Ey, mo ikut2an nimbrung soal caplok-mencaplok produk budaya ni. kira2 tahun
lalu saya kerja di Malaysia, dan kebetulan rekan kerjanya kebanyakan keturunan
India dan Cina. Dalam diskusi dan ngobrol-ngobrol informal, hampir semua
rekan-rekan kerja tersebut mengaminkan kalo ada salah seorang yang berpendapat
bahwa bumiputra (orang melayu) sulit diajak kerja sama, kurang bersemangat,
kurang kerja keras, sirikan, dlsb. Saya pikir itu gejala umum suatu tempat yang
banyak bangsa pendatangnya. Biasanya sebagai pendatang, daya dorong akan lebih
kuat untuk bertahan hidup. Dan secara relatif, bangsa tuan rumah akan terlihat
sebagai bangsa ongkang-ongkang kaki. Padahal mungkin belum tentu seperti itu.
Trus bulan Desember 2008, saya punya kesempatan untuk explor Malaysia dari sisi
pariwisata dan alam. Na ini pandangan saya berdasarkan penglihatan mata saya,
jadi pasti ini sangat subyektif. Tapi anyway, saya mau share juga.
Klenteng-klenteng Cina dan India bertebaran di mana-mana. Toko-toko dan
restoran yang keliatan sama mata saya, kebanyakan dimiliki oleh keturunan India
& Cina. Supir-supir bis antar kota, kebanyakan didominasi oleh keturunan India.
Pekerjaan2 di jalan tol (btw, jalan tol di malaysia menurut saya sangat T-O-P
B-G-T) kebanyakan dilaksanakan oleh keturunan India atau Bangladesh.
Pekerja-pekerja di kebun sawit, hampir semua berkulit gelap (India atau
Bangladesh). Terus terang, saya memang jarang liat orang-orang berkulit seperti
saya di lapangan kerja luar ruangan. Pedagang-pedagang kain, kebanyakan
didominasi keturunan India. Pelayan-pelayan warung/restoran, biasanya orang
Indonesia, Filipina, Myanmar, ada beberapa nemu orang Nepal
dan Vietnam. Saya sampai bingung harus nyari ke mana bangsa Melayu yang
seharusnya jadi host di negara itu. Akhirnya saya pikir mungkin mereka ngambil
bidang kerja white collar kali ya, kerja di bank, perusahaan konsultan, dlsb.
Dan karena saya ga punya kontak di perusahaan-perusahaan tersebut, ya udah,
saya hanya memegang asumsi saya aja.
Hal lain yang berkesan sama saya adalah tentang Penang. Pulau/kota ini diclaim
menjadi Unesco World's Heritage. Penasaran dong saya... sesampai saya di
sana... yang saya temuin ga jauh beda dengan salah satu bagian Semarang (Jawa
Tengah - maaf saya lupa nama khususnya) dan Jelambar & Glodok dsk (daerah di
sekitar Jakarta Barat dan Utara). Bentuk bangunannya lebih kurang sama,
joroknya sama, baunya sama, tata kotanya sama. Trus berdasarkan salah satu
brosur pariwisata yang ada di tempat-tempat umum, keluaran bagian pariwisata
negara tsb, disebutkan places of interest di Georgetown-Penang. Okedeh... saya
mulai merambah. Di brosur disebutkan THe Famous Beaded Sandals "toko sepatu
bermanik-manik yang dilakukan dengan tangan, sangat cantik, dimiliki oleh
keluarga 'dadaadada' sejak bertahun-tahun". Pas nyampe di sana, yang ada adalah
sebuah kios kotor yang lebih tepat disebut sebagai bengkel kerja. Tidak ada
display sepatu/sandal. Waktu saya tanya sama pemilik
yang sekaligus pencipta - beliau kurang paham bahasa inggris, jadi saya pakai
bahasa melayu sebisa saya - dia menunjukkan 2 pasang sandal yang sudah jadi.
Saya bengong... kedua pasang tersebut kelihatan sangat generik, luarnya beludru
warna hitam dengan lem kuning aica aibon meleleh-meleleh di sambungan solnya.
Ada manik-maniknya sedikit berbentuk bunga-bunga dengan kombinasi warna yang
sangat tidak mengundang mata saya. Waktu menunjukkan benda-benda ajaib itu, si
engkoh pemilik juga tidak berusaha menerangkan kelebihan sandal-sandal tersebut
(kalo emang ada). Saya langsung kebayang dengan kelom-kelom cantik buatan
Tasikmalaya, terompah-terompah kayu yang dibatik dari Jawa. Aaahh.... waktu itu
saya rasanya bangga banget dengan orang-orang Indonesia.
Trus di brosur tersebut ada informasi lain tentang The Famous Coconut Tart,
saya cari lagi tokonya. Tokonya seperti layaknya toko/warung2 kue tradisional
Cina di Jelambar. Karena jalan kaki, saya kehausan. Saya tanya sama enci yang
ngelayanin tentang minuman dingin, mereka ga punya "We just sell cookies".
Oke... saya beli deh si Famous Coconut Tart itu, 1 biji. Rasanya S-T-D alias
standar aja. Saya pikir 2 item dari brosur ini dah berlebihan nih dalam
ngiklan. Saya mau cek satu lagi. "Traditional Malaysian Crepes" si engkoh
membuat kue itu di hadapan Anda bla bla bla.... Saya cari, nemu, ternyata
kuenya seperti martabak mini, tapi isinya kelapa dan ketan item. Wah...
Perjalanan saya di georgetown itu bener-bener jaw-dropping deh!!! Mulut
ternganga karena saya bener-bener merasa ketipu dengan jor-jorannya
mempromosikan Penang. Untung saya ga lama-lama di sana, kalo kelamaan, saya
bisa kecewa berat.
Trus sambil duduk-duduk di cafe minum cappuchino (karena udah kecewa dengan
ketradisionalan yang digembar-gemborkan, saya milih tempat bengong yang agak
mengcafe sedikit). TIba-tiba kepikiran, mungkin Malaysia banyak nyaplok-nyaplok
produk Indonesia, karena bangsa Melayunya memang bener-bener kelelep di sana,
megap-megap dengan dominasi budaya Cina & India. Tempelah dipaten, Rasa
Sayangelah dipaten. Yang mereka caplok rasa-rasanya produk-produk yang emang
bukan produk bernuansa Cina atau India. Timbul rasa kasihan saya, mungkin
itulah upaya pemerintah Malaysia untuk memberikan "kepribadian" pada bangsa
tuan rumah yang hampir tergilas-lindas di tanahnya sendiri. Saya jadi mikir,
mereka itu temen serumpun kita. Indonesia sangat kaya sekali dengan alam dan
budaya. Mungkin ga sih kita menjadi the upper-hand kali ini untuk mereka,
membantu mereka membentuk identitas kemelayuan mereka? Supaya ga
dicaplok-caplok, ada baiknya justru kita yang berinisiatif
"memberikan" sesuatu agar mereka "merasa" ada yang dimiliki. Yah kasarnya aja
deh, orang yang nyaplok/nyuri biasanya kan karena merasa kekurangan - walau ada
juga yang didasarkan ketamakan. Sepanjang sejarah nanti tentunya akan
disebutkan produk budaya "dadadada" yang diberikan oleh rakyat Indonesia waktu
tahun "dadaada" bagi Bangsa Malaysia telah membantu kebudayaan ini bangkit dari
titik nadirnya. Produk yang diberikan ini telah membangkitkan kembali
kebanggaan bangsa Malaysia bla bla bla bla.... Aaahh... andai aja bisa.
salam,
venus
_,_._,___
[Non-text portions of this message have been removed]