Backpacker itu hanya istilah atau terminologi dari kegiatan traveling dimana sang traveler selalu menggunakan backpack untuk mengusung peralatan dan perbekalannya, karena mereka di tuntut lincah jadi tas punggunglah yang dinilai lebih praktis dan efisien, selain juga keuangan yang sangat terperinci atau budget traveler
Luar Negri kenapa menjadi sebuah kebanggan karena mungkin mereka telah membuktikan bila mereka adalah Sesuatu yang baru, merubah pandangan pergi keluar negri itu mudah dan juga terjangkau, menjadi bagian dari dunia, menjadi bagian dari peradaban, menjadi bagian dari sebuah kebanggan keluar dari suatu hal yang biasa karena di hadapkan oleh bahasa yang berbeda pola piker yang berbeda juga kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan maaf bukan nya indonesia kurang beragam dan exstraordinari tapi di luar sana kenapa saya beranggapan bisa menjadi bagian dari dunia adalah kita bisa berkomunikasi, sharing, dan tentunya promosi Indonesia karena banyak hal yang mereka dengar negatif tentang Indonesia dan mungkin temen2 yang sudah banyak berkunjung keluar negeri bisa lebih bijak dalam hal ini, dan tentunya bisa memberikan kontribusi yang besar bukan hanya pada pola piker tapi juga jontribusi atau bagaimana membangun Indonesia sehingga banyak orang di luar sana merasa nyaman pergi ke Indonesia dan ingin lagi-ingin lagi untuk pergi ke indonesia yaitu dengan mempromosikan indonesia dari mulut ke mulut, maaf kalau pemikiran saya ini kurang berkenan, apapun destinasinya, apapun caranya dimana bumi di pijak di situ langit di junjung, dan ada baiknya memang kenali dulu negrimu Regards KG ________________________________ From: matatita ! <[email protected]> To: Ambar Briastuti <[email protected]>; [email protected] Sent: Mon, July 26, 2010 9:59:35 PM Subject: Re: [indobackpacker] Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas suatu ketika, dalam sebuah forum, saya ditanya oleh sang mc: "kalau matatita sudah mengunjungi berapa negara" sebelumnya, mc itu menanyakan hal yang sama pada backpacker lain yang dengan cepat dijawabnya dengan menyebut angka sekian puluh negara. saya jadi males menjawab, alasannya sederhana: pertama karena memang belum banyak negara yang saya kunjungi apalagi jika dibanding backpacker yang ditanya sebelum saya; yang kedua dan membuat saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa ya, backpacking itu selalu mengacu pada perjalanan ke luar negeri? padahal, dunia mengakui bahwa indonesia dan negara2 di asia lain merupakan surga bagi para backpacker. bahkan tony wheeler -founder lonely planet- menjadikan buku "southeast asia on shoestring" sebagai master-piece nya kok. mungkin memang ada yang perlu diluruskan mengenai pemahaman tentang konsep backpacking. buat saya pribadi, backpacking/flashpacking/traveling atau apapun namanya, adalah perjalanan tetirah atau "laku". dalam terminologi jawa, tetirah biasa dipahami sebagai upaya seseorang untuk mengambil jeda, keluar dari rutinitas harian, menepi sesaat untuk menemukan sesuatu yang dapat memperkaya jiwa bathinnya. perjalanan seperti ini tentu saja tidak mungkin bisa dihitung by destination. apalagi hanya destinasi luar negeri yg 'dianggep' sementara yang domestik diabaikan. barangkali, sudah saatnya kita sama-sama belajar mengingatkan pada diri sendiri untuk mengubah kebiasaan bertanya "sudah mengunjungi berapa negara?" menjadi "di manakah tempat yang paling membuat anda begitu terkesan?". pertanyaan ini dengan sendirinya akan membuat orang yang ditanya menuturkan "kualitas" perjalanan tetirah/backpackingnya. tempat yang mengesan biasanya adalah tempat yang memiliki interaksi yang cukup berarti bagi sang pejalan. salam dari jogja w: www.matatita.com fb : www.facebook.com/matatita e-mail japri: [email protected] ________________________________ From: Ambar Briastuti <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sunday, July 25, 2010 13:35:39 Subject: [indobackpacker] Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas Ada satu pertanyaan yang membuat saya terusik. "Udah berapa negara yang mbak kunjungi?" Saya selalu menjawab, "Saya tidak tahu karena saya tidak pernah menghitung." Pertanyaan Ini membuat saya berpikir, apa sih yang menjadi tolak ukur seorang pejalan. Jumlah negara, frekuensi dia backpacking, atau karena ia mampu menunjukkan koleksi photo2nya yang berjibun di Facebook. Seorang kawan bahkan mengaku malu ketika saya tanya. Dia tidak pernah ke luar negeri. Tak pernah sekalipun. So apakah si teman yang malang ini tidak dianggap seorang backpacker? Mempertanyakan kuantitas dan kualitas backpacking adalah sangat personal. Saya pernah bertanya pada seseorang tentang rute backpacking China. Dia membilang," Waduh maaf mbak, saya ngga tau apa-apa," begitu jawabnya. Ini membuat saya makin penasaran. "Soalnya semua acara jalan saya diurus sama teman. Saya cuman ngikut ajah." Jadi jika si teman ini mengaku sudah mengunjungi 20 negara tetapi tidak tahu apa-apa (begitu menurut pengakuannya) apakah bisa katagorikan backpakcer? Lantas bagaimana dengan kawan yang tidak pernah ke luarnegeri tetapi mengerti sejarah meletusnya gunung Merapi hingga arah menuju kesana? Atau memahami kearifan budaya Baduy? Kita cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, atau eksakta. Sesuatu yang jelas dimata. Semakin banyak semakin baik. Uang misalnya, semakin besar di bank, kita berasa semakin kaya. Tetapi masalah traveling bukan hanya masalah uang atau berapa jumlah yang kita habiskan. Seorang backpacker yang mengerti jalan sebagai 'kebutuhan' maka baginya uang adalah nomor sekian. Tetapi bukankah backpacking selalu membutuhkan uang? Betul. Bukankan semakin jauh dan semakin keren sebuah negara membuat ongkos tinggi? Betul dan mungkin tidak. Bagus tidaknya sebuah tempat adalah pilihan personal. Itulah yang saya garis bawahi, bahwa kualitas dan kuantitas travel tidak sejalan dengan uang yang kita habiskan. Terkadang kita hanya menghabiskan waktu ke sebuah tempat baru dengan sepeda jauh lebih berkesan ketimbang terbang 5 jam ke destinasi lain. *** Saya pernah backpacking ke sebuah negara yang mungkin dihargai sebuah mobil. Menyesal? sedikit. Bukan karena saya ngga jadi beli mobil, tetapi karena seharusnya saya lebih bisa menekan harga. Itupun hanya berkunjung di satu negara, bukan 10 atau 20 negara sekaligus. Traveling mempunyai unsur keingintahuan, memuaskan rasa penasaran. Tetapi yang terpenting adalah journey itu sendiri, bukannya destinasi. Proses untuk melakukan sebuah perjalanan. Kualitas traveling adalah diukur dengan kemauan kita untuk belajar, merambah wilayah yang belum kita akrabi. Kalau membilang travel adalah proses mengenali diri orang lain dan lingkungan, mungkin itu lebih utama. Jadi uang adalah refleksi tidak langsung. Ada yang membilang traveling itu masalah lifestyle. Jadi jumlah uang yang kita habiskan untuk traveling adalah refleksi tingkat sosial kita. "Jika udah ke banyak negara kan berarti mbak ini uangnya banyak" begitu alasan seorang yang saya tanyai kenapa ia penasaran dengan pekerjaan saya. Gaji, uang, spending power adalah ukuran life style seseorang, termasuk traveling itu sendiri. Ini menuntun pada asumsi bahwa seseorang yang traveling ke banyak negara/destinasi eksotis adalah orang kaya. Tetapi benarkah itu juga mefleksikan kualitasnya? Seperti kisah kawan saya yang ke China tapi tidak tahu apa-apa, mungkin ia hanya ingin menikmati traveling sebagai vakansi atau liburan semata. Ia tidak mau terganggu dengan tetek bengek proses traveling itu sendiri. Baginya jalan-jalan adalah sebuah 'show time'. Kita tidak perlu sibuk mengatur panggung, mengundang penampil ataupun membuat undangan. Kita hanya diminta duduk manis di kursi dan menikmati pertunjukkan. Level of satisfaction atau tingkat kepuasan travel kembali ke individu. Pilihan saya untuk backpacking ketimbang membeli mobil adalah pilihan pribadi. Saya puas karena secara kualitas nilai atau value dari perjalanan itu melebihi sebuah mobil. Pengalaman adalah sesuatu yang tak bisa dihargai uang. Jadi berapa negara yang pernah saya kunjungi. Sekali lagi, saya tidak tahu. Salam, Ambar [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
