benar, traveling itu sangat personal..dan tidak bisa diukur karena termometer 
traveling tiap orang kan beda2

seperti kata bapak yg dbawah ini :
 “There are no foreign lands. It is the traveler only who is foreign.” – Robert 
Louis Stevenson
 “For my part, I travel not to go anywhere, but to go. I travel for travel’s 
sake. The great affair is to move.” – Robert Louis Stevenson

atau kata bapak yg satu ini :
“One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” – Henry 
Miller

atau menurut om yg satu ini :
''Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t 
do than by the ones you did do. So throw off the bowlines, sail away from the 
safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” 
– Mark Twain

sama om yg ini juga, si maniak kereta :
 “Tourists don’t know where they’ve been, travelers don’t know where they’re 
going.” – Paul Theroux

en sama bapak yg doyan menulis ilmiah populer ini:
 “To my mind, the greatest reward and luxury of travel is to be able to 
experience everyday things as if for the first time, to be in a position in 
which almost nothing is so familiar it is taken for granted.” – Bill Bryson





________________________________
From: Ambar Briastuti <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Sun, July 25, 2010 1:35:39 PM
Subject: [indobackpacker] Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas

  
Ada satu pertanyaan yang membuat saya terusik. "Udah berapa negara yang mbak
kunjungi?" Saya selalu menjawab, "Saya tidak tahu karena saya tidak pernah
menghitung."

Pertanyaan Ini membuat saya berpikir, apa sih yang menjadi tolak ukur
seorang pejalan. Jumlah negara, frekuensi dia backpacking, atau karena ia
mampu menunjukkan koleksi photo2nya yang berjibun di Facebook. Seorang kawan
bahkan mengaku malu ketika saya tanya. Dia tidak pernah ke luar negeri. Tak
pernah sekalipun. So apakah si teman yang malang ini tidak dianggap seorang
backpacker?

Mempertanyakan kuantitas dan kualitas backpacking adalah sangat personal.
Saya pernah bertanya  pada seseorang tentang rute backpacking China. Dia
membilang," Waduh maaf mbak, saya ngga tau apa-apa," begitu jawabnya. Ini
membuat saya makin penasaran. "Soalnya semua acara jalan saya diurus sama
teman. Saya cuman ngikut ajah."

Jadi jika si teman ini mengaku sudah mengunjungi 20 negara tetapi tidak tahu
apa-apa (begitu menurut pengakuannya) apakah bisa katagorikan backpakcer?
Lantas bagaimana dengan kawan yang tidak pernah ke luarnegeri tetapi
mengerti sejarah meletusnya gunung Merapi hingga arah menuju kesana? Atau
memahami kearifan budaya Baduy?

Kita cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, atau eksakta. Sesuatu
yang jelas dimata. Semakin banyak semakin baik. Uang misalnya, semakin besar
di bank, kita berasa semakin kaya. Tetapi masalah traveling bukan hanya
masalah uang atau berapa jumlah yang kita habiskan. Seorang backpacker yang
mengerti jalan sebagai 'kebutuhan' maka baginya uang adalah nomor sekian.

Tetapi bukankah backpacking selalu membutuhkan uang? Betul. Bukankan semakin
jauh dan semakin keren sebuah negara membuat ongkos tinggi? Betul dan
mungkin tidak. Bagus tidaknya sebuah tempat adalah pilihan personal. Itulah
yang saya garis bawahi, bahwa kualitas dan kuantitas travel tidak sejalan
dengan uang yang kita habiskan. Terkadang kita hanya menghabiskan waktu ke
sebuah tempat baru dengan sepeda jauh lebih berkesan ketimbang terbang 5 jam
ke destinasi lain.

***

Saya pernah backpacking ke sebuah negara yang mungkin dihargai sebuah mobil.
Menyesal? sedikit. Bukan karena saya ngga jadi beli mobil, tetapi karena
seharusnya saya lebih bisa menekan harga. Itupun hanya berkunjung di satu
negara, bukan 10 atau 20 negara sekaligus.

Traveling mempunyai unsur keingintahuan, memuaskan rasa penasaran. Tetapi
yang terpenting adalah journey itu sendiri, bukannya destinasi. Proses untuk
melakukan sebuah perjalanan. Kualitas traveling adalah diukur dengan kemauan
kita untuk belajar, merambah wilayah yang belum kita akrabi. Kalau membilang
travel adalah proses mengenali diri orang lain dan lingkungan, mungkin itu
lebih utama. Jadi uang adalah refleksi tidak langsung.

Ada yang membilang traveling itu masalah lifestyle. Jadi jumlah uang yang
kita habiskan untuk traveling adalah refleksi tingkat sosial kita. "Jika
udah ke banyak negara kan berarti mbak ini uangnya banyak" begitu alasan
seorang yang saya tanyai kenapa ia penasaran dengan pekerjaan saya. Gaji,
uang, spending power adalah ukuran life style seseorang, termasuk traveling
itu sendiri.

Ini menuntun pada asumsi bahwa seseorang yang traveling ke banyak
negara/destinasi eksotis adalah orang kaya. Tetapi benarkah itu juga
mefleksikan kualitasnya? Seperti kisah kawan saya yang ke China tapi tidak
tahu apa-apa, mungkin ia hanya ingin menikmati traveling sebagai vakansi
atau liburan semata. Ia tidak mau terganggu dengan tetek bengek proses
traveling itu sendiri. Baginya jalan-jalan adalah sebuah 'show time'. Kita
tidak perlu sibuk mengatur panggung, mengundang penampil ataupun membuat
undangan. Kita hanya diminta duduk manis di kursi dan menikmati
pertunjukkan.

Level of satisfaction atau tingkat kepuasan travel kembali ke individu.
Pilihan saya untuk backpacking ketimbang membeli mobil adalah pilihan
pribadi.  Saya puas karena secara kualitas nilai atau value dari perjalanan
itu melebihi sebuah mobil. Pengalaman adalah sesuatu yang tak bisa dihargai
uang.

Jadi berapa negara yang pernah saya kunjungi. Sekali lagi, saya tidak tahu.

Salam,
Ambar

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke