Ikutan ah.

Semua ini pertanda bahwa sebetulnya kita memang tidak secure dengan
budaya kita sendiri. Kalau Cina anteng aja budayanya (meski sudah
campuran) dibuat jualan buat wisata Semarang, Malaysia sampai San
Fransisco, karena seluruh dunia sudah tau bahwa barongsai dkk itu ya
dari Cina.

Kalau India tenang aja ketika budayanya banyak menyebar di mana-mana
dan dipakai masing2 negara itu buat jualan kekayaan budaya, ya karena
seluruh dunia sudah tau itu asalnya dari India.

Lha kita? Apa boleh buat, "Indonesia" bukanlah sebuah entitas
peradaban yang pernah mendunia di sejarah modern. Perkara Sriwijaya
dan Majapahit pernah ngapain aja ke seluruh dunia, itu masa lalu. Toh,
Sriwijaya dan Majapahit teuteup aja mengacu ke kebudayaan Indic.
Perkara Bung Karno bisa membuat Indonesia mendunia, teuteup aja itu
sebagai sebuah negara formal, belum sebagai bangsa yang punya landasan
kukuh secara budaya. Lha gimana, budaya ada ribuan begini, mana yang
mau ditampilkan sebagai 'Indonesia'? Bertahun-tahun kita bingung
menjawab pertanyaan itu, sementara Malaysia malah bertindak duluan.

Dalam bentuk terburuknya, budaya di Indonesia cuma disatukan oleh
perbatasan negara doang, belum ada kesatuan utuh secara ide tentang
budaya Indonesia (hanya pernah ada kesatuan ide ttg NEGARA Indonesia).
Majapahit menguasai nusantara? Ah, itu kan bisa2nya penguasa kita aja.
Liat aja, orang2 Sumatera dan lain-lain sampai sekarang enggan tuh
mengakui Majapahit sebagai pra-reinkarnasi (istilah ngarang!)
Indonesia, karena sejarah lokal mereka mencatat Majapahit sebagai
penjajah.

Mungkin ada yang protes: lho, Amerika kan juga multikultur?
Sejarahnya, Amerika itu tanah baru tempat orang2 berbagai etnis dan
latar budaya ngungsi. Akibatnya, dengan sadar mereka punya common goal
yang merata. Setidaknya jauh lebih merata dari kita, yang common
goal-nya beda karakter. Karena di kita, orang2 berbagai etnis itu
disatukan di TEMPAT ASAL-nya sendiri. Nggak heran kalau common goal
itu mungkin ga sekuat pemukim2 Amerika.

Ini cuma hipotesa saya aja lho, ttg betapa 'insecure'-nya kita dengan
budaya.

Ifan

--- In [email protected], "zenudjohan" <zdjo...@...> wrote:
>
> Maaf kalau ikut nimbrung, dan sedikit opini dari saya dibawah ini tidak
> bermaksud untuk menciptakan debat.
> 
> IMHO, dalam banyak hal saya setuju sekali dengan apa yang diutarakan
> Mbak Ambar. Hanya saja saya melihat kasus menjual budaya negeri asing
> sebagai salah satu atraksi pariwisata adalah kasus yang berbeda sama
> sekali dengan tindakan mengklaim budaya negeri asing sebagai budaya
> negeri sendiri seperti apa yang dilakukan Malaysia.
> 
> Kalau seandainya hari ini ada kampung Indonesia di seluruh belahan
> dunia, dan pemerintah lokal di negara yang bersangkutan mencantumkan
> eksistensi kampung Indonesia sebagai salah satu atraksi budaya yang
> mereka miliki di dalam promosi pariwisatanya, saya kira seluruh orang
> Indonesia akan bertepuk dada, bangga karena budaya khas Indonesia
> sedemikian memiliki daya jual dan terbukti bahkan laku keras di tanah
> lain.
> 
> Tetapi apa yang dilakukan Malaysia jelas adalah mencaplok budaya bangsa
> lain dan mengklaim sebagai budaya sendiri, bukan sekedar meminjam budaya
> negeri lain untuk dijual sebagai salah satu atraksi budaya. Sah-sah saja
> bahwa Malaysia mengambil slogan "Malaysia Truly Asia" untuk menunjukkan
> aspek keanekaragaman budaya yang mereka miliki dengan memiliki 3
> kelompok etnis besar (Melayu, Tionghoa & Tamil), hanya saja alangkah
> lebih terhormat apabila mereka mendalami asal usul produk budaya tsb
> sebelum mereka mendengungkannya sebagai produk budaya bangsa sendiri
> secara membabi buta.
> 
> Kalau produk budaya yang diklaim sebagai milik sendiri adalah hasil
> perbauran atau hasil evolusi dari produk budaya negeri lain seperti
> halnya beberapa produk budaya Indonesia yang terpengaruh oleh budaya
> Hindu (baca : India), mungkin hal ini masih dapat diterima. Tetapi kalau
> sebuah lagu daerah dengan irama dan syair yang sama dicaplok persis
> berikut judulnya kemudian diklaim sebagai milik sendiri, jelas ini
> sebuah tindakan tidak tahu malu.
> 
> Tetapi kembali lagi, mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya adalah kita
> telah bertindak lamban dalam mempromosikan budaya kita sendiri. Kenapa
> lamban? Jelas karena kebanggaan dan apresiasi terhadap budaya sendiri
> masih jauh dari yang diharapkan.
> 
> Kalau kebanggaan, rasa memiliki dan apresiasi terhadap budaya negeri
> sendiri masih belum kuat sehingga menjual kepada bangsa sendiri saja
> masih susah, tidak perlu berharap akan muncul kampung Indonesia di tanah
> bangsa lain.
> 
> Sekedar opini pribadi.
> 
> Djohan
> http://flashpackerindonesia.wordpress.com
> 
> 


Kirim email ke