Saya tidak setuju dengan pernyataan saudara Indra Nugraha
"Kedua orang ini sama2 menghabiskan budget yang sama untuk menuju Hongkong(ya tdk sama persis c...). Tapi perjalanan orang kedua jauh lebih berkualitas." Lah diukur darimana sih kualitas tersebut? Apakah ada standardnya? Siapa yang buat standard? ini masalah Taste/rasa. Bagi orang kota makan roti keju lebih enak dan lebih dianggap prestise daripada makan sayur asem, tapi bagi orang kampung sayur asem lebih maknyuss daripada keju. Nah loh... tiap orang beda loh dalam mengukur kualitasnya dalam traveling. Bagi backpacker lebih joss klo pake acara nebeng dan ngegembel dijalanan, tapi bagi yang punya duit mendingan ikutan tur. Itupun dalam pikiran mereka masing-masing "traveling saya yang lebih berkualitas" karena mereka menggunakan standard mereka sendiri. Mau gaya kere kek, mau gaya bak seleb kek.... Pernah saya jalan di KL sama temen-temen CS dari France. Kita foto-foto, tiap ada objek menarik kita foto, dikit-dikit foto, sampai saya nyeletuk "we just like a tourist, taking photo everywhere" tapi si bule menjawab "no no no, we are traveler not a tourist, but as traveler do not forget how to enjoy it as tourist" kere tapi gaya gitu Seperti saya bilang di atas, taste/rasa. Traveling sendiripun mempunyai rasa bagi setiap otak manusia. Orang yang hobinya traveling lebih puas lahir batin jika duitnya habis buat jalan. Tapi orang yang demen gadget pasti menganggap bahwa hobi traveling adalah hal gila. "duit kok habis buat gag penting, mending buat beli hape terbaru" Sama kayak anda-anda menganggap orang penghobi bunga adalah orang gila, beli kembang satu pot aja milyaran rupiah. Sama seperti jika ada 2 yang bertanya "sudah berapa negara yang anda kunjungi" "puluhan" Yang satu berpikir "wah hebattt, saya cuma keliling indonesia saja" Yang satu lagi bilang "biasa aja, saya lo keliling sudah keliling dari sabang sampe merauke" Taste kan? Jadi tidak ada aturan baku untuk mengukur kuantitas dan kualitas. Tergantung pilihan masing-masing. Makannya Nasi tapi lauknya beda-beda, jadi jangan bilang klo makan nasi sama tempe penyet nggak berkualitas??? Yang penting bagaimana kita menikmatinya... Tapi mbak Ambar bener-bener keterlaluan kalau sampai tidak menghitung jumlah negara yang dikunjungi... >< regards alid abdul --- In [email protected], Ambar Briastuti <ambar.briast...@...> wrote: > > Ada satu pertanyaan yang membuat saya terusik. "Udah berapa negara yang mbak > kunjungi?" Saya selalu menjawab, "Saya tidak tahu karena saya tidak pernah > menghitung." > > Pertanyaan Ini membuat saya berpikir, apa sih yang menjadi tolak ukur > seorang pejalan. Jumlah negara, frekuensi dia backpacking, atau karena ia > mampu menunjukkan koleksi photo2nya yang berjibun di Facebook. Seorang kawan > bahkan mengaku malu ketika saya tanya. Dia tidak pernah ke luar negeri. Tak > pernah sekalipun. So apakah si teman yang malang ini tidak dianggap seorang > backpacker? > > Mempertanyakan kuantitas dan kualitas backpacking adalah sangat personal. > Saya pernah bertanya pada seseorang tentang rute backpacking China. Dia > membilang," Waduh maaf mbak, saya ngga tau apa-apa," begitu jawabnya. Ini > membuat saya makin penasaran. "Soalnya semua acara jalan saya diurus sama > teman. Saya cuman ngikut ajah." > > Jadi jika si teman ini mengaku sudah mengunjungi 20 negara tetapi tidak tahu > apa-apa (begitu menurut pengakuannya) apakah bisa katagorikan backpakcer? > Lantas bagaimana dengan kawan yang tidak pernah ke luarnegeri tetapi > mengerti sejarah meletusnya gunung Merapi hingga arah menuju kesana? Atau > memahami kearifan budaya Baduy? > > Kita cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, atau eksakta. Sesuatu > yang jelas dimata. Semakin banyak semakin baik. Uang misalnya, semakin besar > di bank, kita berasa semakin kaya. Tetapi masalah traveling bukan hanya > masalah uang atau berapa jumlah yang kita habiskan. Seorang backpacker yang > mengerti jalan sebagai 'kebutuhan' maka baginya uang adalah nomor sekian. > > Tetapi bukankah backpacking selalu membutuhkan uang? Betul. Bukankan semakin > jauh dan semakin keren sebuah negara membuat ongkos tinggi? Betul dan > mungkin tidak. Bagus tidaknya sebuah tempat adalah pilihan personal. Itulah > yang saya garis bawahi, bahwa kualitas dan kuantitas travel tidak sejalan > dengan uang yang kita habiskan. Terkadang kita hanya menghabiskan waktu ke > sebuah tempat baru dengan sepeda jauh lebih berkesan ketimbang terbang 5 jam > ke destinasi lain. > > *** > > Saya pernah backpacking ke sebuah negara yang mungkin dihargai sebuah mobil. > Menyesal? sedikit. Bukan karena saya ngga jadi beli mobil, tetapi karena > seharusnya saya lebih bisa menekan harga. Itupun hanya berkunjung di satu > negara, bukan 10 atau 20 negara sekaligus. > > Traveling mempunyai unsur keingintahuan, memuaskan rasa penasaran. Tetapi > yang terpenting adalah journey itu sendiri, bukannya destinasi. Proses untuk > melakukan sebuah perjalanan. Kualitas traveling adalah diukur dengan kemauan > kita untuk belajar, merambah wilayah yang belum kita akrabi. Kalau membilang > travel adalah proses mengenali diri orang lain dan lingkungan, mungkin itu > lebih utama. Jadi uang adalah refleksi tidak langsung. > > Ada yang membilang traveling itu masalah lifestyle. Jadi jumlah uang yang > kita habiskan untuk traveling adalah refleksi tingkat sosial kita. "Jika > udah ke banyak negara kan berarti mbak ini uangnya banyak" begitu alasan > seorang yang saya tanyai kenapa ia penasaran dengan pekerjaan saya. Gaji, > uang, spending power adalah ukuran life style seseorang, termasuk traveling > itu sendiri. > > Ini menuntun pada asumsi bahwa seseorang yang traveling ke banyak > negara/destinasi eksotis adalah orang kaya. Tetapi benarkah itu juga > mefleksikan kualitasnya? Seperti kisah kawan saya yang ke China tapi tidak > tahu apa-apa, mungkin ia hanya ingin menikmati traveling sebagai vakansi > atau liburan semata. Ia tidak mau terganggu dengan tetek bengek proses > traveling itu sendiri. Baginya jalan-jalan adalah sebuah 'show time'. Kita > tidak perlu sibuk mengatur panggung, mengundang penampil ataupun membuat > undangan. Kita hanya diminta duduk manis di kursi dan menikmati > pertunjukkan. > > Level of satisfaction atau tingkat kepuasan travel kembali ke individu. > Pilihan saya untuk backpacking ketimbang membeli mobil adalah pilihan > pribadi. Saya puas karena secara kualitas nilai atau value dari perjalanan > itu melebihi sebuah mobil. Pengalaman adalah sesuatu yang tak bisa dihargai > uang. > > Jadi berapa negara yang pernah saya kunjungi. Sekali lagi, saya tidak tahu. > > > > Salam, > Ambar > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
