Bisa jadi semua orang lahir ke dunia dengan membawa 'bakat jalan-jalan' ... he-he. Bagaimana bakat itu tumbuh agaknya (imho tentunya) bisa dipilah ke 2 kelompok besar. Pertama, orang jalan karena pada dasarnya suka jalan. Rangsangan untuk jalan itu bisa muncul dari mana saja: bahan bacaan, artikel di media massa, cerita pengalaman teman, temannya tersebar di mana-mana, internet. Kedua, orang yang berani jalan setelah punya merasa memiliki cukup uang. Sebagian dari kelompok kedua menganggap jalan sebagai life style atau ekspansi jati diri untuk beroleh pengakuan.
Untuk kedua kelompok, uang tetap punya peran penting. Di kelompok pertama, orang cenderung menabung (ya uang, ya jumlah hari cuti) untuk memuaskan keingin-tahuan lewat jalan. Setiap pulang dari jalan saya rutin ditanya, "Habis berapa?" Jawaban saya klise, "Totalnya belum dihitung, kalau mau lihat catatan pengeluarannya semua ada." Saya punya kebiasaan mencatat semua hal, termasuk di sini pengeluaran harian dan mengumpulkan bukti-buktinya (receipt). Kebiasaan ini sangat membantu pada saat tugas kantor (ini klop dengan topik mas RHH tempo hari "relevansi short traveling dengan pekerjaan"). Di kelompok kedua, orang cenderung mengukur kesepadanan antara jumlah uang yang dikeluarkan dengan apa yang ingin dituju. Pada dasarnya semua orang melakukan kajian ekonomis. Dalam hal ini, mereka dalam kelompok kedua kadang membandingkan biaya sebuah perjalanan dengan benda konsumtif lain. Contoh gampangnya, "Layakkah sebuah perjalanan (misalnya ke Timbuktu di Mali) harus dibayar dengan uang muka produk mobil terbaru?" Jika dianggap tidak layak, mereka cenderung memenangkan hal-hal yang sifatnya terukur. Ini masuk akal mengingat di kelompok ini orang baru melirik 'jalan-jalan' setelah semua keperluan tercukupi. Lebih jauh, pembagian 2 kelompok besar di atas secara umum (meski tidak sepenuhnya benar) mempunyai konsekuensi lanjut. Kelompok pertama cenderung process oriented, mendahulukan kualitas, ibarat pekerjaan bertipe 'engineer', kebanyakan dilakoni para backpacker yang bersemangat 'anak muda'. Kelompok kedua lebih nampak mirip berorientasi hasil, kualitas bisa didekati dengan kuantitas, jika pekerjaan tipenya 'manager', umumnya terdiri dari mereka yang bersemangat 'hidup mapan'. Kembali ke 'kuantitas' yang disoal mbak Ambar, saya kira ada benarnya jika itu pertanyaan basa-basi atau pembuka percakapan yang dianggap bisa diterima di mana saja. Saya pun rutin mendapat pertanyaan serupa dan jawaban saya sudah mirip mesin penjawab, "Saya pada dasarnya suka sejarah dan budaya kuno. Prioritas tempat yang saya datangi adalah negara-negara yang memiliki budaya kuno dan peninggalan berskala besar." Di balik pertanyaan basa-basi tadi sebenarnya tersembunyi naluri dasar orang Indonesia yang mengedepankan "penampilan-isme", yang lebih suka bungkus ketimbang isi. Makin banyak negara yang dikunjungi menunjukkan 'buying power' yang lebih besar. Celakanya, tekanan pada kuantitas ini bisa menjadi jawaban (bisa juga dibaca sebagai perlawanan) atas terbatasnya nilai jual paspor Indonesia! Untuk ke Mongolia, sebagai contoh, orang Malaysia dan Philipina bisa melenggang tanpa paspor. Bagi orang Indonesia, untuk aplikasi visa pun perlu menyerahkan surat undangan yang dilegalisir oleh Kementrian Luar Negari di Ulaan Baatar. Untuk sekadar singgah sehari di Belanda (karena flight dari Mexico dan ke Jakarta tidak nyambung) 10 pekan lalu, saya perlu mengurus visa yang prosesnya lebih dari 4 pekan. Salam dari Sangatta 27-Juli-2010 ________________________________ From: Ambar Briastuti <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sunday, 25 July 2010 14:35:39 Subject: [indobackpacker] Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas Ada satu pertanyaan yang membuat saya terusik. "Udah berapa negara yang mbak kunjungi?" Saya selalu menjawab, "Saya tidak tahu karena saya tidak pernah menghitung." Pertanyaan Ini membuat saya berpikir, apa sih