Setuju sekali dengan pendapat mas zainal (ga tahan buat ga posting akhirnya :)

Kualitas ga hanya diliat dari penuh tidaknya paspor, tapi apa yang didapat 
setelah itu.

Singkat saja, saya pribadi ga terlalu sering melakukan perjalanan ke luar 
negri, masih dibawah 10kali, lebih sering malah di dalam negri. Ataupun kalau 
memang lagi bokek beneran (ngaku), saya lebih suka browsing di internet 
mengumpulkan gambar-gambar pantai yang indah, gunung-gunung yang hijau, dasar 
laut yang biru, ataupun tempat-tempat tersembunyi di belahan bumi lain yang 
sangat memesona.

Semua hanya dengan modal Om google saja, tapi dengan melihat itu, buat saya, 
fikiran jadi lebih fresh, siap dengan kerjaan baru lagi. Lebih semangat bekerja 
buat mengumpulkan uang buat mewujudkan penglihatan yang real atas gambar-gambar 
tersebut.

Kadang benar kata mas zainal, sepulang dari travel ke vietnam kemarin misalnya, 
saya malah malas ke kantor, pikiran cuma pengen cepet-cepet liburan, tabungan 
yang harus diisi buat yang lain malah di abaikan, dll, dll. haduuuuh, semoga ga 
gitu lagi deh. :p

-no siggy-

-----Original Message-----
From: Zainal M Afandi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Wed, 28 Jul 2010 19:04:16 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [indobackpacker] Mengukur Traveling: Kualitas dan Kuantitas

Pendekatan quantitatif relatih lebih mudah di ukur dengan melihat berapa jumlah 
stempel di paspor,  dokumentasi tiket, catatan perjalanan, koleksi souvenir, 
foto, jumlah tagihan yang tercatat di kartu kredit dan lain-lain. Semua dokumen 
itu dapat memberikan gambaran seberapa banyak frekuensi kita melakukan 
perjalanan.

Bicara kualitas sebuah perjalanan memang relatif lebih complicated karena 
variabelnya bisa berbeda

pada masing-masing orang bergantung pada tujuan dilakukannya sebuah perjalanan.

Misal, saya melakukan perjalanan untuk refreshing, mencari wawasan dan teman 
baru, lebih bersyukur kepada Tuhan, dan meningkatkan solidaritas kepada sesama. 
Namun setelah melakukan perjalanan dan kembali pada kehidupan sehari-hari saya 
jadi malas bekerja di kantor, jarang beribadah, menjadi orang yang tertutup, 
abai terhadap kondisi sekitar, lebih mementingkan melakukan perjalan lainya 
daripada membantu tetangga yang kekurangan, itu berarti kualitas perjalanan 
saya 
NOL BESAR.

Jika anda menjadi seorang "the new you" yang lebih rajin beribadah, lebih 
terbuka dan berwawasan luas, menjadi karyawan atau pengusaha yang lebih 
produktif dan ikhlas berbagi dengan yang membutuhkan, dapat mengindikasikan 
kualitas perjalanan yang anda lakukan sangat baik.

bagaimana dengan kualitas perjalanan Anda?

salam

Inal



Kirim email ke