Pendekatan quantitatif relatih lebih mudah di ukur dengan melihat berapa jumlah 
stempel di paspor,  dokumentasi tiket, catatan perjalanan, koleksi souvenir, 
foto, jumlah tagihan yang tercatat di kartu kredit dan lain-lain. Semua dokumen 
itu dapat memberikan gambaran seberapa banyak frekuensi kita melakukan 
perjalanan.

Bicara kualitas sebuah perjalanan memang relatif lebih complicated karena 
variabelnya bisa berbeda

pada masing-masing orang bergantung pada tujuan dilakukannya sebuah perjalanan.

Misal, saya melakukan perjalanan untuk refreshing, mencari wawasan dan teman 
baru, lebih bersyukur kepada Tuhan, dan meningkatkan solidaritas kepada sesama. 
Namun setelah melakukan perjalanan dan kembali pada kehidupan sehari-hari saya 
jadi malas bekerja di kantor, jarang beribadah, menjadi orang yang tertutup, 
abai terhadap kondisi sekitar, lebih mementingkan melakukan perjalan lainya 
daripada membantu tetangga yang kekurangan, itu berarti kualitas perjalanan 
saya 
NOL BESAR.

Jika anda menjadi seorang "the new you" yang lebih rajin beribadah, lebih 
terbuka dan berwawasan luas, menjadi karyawan atau pengusaha yang lebih 
produktif dan ikhlas berbagi dengan yang membutuhkan, dapat mengindikasikan 
kualitas perjalanan yang anda lakukan sangat baik.

bagaimana dengan kualitas perjalanan Anda?

salam

Inal




________________________________
From: joko santoso <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, July 27, 2010 12:05:26 PM
Subject: Re: [indobackpacker] Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas

  


Bisa jadi semua orang lahir ke dunia dengan membawa 'bakat jalan-jalan' ... 
he-he.  Bagaimana bakat itu tumbuh agaknya (imho tentunya) bisa dipilah ke 2 
kelompok besar.  Pertama, orang jalan karena pada dasarnya suka jalan.  
Rangsangan untuk jalan itu bisa muncul dari mana saja: bahan bacaan, artikel di 
media massa, cerita pengalaman teman, temannya tersebar di mana-mana, internet. 
 

Kedua, orang yang berani jalan setelah punya merasa memiliki cukup uang.  
Sebagian dari kelompok kedua menganggap jalan sebagai life style atau ekspansi 
jati diri untuk beroleh pengakuan.

Untuk kedua kelompok, uang tetap punya peran penting.  Di kelompok pertama, 
orang cenderung menabung (ya uang, ya jumlah hari cuti) untuk memuaskan 
keingin-tahuan lewat jalan.  Setiap pulang dari jalan saya rutin ditanya, 
"Habis 

berapa?"  Jawaban saya klise, "Totalnya belum dihitung, kalau mau lihat catatan 
pengeluarannya semua ada."  Saya punya kebiasaan mencatat semua hal, termasuk 
di 

sini pengeluaran harian dan mengumpulkan bukti-buktinya (receipt).  Kebiasaan 
ini sangat membantu pada saat tugas kantor (ini klop dengan topik mas RHH tempo 
hari "relevansi short traveling dengan pekerjaan").

Di kelompok kedua, orang cenderung mengukur kesepadanan antara jumlah uang yang 
dikeluarkan dengan apa yang ingin dituju.  Pada dasarnya semua orang melakukan 
kajian ekonomis.  Dalam hal ini, mereka dalam kelompok kedua kadang 
membandingkan biaya sebuah perjalanan dengan benda konsumtif lain.  Contoh 
gampangnya, "Layakkah sebuah perjalanan (misalnya ke Timbuktu di Mali) harus 
dibayar dengan uang muka produk mobil terbaru?"  Jika dianggap tidak layak, 
mereka cenderung memenangkan hal-hal yang sifatnya terukur.  Ini masuk akal 
mengingat di kelompok ini orang baru melirik 'jalan-jalan' setelah semua 
keperluan tercukupi.

Lebih jauh, pembagian 2 kelompok besar di atas secara umum (meski tidak 
sepenuhnya benar) mempunyai konsekuensi lanjut.  Kelompok pertama cenderung 
process oriented, mendahulukan kualitas, ibarat pekerjaan bertipe 'engineer', 
kebanyakan dilakoni para backpacker yang bersemangat 'anak muda'.  Kelompok 
kedua lebih nampak mirip berorientasi hasil, kualitas bisa didekati dengan 
kuantitas, jika pekerjaan tipenya 'manager', umumnya terdiri dari mereka yang 
bersemangat 'hidup mapan'.

Kembali ke 'kuantitas' yang disoal mbak Ambar, saya kira ada benarnya jika itu 
pertanyaan basa-basi atau pembuka percakapan yang dianggap bisa diterima di 
mana 

saja.  Saya pun rutin mendapat pertanyaan serupa dan jawaban saya sudah mirip 
mesin penjawab, "Saya pada dasarnya suka sejarah dan budaya kuno.  Prioritas 
tempat yang saya datangi adalah negara-negara yang memiliki budaya kuno dan 
peninggalan berskala besar."  Di balik pertanyaan basa-basi tadi sebenarnya 
tersembunyi naluri dasar orang Indonesia yang mengedepankan "penampilan-isme", 
yang lebih suka bungkus ketimbang isi.  Makin banyak negara yang dikunjungi 
menunjukkan 'buying power' yang lebih besar.

