Saya kira pertanyaan kualitas or kuantitas tergantung pribadi masing2…tidak 
bisa dikatakan salah orang memiliki target mendapatkan semua stamp dari negara2 
yang ada di dunia seperti yang dilakukan oleh salah seorang professor saya di 
Singapura, prof Wee Cheng (www.weecheng.com) meskipun dia sendiri menolak kalau 
travel dijadikan kompetisi seperti yang dilakukan oleh travel century club 
(dimana club ini adalah club ekslusif yang anggotanya orang yang sudah 
berkunjung ke 100 negara/entity).
Travel sudah menjadi life style tiap orang punya gaya masing2…ada yang 
mempunyai keterbatasan waktu sehingga tidak memungkinan melakukan travel secara 
Spartan, selama 2 bulan backpacking jalan darat sehingga memilih ikut paket 
tour . Ada yang mempunyai keterbatasan stamina sehingga tidak memungkinkan 
untuk menumpang truk, tidur di alam terbuka dan memilih tidur di hotel…dan ada 
juga yang tidak memiliki dana sehingga memilih untuk melakukan travel secara 
super budget backpacking…..jadi lebih kearah pilihan masing2 individu.
Saya sendiri saat ini mengalami dilema , setahun kemarin saya cukup bruntung 
bisa backpack cukup lama , rata2 2-6 minggu pada saat libur kuliah di negara2 
Asia dengan budget yang cukup gila2an..dimana saya memaksakan diri untuk fix di 
angka 5-10 USD per hari ....
Sesudah lulus dan mulai bekerja, hambatan untuk melakukan backpack justru lebih 
terutama pada jumlah cuti tahunan yang terbatas…sehingga mau jalan darat, 
travel dengan menumpang truk atau naik bus local terhambat oleh waktu cuti yang 
terbatas. Meskipun rasanya dah gatel kaki untuk jalan backpack lagi…dan kadang2 
terlintas dalam pikiran untuk membuat surat resign aja walau akhirnya saya 
ngalahkan ego saya....bahwa saya bisa ambil cuti 7-10 hari untuk mengunjungi 1 
negara, datang-pergi dengan pesawat terbang dan baru di negara itu jalan darat 
atau mengambil 1 flight domestik kalau waktu terbatas...meski ego saya dalam 
hati mengatakan bahwa itu bukan backpacker/traveller...tapi ya dalam hati mikir 
daripada ga sama sekali dan masa udah umur segini masih mbambung ora nggenah
Saya pernah membaca biografi Charles Veley (www.mosttravelledpeople.com), saat 
ini dia dinobatkan  sebagai orang yang pernah bepergian ke hampir semua Negara 
dan entitas di dunia (meski tidak secara resmi karena Guiness pun kebingungan 
untuk membuat kriteria ini). Malah saat dia kehabisan Negara untuk dikunjungin 
dia membuat entitas2 sendiri…seperti mengunjungi Indonesia, bila hanya Jawa 
tidak bisa dikatakan mengunjungi Indonesia karena Sumatra,Kalimantan,Papua,dll 
adalah entitas yang berbeda juga sama halnya dengan propinsi2 di China,India 
yang memiliki keragaman yang berbeda, meski dengan melihat dia yang melakukan 
kunjungan ke semua Negara/entitas itu dalam rentang waktu kurang dari 10 
tahun…diragukan oleh berbagai kalangan sebagai touch and go trip aja.
jadi menurut saya mengukur travel dengan ukuran kuantitas atau kualitas itu 
dikembalikan ke individu masing2….Kalau kita punya waktu banyak..belum tentu 
kita punya uang, kalau kita ada dana belum tentu ada waktu cukup untuk 
berpergian lama..yang paling beruntung tentunya adalah yang punya waktu dan 
uang dengan ditunjang niat dan kemauan…hehehehe
 
Thanks,
 
Rio

--- In [email protected], Ambar Briastuti <ambar.briast...@...>
wrote:
>
> Ada satu pertanyaan yang membuat saya terusik. "Udah berapa negara yang
mbak
> kunjungi?" Saya selalu menjawab, "Saya tidak tahu karena saya tidak pernah
> menghitung."
>
> Pertanyaan Ini membuat saya berpikir, apa sih yang menjadi tolak ukur
> seorang pejalan. Jumlah negara, frekuensi dia backpacking, atau karena ia
> mampu menunjukkan koleksi photo2nya yang berjibun di Facebook. Seorang
kawan
> bahkan mengaku malu ketika saya tanya. Dia tidak pernah ke luar negeri.
Tak
> pernah sekalipun. So apakah si teman yang malang ini tidak dianggap
seorang
> backpacker?
>
> Mempertanyakan kuantitas dan kualitas backpacking adalah sangat personal.
> Saya pernah bertanya pada seseorang tentang rute backpacking China. Dia
> membilang," Waduh maaf mbak, saya ngga tau apa-apa," begitu jawabnya. Ini
> membuat saya makin penasaran. "Soalnya semua acara jalan saya diurus sama
> teman. Saya cuman ngikut ajah."
>
> Jadi jika si teman ini mengaku sudah mengunjungi 20 negara tetapi tidak
tahu
> apa-apa (begitu menurut pengakuannya) apakah bisa katagorikan backpakcer?
> Lantas bagaimana dengan kawan yang tidak pernah ke luarnegeri tetapi
> mengerti sejarah meletusnya gunung Merapi hingga arah menuju kesana? Atau
> memahami kearifan budaya Baduy?
>
> Kita cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, atau eksakta. Sesuatu
> yang jelas dimata. Semakin banyak semakin baik. Uang misalnya, semakin
besar
> di bank, kita berasa semakin kaya. Tetapi masalah traveling bukan hanya
> masalah uang atau berapa jumlah yang kita habiskan. Seorang backpacker
yang
> mengerti jalan sebagai 'kebutuhan' maka baginya uang adalah nomor sekian.
>
> Tetapi bukankah backpacking selalu membutuhkan uang? Betul. Bukankan
semakin
> jauh dan semakin keren sebuah negara membuat ongkos tinggi? Betul dan
> mungkin tidak. Bagus tidaknya sebuah tempat adalah pilihan personal.
Itulah
> yang saya garis bawahi, bahwa kualitas dan kuantitas travel tidak sejalan
> dengan uang yang kita habiskan. Terkadang kita hanya menghabiskan waktu ke
> sebuah tempat baru dengan sepeda jauh lebih berkesan ketimbang terbang 5
jam
> ke destinasi lain.
>
> ***

[Non-text portions of this message have been removed]









      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke