hanya meneruskan.
---------- Forwarded message ---------- From: indra.nugraha9988 Date: 2010/7/25 Subject: Re: Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas To: Ambar Briastuti Saya setuju mbak, bahwa uang tidak mempengaruhi kualitas dan kuantitas travelling. Semua kembali pada persepsi dan sudut pandang masing2 individu tentang travelling. Seseorang dengan uang yang pas-pasan bisa jadi memiliki pengalaman travelling yang jauh lebih berkualitas daripada mereka yang menjadikan travelling hanyalah sebuah lifestyle. Sebagai contoh, seandainya ada 2orang yang masing2 memiliki budget 10juta. Orang pertama langsung menggunakan uang tersebut untuk ikut paket tur ke Hongkong misalnya, ambil direct flight Jkt-Hongkong dengan itinerary dan akomodasi di sana sudah disiapkan oleh travel agent. Sementara orang kdua hanya mengalokasikan sebagian kecil dari budget tadi untuk flight Jkt-Singapore. Dan dia mengambil perjalanan darat menuju Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam hingga South China, bahkan sampai Hongkong. Kedua orang ini sama2 menghabiskan budget yang sama untuk menuju Hongkong(ya tdk sama persis c...). Tapi perjalanan orang kedua jauh lebih berkualitas. Selanjutnya, menurut saya kuantitas bisa jadi mempengaruhi kualitas travelling. Tapi dalam artian yang sedikit berbeda. Kuantitas bukan diukur dari jumlah negara yang sudah dikunjungi, tapi dari seberapa sering kita mengunjungi suatu negara. Seperti saya, kalau ditanya orang "berapa negara yang sudah saya kunjungi?", saya bisa jawab "baru 3negara". Tapi kalau ada yang tanya "sudah berapa kali backpacking?", Nah, kalau ini baru saya tidak bisa jawab. Kalau kita diberi waktu 2hari untuk mengunjungi suatu kota/negara, tentu kita harus mengatur sedemikian rupa itinerary kita supaya semua interest place di tempat tersebut bisa kita kunjungi. Dan tentu saja tidak semua tempat bisa kita kunjungi. Tapi kalau lain waktu kita diberi kesempatan ke sana lagi, tentu kita akan mengunjungi tempat yang kemarin2 belum sempat kita kunjungi. Inilah yang saya maksud kuantitas bisa mempengaruhi kualitas. Tapi bukan berarti saya akan berhenti sampai di sini dan terus-menerus mengunjungi tempat yang sama lhoo... Saya masih 21tahun dan suatu hari nanti saya pasti bisa menjelalajah Eropa. Itu impian saya saat ini. Cheers -indra- --- In [email protected], Ambar Briastuti <ambar.briast...@...> wrote: > > Ada satu pertanyaan yang membuat saya terusik. "Udah berapa negara yang mbak > kunjungi?" Saya selalu menjawab, "Saya tidak tahu karena saya tidak pernah > menghitung." > > Pertanyaan Ini membuat saya berpikir, apa sih yang menjadi tolak ukur > seorang pejalan. Jumlah negara, frekuensi dia backpacking, atau karena ia > mampu menunjukkan koleksi photo2nya yang berjibun di Facebook. Seorang kawan > bahkan mengaku malu ketika saya tanya. Dia tidak pernah ke luar negeri. Tak > pernah sekalipun. So apakah si teman yang malang ini tidak dianggap seorang > backpacker? > > Mempertanyakan kuantitas dan kualitas backpacking adalah sangat personal. > Saya pernah bertanya pada seseorang tentang rute backpacking China. Dia > membilang," Waduh maaf mbak, saya ngga tau apa-apa," begitu jawabnya. Ini > membuat saya makin penasaran. "Soalnya semua acara jalan saya diurus sama > teman. Saya cuman ngikut ajah." > > Jadi jika si teman ini mengaku sudah mengunjungi 20 negara tetapi tidak tahu > apa-apa (begitu menurut pengakuannya) apakah bisa katagorikan backpakcer? > Lantas bagaimana dengan kawan yang tidak pernah ke luarnegeri tetapi > mengerti sejarah meletusnya gunung Merapi hingga arah menuju kesana? Atau > memahami kearifan budaya Baduy? > > Kita cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, atau eksakta. Sesuatu > yang jelas dimata. Semakin banyak semakin baik. Uang misalnya, semakin besar > di bank, kita berasa semakin kaya. Tetapi masalah traveling bukan hanya > masalah uang atau berapa jumlah yang kita habiskan. Seorang backpacker yang > mengerti jalan sebagai 'kebutuhan' maka baginya uang adalah nomor sekian. > > Tetapi bukankah backpacking selalu membutuhkan uang? Betul. Bukankan semakin > jauh dan semakin keren sebuah negara membuat ongkos tinggi? Betul dan > mungkin tidak. Bagus tidaknya sebuah tempat adalah pilihan personal. Itulah > yang saya garis bawahi, bahwa kualitas dan kuantitas travel tidak sejalan > dengan uang yang kita habiskan. Terkadang kita hanya menghabiskan waktu ke > sebuah tempat baru dengan sepeda jauh lebih berkesan ketimbang terbang 5 jam > ke destinasi lain. > > *** [Non-text portions of this message have been removed]