Celakanya, tekanan pada kuantitas ini bisa menjadi jawaban (bisa juga dibaca 
sebagai perlawanan) atas terbatasnya nilai jual paspor Indonesia!  Untuk ke 
Mongolia, sebagai contoh, orang Malaysia dan Philipina bisa melenggang tanpa 
paspor.  Bagi orang Indonesia, untuk aplikasi visa pun perlu menyerahkan surat 
undangan yang dilegalisir oleh Kementrian Luar Negari di Ulaan Baatar.  Untuk 
sekadar singgah sehari di Belanda (karena flight dari Mexico dan ke Jakarta 
tidak nyambung) 10 pekan lalu, saya perlu mengurus visa yang prosesnya lebih 
dari 4 pekan. 

Salam dari Sangatta
27-Juli-2010

 

________________________________
From: Ambar Briastuti <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, 25 July 2010 14:35:39
Subject: [indobackpacker] Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas

  
Ada satu pertanyaan yang membuat saya terusik. "Udah berapa negara yang mbak
kunjungi?" Saya selalu menjawab, "Saya tidak tahu karena saya tidak pernah
menghitung."

Pertanyaan Ini membuat saya berpikir, apa sih yang menjadi tolak ukur
seorang pejalan. Jumlah negara, frekuensi dia backpacking, atau karena ia
mampu menunjukkan koleksi photo2nya yang berjibun di Facebook. Seorang kawan
bahkan mengaku malu ketika saya tanya. Dia tidak pernah ke luar negeri. Tak
pernah sekalipun. So apakah si teman yang malang ini tidak dianggap seorang
backpacker?

Mempertanyakan kuantitas dan kualitas backpacking adalah sangat personal.
Saya pernah bertanya pada seseorang tentang rute backpacking China. Dia
membilang," Waduh maaf mbak, saya ngga tau apa-apa," begitu jawabnya. Ini
membuat saya makin penasaran. "Soalnya semua acara jalan saya diurus sama
teman. Saya cuman ngikut ajah."

Jadi jika si teman ini mengaku sudah mengunjungi 20 negara tetapi tidak tahu
apa-apa (begitu menurut pengakuannya) apakah bisa katagorikan backpakcer?
Lantas bagaimana dengan kawan yang tidak pernah ke luarnegeri tetapi
mengerti sejarah meletusnya gunung Merapi hingga arah menuju kesana? Atau
memahami kearifan budaya Baduy?

Kita cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, atau eksakta. Sesuatu
yang jelas dimata. Semakin banyak semakin baik. Uang misalnya, semakin besar
di bank, kita berasa semakin kaya. Tetapi masalah traveling bukan hanya
masalah uang atau berapa jumlah yang kita habiskan. Seorang backpacker yang
mengerti jalan sebagai 'kebutuhan' maka baginya uang adalah nomor sekian.

Tetapi bukankah backpacking selalu membutuhkan uang? Betul. Bukankan semakin
jauh dan semakin keren sebuah negara membuat ongkos tinggi? Betul dan
mungkin tidak. Bagus tidaknya sebuah tempat adalah pilihan personal. Itulah
yang saya garis bawahi, bahwa kualitas dan kuantitas travel tidak sejalan
dengan uang yang kita habiskan. Terkadang kita hanya menghabiskan waktu ke
sebuah tempat baru dengan sepeda jauh lebih berkesan ketimbang terbang 5 jam
ke destinasi lain.

***

Saya pernah backpacking ke sebuah negara yang mungkin dihargai sebuah mobil.
Menyesal? sedikit. Bukan karena saya ngga jadi beli mobil, tetapi karena
seharusnya saya lebih bisa menekan harga. Itupun hanya berkunjung di satu
negara, bukan 10 atau 20 negara sekaligus.

Traveling mempunyai unsur keingintahuan, memuaskan rasa penasaran. Tetapi
yang terpenting adalah journey itu sendiri, bukannya destinasi. Proses untuk
melakukan sebuah perjalanan. Kualitas traveling adalah diukur dengan kemauan
kita untuk belajar, merambah wilayah yang belum kita akrabi. Kalau membilang
travel adalah proses mengenali diri orang lain dan lingkungan, mungkin itu
lebih utama. Jadi uang adalah refleksi tidak langsung.

Ada yang membilang traveling itu masalah lifestyle. Jadi jumlah uang yang
kita habiskan untuk traveling adalah refleksi tingkat sosial kita. "Jika
udah ke banyak negara kan berarti mbak ini uangnya banyak" begitu alasan
seorang yang saya tanyai kenapa ia penasaran dengan pekerjaan saya. Gaji,
uang, spending power adalah ukuran life style seseorang, termasuk traveling
itu sendiri.

Ini menuntun pada asumsi bahwa seseorang yang traveling ke banyak
negara/destinasi eksotis adalah orang kaya. Tetapi benarkah itu juga
mefleksikan kualitasnya? Seperti kisah kawan saya yang ke China tapi tidak
tahu apa-apa, mungkin ia hanya ingin menikmati traveling sebagai vakansi
atau liburan semata. Ia tidak mau terganggu dengan tetek bengek proses
traveling itu sendiri. Baginya jalan-jalan adalah sebuah 'show time'. Kita
tidak perlu sibuk mengatur panggung, mengundang penampil ataupun membuat
undangan. Kita hanya diminta duduk manis di kursi dan menikmati
pertunjukkan.

Level of satisfaction atau tingkat kepuasan travel kembali ke individu.
Pilihan saya untuk backpacking ketimbang membeli mobil adalah pilihan
pribadi. Saya puas karena secara kualitas nilai atau value dari perjalanan
itu melebihi sebuah mobil. Pengalaman adalah sesuatu yang tak bisa dihargai
uang.

Jadi berapa negara yang pernah saya kunjungi. Sekali lagi, saya tidak tahu.

Salam,
Ambar

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke