri > yang ribuan mil dari asalnya, masyarakat China di belahan dunia manapun > merayakannya. Kesenian barongsai, mengunjungi orangtua, memasak kue bulan, > membakar uang kertas sebagai penyirat untuk lebih makmur. Ada kebanggaan > bahwa budaya cina masih dipegang dengan kuat dimanapun bumi beranjak. Yang > saya amati adalah sikap yang berbeda, menanggapi 'penjualan' asset budaya > untuk turis. Bukannya marah tapi malah senang. > > Kembali ke 'budaya asli Indonesia'. Yang menjadi pekerjaan rumah adalah > menanamkan rasa bangga, memiliki dan berbagi. Yaitu meningkatkan apresiasi > budaya pada negeri sendiri. Kita masih suka hipokrit. Teriak soal Rasa > Sayange tapi membilang Ndangdut itu ndeso. Well, bagaimanapun jelek, > kampungan, udik, ndeso itu ndangdut adalah budaya kita yang berbaur cantik > dari Hindustan. Apakah India marah kendang timpulnya kita pinjam? > > Saya sendiri menyarankan orang untuk travel ke luar negeri. Kenapa? biar > bisa membandingkan dan membuka mata bahwa luar negeri itu terkadang tidak > se'indah' yang dibilang. Kalau kita terperangkap pada jargon 'luar negeri > pastilah sip' dan melihat Indonesia dengan kacamata miring, berarti ia > memang belum ada apresiasi budaya sendiri (atau ndak pernah mau menyelami > budaya sendiri). > > Sewaktu makan malam di Malaka, kami dilayani seorang perempuan dari > Surabaya. Kami jadi berbahasa Suroboyoan, meski ia sedikit kikuk. Saya > tanya, ngga pengen pulang mbak? Jawabnya, tidak. Saya sudah jadi orang > Malaysia katanya. Penasaran saya tanya, "lah sampeyan njuk isih sok > ngrungokna wayang ta? Jawabnya sungguh mengejutkan. "Isih mbak, nang > kampungku malah ono kelompok gamelan. Padahal nduk Jawa aku ra tau nyekel > iku". Rupanya ketika di rantau, rasa kebanggaan berbudaya-nya lebih subur. > > Kembali soal klaim mengklaim. Cobalah merenung kembali budaya tahun baru > cina. Apakah pemerintah Cina marah jika kota San Francisco mengklaim Parade > Tahun Baru di Chinese Town sebagai produk jualan pariwisata-nya? > > Di lain waktu saya memergoki sesorang memakai kaos Dagadu di Mountain View. > Tulisannya berbahasa jawa dan indonesia, tidak ada gambar gamelan, atau > becak atau angklung dsb. Kaosnya nampak tua, tapi dia tetap bangga memakai. > Saya tegor, dia membilang. Biarlah, dengan begini saya ingat Indonesia. > Nasionalisme kah? > > Yang kita perlukan adalah menentukan identitas itu. Banggalah dengan > ndangdut, congkekan, engklek, wayang, batik, dagadu, bekiak, etc. Tugas kita > adalah membuatnya unik, mengenalkan ke orang Indonesia sendiri (ini yang > lebih berat sebenarnya) betapa cantiknya budaya kita. Tak cuma berkata, > tapi praktikkan. Tak kenal maka tak sayang. > > Salam, > Ambar > *mencoba menyimak wayang (alm) Ki Hadi Sugito > > > "Apakah anda masih sering mendengarkan wayang kulit ?" > "Masih, di kampung saya malah ada kelompok gamelan dan wayang. Padahal di > Jawa saya ngga pernah pegang alat." > > > > 2009/1/29 army gulardi agula...@... > > > Sekedar berbagi..... > > > > Waktu nunggu beach trem di Sentosa Island sempat denger instrumen lagu > > Rasa Sayange diputar di haltenya. Antara rasa bangga dan terenyuh juga > > kalau > > mengingat 'riwayat' lagu ini..... bangga lagu ini bisa digunakan di tempat > > wisata sekelas Sentosa Island (meskipun pantainya nggak ada apa2nya > > dibanding > > pantai2 di Indonesia) sekaligus terenyuh kalau banyak pengunjung lebih ngeh > > lagu itu dari Malaysia dibanding Indonesia...... > > > > Kebetulan di Singapore tanggal 30 Januari 2009 ada acara parade Chingay > > 2009 > > informasinya semacam Mardi Gras tapi dengan nuansa Lunar New Year (Imlek) > > yang cukup menggembirakan salah satu performance yang bakal tampil adalah > > grup kesenian dari Wonogiri juga Reog.... semoga ini bisa membantu > > pengakuan > > atas karya cipta seniman tradisional Indonesia di kancah > > internasional...... > > . > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
