Dear Mba Ambar dan kawan2.... Dulu,,saya mungkin lebih bicara KUANTITAS...semakin banyak negara yang dikunjungi akan semakin RAME cap hello kitty di Passpor...atau semakin banyak foto yang jeprat jepretnya bisa dijadikan koleksi pribadi + kepuasan kalau kita sudah mampir kesana..mirip turis turis jepang pokoknya Tapi seiring bertambahnya kesempatan menjelajah ke negara2 yang lainnya, tentu kitapun tidak akan heboh lagi dengan kuantitas, namun kita akan membicarakan kualitas....yaitu disaat kita tidak ingin lagi melewatkan negara hanya demi cap passpor.....saya lebih ingin menyebutnya sebagai eksporasi,, meng-Explore suatu tempat menurut saya jauh lebih bermakna,berhemat dan tentu saja berkesan.....cara yang saya lakukan adalah ACT LOCALLY....tentu saja tenaga dan waktu yang banyak sangat perlu diperhitungkan,,, Act Locally sangat cocok buat solo traveller seperti saya,,,tentu saja menghindari ketidakcocokan karena penuh dengan GAMBLING Saya tidak pernah ikut tour ,kecuali Hop on Hop Off apabila kota-nya besar, namun apabila kotanya kecil dan transportasinya bagus (Subway/Monorail, Bus) then its time to forget guide. Misalnya saya berangkat dari lokasi A ke lokasi B,,dengan bus,,, bila memungkinkan saya akan jalan atau bila perlu naik bus ke lokasi B dan pulang jalan kaki sehingga bisa melalui lokasi C, D, E tentu saja kita harus hafal patokannya agar tidak tersesat....misalnya gedung tinggi / gunung/ jalan raya aka protokol Makan di Rumah makan/warung lokal ketimbang di Food place untuk turis,,,atau sekadar minum di Bar lokal untuk men-curi- tahu tentang budaya, pemikiran warga lokal disuatu tempat , bahasa, aksen dan berinteraksi banyak dengan kehidupan lokal ( plus kalau kita sedang tinggal di hotel,,maka tontonlah TV lokal,, bukan TV cable),,membeli koran lokalpun tidak ada salahnya kalau kita tahu bahasanya ACT locally adalah cara yang paling ampuh dan cocok bagi saya ...saya sendiri sampai detik ini tidak pernah membaca lonely planet, browse di Internet sebelumnya 1 kali dan berGERILYA mencari tahu saat kita tiba di lokasi merupakan hal yang cukup menarik sehingga saya mendapatkan kualitas dari perjalanan tersebut, yaitu merasakan menjadi orang lokal tempat tersebut :) dan terima kasih OGGI GUNADI MYM : thisisoggi1Web : http://oggigunadi.wordpress.com http://www.youtube.com/oggigunadi
--- On Sun, 25/7/10, Ambar Briastuti <[email protected]> wrote: From: Ambar Briastuti <[email protected]> Subject: [indobackpacker] Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas To: [email protected] Date: Sunday, 25 July, 2010, 7:35 Ada satu pertanyaan yang membuat saya terusik. "Udah berapa negara yang mbak kunjungi?" Saya selalu menjawab, "Saya tidak tahu karena saya tidak pernah menghitung." Pertanyaan Ini membuat saya berpikir, apa sih yang menjadi tolak ukur seorang pejalan. Jumlah negara, frekuensi dia backpacking, atau karena ia mampu menunjukkan koleksi photo2nya yang berjibun di Facebook. Seorang kawan bahkan mengaku malu ketika saya tanya. Dia tidak pernah ke luar negeri. Tak pernah sekalipun. So apakah si teman yang malang ini tidak dianggap seorang backpacker? Mempertanyakan kuantitas dan kualitas backpacking adalah sangat personal. Saya pernah bertanya pada seseorang tentang rute backpacking China. Dia membilang," Waduh maaf mbak, saya ngga tau apa-apa," begitu jawabnya. Ini membuat saya makin penasaran. "Soalnya semua acara jalan saya diurus sama teman. Saya cuman ngikut ajah." Jadi jika si teman ini mengaku sudah mengunjungi 20 negara tetapi tidak tahu apa-apa (begitu menurut pengakuannya) apakah bisa katagorikan backpakcer? Lantas bagaimana dengan kawan yang tidak pernah ke luarnegeri tetapi mengerti sejarah meletusnya gunung Merapi hingga arah menuju kesana? Atau memahami kearifan budaya Baduy? Kita cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, atau eksakta. Sesuatu yang jelas dimata. Semakin banyak semakin baik. Uang misalnya, semakin besar di bank, kita berasa semakin kaya. Tetapi masalah traveling bukan hanya masalah uang atau berapa jumlah yang kita habiskan. Seorang backpacker yang mengerti jalan sebagai 'kebutuhan' maka baginya uang adalah nomor sekian. Tetapi bukankah backpacking selalu membutuhkan uang? Betul. Bukankan semakin jauh dan semakin keren sebuah negara membuat ongkos tinggi? Betul dan mungkin tidak. Bagus tidaknya sebuah tempat adalah pilihan personal. Itulah yang saya garis bawahi, bahwa kualitas dan kuantitas travel tidak sejalan dengan uang yang kita habiskan. Terkadang kita hanya menghabiskan waktu ke sebuah tempat baru dengan sepeda jauh lebih berkesan ketimbang terbang 5 jam ke destinasi lain. *** Saya pernah backpacking ke sebuah negara yang mungkin dihargai sebuah mobil. Menyesal? sedikit. Bukan karena saya ngga jadi beli mobil, tetapi karena seharusnya saya lebih bisa menekan harga. Itupun hanya berkunjung di satu negara, bukan 10 atau 20 negara sekaligus. Traveling mempunyai unsur keingintahuan, memuaskan rasa penasaran. Tetapi yang terpenting adalah journey itu sendiri, bukannya destinasi. Proses untuk melakukan sebuah perjalanan. Kualitas traveling adalah diukur dengan kemauan kita untuk belajar, merambah wilayah yang belum kita akrabi. Kalau membilang travel adalah proses mengenali diri orang lain dan lingkungan, mungkin itu lebih utama. Jadi uang adalah refleksi tidak langsung. Ada yang membilang traveling itu masalah lifestyle. Jadi jumlah uang yang kita habiskan untuk traveling adalah refleksi tingkat sosial kita. "Jika udah ke banyak negara kan berarti mbak ini uangnya banyak" begitu alasan seorang yang saya tanyai kenapa ia penasaran dengan pekerjaan saya. Gaji, uang, spending power adalah ukuran life style seseorang, termasuk traveling itu sendiri. Ini menuntun pada asumsi bahwa seseorang yang traveling ke banyak negara/destinasi eksotis adalah orang kaya. Tetapi benarkah itu juga mefleksikan kualitasnya? Seperti kisah kawan saya yang ke China tapi tidak tahu apa-apa, mungkin ia hanya ingin menikmati traveling sebagai vakansi atau liburan semata. Ia tidak mau terganggu dengan tetek bengek proses traveling itu sendiri. Baginya jalan-jalan adalah sebuah 'show time'. Kita tidak perlu sibuk mengatur panggung, mengundang penampil ataupun membuat undangan. Kita hanya diminta duduk manis di kursi dan menikmati pertunjukkan. Level of satisfaction atau tingkat kepuasan travel kembali ke individu. Pilihan saya untuk backpacking ketimbang membeli mobil adalah pilihan pribadi. Saya puas karena secara kualitas nilai atau value dari perjalanan itu melebihi sebuah mobil. Pengalaman adalah sesuatu yang tak bisa dihargai uang. Jadi berapa negara yang pernah saya kunjungi. Sekali lagi, saya tidak tahu. Salam, Ambar [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
