Maaf... lagi2 telat nih ngebahasnya....

Akhir Januari kemarin saya menyempatkan diri untuk 'refreshing' ke sing bareng 
4 temen (ke 4 nya baru for the first time keluar negeri) jadi saya sekalian 
belajar jadi tur guide (maaf ya... tur guide di negeri orang bukan di negeri 
sendiri)

Kami sempatkan diri ke sentosa (saya sendiri terakhir ke sentosa +- 2 thn yg 
lalu)
Malam hari, kami menyempatkan menonton pertunjukan Song of The Sea (pertunjukan 
gabungan antara air mancur, laser, kembang api dan semacam operete). Klo dulu 
Song of The Sea nya diadain di ampitheater, sekarang panggungnya persis di 
pinggir laut... dan klo dulu gratis, sekarang bayar SGD 8.

Pada bagian pembukaan, ada bagian dimana para pemainnya menyanyi... mereka 
menyanyikan lagu dari beberapa negara di Asia... Ada dari Cina (lagu Mandarin) 
dari Singapore sendiri mereka nyanyikan lagu bahasa inggris (saya ga tau 
judulnya), eh tiba2 mereka bilang "from Malaysia..." eh mereka nyanyikan lagi 
Mana dimana Anak Kambing Saya... dengan lirik yg sedikit diubah di bagian 
belakangnya tapi dengan lagu yg sama.... Saya dan temen2 langsung sebel dan 
teriak "woii... dari Indonesia tuh !!!) 
(tapi apalah daya suara kami dibandingin dengan sound system pertunjukan yg 
demikian megah dan suara2 penonton yg berdecak kagum....) kacian ya..... 

  ----- Original Message ----- 
  From: zenudjohan 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, January 30, 2009 09:47
  Subject: Bls: [indobackpacker] Re: plang iklan truly Malay (Surat Cinta 
Kepada Kementrian Kebudayaan Malaysia)


  Maaf kalau ikut nimbrung, dan sedikit opini dari saya dibawah ini tidak
  bermaksud untuk menciptakan debat.

  IMHO, dalam banyak hal saya setuju sekali dengan apa yang diutarakan
  Mbak Ambar. Hanya saja saya melihat kasus menjual budaya negeri asing
  sebagai salah satu atraksi pariwisata adalah kasus yang berbeda sama
  sekali dengan tindakan mengklaim budaya negeri asing sebagai budaya
  negeri sendiri seperti apa yang dilakukan Malaysia.

  Kalau seandainya hari ini ada kampung Indonesia di seluruh belahan
  dunia, dan pemerintah lokal di negara yang bersangkutan mencantumkan
  eksistensi kampung Indonesia sebagai salah satu atraksi budaya yang
  mereka miliki di dalam promosi pariwisatanya, saya kira seluruh orang
  Indonesia akan bertepuk dada, bangga karena budaya khas Indonesia
  sedemikian memiliki daya jual dan terbukti bahkan laku keras di tanah
  lain.

  Tetapi apa yang dilakukan Malaysia jelas adalah mencaplok budaya bangsa
  lain dan mengklaim sebagai budaya sendiri, bukan sekedar meminjam budaya
  negeri lain untuk dijual sebagai salah satu atraksi budaya. Sah-sah saja
  bahwa Malaysia mengambil slogan "Malaysia Truly Asia" untuk menunjukkan
  aspek keanekaragaman budaya yang mereka miliki dengan memiliki 3
  kelompok etnis besar (Melayu, Tionghoa & Tamil), hanya saja alangkah
  lebih terhormat apabila mereka mendalami asal usul produk budaya tsb
  sebelum mereka mendengungkannya sebagai produk budaya bangsa sendiri
  secara membabi buta.

  Kalau produk budaya yang diklaim sebagai milik sendiri adalah hasil
  perbauran atau hasil evolusi dari produk budaya negeri lain seperti
  halnya beberapa produk budaya Indonesia yang terpengaruh oleh budaya
  Hindu (baca : India), mungkin hal ini masih dapat diterima. Tetapi kalau
  sebuah lagu daerah dengan irama dan syair yang sama dicaplok persis
  berikut judulnya kemudian diklaim sebagai milik sendiri, jelas ini
  sebuah tindakan tidak tahu malu.

  Tetapi kembali lagi, mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya adalah kita
  telah bertindak lamban dalam mempromosikan budaya kita sendiri. Kenapa
  lamban? Jelas karena kebanggaan dan apresiasi terhadap budaya sendiri
  masih jauh dari yang diharapkan.

  Kalau kebanggaan, rasa memiliki dan apresiasi terhadap budaya negeri
  sendiri masih belum kuat sehingga menjual kepada bangsa sendiri saja
  masih susah, tidak perlu berharap akan muncul kampung Indonesia di tanah
  bangsa lain.

  Sekedar opini pribadi.

  Djohan
  http://flashpackerindonesia.wordpress.com

Kirim email ke