yang menjadi tolak ukur seorang pejalan. Jumlah negara, frekuensi dia backpacking, atau karena ia mampu menunjukkan koleksi photo2nya yang berjibun di Facebook. Seorang kawan bahkan mengaku malu ketika saya tanya. Dia tidak pernah ke luar negeri. Tak pernah sekalipun. So apakah si teman yang malang ini tidak dianggap seorang backpacker? Mempertanyakan kuantitas dan kualitas backpacking adalah sangat personal. Saya pernah bertanya pada seseorang tentang rute backpacking China. Dia membilang," Waduh maaf mbak, saya ngga tau apa-apa," begitu jawabnya. Ini membuat saya makin penasaran. "Soalnya semua acara jalan saya diurus sama teman. Saya cuman ngikut ajah." Jadi jika si teman ini mengaku sudah mengunjungi 20 negara tetapi tidak tahu apa-apa (begitu menurut pengakuannya) apakah bisa katagorikan backpakcer? Lantas bagaimana dengan kawan yang tidak pernah ke luarnegeri tetapi mengerti sejarah meletusnya gunung Merapi hingga arah menuju kesana? Atau memahami kearifan budaya Baduy? Kita cenderung mengukur segala sesuatu dengan angka, atau eksakta. Sesuatu yang jelas dimata. Semakin banyak semakin baik. Uang misalnya, semakin besar di bank, kita berasa semakin kaya. Tetapi masalah traveling bukan hanya masalah uang atau berapa jumlah yang kita habiskan. Seorang backpacker yang mengerti jalan sebagai 'kebutuhan' maka baginya uang adalah nomor sekian. Tetapi bukankah backpacking selalu membutuhkan uang? Betul. Bukankan semakin jauh dan semakin keren sebuah negara membuat ongkos tinggi? Betul dan mungkin tidak. Bagus tidaknya sebuah tempat adalah pilihan personal. Itulah yang saya garis bawahi, bahwa kualitas dan kuantitas travel tidak sejalan dengan uang yang kita habiskan. Terkadang kita hanya menghabiskan waktu ke sebuah tempat baru dengan sepeda jauh lebih berkesan ketimbang terbang 5 jam ke destinasi lain. *** Saya pernah backpacking ke sebuah negara yang mungkin dihargai sebuah mobil. Menyesal? sedikit. Bukan karena saya ngga jadi beli mobil, tetapi karena seharusnya saya lebih bisa menekan harga. Itupun hanya berkunjung di satu negara, bukan 10 atau 20 negara sekaligus. Traveling mempunyai unsur keingintahuan, memuaskan rasa penasaran. Tetapi yang terpenting adalah journey itu sendiri, bukannya destinasi. Proses untuk melakukan sebuah perjalanan. Kualitas traveling adalah diukur dengan kemauan kita untuk belajar, merambah wilayah yang belum kita akrabi. Kalau membilang travel adalah proses mengenali diri orang lain dan lingkungan, mungkin itu lebih utama. Jadi uang adalah refleksi tidak langsung. Ada yang membilang traveling itu masalah lifestyle. Jadi jumlah uang yang kita habiskan untuk traveling adalah refleksi tingkat sosial kita. "Jika udah ke banyak negara kan berarti mbak ini uangnya banyak" begitu alasan seorang yang saya tanyai kenapa ia penasaran dengan pekerjaan saya. Gaji, uang, spending power adalah ukuran life style seseorang, termasuk traveling itu sendiri. Ini menuntun pada asumsi bahwa seseorang yang traveling ke banyak negara/destinasi eksotis adalah orang kaya. Tetapi benarkah itu juga mefleksikan kualitasnya? Seperti kisah kawan saya yang ke China tapi tidak tahu apa-apa, mungkin ia hanya ingin menikmati traveling sebagai vakansi atau liburan semata. Ia tidak mau terganggu dengan tetek bengek proses traveling itu sendiri. Baginya jalan-jalan adalah sebuah 'show time'. Kita tidak perlu sibuk mengatur panggung, mengundang penampil ataupun membuat undangan. Kita hanya diminta duduk manis di kursi dan menikmati pertunjukkan. Level of satisfaction atau tingkat kepuasan travel kembali ke individu. Pilihan saya untuk backpacking ketimbang membeli mobil adalah pilihan pribadi. Saya puas karena secara kualitas nilai atau value dari perjalanan itu melebihi sebuah mobil. Pengalaman adalah sesuatu yang tak bisa dihargai uang. Jadi berapa negara yang pernah saya kunjungi. Sekali lagi, saya tidak tahu. Salam, Ambar [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
